
..."Nyatanya, yang sering memberikan bunga dan cokelat nyatanya bakalan kalah sama yang memberi akad."...
...~Fatma'd First Love...
..."Laki-laki yang paham agama itu seram. Tidak pernah memberi kabar, tiba-tiba datang melamar. Tidak pernah berbisik i love you. Namun, dengan lantangnya mengucap qobiltu."...
..._Fatma's First Love...
...***...
Di ruangan sepetak suasana berubah menegangkan. Hening. Tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Pun sama halnya dengan Fatma, gadis itu masih dengan posisi yang sama. Dapatkah kalian mendengar detak jantungnya saat ini?
“Maaf Pak Firman, Fatma tidak bisa ...." Gadis itu kembali menampilkan raut wajah yang sendu. Suaranya layu, tak memancarkan semangat sedikitpun. Namun, sebenarnya dibalik itu ia menahan senyum. Pria yang duduk tak jauh darinya sedari beberapa menit yang lalu telah menunggu jawaban pasti dari Fatma. Wajah Firman berubah menjadi pucat pias, jantungnya berdetak melemah. Sekarang bukan hanya lututnya saja yang lemas, tapi tubuhnya terasa bergetar hebat. Benarkah gadis lugu itu menolak Firman?
“Kena--" Firman yang akan bicara dengan cepat dipangkas terlebih dahulu oleh Fatma. Seperti tak ingin memberi kesembuhan untuk pria itu berbicara walau hanya sepatah kata.
“Fatma tidak bisa menolak lamaran ini, Pak! “ Ia tanpa sadar berseru senang.
"Bisakah Fatma menjadi Khadijah untuk Pak Firman? Biarkan saya melayani Bapak seperti halnya Sayyidah Khadijah yang melayani Nabi Muhammad sepenuh hati sampai ajal menjemput, mengorbankan semua harta bendanya untuk jihad di jalan Allah ... bisakah?" Firman tertegun, wajah pucat pias berubah seperti sedia kala. Pun dengan semua orang. Fatma mengucapkannya dengan begitu cepat, mungkin hanya dengan dua kali tarikan napas. Bagaimana ia bisa menolak lamaran ini, sedangkan yang datang melamar adalah pria yang selama ini menjadi perdebatannya dengan Sang Ilahi. Kesempatan tidak datang dua kali, pun dengan hal baik seperti ini.
Hati yang sedari tadi menahan gejolak kekecewa kini perlahan menerbitkan kebahagiaan. Fatma menerima Firman dan pastinya pria itu sangat senang. Kini terasa kupu-kupu seperti berterbangan di perut keduanya. Sampai-sampai mereka tak bisa mengekspresikan kebahagiaan tersebut satu sama lain. Saling termenung dengan seluas senyum lebar.
Serempak ruangan itu mengucapkan hamdalah. Selain mencintai Fatma, Firman juga diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Di antara mereka ada yang senang. Namun, seperti menyembunyikan sesuatu. Senyuman miring itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali mahluk selain manusia di ruangan itu.
“Ayah, tapi Fatma khawatir. Fatma masih kecil, apakah bisa menikah dalam usia dini? Terus bagaimana dengan sekolah Fatma Ayah?" tanyanya lesu. Benar juga, dapatkah mereka melangsungkan pernikahan jika mengingat bahwa usia Fatma masih 17 tahun?
Semua orang terdiam memikirkan hal itu. “Kita akan berusaha, Sayang. Jika dengan menikah bisa membuat Fatma lebih dekat dengan Allah, ayah ikhlas, selain itu agar kalian tidak terjatuh dari lubang zina juga. Fatma, ayah hanya berdoa, semoga Nak Firman bisa menjadi laki-laki yang lebih baik dari ayah, lebih bisa menjaga Fatma. In Syaa Allah, niat baik akan dipermudahkan oleh Allah, Aamiin Ya Allah." Ayah Fatur menjawab seraya mengelus-elus puncak kepala putri kecilnya. Haru. Pak Sabil tak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Ia tak menyangka jika dirinya akan melepas tanggung jawabnya terhadap Fatma. Kini, putri yang selalu merengek dan selalu ditimbang akan dipinang seseorang.
