
..."Berada dekat di sampingmu selalu membuatku bahagia."...
..._Fatma's First Love...
Setelah ia diselamatkan oleh Yusuf dari terkaman macan betina, tatapan itu entah kenapa seperti tidak asing bagi Fatma. Adakah dari kalian yang tahu tatapan itu seperti milik siapa? Fatma merasa lupa akan hal itu. Tatapan tajam mengunci itu sulit diartikan, seperti ada rahasia yang belum Fatma ketahui.
Dari saat kejadian Yusuf yang ditarik oleh Sinta. Namun, tetap memandang ke arahnya. Tidak mungkin bukan jika Yusuf meminta pertolongan kepada seorang perempuan? Akh, rasanya kepala Fatma mendadak menjadi pusing memikirkan itu semua.
Gadis itu menjadi teringat ponsel yang diberikan Pak Suami. Sejenak, ia tertawa geli sendiri. Lalu mengambilnya dari saku. Ya, kini Fatma tengah berdiri seraya mendekap beberapa buku paket tebal sedang menunggu suami besarnya menjemput.
Fatma menekan tombol hijau yang artinya ia ingin menelepon seseorang. Dan betul, gadis itu menelepon Bunda Naumi. Sudah beberapa hari ia tidak berbincang dengan sang sumber kebahagian cukup membuatnya rindu. Sambil menunggu suaminya datang, Fatma pengin tahu lebih banyak lagi tentang pernikahan. Ah, mungkin ia ingin basa-basi untuk mengetahui kondisi bundanya.
“Assalamualaikum, Bunda Sayang," salam Fatma seperti biasa dengan ceria. Terdengar pula jawaban salam rindu dari sang bunda yang semangat.
“Bunda, apakah Ciyil wajib memasak untuk Pak Bobby. Setelah menikah memang harus masak, nyuci bajunya suami itu tugasnya Ciyil ya, Bun?" tanyanya merasa sedih, bibirnya sedikit mengerucut ke depan.
“Bunda sendiri tahu jika Ciyil tidak bisa memasak," keluhnya kembali. Ah, gadis ini terlalu banyak mengeluh. Setelah menikah masihkah Bunda Naumi ikut campur dalam kehidupan mereka berdua?
“Fatma, memasak untuk suami itu tidak wajib, tetapi pastinya seorang suami juga ingin dimasakkan sama istrinya walaupun itu tidak setiap hari. Bunda tidak menuntut kamu harus jago masak. Perlahan, Nak." Penuturan wanita paruh baya dari seberang sana membuat Fatma lega. Karena apa? Apakah artinya ia bebas tidak dihantui lagi rasa takut akan belajar memasak?
“Tapi Ciyil sering lihat Bunda masak buat Ayah." Merasa heran, gadis lugu itu kembali bertanya. Tidak heran bukan jika ia terlalu banyak bertanya. Mengingat bahwa umurnya masih remaja dan tidak memiliki banyak pengalaman mengurus rumah tangga.
“Kewajiban seorang istri itu melayani suami, bukan memasak untuk suami. Baik lahiriah atau batiniah. Memasak bisa menjadi kewajiban suami, nyuci piring, baju, juga sama, tapi ... Fatma ...," jawab sang bunda menggantungkan kalimatnya membuat Fatma menaikkan satu alisnya.
“Tapi apa, Bunda?"
“Tapi kalau Fatma sayang dengan suami, mau jadi istri shalihah, kamu pasti akan melakukan semua pekerjaan rumah tangga itu tanpa disuruh atau menunggu salah satu dari kalian untuk mengerjakannya. Karena Fatma, istri itu pendamping suami, bukan pembantu suami." Bunda Naumi menjelaskan.
"Satu lagi ... kamu harus selalu ingat bahwa sekarang surga ada di telapak kaki suamimu. Sekarang Fatma sudah tidak lagi menjadi tanggung jawab Ayah, tapi suami. Sekecil apapun perbuatan itu akan menjadi pertanggungjawaban kelak di akhirat."
Fatma perlahan mengangguk walau ia paham jika Bunda Naumi tidak dapat melihat tanggapan dari putrinya itu. “Terus apalagi, Bunda?"
