
..."Berjanjilah kamu tidak akan pernah membuat saya khawatir lagi?!" ...
..._Fatma's First Love ...
Baskara memancarkan panasnya. Kala itu, hawa terasa sangat panas sampai ke ubun-ubun. Cerah. Sayang, suasana indah hari ini tak sama seperti hati pria dengan raut wajah terukir panik. Mobil pajero itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah ramainya jalanan, tanpa disadari mobil yang dikendarai Firman melaju semakin menjauh dari sekolah. Pria itu terus menggosok-gosok telapak tangan Fatma yang semakin lama terasa dingin. Sedangkan Fatma dengan sekuat tenaga memaksa kedua matanya terbuka. Ia mengumpulkan kesadarannya dengan menatap kosong ke depan dan memijat pelan keningnya. Ia merasa kepalanya pusing sekali. Bening itu kembali menetes, rasanya sakit. Apakah ini akhir dari hidupnya?
“Fatma, apakah kamu baik-baik saja, Sayang?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Apakah masih pusing? Fatma mau apa?”
Firman terus bertanya dan menawarkan Fatma berbagai makanan. Tujuannya agar gadis lugu itu tetap terjaga. Ia tak ingin hal buruk yang bersarang di kepalanya saat ini benar-benar terjadi.
"Fatma, saya mohon ... bertahanlah!” ucapnya lirih.
Di detik yang sama dengan menetesnya cairan bening dari pelupuk Firman, perlahan netra Fatma teralihkan memandang suaminya dengan bibir tersenyum tipis. Tangannya bergerak memegang tangan Firman. Pria itu menghentikan laju mobil yang ia kendarai, menepi di pinggir jalan.
“Pak Suami,” panggil Fatma pelan dan lemah.
“Fatma ... apakah kamu baik-baik saja?” Gadis itu mengangguk bersamaan dengan menetesnya cairan bening yang menganak di pelupuknya.
“Fatma ingin memeluk Pak Suami.” Annisa merenggangkan tangannya. Wajah pucat pasi dan tenaga yang belum sepenuhnya pulih membuat Fatma tak berdaya. Kejadian itu, menimbulkan traumatik baginya.
Ali terkekeh lemas, tetesan demi tetes masih melesat tanpa permisi kepada sang empu. Tak ingin menampakkan raut wajah sedihnya kepada Fatma, pria itu mengelas kasar jejak bening di pipinya. Kemudian, melepaskan seat belts agar bebas berpelukan. Keduanya saling memberikan kehangatan satu sama lain. Terdengar isakan tangis yang menyiratkan ketakutan, tubuh Fatma masih berguncang dan bergetar.
“Tenanglah! Ada saya di sini untukmu, Sayang.” Firman mengelus punggung Fatma lembut. “Sudah ya,” lanjutnya.
“Saya bersyukur karena masih bisa melihat Pak Bobby kembali. Fatma takut istri kecil tidak akan pernah bisa--”
“Tidak.” Secepat kilat Firman memangkas kalimat Fatma yang belum selesai. Ia membungkam pelan mulut Fatma, tidak ingin membiarkan istri kecilnya mengucapkan hal yang paling pria itu takuti. Kehilangan.
“Saya tidak akan membiarkan malaikat maut membawamu terlebih dahulu, Fatma.” Tergugu. Isak tangis sangat dalam terdengar kentara. Tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika tidak ada Firman.
“Berjanjilah kamu tidak akan pernah membuat saya khawatir lagi?!” Pria itu menyodorkan ke depan jari kelingking. Wajah Fatma yang sembab hanya membiarkannya mengambang di udara. Tidak ada respon, pria itu menganggukkan kepala untuk meyakinkannya sekali lagi. Dengan jemari yang gemetar, ia melilitkan jemari kelingkingnya pada jemari suaminya.