Hampir semuanya terharu mendengar penuturan Ayah Sabil. Firman tersenyum lembut, “In syaa Allah, saya akan menjaga amanah ini sebaik mungkin, Pak."
Fatma berhambur memeluk ayahnya dengan erat. Tanpa ia sadari, bening itu kembali menetes, isak pilu terdengar kentara. “Ayah selamanya akan tetap menjadi laki-laki terbaik yang Fatma temukan. Terima kasih karena Ayah dan Bunda sudah sabar dalam membesarkan dan mendidik Fatma. Kata terima kasih saja mungkin tidak akan pernah cukup, Yah."
Pak Sabil mengelus punggung anaknya, hanya itu yang bisa pria paruh baya itu lakukan. Menangis? Tidak, ini adalah hari yang membahagiakan, ia tak ingin menodainya dengan sepercik air mata. Mungkin memang berat melepas putri semata wayangnya. Namun, Pak Sabil percaya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik, Fatma telah berada di dekapan orang yang tepat. “Iya, Sayang."
Tak lama, Ayah Sabil menguraikan pelukannya dan berkata, “Apa mahar yang hendak kamu berikan kepada putri saya Fatma, Nak Firman?"
Pria itu terdiam sejenak. Dia menatap dalam netra indah milik Fatma, mencoba untuk mencari tahu mahar apa yang gadis itu inginkan tanpa bertanya kepadanya. Namun, kemudian ia menghela napas dalam dan tak lama dengan lemah lembut ia berkata, “Sebelumnya maaf, Pak. Firman di sini terlahir dari keluarga yang alhamdulillah lebih dari kata cukup. Di sini, Firman juga masih belum bisa untuk memberikan mahar seperti laki-laki di luar sana, yang saya miliki hanyalah hafalan ayat suci Al-Quran bekal dari mondok dulu, tapi jika itu dikira kurang cukup, maka saya akan berusaha dan bekerja keras untuk memberikan mahar yang terbaik untuk Fatma. Semua akan saya lakukan demi bisa mendapatkan Fatmawati, Pak." Pak Sabil hanya mengangguk-angguk tanpa mengindahkan penjelasan yang bahkan tak pria paruh baya itu minta. Melihat ayahnya yang membisu, Fatma menjadi kikuk. Ia takut sang ayah tidak merestui pernikahan mereka hanya dikarenakan Firman tidak bisa memberikan mahar seperti yang ayahnya inginkan.
Fatma menggenggam erat telapak tangan Pak Sabil sehingga netranya teralihkan saling beradu pandang dengan manik indah putrinya. Binar itu begitu kentara. Benar. Gadis itu tak mengatakannya. Namun, atensinyalah yang mewakili perasaan dari hatinya. Kemudian, Pak Sabil hanya tersenyum dan memegang telapak tangan Fatma. “Saya tidak minta yang muluk-muluk, Nak. Semua saya serahkan kembali kepada Fatma, dia minta diberi mahar apa ... itu keputusannya ada di tangan Fatma," tutur Ayah Sabil.
“Bagiamana, Fat. Mahar apa yang kamu minta dari saya?" tanyanya.
Setelah beberapa menit berpikir, Fatma pun memantapkan hatinya dan akhirnya menjawab. Tidak baik bukan menggantung pertanyaan seseorang tanpa memberikan jawaban? Ia juga tak ingin terlalu lama membuat Firman menunggu. “Mahar yang tidak membuat Pak Firman terbebani dan tidak pula merendahkan harga diri Fatma ... sudah, itu saja." Firman terkejut mendengar jawaban Fatma. Bayangan akan mahar yang diminta oleh gadis lugu itu meleset jauh. Firman hanya mengulum senyum dan mengangguk.