“Kalau mau keluar rumah izin dulu, kalau suami mau apa-apa harus dituruti ya, dilayani, jangan ditolak! Kalau Fatma nolak, maka akan mendapatkan dosa dan hukuman dari Allah. Kembali lagi, dulu ridho Fatma itu ada di bunda dan Ayah, sekarang ridho kamu sudah bergantung ke ridho Pak Hubby," goda Bunda Naumi diakhir kalimatnya. Ujung kalimat itu terdengar sedikit diiringi dengan kekehan pelan dam tertahan.
Fatma tertawa malu. Bagaimana bisa bundanya mengetahui panggilan sayangnya terhadap Firman? “Bunda mah, itu panggilan yang cuma Fatma saja yang boleh pakai!"
Terdengar jawaban tawa dari seberang sana. Gadis lugu itu cemberut. “Kalau suami datang, jangan lupa disambut dengan senyum hangat dan tangannya dicium. Kalau nanti menantu bunda gak nyium kening kamu. Jangan lupa minta, kalau mau dapat pahala."
Fatma terdiam sejenak. Mencoba untuk mencerna setiap tutur kata yang diucapkan oleh Bunda Naumi. “Oh gitu ya," gumamnya seraya mengangguk-anggukkan kepala.
“Ya sudah nanti Fatma minta ciumnya di kening tambah pipi, dagu yang banyak ya, biar dapat pahalanya berlipat ganda pula!" serunya senang. Bunda Naumi yang berada jauh di seberang sana hanya bisa menepuk jidat seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Ta–-"
“Dadah Bunda! Kecup jauh pipi Bunda, emmuach!" pamitnya lalu beberapa menit kemudian mematikan sambungan telepon, tanpa memperdulikan bundanya yang belum selesai bicara.
Di sisi lain, bundanya merasa ingin mengembalikan kembali Fatma ke dalam kandungannya. “Gini nih, punya anak yang baiknya berlebihan. Bundanya lagi ngomong malah dimatiin. Dasar Ciyil manja kaya balita.”
*****
“Assalamualaikum, Khadijah kecilku. Maaf saya lama, tadi ada tambahan jam kelas di kampus," jelas Firman yang baru saja keluar dari mobilnya dengan menampakkan deretan giginya yang putih.
“Waalaikumus salam Hubby, iya lama banget, Fatma sampai bosan nunggunya!" responnya dengan cemberut. Jangan lupakan tangan yang dilipat dan saling menyilang di dadanya.
Pria itu terkekeh lalu mengusap kepala Fatma dengan pelan, sedikit memeluknya. Senyuman itu begitu tulus nan manis hingga lipatan di bawah matanya terlihat kentara. Fatma mendorong tubuh Firman, menepis pelukan hangat dari suaminya itu. Ia tak mengeluarkan sepatah kata, melainkan hanya menaikkan satu alis saja.
Ia malah menyodorkan tangannya tepat di depan wajah Firman. Dirinya yang kebingungan tidak mengerti malah dengan polosnya mengusap tangan Fatma lembut. Gadis itu mendengus kesal. “Bukan gitu Hubby, tapi gini ...."
Fatma mencium tangan Firman yang membuat pria itu mematung melihat aksi langkah dari istrinya itu. Setelah selesai Fatma kembali mendongak. “Kok keningnya engga dikecup sih, Pak Bobby? ‘Kan katanya udah sah." Entah mendapat keberanian dari mana sehingga ia berani protes seperti itu kepada Firman.
Pria itu malah terkekeh, sedikit tersenyum kecut. Untuk memastikan kondisi telah kondusif, Firman menengok ke kanan dan kiri, ia hanya takut jika ada yang sampai melihat aksi mereka. Setelah dirasa memungkinkan untuknya melakukan ritual sakral itu, ia lalu mengecupnya. Posisi yang masih dekat dengan sekolah, membuatnya merasa was-was.
Fatma menunjukkan pipinya. “Apa?" Firman tidak mengerti.
“Kecup lagi di sini, Hubby ...." Gadis itu merengek seraya menghentakkan kakinya pelan.
