
...“Ketaatan akan mengundang keberkahan dan kebahagiaan, sedangkan kemaksiatan hanya akan mengundang keresahan dan murka Tuhan.”...
..._Fatma's First Love_...
***
Bahagia. Sebagian orang mengartikan bahagia sebagai momen menghabiskan waktu bersama dengan orang yang ia cintai. Apa daya, mereka yang sedang dimabuk asmara. Jika masalah menghampiri apa yang akan terjadi? Beragam perasaan dirasakan, sedih, kecewa, marah, sabar, senang, dan lainnya bercampur menjadi satu berkolaborasi mewarnai hidupnya. Namun, tidak bisa dipungkiri kebersamaan itu bisa menciptakan ketenangan walau badai datang menerjang keduanya.
Itulah yang sekarang terjadi kepada pasangan muda yang kini sedang saling tatapan satu sama lain dan saling tersenyum. Pria itu mengubah suasana yang tiba-tiba hening menjadi penuh dengan kehangatan.
“Hubby ....” Gadis itu merengek malu-malu seraya sedikit mendongak.
“Jangan ngeliatin Fatma dengan tatapan seakan-akan Hubby mau menghunus Fatma dong!” Bibirnya mengerucut dua kali lebih maju ke depan. Pria itu menebalkan wajahnya, mencoba agar untuk tidak tersenyum. Ya, Firman kini tengah menahan senyum yang sebentar lagi akan terbit di bibir manisnya.
“Loh, memangnya kenapa, Fatma? Engga dosa kok, kita ‘kan sudah sah,” katanya sedikit menggoda. Fatma yang mendengar kalimat itu cukup membuatnya bergidik ngeri. Pasalnya, Firman mengucapkannya tepat tak jauh dari daun telinganya. Fatma membatu untuk beberapa detik.
Fatma mengerjapkan mata, seolah tak terjadi apa-apa, gadis itu mulai memutar bola matanya. “Kebiasaan deh Pak Bobby ini, kata ‘Sah’ suka dijadikan alasan,” ujar Fatma kesal.
Gadis yang masih harus terbaring di rumah sakit itu membuat Firman juga ikut menemaninya. Kini ia sadar, ternyata mencari topik pembicaraan dan memecahkan suasana itu tidak gampang ya?
“Main tebak-tebakan sambil nambah ilmu yuk, Bee!” ajak Firma antusias. Ya, binar matanya seolah mampu mewakili atas semangatnya kali ini. Namun, tidak dengan Fatma, gadis dengan wajah pucat pasi dan lekung hitam di bawah mata itu hanya menggulum senyum miring.
“Kamu nggak senang ya, Bee?” tanyanya lesu.
Fatma menggeleng lemah. Sedetik kemudian ia termenung, seperti ada hal yang tidak begitu penting mengganjal di pikirkannya. “Bee? Memangnya Fatma lebah ya Hubby?” tanyanya seraya memicingkan satu mata. Ia tidak mengerti dengan singkatan yang diucapkan oleh suami besarnya.
Firman menghela napas berat, di detik yang sama pria itu menepuk jidatnya. Menyebalkan sekali memang istri kecilnya ini. Merusak suasana romantis saja. “Bee itu artinya tidak harus lebah Fatma!” Pria itu menjawab dengan sedikit nada ngegas.
Melihat wajah suaminya yang ksal membuat Fatma tertawa renyah. “Bee artinya sayang ya? Ululu ... Pak Bobby Sayang!” Gadis itu menggoda suaminya. Mencubit dan meremas gemas pipi Firman.
Acuh. Firman memasang wajah kesal, akan tetapi gadis di hadapannya itu selalu nakal, terus saja mempermainkan perasaannya. Untungnya mereka ada di ruangan khusus. Iya, itu loh yang cuma ada satu kamar aja istimewa, dan biayanya lebih mahal.
“Udah akh, modus mulu kamu Bee.” Pria itu mengalihkan pembicaraan karena kini dirinya yang tergoda. “Sekarang coba tebak, surat apa yang bila kita membacanya tiga kali, sama dengan membaca Al-Qur’an satu kali hatam?” Gadis itu mulai berpikir. Telunjuknya memegang dagu dan sudut matanya sesekali melirik ke pojok atas ruangan.
Selanjutnya Fatma menopang dagunya, seraya melihat ke atas dengan posisinya yang duduk bersandar ke punggung ranjang. “Sepertinya Fatma pernah dengar deh, apa ya Hubby ... lupa.” Gadis itu menerka-nerka seraya memejamkan mata.
Firman tertawa renyah sehingga matanya menyipit. “Saya hitung sampai tiga, yang kalah dapat hukuman,” ujarnya. Ia mulai menghitung, sementara pikiran Fatma kacau. Fatma merasa seperti dikejar-kejar. Ah, ia tak bisa berpikir.