“Bapak berjanji tidak akan meninggalkan Fatma?” Luruh dan runtuh. Di menit yang sama dengan jatuhnya setetes air mata, pria itu mengangguk. Setelahnya, Firman memeluk erat tubuh kecil istrinya. Tak ingin melepaskan walau hanya sedetik.
Rasanya Firman tidak sanggup mendengar dan melihat itu. Fatma melerai pelukan suaminya, mengusap jejak air mata di bawah mata yang sedikit memerah itu. Hidung dan bibirnya pula ikut memerah. Pria itu menangkup wajah Fatma lalu mengecup pipinya.
“Pak Bobby ... mereka kenapa jahat sama Fatma?” gumamnya tidak mengerti. Firman terdiam membisu, menunggu lanjutan kalimat dari Fatma.
“Pak Bobby, Fatma mau hidup tenang. Fatma harus bagaimana?” tanyanya lemah. Lama terdiam Firman pun menjawab.
“Jadilah seperti Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang menjadi muslimah pemberani. Namun, memiliki sifat pemalu. Jadilah seperti Sayyidah Khadijah yang setia kepada Rasulullah dan rela mengikhlaskan hartanya untuk agama Allah. Serta jadilah seperti Sayyidah Maryam yang senantiasa menjaga kesuciannya. Meskipun, ia dihadapkan dengan malaikat Jibril yang sangat tampan. Namun, tetap mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah.ʼ”
Fatma perlahan mengangkat kedua sudut bibirnya. “Tapi Pak Bobby, Fatma bukan mereka. Fatma hanya gadis yang bisa pura-pura ceria dihadapan orang lain dan sekarang dihadapan Pak Bobby ... Fatma gagal. Fatma cengeng, Fatma lemah, Pak. Tadi saja Fatma tidak bisa melakukan apa-apa.” Fatma kembali tergugu. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan kedua telapak tangannya kembali.
Buliran itu kembali terjatuh, sesak merampas ketenangan napas Fatma. Isakan memilukan itu Firman kembali dengar. “Sayang, bagi saya Fatma adalah Sahmura yang terang. Kamu hanya perlu waktu untuk bisa melawan mereka, dan berubah menjadi muslimah pemberani. Saya tahu istri kecilnya saya mampu, tapi tidak sekarang.” Firman mengambil alih pergelangan tangan Fatma. Ketika wajah ayu itu telh nampak, Firman mengelas jejak air mata dengan punggung jari telunjuknya.
“Sayang, saya adalah suamimu. Kita berhak berbagi keluh kesah, saya tidak pernah menganggap sedikit pun bahwa Fatma wanita lemah, Fatmawati ... meskipun sulit mari kita jalani bersama ... ya.” Firman kembali berusaha memberikan kedamaian jiwa.
Gadis itu merasa terharu, dirinya yang bodoh bersyukur memiliki suami seperti Firman. Dirinya yang manja tak kenal ampun itu diterima dengan baik oleh sosok sempurna sepertinya.
“Fatma gadis tegas. Meskipun banyak orang di luar sana yang benci ke kamu, tapi Fatma harus tetap tersenyum dan bersabar. Fatmawati ‘kan bukan gadis cengeng!”
Raut wajah itu kembali memancarkan biar harapan, membuat Firman lega. “Saya sayang sama Pak Suamk, jangan tinggalkan Fatma ya!?”
“Saya juga Fatma. In Syaa Allah ... saya tidak akan pernah meninggalkan kamu,” balasnya.
****
Kekhawatiran itu bergejolak. Jika hasilnya tetap sama, maka segudang pertanyaan akan semakin bersarang dan melebar tanpa jawaban. Firman harus mencari titik terang. Bertahun-tahun harus mencari tahu siapa sosok yang telah membunuh orang tuanya.
Menekan bel, kedatangannya disambut oleh pelayan rumah tua itu. Mengucapkan salam, lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Sore ini pria dengan kemeja hitam memutuskan berkunjung ke rumah besar ini seorang diri. Nampak seorang pria paruh baya tersenyum hangat menatap ke arahnya.