“Sama di dagu, Hubby! Biar pahalanya berlipat ganda, kata Bunda gitu soalnya. Kalau suami gak kecup harus ditagih!" Fatma menjelaskan dengan wajah polosnya. Pria itu terpaku sejenak. Perlahan ia mulai paham akan maksud dari perkataan istri kecilnya. Jadi ini instruksi dari bundanya? Ah, setiap ia melihat wajah polos itu membuat Firman ingin tertawa dan tak pernah bisa marah.
Ya, kini Firman paham dari mana cikal bakal pikiran istri kecilnya itu berasal. Bunda, kau membuat suami besar itu tidak mengerti. Firman mengangguk, lalu mengecup pipi sebelah kanan Fatma cepat. Serta dagu tidak ketinggalan pula.
Raut wajah Fatma berubah ceria, ia tersenyum sumringah. “Anak pintar," katanya sambil memencet pipi yang pria itu kecup lalu menempelkannya di pipi Firman. Tak lupa, dengan jemari yang gemetar Fatma mengelus-elus kumis tipis suaminya yang mirip seperti kumis lele.
Firman melongo. Anak pintar? Tanpa mempedulikan suaminya yang masih terpaku, tanpa dosa Fatma berjalan memasuki mobil. Saat dirasa bahwa suami besarnya masih saja membeku di tempat, Fatma mendengus kesal dan berteriak.
“Pak kumis lele!" panggilnya dari dalam mobil.
“Ekh iya-iya." Firman menjawabnya dengan gelagapan.
Saat Firman akan masuk, seseorang kembali memanggilnya, tetapi bukan gadis yang saat ini berada di dalam mobil. Melainkan seorang perempuan yang sedang berjalan bersama dengan satu perempuan yang sangat Firman kenal.
Fatma melihat itu, ia membulatkan pandangannya sempurna. Itu gurunya, sedang jalan bersama sepupunya. Bagaimana kalau guru mudanya itu mengetahui? Fatma menjadi panik. Kabur ketahuan, diam juga sama. Harus bagaimana ia sekarang?
“Boleh saya dan Mbak Zulaikha nebeng tidak?" tanyanya.
Firman melihat ke arah Fatma yang menatapnya khawatir. Binar mata itu nampak begitu kentara. Mengetahui jika istrinya kini tengah dilanda kecemasan, dengan gelagapan Firman menjawab, “Bo–-boleh, Bu Riris."
Keduanya tersenyum. “Man, kamu sedang apa di sini? Bukannya kamu kalau pulang kuliah nggak pernah mampir ke sini? Kok tumben." Zulaikha kini bertanya. Lalu tatapannya teralihkan kepada sosok yang sangat ia kenal, serta sudah ia duga.
“Ekh, Ciyil. Ya Allah, sudah lama engga ketemu ya kiya." Telak. Gadis itu berhasil mengenalinya sekaligus menyapanya. Fatma memejamkan mata seraya meremas roknya dengan kuat. Beberapa menit kemudian dikala debar aneh itu kembali normal, ia membuka kelopak mata sembari menghela napas panjang. Gadis lugu itu memaksakan diri untuk keluar.
“Maaf, aku tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian,” bisiknya, lalu melepaskan pelukannya. Di detik yang sama ketika Fatma membatu, Zulaikha tersenyum simpul dengan mengelus lengan Fatma.
Untuk terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, Fatma terkekeh. “Tidak apa-apa, Kak. Om Bagas juga bilang Kakak dan Zahra sedang tidak enak badan.”
Setelahnya mereka pergi dan pulang bersama. Fatma merasa kesal karena harus duduk di belakang dengan Bu Riris, bukan di samping suaminya. Ia tahu niat Zulaikha itu baik, biar Bu Riris tidak curiga. Namun, tetap saja Fatma merasa kesal. Panas menjalar di dalam hatinya. Cemburu? Iya, tentu saja.
Bu Riris kini sudah sampai di rumahnya, tak lupa wanita itu mengucapkan terima kasih serta menatap Firman dengan sorot memuja, sedangkan pria itu membalas seadanya. Firman tahu wanita satu itu memiliki perasaan lebih dari sekedar teman kepadanya.
Saat giliran Zulaikha sampai di depan gerbang rumahnya, ia menawarkan pasangan suami istri itu untuk mampir. Namun, Fatma dan Firman menolak. Membuat raut kecewa tercetak jelas di wajah putih mulus itu.
