
Ini hanya antara jodoh dan kematian, tidak ada yang tahu kapan dia akan datang meminang kita terlebih dahulu. Entah akan memakai gaun putih berbordir atau akan mengenakan kain putih polos panjang.
Kita pun tidak tahu kepada siapa, kapan, dan di mana hati kita akan berlabuh. Teruntuk hati, kapan pun kamu memilih, berdoalah semoga kamu tidak terpatahkan lagi.
Kata pujangga, hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Ternyata, memang benar begitu adanya. Baik itu cinta sesama manusia maupun cinta kepada Sang Khaliq. Allah, ia Maha membolak-balikkan hati manusia. Sekeras apa pun kita mencintai, jika ia bukan jodoh kita maka ia akan tetap pergi. Sekeras apapun kita membenci dia yang terkadang sering menyakiti, jika goresan takdir membuatmu harus bersatu. Kita tidak akan bisa membantah bukan? Berharap lah kepada sang pemilik hati, agar langkah selalu diridhoi.
Berharap lah kepada sang pemilik Arsy, semoga langkah yang kita jalani tidak mengalami kepatah hatian yang terus berlalu. Tiada manusia, tanpa hati. Tiada manusia yang bisa hidup indah tanpa cinta. Pemilik cinta, labuhkan hati ini sepenuhnya kepada-Mu.
Kisah Muhammad Bobi Firmansyah yang tertulis di halaman pertama ini. Firman tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengagumi, bahkan hatinya akan melabuhkan cinta kepada sesosok siswi yang sering menjadi bulan-bulanan sahabat sekelasnya. Gadis bermata sipit, berkaca mata dengan kulit putih tanpa disadari berhasil menghipnotis Firman. Ditambah dengan keluguan dari gadis itu yang selalu membuat lengkungan di bibir manis pria itu terbit.
Firman menatap dari kejauhan sesosok siswi yang kini sering terpatri di setiap doa yang ia panjatkan. Wajah ayu kini duduk di tanah dengan air mata di wajahnya, mengiris hati siapa pun yang melihatnya.
“Gara-gara lo, Azam jadi sering banding-bandingin gue sama lo. Katanya lo lebih cantik daripada gue.” Seorang siswi berbaju ketat itu membentak Fatma. “Padahal gue ‘kan pakai skincare dari Korea sama China yang mahal itu!” lanjutnya dengan raut wajah heran.
Di tempatnya berdiri, Firman ingin sekali tertawa mendengar pujian secara tidak langsung itu. Pria itu menghela napas lelah, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Di detik yang sama, Firman menggelengkan kepala diiringi dengan kedua tangan yang menyilang di dadanya. “Heran. Anak muda zaman sekarang, pacaran itu diprioritaskan menjadi yang nomor satu, menjadi suatu kebanggaan jika ia akan terlepas dari kata presiden jomblo. Pacaran diutamakan, wkwkwkwk,” gumam Firman seraya menggaruk salah satu pelipisnya pelan.
Pandangannya tidak luput sedikit pun dari kejadian itu. Bukan hanya sekali Firman melihat ini. Namun, hari-hari yang lain pun kejadian tersebut berulang terus-menerus. Bukan tidak ingin menindak lanjuti, tetapi salah satu siswi di antaranya adalah orang yang berhasil membuat hatinya luluh. Terkadang, sosok yang keras harus dilembutkan agar lunak. Jika ikut-ikutan diberi kekerasan, biasanya akan lebih menjadi-jadi dari sebelumnya. Pria itu tidak mau hal buruk menimpa Fatma, gadis yang dikagumi dalam diamnya itu.
“Jangan diam aja lo, jawab pakai skincare apa?!” Perempuan dengan nama Sinta Purnama Lestari itu membentak Fatma sehingga membuat gadis lugu itu terperanjat sedikit terkejut.
Sebelum menjawab, Fatma sempat menggelengkan kepala cepat. Apakah gadis itu tidak mengerti dari isyarat yang Fatma lontarkan kepadanya? “A--aku cuma pakai bedak biasa kok, beneran. Fatma tidak memakai sedikitpun skincare seperti kamu."
Keke ikut berjongkok dihadapan Fatma dengan tatapan sinis, hanya dengan menatapnya saja membuat Fatma bergidik ngilu. Kemudian, gadis itu sedikit mendekat sehingga membuat Fatma mundur perlahan. Keke mengelus puncak kepala Fatma, satu menit kemudian gadis itu menjambak rambut dibalik kerudung yang Fatma kenakan dengan sangat kasar, sehingga membuat gadis lugu itu mendongakkan kepalanya dan sebagian dari rambut Fatma terlihat. Gadis bermata bulat itu meringis, perih, pusing ia rasakan kini menerkam kepalanya .