"Satu."
"Dua."
"Dua setengah."
Ia berdecih, mendengus kesal. "Ah, Hubby jangan cepat-cepat kalau menghitung, Ciyil jadi engga bisa mikir," keluh gadis itu dengan bibir khas manyunnya.
Pria itu menghiraukan istri kecilnya yang terus mracau, berceloteh kesal. Seraya tersenyum, Firman meneruskan untuk menghitung. “Tiga!” seruan penuh kemenangan Firman lontarkan.
Gadis lugu itu mengeluh. “Yahh curang akh, Pak Bobby.” Gadis itu melipat tangannya di bawah dada dan memalingkan wajahnya.
Firman kembali tertawa dan mengacak-acak jilbab putih istrinya. Gemas sekali melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan. “Saya kasih tahu jawabannya deh.” Ia mencolek dagu Fatma membuat lirikan tajam bak pedang yang akan menghunus musuhnya berhasil membuat Firman membeku sejenak.
“Jawabannya, yaitu surat Al-Ikhlas, Bee,” jawabnya dengan jantung yang berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.
Fatma menoleh sinis. “Nah iya itu, tadi juga Ciyil mau jawab itu, Pak Bobby aja yang kecepatan ngitungnya,” balasnya basa-basi. Padahal memang lupa. Ah, gadis ini tidak mau kalah.
“Ya sudah, sekarang hukumannya adalah ... jitak satu kali.” Pria itu menunjukkan deretan giginya.
“Setuju gak nih?” Laki-laki itu menaik turunkan alisnya, menggoda Fatma.
Gadis lugu dengan selang infus yang menempel di punggung telapak tangannya mengangguk malas, lalu mendekatkan keningnya yang mengerut kepada Firman dengan memalingkan wajah. Firman ikut mendekat membuat wajahnya dan Fatma hanya berjarak beberapa inci saja. Gadis itu dapat merasakan hembusan napas dari suami besarnya, akan tetapi jitakan yang dimaksud Firman bukan memakai tangan. Namun, memakai bibir di kening Fatma.
Matanya membelalak seketika. Ia membulatkan mata, memandang Firman yang tersenyum penuh kemenangan. “Ikh ... Pak Bobby modus ....” Firmam hanya tertawa sembari membawa tubuh kecil Fatma dalam dekapannya. Sementara gadis itu terus merengek dan menimpuk pelan punggung suaminya dengan tangannya yang mengepal bertubi-tubi.
Pria itu beranjak dari duduknya, kemudian menjulurkan setengah dari lidahnya, tanda mengejek. “Yuhuu saya menang!” Ia bersorak gembira seperti anak TK yang tak sabar akan bergegas pulang.
***
Langkah kaki terdengar ganjil beradu menyerang lantai. Terlihat lalu lalang manusia yang keluar masuk dari bangunan besar dan tua yang menjulang tinggi. Bangunan berwarna putih itu seperti tak ada sepinya. Sepasang suami istri yang bergandengan tangan satu sama lain tengah berjalan menuju ruang rawat inap tempat putri mereka dirawat. Sesekali mereka tersenyum kepada seseorang yang menyapa. Namun, tiba-tiba seorang perempuan yang menunduk menabrak Bunda Naumi dari seberang. Ayah Sabilq menahan wanita paruh baya itu agar tidak sampai terjatuh.
“Astagfirullah,” gumam keduanya.
Gadis dengan rambut digerai dan memakai topi hitam itu tersenyum dan sedikit menunduk. Perempuan itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Bunda Naumi dan Ayah Sabil saling beradu pandang satu sama lain untuk beberapa menikah, lalu terkekeh canggung. “Tidak apa-apa, Nak Zulaikha, tante nggak papa kok,” balasnya ramah.
Pria paruh baya itu menimpali, “Loh kamu di sini ...? Sedang apa, Zulaikha? Apakah Ayah kamu sakit?”
Gadis itu menggeleng cepat. “Ah, tidak Om Sabil, saya di sini mau besuk teman. Om sama Tante sendiri sedang apa di sini? Siapa yang sakit?” Pria paruh baya itu tidak mendapatkan jawaban, melainkan ia berbalik mencerca Ayah Sabil.
Raut wajah Bunda Naumi berubah sendu. “Itu ... Fatma sedang dirawat, tadi ada kecelakaan kecil.”
Gadis itu nampak terkejut, ia membungkam bibirnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. “Astaga, kok bisa Tante?” tanyanya.
“Saya mau ikut besuk ... apakah boleh, Tante? Ah, akan tetapi saya tidak bawa apa-apa nih,” imbuhnya sambil mengeluh.
Bunda Naumi terkekeh, ia menggenggam tangan keponakan iparnya. “Ayo!”