“Aiman, Ayah nanyain kamu, kapan-kapan mampir ya! Aku tunggu.” teriaknya yang hanya dibalas anggukan oleh Firman.
Pria itu yang menyadari jika Fatma tengah dilanda kesal langsung menoel pipinya. “Cokelat mau?” bujuknya dengan senyum simpul seperti biasanya sehingga kerutan di bawah mata terlihat kentara.
Fatma menggeleng seraya menyilangkan tangan di dadanya. Jangan lupakan bibir yang maju ke depan hingga dua sentimeter. “Ya sudah kalau begitu. Seblak, bagaimana?”
Gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya. “Emm ... novel deh?”
“Telur gulung sama batagor mau?”
“Kopi kenangan deh.” Fatma masih kekeh dengan jawaban awalnya. Menggelengkan kepala.
“Jus mangga?” tanyanya.
"Durian mau durian?” tanyanya yang kesekian kali dengan sedikit memiringkan kepala. “Oh iya, saya lupa istri kecil saya yang imut ini tidak suka durian,” lanjutnya dengan menepuk jidat seolah-olah pria itu memang tak mengetahui jika istrinya benci dengan raja buah.
“Kebab deh?”
“Mie ayam?”
“Bakso mercon mau, tidak? Enak loh, nanti minumnya es degan.”
"Katanya nggak boleh makan-makanan pedas. Gini waktu giliran Fatma nurut sama Pak Bobby ditawari bakso mercon." Bola matanya memutar ke atas. Entahlah. Suasana hati perempuan memang tidak bisa ditebak.
Sebelum menjawab, Firman menghela napas berat dengan dibarengi menggaruk puncak kepala walau tidak gatal. Ah, sepertinya pria itu menyerah. Lantas, haruskah ia mengibarkan bendera putih kecil? “Oke. Istri kecilnya saya jadi mau apa nih? Naik wahana putar, dermulem?”
Tetap sama. Semua tawaran ditolak oleh Fatma. “Apel, mangga, anggur, je--”
“Pak Bobby, Ciyil lagi tidak mau main tebak-tebakan...,” dan terjadi lagi. Ia merengek manja kepada suaminya. Jika semua ditolak, lantas ia mau apa? Apa alasan ia memilih mendiamkan Firman?
Firman kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lampu lalu lintas berwarna merah menyala. Mobil berhenti melaju, di saat itu juga suasana kembali hening. Di beberapa menit kemudian, Fatma menyadarkan punggungnya ke belakang, dari balik kaca ia melihat ke arah luar. Netranya menatap siluet kakak kelas yang tadi menolongnya. Yusuf, sedang berjalan menyebrangi jalan dengan seorang pria paruh baya yang mungkin itu adalah ayahnya.
Yang membuat Fatma mengeryitkan dahinya itu adalah perawakan ayah Yusuf tidak asing baginya, mirip Om Wijaya, tetapi sepertinya tidak mungkin, apa mungkin itu ayahnya? Ah tidak mungkin, bundanya bilang bahwa ayahnya tidak pernah menikah sebelum dengan bundanya, dan tahun pertama lebih satu bulan pernikahan itu Bunda Naumi sudah mengandung.
Melihat Fatma menggeleng-gelengkan kepala. Melihat tingkah laku aneh istrinya langsung bertanya. “Kenapa Fatma?” tanya Firman dan mengelus lembut tangan Fatma.
“Mau kebab?” Tatapan memelas gadis lugu itu tunjukkan. Firman tertawa renyah dan mengangguk. Ah, sepertinya Fatma tidak kokoh pada pendirian. Firman yang gemas langsung mengacak-acak jilbab Fatma membuat gadis itu mengerucutkan bibir merah mudanya. Kemudian mobil pajero itu pun kembali melaju.
****
"Apakah kamu bahagia istri kecil?" Dengan wajah polos dan mulut yang dipenuhi dengan kebab, gadis itu mengangguk. Nampaknya ia tersenyum. Namun, karena pipinya yang membulat karena dipenuhi dengan makanan, matanya yang sipit terlihat seperti memejamkan mata.