"Namun, tadi Pak Firman bilang kalau punya bekal hafal Al-Quran dari pondok dulu." Pria itu kembali mengangguk.
"Bisakah Fatma meminta surat Ar-Rahman sebagai hadiah di hari pernikahan nantinya?" Pria itu terdiam. Tak ada respon, Fatma hanya tersenyum kecut. Ah, mungkin pria itu tidak menyetujui permintaan Fatma.
"Tapi ... tapi jika menurut Pak Firman surat Ar-Rahman membuat Pak Firman terbebani, saya serahkan kembali pada Bapak." Ia merampungkan kalimatnya. Fatma membuat semua orang yang hadir tertegun.
"Ma syaa Allah, cikal bakale neriman."
"Udah cantik, manis, engga menuntut banyak dari calon suami, shalihah lagi. Jadi ingin menantu yang seperti Fatma deh."
"Cari di Tokopedia aja, sapa tau lagi ada gratis besar-besaran!" Gumaman setiap orang di ruangan yang membuat Bunda Naumi terkekeh pelan serta geli saat mendengarnya.
***
Setelah melalui proses panjang. Akhirnya, pernikahan Firman dan Fatma dilaksanakan siang ini. Menikah diusia dini memang tidak mudah, Firman yang berusia dua puluh lima tahun dan Fatma yang berusia tujuh belas tahun mungkin akan membuat pria itu kualahan. Terlebih lagi sifat kekanak-kanakan yang dimiliki oleh Fatma.
Sekarang hari terakhir Fatma sekolah di minggu ini, sebelum tiga hari ke depan dirinya akan izin dengan alasan ada acara keluarga. Memang benar begitu adanya bukan?
Langkah itu diiringi senyuman manis. Pria yang mengenakan batik berwarna hitam itu langsung mendekati Fatma saat ia melihatnya berjalan seorang diri dengan langkah yang lesu. “Pulang bersama saya, yuk calon istri!" Firman menaik turunkan kedua alisnya, menggoda Fatma yang penat terpancar dari raut wajahnya.
Melihat sesosok laki-laki dari balik mobil pajero putih itu adalah calon suaminya. Seketika penat itu sirna, seperti terbawa oleh angin lalu. Fatma mengukir lengkungan manis di bibirnya. Dengan malu-malu Fatma mengangguk. “Boleh calon Bapak Suami," katanya pelan.
Mereka jalan beriringan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. “Pak Bobby, Fatma tunggu di depan ya, malu."
Firman yang mendengar nama pria lain disebut oleh calon istri kecilnya itu langsung menatap Fatma dengan tatapan intimidasi. Bobby? Siapa pria itu? Apakah mantan pacar Fatma?
"Bobby? Siapa itu? Pacar Fatma, ya?" Fatma terkekeh pelan. Ingin sekali ia mencubit bibi sang calon suami. Ah, tidak-tidak lebih baik ia menjambak kumis tipisnya saja. Namun, tak bisa karena belum sah menjadi suami istri bukan?
"Nama Bapak 'kan Muhammad Bobi Firmansyah. Bobby adalah panggilan sayang Fatma kepada Bapak." Lega mendengar itu semua. Panas menyeruap dalam hatinya. Cemburu? Iya, ungkapan itu cocok untuk menggambarkan situasi saat ini. Namun, kini tak lagi. Firman menghapus jejak raut wajah datar itu dan menggantinya dengan senyum simpul. Tidak menunggu waktu terlalu lama, setelah mendapat anggukan geli dari Firman, gadis itu lantas pergi.