***
Ada alasan dibalik sikap dan sifat seseorang. Ada yang melakukan kejahatan tanpa sebuah paksaan ada juga tidak. Begitupun dengan kebijakan, ada kalanya mengharapkan imbalan ada juga yang ikhlas saat melakukan.
Seorang gadis yang masih memakai seragam sekolah dengan jilbab yang tak lagi dikenakan, kini duduk menunduk di sofa ruang keluarganya.
Tatapan intimidasi penuh peringatan dan amarah itu melayang dari sepasang mata elang milik ayahnya. Seorang ayah yang memiliki sifat keras dan disiplin dalam mendidik anak semata wayangnya.
“Sampai kapan kamu mau seperti itu terus, HAH?” tanyanya dengan menaikkan nada suara.
Gadis itu meremas kedua telapak tangannya yang saling bertautan, setetes cairan bening tak mampu ia bendung. Ia juga manusia yang mempunyai rasa takut.
“Maaf,” lirihnya, tidak mampu berkata.
Pria paruh baya di depannya tertawa. “Maaf katamu? Ulangi lagi, Nak!” katanya pelan penuh ketegasan.
Ia menurut dan bergumam kata maaf kembali. Mendengar itu beberapa tumpuk kertas dihadapannya ia lempar ke wajah sang anak.
“Kenapa kamu tidak menurut apa yang ayah katakan, HAH?! Nilai kamu turun, kerjaannya ngebuli orang terus, belajar malas. Mau jadi apa, kamu? Sampah masyarakat, iya?”
“Jawab!” bentaknya yang membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.
“Jangan buang-buang waktu untuk itu, Shin. Ayah gak pernah nyuruh kamu pacaran, apalagi nyakitin orang!" wejangannya dengan lantang.
Sementara itu Shinta hanya diam dengan tubuh gemetar. Ini sudah kesekian kalinya terjadi di kehidupan gadis itu. Namun, tetap saja rasa takut itu selalu membelenggu hatinya dan ada satu hal yang Shinta sesalkan.
Mengapa dirinya tidak mampu melawan? Dari pertanyaan itu muncul beribu pertanyaan. Kenapa dirinya yang harus merasakan ini? Kenapa dirinya tidak memiliki seorang ayah tegas. Namun, lembut saja.
Sudah beberapa kali mendengar bentakan itu, anehnya tidak bisa membuat Shinta berubah dengan kelakuan nakal yang ia perbuat. Ia hanya ingin ayahnya mengerti.
“Sekarang belajar yang rajin, Minggu depan kamu harus ikut olimpiade. Jangan sampai kecewain ayah!” Titah itu tak mungkin Shinta sanggah. Rasanya berat untuknya menganggukkan kepala. Sungguh.
Pria itu bangkit dan berlalu pergi meninggalkan putri semata wayangnya yang menangis tersedu-sedu dalam diam. Kata orang, menangis tanpa suara itu adalah pencapaian terlelah seseorang.
Dengan suara bergetar, siswi kelas XI itu bergumam. “Gini rasanya hidup tanpa seorang ibu? Kapan Tuhan menghadirkan seseorang yang mengerti perasaan gua?”
“Gua cape hidup gini terus. Kenapa harus gua yang harus ngerasain ini? Kenapa gua ...." Gadis itu tertawa mengerikan dengan air mata yang masih mengalir deras tanpa henti.
“Gua juga ingin bahagia ... sebentar saja.” Titik terendah seseorang memang berbeda. Banyak cara orang melakukan bahagia, ada yang memaksakan dirinya merebut kebahagiaan orang lain, ada pula mereka menciptakan kebahagiaan itu sendiri.
***
Ketukan pintu membuat Firman dan Fatma yang sedang rebahan bersama di ranjang rumah sakit terperanjat sedikit terkejut. Seperti malam-malam sebelumnya, Fatma ingin ditemani tidur karena memang gadis satu itu tidak bisa tidur jika kepalanya belum dibelai. Kebiasaanya.
Herannya. Walau sudah sah menjadi suami istri, mereka masih diselimuti rasa takut. Apalagi ketika orang tua Fatma yang menangkap basah aksi romantis Firmam kepada istrinya. Tak jarang pipi Firman memerah karena tersipu malu. Ah, pria itu memang aneh. Bukan Fatma yang malu, melainkan dirinya.
“Aduh ... gimana ini Pak Bobby, turun aja turun!”
“Tidur di sofa aja, iya tidur.”
“Ke kamar mandi aja, Pak Bobby!”
Pintu terbuka beberapa detik yang lalu, orang tua Fatma beserta Mbak Zulaikha melihat kelakuan tidak wajar Firman dan Fatma. Ayah Sabil menatap tajam keduanya.
“Astagfirullah, kalian ngapain?”
Bersambung ....