Gadis itu menelan kebab yang tak lama selesai ia kunyah. Sebotol air mineral tandas setengah diteguk oleh Fatma. Setelahnya, Fatma mengeluarkan suara khas seperti orang yang selesai minum.
"Enak, ya? Lega, ya?" Fatma mengangguk secepat kilat. Tanpa disengaja, gadis itu bersendawa tepat di depan wajah suaminya.
"Astagfirullahalazim, perempuan kok seperti itu. Jorok, Fatma." Fatma nyengir kuda.
"Maaf, Pak Bobby, Fatma kelepasan," jawabnya dengan wajah sendu.
"Fatma, apakah kamu tahu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk membiasakan tiga kali tarikan napas?" Gadis itu menggeleng dengan lugunya. Ia mengubah posisi duduknya, menyilangkan kaki dan sedikit mendekat.
"Suatu hari, Khalifah Marwan bin Hakam bertemu dengan Abu Said al-Khudry. Beliau bertanya. 'Apakah Engkau mendengar Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam melarang meniup air minum?' Kemudian Said al-Khudry menjawab, ʼBenar.' Rasulullah memang tidak pernah bernapas saat minum. Rasulullah juga tidak pernah meniup air panas yang akan diminumnya agar menjadi dingin. Kenapa? Karena hal demikian dilakukan untuk menghindari jatuhnya kotoran yang berasal dari dalam perut, kemudian keluar melalui mulut ataupun hidung."
Raut wajah itu mewakilkan dari berbagai tanda tanya di pikirannya. Fatma menggaruk pelipisnya dengan menaikkan satu alis. "Maksudnya, Pak Bobby?"
Dikira paham, ternyata dalam diamnya menampung sejuta kebingungan. Melihat wajah suaminya yang lelah menjelaskan kepadanya, Fatma merengek dengan mengguncang-guncangkan lengan tangan Firman. "Fatma tidak paham, Hubby. Lagian, jelasinnya panjang banget udah kayak rel kereta api aja."
Firman tersenyum mendengar rengekan gadis lugu di depannya yang kini berstatus sebagai istrinya. Entah doa kuat apa yang pernah Fatma panjatkan sehingga mampu meluluhkan hati Firman.
"Intinya seperti ini istri kecilnya saya." Firman bingung mau memulainya dari mana. Alhasil, pria itu hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal dan sedikit berteriak frustasi. Benarkah gadis yang duduk terpaku di hadapannya ini Fatmawati?
"Pak ...."
"Intinya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak minum sambil berdiri, tapi sambil duduk. Selain itu, Rasulullah juga melarang minum minuman yang masih panas ditiup ataupun bernapas di dalam gelas. Biasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bernafas tiga kali ketika minum. Dan beliau bersabda. Sesungguhnya dengan begini haus lebih hilang, lebih lepas dan lebih enak. Hadits riwayat Al Bukhari 5631, Muslim 2028, dan ini adalah lafadz Muslim."
"Katanya tadi Pak Bobby bilang Rasulullah melarang bernapas di dalam gelas. Kok setelah itu Pak Bobby juga bilang Nabi Muhammad bernapas tiga kali ketika minum. Maksudnya bagaimana sih? Fatma tidak paham." Wajah putih itu menampilkan raut depresi. Bukan karena kalimat Firman yang bertele-tele. Namun, dirinya saja yang kurang konsen.
"Maksudnya bernapas sebanyak tiga kali itu begini. Ketika minum Shallallahu 'alaihi Wasallam menarik napas dua hingga tiga kali. Minumnya itu sekali teguk, tapi dilakukan sebanyak tiga kali." Fatma mengangguk. Melihat tanggapan istri kecilnya, Firman merasa lega. Ia tidak tahu pasti apakah istri kecilnya benar-benar paham atau hanya pura-pura.
"Maafkan Ciyil Pak Bobby," Pria itu membelai puncak kepala istrinya dan sesaat ia mengangguk.
"Apakah suami besarnya saya akan marah?" tanyanya dengan nada persis seperti yang selama ini diucapkan oleh Firman. Pria itu tertawa renyah. Ah, bagaimana bisa gadis itu memiliki bakat menirukan suara orang lain? Berada dekat di samping Fatma selalu membuat Firman bahagia.
Bersambung....
Pasuruan, 17 Maret 2023