“Pakai pelet apa sih, lo Fatma? Sampai Pak Firman bisa natap lo penuh cinta gitu? Padahal kemana-mana cantikan juga gue. Gue lebih modis, kekinian. Lah lo ... kucel, jelek, kayak ibu-ibu. Gak pantas lo disukai oleh pria setampan Pak Firman!" Gadis dengan rambut terurai bebas itu tiba-tiba menggamit kasar pergelangan tangan Fatma. Tak cukup di situ saja, Keke juga menghina habis-habisan mengenai penampilannya.
Fatma hanya memperbanyak istighfar dalam hatinya, menundukkan kepalanya dalam. “Memangnya saya tidak boleh merasakan jatuh cinta, ya? Pak Firman ‘kan bukan siapa-siapa kalian. Kenapa kalian larang?" lirih Fatma berusaha untuk tidak takut. Ya, ia selalu mengingat perkataan Firman agar tidak takut pada geng yang selalu membullinya . Ada kalanya Fatma membalas dan ada kalanya ia diam.
“Ya, jelas salah lah! Karena lo pakai cara licik! Bukannya Pak Firman mau sama bocah ingusan kaya lo karena cinta, tapi mungkin dia mau memuaskan hasratnya aja terus dilampiaskan ke lo. Terus kalau udah puas, lo bakalan dicampakkan gitu aja kaya permen karet, udah engga ada rasanya dibuang, pas manis aja dikunyah dengan semangat banget?!" sinis Sinta dan mendorong kencang bahu Fatma.
Gadis itu hampir saja terhuyung. “Makanya jaga diri, patuh dong kalau dibilangin!" delik Inggit sebelum ketiganya melangkah pergi.
Tidak lama kemudian, pria itu datang dengan mengklakson mobilnya. “Ayo!"
Fatma kembali tersenyum dan seketika melupakan kejadian yang baru saja menimpanya, ia mengangguk dan duduk di kursi bagian belakang. Firman yang mengerti mereka bukan mahram pun tidak mempermasalahkannya.
“Maharnya yakin terserah saya? Terus hadiahnya yakin cuma mau surat Ar-Rahman saja?" tanya Firman sambil menggoda.
Fatma mengangguk. “Itu saja Pak Bobby, sekali lagi Fatma tidak ingin memberatkan Bapak," ungkapnya tulus.
Firman terkekeh. “Itu sudah kewajiban saya, Fatma. Oh iya, saya mau bertanya boleh?"
Fatma mengiyakan permintaan Firman dengan anggukan kepala. “Kamu ... pernah pacaran?" Gadis itu menggeleng menggeleng. “Apakah kamu terpaksa menikah dengan saya?"
Gadis itu kembali menggeleng dengan cepat. “Fatma ikhlas, kok, Pak Bobby."
“Apa itu artinya kamu mencintai saya Fatma?" Pertanyaan itu membuat pipi Fatma merona. Gadis itu tersipu malu. Gadis itu membulatkan mata. Ketika rona itu semakin terlihat kentara, Fatma menutupinya dengan kedua telapak tangannya.
Rasanya jika pria itu menggodanya terus, ia ingin tenggelam saja. Bunda, tolong Nisa terbang!
“Kamu sakit, Fatma? Kenapa merah gitu pipinya?" tanyanya sembari melihat ke kaca kecil tengah mobilnya.
Fatma memalingkan wajah dengan kembali menutupi wajahnya. “Barusan jatuh, gara-gara Bapak," jawab Fatma setengah kesal.
Firman tertawa renyah. “Kok bisa jatuh, Fatma? Jatuh kemana? Apanya yang jatuh?" cerca Ali.
“Ini baru pendaftaran, Fatma. Nanti setelah selesai akad baru mulai ya."
Perkataan Firman terdengar ambigu di telinga Fatma. Mulai, mulai apa? “Hah, mulai apa, Pak?" tanyanya degan polos. Kini wajahnya tidak ia sembunyikan di balik telapak tangan lagi. Begitu pula dengan rona merah. Masih ada, tapi tak sekental semula.
