
..."Rasa cinta seorang laki-laki ditunjukkan hanya untuk dirinya sendiri yang memiliki. Sedangkan rasa cinta perempuan seperti sebuah emas yang siap untuk diutarakan."...
..._Fatma's First Love_...
Teriknya baskara yang selalu menghangatkan bumi, kini menambah peluh yang bercucuran semakin deras. Selain panasnya buana, ada pula hati yang terbakar karena api cemburu. Firman menatap lekat manik indah Fatma dengan penuh peringatan. Memang nakal sekali istri kecilnya ini. Atensi pria itu kemudian beralih kepada Yusuf yang ikut mematung memperhatikan dirinya.
Dengan perlahan pria yang tengah terbakar api cemburu itu menurunkan tangan Yusuf sambil menatap netra pemilik tangan tersebut Firman berkata, “Perempuan dan laki-laki yang bukan mahram tidak boleh bersentuhan. Sesungguhnya jika seorang laki-laki ditusuk dengan jarum lebih baik baginya, daripada dia menyentuh perempuan yang belum halal baginya. Hadis riwayat Ath-Thabrani.”
Fatma yang merasa terintimidasi dan tiba-tiba lututnya melemas kemudian melangkah mundur. Niat hati ingin lari dari tatapan mata elang suaminya, pria itu malah memanggilnya untuk tidak pergi. “Fatma ....” Panggilan penuh peringatan itu keluar dari bibir Firman.
Gadis itu tersenyum kecut, menepuk jidatnya pelan lalu menjawab, “Iya Pak, siap kapanpun di mana pun!”
Firman memutar bola matanya malas. “Kamu seorang perempuan, kamu harus bisa menjaga kehormatan kamu!”
Fatma hanya mampu menundukkan kepala seraya menautkan jemarinya dan tersenyum bahagia. “Bilang aja kalau cemburu,” lirihnya.
Yusuf yang sedari tadi menyimak pun mendengar lirihan yang dikatakan oleh Fatma. “Cemburu? Emangnya Pak Bobby siapanya kamu, Fatma?” tanyanya setangah berisik.
Firman menghembuskan napas panjang. Anak muda zaman sekarang sangat susah untuk dinasihati. “Suaminya!” jawabnya dengan intonasi kesal.
Yusuf membulatkan matanya tidak percaya. “What, Pak? Suaminya?”
***
Seorang wanita dengan usia yang kurang dari dua puluh empat tahun itu tersenyum menyambut anak semata wayangnya yang terbangun dari mimpi indahnya. Tangan sang anak mengelus punggung telapak tangan wanita itu. “Bunda, Mala sekarang sudah sembuh ‘kan?” tanyanya dengan guratan gelisah
“Gak mau digituin lagi sama dokter-dokter Bunda, sakit ....” Ia mengeluh.
Batin perempuan itu tersentuh sendu. Lalu ia menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Enggak dong, Sayang. Mala ‘kan anak kuat!” Bu Aris menyemangati sang anak angkatnya.
Mala mengguratkan segaris senyum di bibir manisnya yang sedikit pucatnya. Anak kecil itu mengangguk percaya. “Syukurlah, Mala kuat kok ... Bunda!” serunya tertahan.
Menatap momen haru tersebut, hati Bu Aris terasa hangat sekaligus teriris. Hanya Mala 'lah penyemangat bagi dirinya. Gadis kecil itu bernasib sama seperti dirinya, hidup tanpa kedua orang tua. Bedanya, Bu Aris pernah merasakan apa itu arti kasih sayang dan anak kesayangan. Saat orang tuanya meninggal, tidak ada saudara ayah dan ibunya yang mau mengurus dirinya.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu, senyum miring menyambutnya pertama kali. Seketika jantung Bu Aris berdegup kencang. Gangguan kecemasan kembali menerpa dirinya. Wanita licik ini datang lagi.
“Halo Aris, akhirnya kita bisa bertemu lagi ya,” katanya seraya melangkah mendekati Mala. Wanita yang mengenakan masker hitam serta hoodie yang senada itu nyengir kuda.
“Aku ke sini punya kejutan buat kalian!” serunya diiringi tawa yang mengerikan bak seorang iblis bertanduk merah.
***
Membuka pintu, pria itu disambut oleh keramaian. Di sana ayahnya, paman, bibinya, dan dua sepupunya berdiri seraya menerbangkan serpihan kertas berwarna-warni. Terlihat dinding rumah yang didekor sedemikian rupa dengan beberapa balon.
Perlahan senyumnya terbit, seperti tahun sebelumnya. Ulang tahun pemuda itu selalu dirayakan. Namun, menurutnya tahun ini terasa istimewa. Nyanyian selamat ulang tahun terdengar mengalun merdu di telinganya, lalu diiringi tepuk tangan.
“Selamat ulang tahun, Ucup!” Sepupu laki-laki yang usianya di atas Yusuf memberi selamat.
“Selamat ulang tahun, Bro!” Sepupu laki-laki yang usianya dekat dengan pemuda itu merangkul menepuk punggung belakang Yusuf.
“Barakallah, anak ayah.” Pria paruh baya yang masih saja terlihat muda itu mendoakan putra semata wayangnya. “Semoga panjang umur, sehat selalu, jadi anak ayah yang shalih ya, Nak. Maaf nih, ayah belum bisa kasih yang istimewa buat kamu.” Ayah itu mengusap-usap puncak kepala anaknya.
Yusuf terkekeh. Pemuda itu mengamini doa sang ayah. “Kehadiran Ayah aja udah lebih dari kata cukup buat Ucup, terima kasih semuanya!”
