Fatma's First Love

Fatma's First Love
Hubby



..."Jika pasanganmu benar-benar mencintai kamu, maka sebanyak apapun kekurangan dirimu. Ia akan memahami dan menerima kekurangan itu."...


..._Fatma's First Love...


“Pak Bobby, “ panggilan Fatma tidak membuat pria itu berkutik. Ia masih tetap terlelap.


Gadis itu harus bagaimana sekarang? Ia tidak bisa tidur jika kepalanya belum dielus, membangunkan Firman rasanya tidak enak, apalagi berteriak dan lari ke kamar sebelah meminta dielus kepada sang bunda. Memalukan!


Fatma dengan langkah pelan menghampiri suaminya yang sudah masuk ke alam mimpi. Gadis lugu itu memandang wajah Firman. Tampan, lalu ia tertawa sendiri. Mimpi apa Fatma sampai bisa mendapatkan pria shalih bonus tampan seperti Firman?


Setelah puas dan ketawa sendiri tidak jelas, ia membaringkan badannya di samping Firman, berharap jika pria itu akan sadar dengan kehadiran Fatma dan terjaga. Namun, meskipun ada yang menemani tidur, tetapi tetap saja elusan itu yang pertama.


“Pa-Pak Bobby, “ panggilnya sambil menoel-noel lengan Firman malu.


Pria itu masih sama, belum membuka kelopak matanya. Fatma merengek pelan, lalu menghela napas berat. Orang mana yang akan bangun, jika cara membangunkannya dengan suara lirih dan mencolek seperti itu? Dasar Fatmawati!


“Pak Bobby, ba-bangun dulu ... boleh tidak?" Ia masih berusaha untuk membangunkan suaminya. Segala macam cara telah ia lakukan. Dari mengguncang-guncangkan lengannya sampai memainkan hidung Firman telah Fatma lakukan. Namun, seperti ruhnya berada di ambang raga. Tak bergerak, bersuara pun tidak.


Hening. Fatma menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Bingung, harus bagaimana lagi agar bisa membangunkan suaminya ini. “Pak Suami."


“Pak Bobby."


"Hubby."


“Penghuni hati."


"Pak Firman, bangun!"


“Sayang!" finally, Fatma sedikit berteriak dekat dengan daun telinga Firman.


Pria itu sontak membuka matanya karena terkejut. Dengan wajah khas bangun tidur ia menatap langit-langit kamar. Tidak lama netranya menangkap sesosok gadis lugu dengan rambut acak-acakan di depannya dengan mata yang mengerlip gemas.


Firman mengerjap, menetralkan pandangan setelah beristighfar. “Ke-kenapa, Fat?" gugupnya. Pasalnya jarak keduanya begitu dekat hingga Firmam dapat merasakan endusan napas Fatma.


Fatma memundurkan wajahnya malu, lalu menunduk. Melihat ekspresi wajah suaminya yang seperti melihat kunti perempuan membuat Fatma malu sendiri. Ekh, memangnya kunti ada laki-lakinya ya?


“Kenapa, Cipah?" tanyanya dengan napas yang sudah kembali normal.


Fatma melirik malu-malu ke arah Firman yang sedang menatap jam yang bertengger di dinding kamarnya ternyata jarum tersebut telah menunjukkan ke angka sebelas pas. Pantas saja Firman tadi terperanjat sedikit terkejut.


Pria itu beralih menatap istri kecilnya. “Tidak bisa tidur, hmm?" tanyanya lembut. Namun, masih kaku. Perlahan, dengan telapak tangan yang bergetar, Firman menyugar rambut Fatma. Membetulkannya sehingga wajah ayu gadis itu nampak jelas.


Fatma mengangguk dengan sedikit canggung. Lehernya seperti kaku tak mau digerakkan. “Ma--mau di--dielus kelapanya," ungkap Fatma terbata-bata. Semakin ia perjelas rasanya memalukan. Namun, bagaimana lagi, ia tak ingin terjaga semalaman.


“Hah, kelapa, apa?" Firman menjadi waspada. Ia melihat ke arah ranjang yang kosong. Takut, kalau di depannya ini bukan Fatma, istri kecilnya.