“Rahasia." Fatma menyilangkan kedua tangan di dadanya dan menyandarkan punggung ke kursi mobil. Ah, pria itu menyebalkan.
"Ih Bapak."
"Jangan panggil saya bapak dong, Fat." Pria itu merengek. Namun, Fatma hanya diam menatap ke arah luar jendela mobil.
"Biarin. Kasih tahu dulu maksud Bapak tadi apa." Pria itu tersenyum dan kembali menaik turunkan alisnya. Berada di dekat Firman terlalu lama membuat Fatma terkena tekanan darah tinggi.
"Rahasia, Fatma."
*****
Gadis cantik berbalut gaun putih dengan hijab senada itu kini sedang duduk dengan tangan gemetar. Atmosfer ini terasa canggung. Mulai siang ini status Fatma akan berubah pun dengan kewajibannya.
Pria yang sedang menjabat tangan Ayah Sabil itu berkata dengan tegas dan lantang setelah menghela napasnya dalam. “Saya terima nikah dan kawinnya Syarifah Fatmawati binti Sabil Maulana dengan mahar tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.
“Sah!" Serempak para saksi yang hadir di acara pernikahan itu menjawab dengan lantang sehingga membuat ruangan sepetak tak terlalu besar tak terlalu kecil itu menggema.
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
"Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan."
Setelah akad selesai, Firman menghampiri Fatma yang sedang menunduk bahagia di sebelah Bunda Naumi. Pria itu ikut tersenyum saat melihat kebahagiaan terpancar dari raut wajah istri kecilnya . Jantungnya berdetak seperti pacuan kuda. Ah, mengapa ketika mendekati Fatma, pria itu mendadak seperti terkena serangan jantung? Tidak. Firman menepis semua itu. Saat ini Firman mempunyai tanggung jawab yang lain, yaitu menjadi imam bagi Fatma. Rasanya seperti mimpi. Namun, memang terjadi.
Firman menyodorkan punggung telapak tangannya ke depan Fatma. Gadis itu menatap aneh ke arah Firman. “Ini tangannya buat apa, Pak?" tanyanya dengan polos seraya melihat uraian itu.
Bunda Naumi menepuk jidat. “Ya Allah punya anak perempuan satu begini sekali."
Fatma hanya cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu, dengan bantuan Bunda Naumi, Fatma menyalami punggung telapak tangan Firman yang mengambang di udara. Sedangkan pria itu memegang ubun-ubun istrinya seraya membaca doa. “Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Mereka saling menatap setelah melakukan ritual sakral itu. Semua orang menggoda keduanya apalagi dari keluarga pihak sang bunda yang sangat ramah. Bahkan, mereka pun sangat mendukung Fatma untuk menikah muda dengan Firman, karena sudah tradisi turun-temurun dari orang tuanya dulu.
“Bolehkan saya menge ... cup kamu?" tanyanya dengan kalimat tertahan. Semakin diperjelas, rasanya sangat ambigu. Namun, Firman harus bisa menebalkan wajahnya dan terlihat berwibawa. Ini adalah hari yang selama ini Firman tunggu-tunggu.
Fatma terdiam kebingungan. “Memangnya kalau sudah menikah dan sah boleh kecup-kecupan ya, Pak Bobby? Bukannya, saya dan Bapak mahram?" Pertanyaan dan wajah lugu itu membuat Firman terkekeh pelan. Aih, ingin sekali ia meremas bibi bulat istri kecilnya itu.
Bunda Naumi yang menjadi nyamuk lagi-lagi dibuat malu oleh anaknya. “Boleh dong, Sayang. Ma syaa Allah."
Firman hanya memegang kepalanya sambil terkekeh gemas. Fatma menunduk malu. “Ya-ya sudah kalau begitu boleh," katanya dengan suara tertahan.