“Firman, sini Nak!” panggil Om Wijaya. Pria berumur itu kini mengenakan pakaian rumahan, dengan tertera beberapa berkas dihadapannya.
Firman tersenyum tipis, lalu menghampiri. “Apa kabar pengantin?” tanya menggoda. “Om kangen,” lanjutnya seraya terkekeh.
Pria itu hanya membalasnya dengan senyuman tulus. Pria paruh baya di depannya ini telah banyak berjasa di kehidupannya. Membantunya bekerja di cafe, dan banyak lagi.
Apalagi ia rela membantu mencari kebenaran tentang siapa yang telah berani membunuh orang tuanya. Sampai saat ini Firman tidak mengerti apa motif orang itu dengan membunuh orang tuanya? Adakah maksud terselubung dibalik itu semua?
Om Wijaya tersenyum tipis dengan wajah yang ikut prihatin. “hasilnya tetap sama,” jawabnya singkat yang seketika membuat raut wajah Firman berubah drastis. Kedatangannya yang penuh harap ke rumah tua itu sia-sia. Tak ada hasil yang ia dapatkan.
Firman menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, napasnya seperti tercekat, lidahnya kelu. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Ayah Sabil ....” Telak. Berharap semua itu hanya tipu daya ataupun mimpi buruk yang sekedar lewat dalam tidurnya. Namun ....
Om Wijaya mengangguk, ia menyerahkan bukti-bukti yang didapat. Sepertinya Ayah Sabil berkirim pesan dengan seseorang untuk melakukan perencanaan pembunuhan itu. Plat mobil yang menabrak dan lain-lain.
“Maafkan om, Nak. Om saat itu tahu rencananya, Om sudah cegah Kak Sabil, tetapi Kak Sabil tetap bersikukuh ingin menghancurkan keluargamu. Karena saat itu Kak Sabil mengalami kerugian saat bekerja sama dengan perusahaan Ayahmu. Kak Sabil tidak terima dan hal itu pun terjadi,” jelas Om Widjaya dengan lesu. Kembali. Firman membuka lembar demi lembar putih yang saat ini ada dalam genggamannya.
Raut penyesalan tercetak di wajahnya. “Maafkan om,” lirihnya, sambil mengusap air muka yang tiba-tiba terjatuh.
Firman jadi ikut merasa bersalah, tetapi logikanya berpikir sepertinya alasan yang Om Wijaya katakan kurang kuat. Ayah Sabil pasti ada alasan lain yang tidak siapapun ketahui.
“Om tidak salah, mungkin ini takdir, tapi saya masih tidak menyangka Ayah Sabil bisa melakukan itu semua. Apa itu suatu alasan yang membuat lamaran saya dengan Fatma gampang diterima?”
Firman memijat kening frustrasi. Pria itu mengangkat kepalanya, menatap Om Wijaya. Wajah dengan beberapa kerutan dibagian wajahnya melukiskan wajah sendu. Di dahinya selalu saja tertera seperti salompas, anehnya selalu diletakkan di tempat yang sama.
“Om masih pusing? Kenapa setiap saya lihat pasti pakai itu terus?” tanyanya.
Om Wijaya menggaruk hidungnya refleks. “I--iya, entah kenapa pusing ini tidak mau sembuh.” Ia terkekeh sebentar. “Maklum, om sudah tua Nak,” lanjutnya.
Zulaikha tiba-tiba datang menghampiri kedua pria itu. “Wihh kenapa nih, Ayah sama Aiman sampai melow gini?” Zulaikha bertanya. “Man, muka kamu kisut banget, cuci muka sana!” suruhnya sedikit mencairkan suasana yang tanpa disadari menegang.