“Kalau jawab yang bener dong!” Keke berdesis tajam dengan melotot ke arah Fatma. Ya, netranya membulat sempurna sehingga kornea itu seperti akan lepas dari tempatnya.
Sosok ketua geng buli itu semakin memperkencang jambakan pada rambut Fatma. “Tidak Kak Ke, berbohong itu dosa. Jadi, aku jawab bener kok," balas Fatma, tangannya dengan kuat menahan tubuhnya agar tidak tertarik ke belakang. Desir perih luruh bersamaan dengan desir halus di dadanya. Air matanya yang mengantri di pelupuk satu persatu jatuh membasahi pipinya.
“Berani ngelawan ya, lo!" Keke mengernyitkan dahinya sehingga membuat kedua alis tipisnya menyatu. Bukan melepaskan jambakan, gadis itu mendaratkan telapak tangannya tepat di pipi bulat Fatma.
Rasa panas menjalar di wajah Fatma. Tubuhnya seketika bergetar. Rasa sakit di wajah dan rambutnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Setetes bulir bening itu terjatuh. Fatma menggigit bibir bagian bawah agar suara isak pilu itu tidak sampai terdengar. Memang lebih sakit. Namun, mau bagaimana lagi.
Ya Allah ... berikanlah Fatma kesabaran.
Sinta lalu berjalan menghampiri Fatma dan tambah menginjak punggung tangan gadis lugu itu, menambah sakit yang menjalar di relung hati. Ia hanya bisa memejamkan nata dan menajamkan gigitan bibirnya. Ingin sekali menjerit, tapi apalah daya. Jika ia menjerit apakah ada siswa yang mau membantunya?
Bel masuk menandakan habisnya waktu istirahat pun berbunyi. Mereka pergi dengan tatapan sinis. Hanya satu di antara tiga orang itu yang tidak ikut-ikutan membentak dan melakukan kekerasan. Siswi bernama Inggit Pertama Sari itu hanya memperhatikan dengan wajah datar, Fatma mendongak melihat Inggit sembari meremas telapak tangannya yang nyeri tepat di dadanya. Mendekap dan sesekali melihat untuk memastikan kelima jarinya tidak ada yang terluka.
“Lain kali jangan sendirian." Tersirat nada tidak suka terdengar ketara. Saat Fatma mendongak kembali, gadis itu meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata untuk yang kedua kalinya.
Anehnya, Fatma merasa itu adalah teguran yang menyiratkan kekhawatiran secara tidak langsung. Inggit menyampaikan pesan, ‘Jaga diri dan lebih hati-hati!' Fatma menangkap itu.
Setelah kepergian geng yang selalu menjadikannya bahan bualan hingga berbulan-bulan. Fatma menangis tergugu, sendiri. Tidak ada yang berani melawan atau membela Fatma. Semuanya seolah-olah tidak melihat kejadian apapun. Tidak berani berkutik.
Meskipun begitu, Fatma akan selalu pura-pura terlihat untuk selalu baik-baik saja. Tersenyum getir. Ia berhenti menangis. “Fatma kuat, masa begini saja menangis, dasar cengeng!" Lalu, ia tertawa pelan-pelan, menertawakan dirinya sendiri.
Firman tetap memperhatikan Fatma dengan seksama. Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangan, walau hanya sedetik. Hatinya terusik ketika ia melihat Fatma mengulum senyum lurus. Meskipun, bukan senyum ke arahnya. Namun, senyuman itu menunjukkan gejolak kepedihan yang butuh sebuah dukungan. Melihat Fatma menangis, hati Firman seperti tersayat-sayat oleh ribuan silet. Bak bongkahan es yang dihempaskan keras pada tubuhnya.
Apalagi, ketika mendengar gumaman terakhir Fatma. Ia menyemangati dirinya sendiri lalu tersenyum. Rasanya, pria itu ingin berdiri di sampingnya, menghapus air mata yang terjatuh tanpa permisi pada sang empu dan menggantinya dengan seuntai kebahagiaan.
“Sabar Fatmawati kecilku, semoga takdir memudahkan niatku untuk segera meminangmu. Jangan pernah menyerah, percayalah saya selalu ada di sini untukmu, walau saat ini saya tidak bisa menyentuhmu secara langsung." Senyum manis dari bibir Firman kemudian terbit. Tanpa ia sadari, setetes cairan bening luruh dengan laju dari pelupuk matanya.
Bersambung....
Pasuruan, 11 Maret 2023