Pria dengan jas hitam itu mendekatkan wajahnya ke kening Fatma. “Ekh, Pak Bobby, tapi jangan lama-lama ya ... malu.”
Firman mengangguk, lalu mengecup kening Fatma dengan waktu yang cukup lama. Gadis itu memejamkan mata, gelenyar aneh kembali Fatma rasakan. Rasanya sampai pada urat nadinya. Namun, gadis itu menikmati sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Bunda Naumi sudah ngacir dan digantikan dengan sorakan godaan. Firman melepaskan kecupannya setelah mendengar godaan yang semakin menjadi-jadi. Fatma yang malu langsung memeluk tubuh Pak Suami. Wajah meronanya hanya dilihat oleh Firman. Ia menenggelamkan wajahnya pada bahu suami besarnya. Jadi, seperti inikah rasanya memeluk tubuh suami?
“Lanjut di kamar aja, Fat!"
"Keuwuannya lebih afdol di kamar, Cip!"
“Akh, bikin jomblo baper aja lo!"
“Udah hey udah, dosa!"
"Ya Allah, he aku mung jomblo iso opo?"
“Udah halal, kecuali kalau kamu yang ngelakuin, kan kamu jomblo!"
“Jadi pingin nikah muda!"
"Yah, dia udah nikah. La gua kapan ngab?"
"Lu engga mau ngelamar gua?"
****
Acara pernikahan itu diakhiri dengan makan bersama, keluarga yang hadir pun satu persatu pulang. Bunda Naumi dan Ayah Sabil pun sudah beristirahat di kamar mereka.
Kini Firman dan Fatma duduk bersebelahan di atas ranjang. Gadis itu kebingungan, apa yang harus dilakukan. Apakah memang dirinya perlu tinggal satu ranjang dengan Firman seperti ini? Rasanya, Fatm belum mau dan belum siap. Ah, mungkin tidak terbiasa saja. Walau bagaimanapun Fatma hanya sering tidur dengan ayah dan bundanya saja. Fatma menghela napas panjang. Hening, hanya ada suara jangkrik dan serangga kecil lainnya yang menjadi pelengkap pada malam pertama. Ia menggigit bibir sebentar, kemudian Fatma melirik Firman.
“Pak-Pak Bobby tidurnya di mana?" Duh, Fatma pertanyaan apa itu? Ia merutuki dirinya, bagaimana bisa ia bertanya seperti itu kepada sang suami yang sudah jelas bahwa Firman akan tidur seranjang dengannya.
Firman tersenyum menatap Fatma. Pria itu tahu pasti istri kecilnya belum siap, meskipun hanya sekedar tidur seranjang. Jadi, ia bertanya, “Ada kasur lantai atau karpet?"
Fatma menahan napas dan mengangguk. Ia beranjak ke dekat lemari dan mengambil karpet berbulu di sana. Melihat Fatma yang kesusahan, pria itu berinisiatif untuk membantu dan segera beranjak.
“Saya tidur di sini saja," kata Firman seraya mulai membetulkan tempat tidurnya.
Fatma mengangguk pelan. Apa ini perbuatan dosa? Gadis itu yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus berpikir. Ia dengan ragu berbaring di atas ranjang setelah memastikan jika Firman telah berbaring untuk tidur.
“Selamat malam, Cipah Kecilku," ujarnya manis.
Fatma hanya menahan malu. “Kembali Pak Suami," jawabnya lirih.
Firman telah terlelap beberapa menit yang lalu. Sedangkan gadis lugu itu hanya berbaring dengan kegelisahan. Ini ada yang kurang dari biasanya. Haruskah ia membangunkan Firman hanya untuk membantunya menjalankan ritual?
“Pak Bobby," panggilnya lirih.
Bersambung...
Pasuruan, 12 Maret 2023
Hari ini udah makan dengan makanan yang manis belum?
Manisnya kalah sama Pak Bobby dan Dek Fatma engga? Mereka kan sudah sah ya :)