“Ekh, maksudnya kepala, Hubby," ralatnya sambil menutup mulut malu.


Tangan Firman gemas rasanya ingin meremas keras pipi bulat istrinya itu. Meskipun, ia sama sekali belum terbiasa. Namun, ia harus harus bersikap dewasa. Firman berbaring terlebih dahulu di atas ranjang dengan seprai berwarna biru laut.


“Sini!" ajaknya.


Fatma menengok sebentar, walau langkah kaki terasa berat, perlahan akhirnya ia ikut berbaring. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas lengan panjang sang suami. Di detik yang sama, telapak tangan pria yang tidur serangan dengannya itu pun mulai mengelus kepala Fatma yang kini telah terbalut hijab. Firman tidak akan memaksa Fatma untuk membukanya, mungkin gadis polos ini belum siap.


***


Firman merasa tidurnya kembali terganggu karena pergerakan manusia di sampingnya. Pria itu mengusap matanya perlahan lalu menatap Fatma.


“Kenapa? Kamu tidak nyaman, ya? Atau saya kembali saja biar kamu tidurnya bisa leluasa?" cercahnya pelan dan serak.


Fatma menengok dengan wajah yang lusut. Terpesona dahulu seperkian detik. Sebelum akhirnya, ia kembali memegang perutnya yang semakin menyiksa. Pria itu menatap tangan Fatma yang memegangi perutnya dan mulai menggerakkan tubuhnya ke sana kemari.


“Pak Bobby, boleh usapkan perut Fatma? Perutnya sakit," gumam Fatma sedikit merintih kesakitan. Ia menenggelamkan wajahnya di antara tumpukan bantal empuk. Mendengar permintaan sang istri, Firman hanya terdiam. Bingung. Mengiyakan atau menolak?


“Hubby, sakit...," lirihnya, menahan tangisan. Ingin sekali Firman kembali melanjutkan tidurnya. Namun, jika tidak dituruti, maka Fatma akan terus merengek hingga azan Subuh berkumandang.


Pria itu menghela napas panjang. Kini ia tahu bahwa Fatma adalah salah satu perempuan manja di jagat raya. Tiba-tiba ia teringat ucapan mertuanya. “Nak Firman, anak bunda itu manja banget, bangetnya pakai banget banget. Apalagi kalau udah datang tamu merahnya."


“Pak Bobby, tolongin Fatma. Bapak tega melihat Fatma gulung-gulung di atas kasur karena kesakitan? Bapak ridho kalau Fatma mati--." Dengan cepat ia membungkam pelan mulut Fatma. Ia bisa melihat wajahnya memelas disertai warna pucat yang semakin lama semakin kentara.


Tunggu. Apa yang menjanggal di hati Firman? Fatma memakai hijab, lalu mengenakan abaya dan tidak pakai selimut? Loh, bagaimana bisa pria itu melakukannya? Ia juga laki-laki. Firman berdeham pelan.


“Ya sudah! Kalau Pak Bobby gak mau, Fatma tidak memaksa." Gadis itu merajuk dan badannya ia palingkan membelakangi Firman.


Pria itu berulang kali menghela napas pelan. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. “Ayo, ngadep saya!” ajak Firman seraya meraih tubuh Fatma pelan. Tidak ada penolakan.


Ia memejamkan matanya. “Singkap bajunya setengah, Fatma!" titahnya.


Tak ada penolakan. Gadis itu menuruti titah suaminya. “Kenapa Pak Bobby menutup mata?" tanya Fatma dengan polosnya.


“Pakai selimutnya!" lanjut Firman tanpa menjawab pertanyaan Fatma sebelumnya.


Gadis lugu itu kini tak menjawab atau bertanya, ia kembali menurut. “Pak Bobby, Fatma engga pakai celana panjang, tapi 'kan udah pakai selimut. Terus kenapa Pak Bobby masih merem? Emangnya dosa ya, Pak, lihat tubuh istri? Ekh, bukannya kita udah sah itu bisa leluasa melakukan sesuatu?' Kan udah halal 'kan ya, Pak?"