Pria itu mengindahkan titah Zulaikha dengan menganggukkan kepala lalu berjalan menuju kamar mandi yang tidak jauh dari sana. Tidak sengaja ia melihat seorang pelayan yang tadi menyambutnya membawa sebuah piring makanan ke arah gudang. Apa pembantu itu makan di sana?
“Bik, kenapa makannya di tempat yang kotor, 'kan ada meja makan?" tanya Firman. Pria itu tidak ada niatan menyinggung sedikit pun.
Tampak raut terkejut di wajah perempuan berumur itu. “Ekh, anu Nak, bibi mau sekalian ngambil sapu buat bersihkan dapur,” ungkapnya canggung.
Firman menaruh prasangka buruk pada wanita berumur itu. Pasti ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan. Ia ketakutan dan merasakan kekhawatiran pula. Firman menggeleng, mungkin ini karena gerak batinnya sedang tidak baik.
“Bibi permisi, ya, Nak.” Wanita itu melenggang pergi.
“Aiman, ngapain kamu di situ? Sudah selesai cuci mukanya?” Zulaikha terkejut, begitupun dengan Firman.
*****
Di bawah langit, di atas bumi. Terpanjat sejuta doa, mengharap bahagia. Tampak kedua insan sedang mensyukuri keindahan, tak kala semburat jingga mulai muncul, tanda terbenamnya mentari.
Gadis yang berstatus istri kecil Firman itu kini sedang menunggu kepulangan suaminya. Hari sudah gelap, Fatma merasa sendu, padahal tadi ia belajar memasak untuk makan malamnya bersama sang suami, tetapi detik berganti menit, menit berganti jam, pria itu tak kunjung pulang.
“Bu, Pak Bobby ke mana ya, kok sampai jam segini belum juga pulang?” tanya Fatma khawatir.
Bu Sulihah terkekeh. “Tenang saja, Nak. Den Firman paling cuma berkunjung sebentar ke rumah Om-nya sehabis kerja, sebentar lagi juga pulang,” katanya menenangkan.
“Oh begitu ya, syukurlah kalau begitu,” gumam Fatma. Ia mengalihkan pandangan ke arah meja makan yang terlihat sudah banyak makanan. Lalu helaan napas panjang ia keluarkan. Di detik yang sama ....
"Nak Fatma." Bu Sulihah dengan cepat menangkap badan Fatma yang sedikit lagi tertelungkup ke lantai. Entah apa yang terjadi. Namun, terlihat gadis itu memegang kepalanya. Ah, apakah karena luka siang tadi?
"Nak Fatma baik-baik saja?" Fatma mengindahkan pertanyaan Bu Sulihah dengan anggukan kepala lemah. Mendadak, wajahnya pucat pasi. Oh Allah, apa yang sebenarnya terjadi?
"Saya telepon Den Firman dulu, ya. Saya takut--" Fatma menggamit pergelangan tangan Bu Sulihah secepat kilat. Kemudian, ia menggeleng lemah.
"Saya baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit pusing. Dibuat istirahat juga akan membaik."
"Benar?" Fatma kembali mengangguk. Saat ini, ia berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang menyergap kepalanya. Ia tak ingin sampai membuat Bu Sulihah khawatir dan mengadukannya kepada Firman. Fatma tak ingin menganggu kesibukan suaminya itu.
"Jangan beritahu Pak Bobby. Saya tidak ingin dia merasa terganggu hanya karena sakit yang sepele ini." Dengan berat hati, Bu Sulihah mengiyakan permintaan Fatma.
Ya Allah, sakit, tapi Fatma tidak boleh lemah. Fatma tidak ingin membuat Pak Bobby khawatir.
Sedangkan, dibalik penantian Fatma ada sesosok pria yang kini sedang duduk di depan kemudi mobilnya yang melaju mengerem rendah. “Ayah, Ibu, Firman rindu. Tolong berikan Firman petunjuk Ya Rabb, biarkan keadilan ini ditegakkan.”
Bersambung...
Pasuruan, 26 Maret 2023
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA🖤