Paman dan bibinya mendekat membawakan kue brownies tanpa lilin kesukaan keponakannya. Menatap itu Yusuf langsung berbinar.
“Wah, kalian selalu tahu kesukaan Ucup!”
“Harus dong!” balas bibinya tidak kalah seru.
“Ayo-ayo duduk! “ Ia mengajak dan duduk terlebih dahulu di karpet berbulu yang sudah tersedia dengan beberapa makanan di atasnya.
Setelah pantat mereka semua menapaki karpet berbulu itu, Yusuf mulai memotong kue brownies. Dengan senyuman yang tidak luntur sedikitpun pemuda itu menyodorkan suapan pertama untuk sang ayah.
Semuanya yang menyaksikan sontak tertawa. “Makan, makan, makan!” sorak semuanya.
Dengan sedikit terpaksa pria itu menerima suapan kue dari putranya dan diakhiri senyuman. “Yey!” Tepuk tangan menggema menjadi ucapan selamat.
Mereka memanfaatkan waktu senggang dengan mengobrol satu sama lain. Yusuf pun kini memanfaatkan waktu untuk menghabiskan momen langkah tersebut dengan sang ayah, karena kini Yusuf tak lagi tinggal bersama sang ayah. Setelah menikah untuk yang kedua kalinya, pria paruh baya itu memutuskan untuk tinggal dengan sang istri. Jarak itulah yang membuat Yusuf sulit untuk bertemu.
“Ayah, tahun ini ulang tahun Ucup terasa lebih istimewa,” ucapnya.
Ayahnya mengangkat satu alis. Yusuf terkekeh ketika ia mengingat kejadian sebelum pulang bersama Fatma tadi.
Pemuda itu menatap Fatma yang sedang menunggu jemputan di dekat gerbang sekolah. Gadis lugu itu memainkan jemarinya, membuat Yusuf merasa gemas.
“Lagi apa, lu? Belum dijemput sama Hubby?” tanya Yusuf dengan seringaian. Tak lupa pada ujung kalimat pemuda itu memberi sedikit penekanan.
“Apa sih, Kak Yusuf kepo!” balas Fatma pura-pura marah.
Yusuf tertawa. Sikapnya yang sering kali ia lihat seperti inilah yang membuat benih-benih cinta mulai tumbuh. Fatma itu gadis tidak jaim, gadis itu hidup apa adanya.
“Gua lagi ulang tahun, lu mau gak ngucapin sesuatu ke gua?” Ia bertanya penuh harap.
Guratan senyum terlintas di wajah pipi bulat Fatma. “Beneran? Aku gak siapin kado apapun nih. Maaf ya, Kak Yusuf sih ngasih taunya telat, dadakan! Tahun depan deh ya, kalau inget sama kalau ada umur.”
Mendengar hal itu cukup membuat hati Yusuf berbunga-bunga. “Ucapan selamat ulang tahun aja udah lebih dari kata cukup kok,” katanya seraya terkekeh.
“Ya sudah. Selamat ulang tahun Kak Yusuf. Barakallah fii umrik, semoga menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.” bibir mungil itu menyunggingkan senyum.
“Ohh jadi ceritanya lagi jatuh cinta nih, anak ayah,” godanya setelah mendengar kisah Yusuf tadi siang.
“Siapa gadis beruntung itu?” tanya ayahnya penuh penasaran.
Yusuf tidak menjawab karena terlanjur malu. Tiba-tiba ledekan pun memenuhi ruangan. Yusuf tidak menyangka jika semua orang mendengarkan ceritanya.
Berbeda dengan pemuda itu, Firman dan Fatma kini sedang perang dingin. Siapa lagi jika bukan karena Fatma yang dekat-dekat dengan Yusuf.
“Pak Bobby juga dulu dekat mulu sama Bu Aris,” ungkap gadis itu ikut cemburu.
“Fatma tadi cuma ngucapin terima kasih sama selamat ulang tahun aja, karena Kak Yusufnya yang minta, kasihan kalau engga diturutin!” Gadis itu kini merajuk.
Firman hanya diam tidak membalas penjelasan istrinya. Pria itu justru malah sibuk sendiri dengan pekerjaan beserta laptopnya di meja belajar. Fatma yang tengah tiduran santai di kasur pun beranjak.
“Cuekin aja terus sampai mampus!” katanya ngegas.
Melihat ke arah Fatma, pria itu berkata penuh peringatan. “Ucapan itu doa, jangan meninggikan suara di depan orang tua dan suami!” Setelah itu, ia kembali terlihat sibuk.
Merasa lelah selama tiga jam perang dingin, gadis itu terduduk di ubin lantai. Kedua kakinya dijulurkan ke depan.
“Katanya, kalau salah itu bilang, pasangan itu harus saling melengkapi, sama kalau ada masalah itu harus diselesaikan dengan baik-baik! Tapi Pak Bobby ... Pak Bobby malah nyuekin Fatma!” jeritnya seraya menangis.
“Ya udah, marahin Fatma aja, marahin! Fatma gak mau dicuekin ....” Gadis itu merengek dan bertingkah selayaknya balita di tempatnya.
“Hubby jahat ....”
Fatma jungkir balik di atas ubin tanpa digubris oleh suaminya, saat Fatma merebahkan tubuh dan berhenti merengek. Barulah Firman mematikan laptopnya dan menghampiri Fatma.
Pria itu menampar, melempar, dan menendang Fatma ke luar.
Bersambung ....
Pasuruan, 19 Juli 2023