Wajah Firman seketika merona. Sebisa mungkin agar ia tidak tertawa. Sungguh, sehari berada di dekat Fatma membuat Firman kualahan. Entah dari tingkah laku maupun sejuta pertanyaan yang gadis itu layangkan. Akh, pertanyaan apa itu Fatma? Rasanya, Firman ingin menggigit pipi tembem istrinya sampai merah saking gemesnya.


Sengatan itu berdesir membuat seluruh tubuh keduanya terasa mendidih. Ini pertama kalinya perut Fatma disentuh oleh orang lain selain bunda dan ayahnya. Fatma merasakan gelenyar itu. Keduanya saling memejamkan mata, menetralkan kondisi agar kembali stabil seperti semula. Fatma merasakan bahwa pipinya memanas begitupun dengan Firman. Tangan hangat suaminya membuat Fatma nyaman.


“Pak Bobby," panggil Fatma.


Firman sedikit menoleh. Tidak. Lebih tepatnya ia hanya mengintip dari sudut pandang netranya. “Pak Bobby kesel engga, karena Fatma bangunin terus?" tanyanya lesu dengan nada merengek.


Pria itu menggeleng cepat. “Fatma emang orangnya suka ngerepotin Pak, Pak Bobby janji 'kan engga akan ninggalin Fatma? Meskipun, sifat Fatma seperti ini? Janji' kan, Pak?" Fatma menyodorkan jari kelingkingnya kepada Firman. Namun, pria itu tak bergegas meraihnya sehingga jemari itu hanya mengambang di udara.


Entah kenapa Firman merasa terharu, entah kenapa dirinya merasa sangat dicintai oleh Fatma. Pria itu mengangguk lemah. “In syaa Allah, tidak akan Fatma. Semoga saya dan kamu bisa menjalani ini dengan sakinah, mawadah dan warohmah."


“Aamiin," jawab Fatma menatap wajah Firman dengan senyuman seindah taman surgawi.


****


Suara naungan azan dari langgar dekat rumahnya pun terdengar jelas sampai ke dalam kamar Fatma. Mungkin karena belum terbiasa tidur dengan lawan jenis selain sang ayah. Saat ia merenggangkan otot-ototnya dalam keadaan setengah sadar Fatma menatap ke sebelahnya, betapa terkejutnya ia tatkala melihat seorang pria yang tidur sejajar di sampingnya.


“Haaaa ....“ Teriakan Fatma begitu menggema di telinga Firman.


Plak!


"Aduh," rintih Firman yang tanpa sengaja dipukul oleh Fatma.


Tidak hanya berhenti di situ saja. Karena terkejut, gadis itu spontan beranjak dari tempat tidurnya tanpa melihat ke arah depan. “Aaww...," rintih Fatma kesakitan yang terbentur dinding.


Firman yang dipukul sangat keras oleh Fatma seketika terkejut dan hanya bisa duduk terdiam sambil terkantuk-kantuk. Serasa mimpi, nyatanya tangan Fatma sangat antep, dan terasa sakit sekali setelah dipukul olehnya.


Fatma menatap lama pria yang duduk di atas ranjang seperti orang ling-lung itu, dan tak lama ia teringat bahwa statusnya hari ini bukan lajang lagi, melainkan sudah menjadi seorang istri.


"Ekh, maaf Pak Suami. Istri kecilmu ini lupa kalau kita semalam sudah sah menjadi suami istri." Gadis itu meminta maaf dengan raut wajah tanpa dosa.


Firman hanya tersenyum miring. “Kenapa?" tanya Firman.


Fatma hanya menggelengkan kepala. “Tidak mengapa," jawab Fatma seraya beranjak dari ranjang dan mengambil air wudhu.


Brag!


"Ekh, hati-hati istri kecil!" ujar Firman seraya menahan tawa.


Fatma menatap malu ke arah sang suami, dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, disusul Firman. setelah mereka berdua mengambil air wudhu, mereka pun menunaikan shalat subuh berjamaah untuk yang pertama kalinya.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap firman seraya menengok kanan dan kiri.


Setelah itu, Firman menyodorkan punggung telapak tangannya kepada Fatma dan gadis itu segera menyalaminya. Kemudian dilanjut dengan Firman yang mencium kening Fatma. Tak terasa, air mata menetes dengan mulusnya ke pipi gadis lugu itu yang cubby.


Firman dan Fatma hari ini menikmati libur sekolah dan kerjanya. Gadis itu kini sedang berbaring manja di kasurnya. Setelah terbangun di pukul empat pagi tadi, keduanya berlanjut mengobrol sampai fajar menyapa. Fatma yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan Firman kini tidak sesungkan seperti sebelumnya. Sedangkan, Firman pun tidak terlalu kaku. Seperti ini contohnya ....


“Pak Suami!" teriak Fatma dengan khas nada miliknya. “Hubby ... lama banget hueeee!" Fatma kembali berteriak dengan gaya pura-pura sedih.


Dahlah. Fatma kini sudah seperti bayi besar yang sedang bermanja kepada tuannya. Baru Firman tinggalkan lima menit yang lalu untuk mengambil sarapan buatnya saja kini Fatma sudah merasa seperti ditinggalkan bertahan-tahun lamanya. Lebay, dasar Fatmawati!


“Ada apa sih, anak bunda kok teriak-teriak mulu? Tadi manggil siapa? Hayoo ngaku, baru juga nikah udah selingkuh aja sama si hubby-hubby barusan." Bunda Naumi mengomel dengan berkacak pinggang.


“Ikh, Bunda, Hubby itu panggilan sayang Cipah buat Mas Bobby Firmansyah, Pak Suami pengisi hati sang bidadari," balas Fatma seraya memegang dadanya.


“Hih, pengantin kecil!" Ayah Sabil tiba-tiba nongol dan menimpali.


Kini Fatma cengengesan. “Sekarang Cipah udah laku Ayah ..., tapi tenang aja. Cinta pertama Cipah tetap Ayah kok, sini peluk jauh ...." Fatma merentangkan kedua tangannya.


Ayah Sabil mendekat lalu memeluk putri kecilnya. “Peluk dekat aja selama itu bisa."


“Anak ayah emang manja! Padahal udah nikah,” Ya, itu adalah omelannya Bunda Naumi.


Fatma dan Ayah Sabil tertawa. Tiba-tiba gadis itu teringat suaminya. “Pak Bobby, Pak Suami, Hubby, sini rindu!" teriaknya tanpa tahu malu.


Bak penyelamat memakai baju pangeran, serta mengendarai kuda hidup lalu dibawa burung besar terbang. Firman datang membawa nampan berisi bubur satu mangkuk penuh. Melihat pipi tembem Fatma, ia yakin setiap makan pasti porsinya lebih dua piring. Makanya, ia bawa penuh.


“Ayah, sepertinya kita hanya menganggu pengantin bau saja, Ekh baru maksudnya," goda Bunda Naumi.


Firman terkekeh. “Ekh, tidak kok Bunda, tidak menganggu sama sekali," cakapnya.


“Sudah akh, ayah berangkat kerja dulu!" Firman dan Fatma menyalami Ayah Sabil sebelum ia berangkat bekerja. Sedangkan Bunda Naumi menghantarkan sang suami sampai ke depan pintu juga ikut menyalami Ayah Sabil.


“Hati-hati, Suamiku." Bunda Naumi menutur setelah mencium punggung telapak tangan suaminya.


Ayah Sabil mencium kening istrinya sebagai balasan. “Hati-hati juga, Ibu Negara. Tunggu suamimu ini pulang!"


Bunda Naumi merona. “Semangat kerjanya, jangan lama-lama!"


Hal romantis seperti itu tidak pernah kedua orang tuanya lakukan di depan sang anak. Takut jiwa kejombloan sang anak membuatnya ingin merasakan pacaran. Namun, sepertinya untuk sekarang terang-terangan pun boleh. Bunda Naumi tertawa sendiri memikirkan hal itu.


Bersambung....


Pasuruan, 12 Maret 2023