Fatma's First Love

Fatma's First Love
Saya Hanya Mencintaimu, Fatma



...“Kadang kala, kita tidak harus selalu menerima apa yang orang lain katakan. Karena ucapan orang lain tidak semuanya baik dan benar. Jika ucapan itu menunjukkan ke jalan yang benar, maka terimalah! Jika tidak, tolaklah!“...


..._Fatma's First Love_ ...


Pintu ruangan Firman diketuk dengan begitu keras. Membuat sang pemilik mendengus kasar dan beranjak dari duduk santainya. Ruangan yang tidak begitu besar tadinya adalah tempat yang sudah tidak terpakai. Kemudian Firman meminta untuk menjadikan ruangan itu sebagai ruangan pribadinya saja karena sayang tidak terpakai. Pak Jalil--kepala sekolah pun menyetujuinya.


Setelah pintu terbuka, tampaklah seorang gadis tengah nyengir kuda, menampakkan gigi pepsodent yang berjajar rapi. “Lapor Pak Guru, istri kecil kini telah datang memenuhi perintah suaminya!” Fatma memakai gaya hormat dihadapan Firman dengan raut wajah seperti bawahan yang tengah melapor kepada atasan.


Firman terkekeh. Melihat ke sana-kemari lalu membawa istri kecilnya masuk. Fatma cemberut karena dirinya terdorong “Pelan-pelan aja, Zauj. Istri kecil tidak akan pergi kok,” kata Fatma santai seraya menepuk-nepuk pelan lengannya seperti orang yang tengah membersihkan baju kotornya.


“Apa yang pelan-pelan?” Firman bertanya.


“Pak Bobby nariknya. Aih, tidak peka juga kaum adam yang satu ini,” jelas Fatma sembari berkacak pinggang.


Pintu ditutup kembali. Fatma duduk di satu-satunya sofa yang tersedia. Firman menghampiri dengan tatapan intimidasi. Gadis bermata bulat yang gugup memalingkan wajahnya. “Apa?” tanyanya sambil menggaruk pelipis.


“Ngapain?” Pria itu balik bertanya. Alis Fatma menyatu, ia tidak mengerti apa yang suami besarnya katakan. “Ngapain berduaan?” tanya firman lebih panjang.


“Ya, `kan ... kita suami istri, wajar kalau berduaan. Tidak apa-apa bukan? 'Kan sudah jadi mahram.” Firman memejamkan mata. Bukan itu yang suami besar maksud, Fatma. Ilahi, mengapa begitu polos gadis yang satu ini? Perlahan, Firman mengusap sebagian wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Frustasi, pria itu menggaruk-garuk seluruh kepalanya.


“Bukan itu Sayang ... ngapain kamu berduaan?” tanyanya kembali dengan sedikit penekanan.


Fatma menghela napas berat. “Pak Bobby kalau bicara itu yang bener, Fatma ‘kan engga ngerti.” Gadis itu mengindahkan pertanyaan suaminya dengan sebuah pertanyaan seraya memasang wajah kesal.


Firman duduk di kursi dihadapan laptopnya. “Ngapain berduaan sama Yusuf? Katanya takut,” sindirnya seraya jemari panjang itu tak henti mengetikkan sesuatu pada benda yang memiliki layar persegi.


Kekasih mana yang tidak cemburu melihat doinya berduaan dengan orang lain? Fatma terdiam, berpikir sejenak. Dirinya tidak tahu harus menjelaskan dari mana. “Ngobrol,” jawab Fatma enteng.


“Ngobrolin apa?”  Firman bertanya datar.


Fatma meringis. Tadi aja manis, sekarang kambuh lagi. “Fatma juga gak ngerti,” jawabnya jujur. Tiga detik kemudian ia berseru, "Tapi Yusuf perhatian sama Fatma, Pak Suami. Masa dia nyuruh Fatma harus hati-hati sama mereka, tapi bukan dia! Maksudnya apa ya?” Fatma menggaruk tengkuk sambil berusaha memahami.


Pria itu memalingkan wajahnya. Istri kecilnya itu malah semakin memanasi perasaan Firman yang panas. Fatma yang merasa diabaikan mendekati suaminya. “Zauj kenapa?” tanyanya manja.


“Jangan berduaan lagi sama yang bukan mahram!” Firman memperingati dengan menatap lekat Fatma.


“Oh Yusuf itu bukan mahram, ya?”  gummanya.


“Iya!” Firman menjawab agak sedikit ngegas.


“Wee santai dong Pak Suami.”  Lalu Fatma tertawa mengejek. “Suami siapa, cih? Ganteng banget deh kalau marah,” Fatma menggoda dengan bergelantung pada punggung Firman dan mendekatkan pipinya sehingga membuat Firman bisa merasakan betapa empuk pipi istrinya itu.


Firman mengikuti cara gerak bibir Fatma tanda mengejek. “Sudah berani menggoda saya ternyata,” ungkapnya dengan senyuman miring.


“Berani dong, masa iya engga berani. Wlee!” Fatma menjulurkan lidah.


Firman memalingkan wajahnya sambil tertawa. “Dasar istri nakal,” gumamnya yang dibalas senyuman bangga dari Fatma.


Netra keduanya teralihkan oleh ponsel Firman yang berdering di atas meja. Sesaat kemudian pria itu meraihnya, setelah melihat siapa pengirimnya, dia menjauh dari Fatma dan berbicara.


Gadis itu menatap Firman menyelidiki. Fatma curiga, dari film yang ditontonnya kemarin dengan sembunyi-sembunyi, kalau pacarnya saat mengangkat telpon menjauh berarti ada yang disembunyikan.


Apa Pak Bobby punya selingkuhan?!


“Wah parah-parah.” Fatma menduga-duga.


Atau ... jangan-jangan Pak Bobby punya istri kedua?! Oh tidak, Fatma gak mau dipoligami!


Fatma terus saja menggeleng-gelengkan kepala, pikirannya terus saja mengira-ngira. Firmany yang sudah selesai menelpon memandang Fatma heran.


“Ciyil,” panggil Firman melembut.


“Eh?”  Fatma terperanjat kecil.


“Kenapa?” Pria itu bertanya, dan duduk di tempat semula.


“Pak Bobby telponan sama siapa ....” Fatma bertanya lemah.


“Sama Mbak Zulaikha,” jawabnya jujur.


Fatma menunduk, tertunduk lesu. Sebenarnya ada hubungan apa Firman dengan sepupunya yang satu itu? Genangan air mata tertahan di pelupuk netra Fatma. Dirinya merasa terhianati. Apa Firman tidak mencintai Fatma lagi?


Firman yang peka terkekeh. “Bukan apa-apa, Sayang,” ujarnya.


“Hari ini Fatma cape banget Zauj, apa Zauj juga cape sama sikap Fatma dan memutuskan buat selingkuh sama Mbak Zulaikha?” Gadis itu terisak.


Sifat manja, mudah marah, mudah menangis, anak MA seperti Fatma memang masih labil. “Mungkin Fatma emang engga pantas ya, buat Pak Bobby.”


“Zahra juga tadi bilang kalau Pak Bobby nikahin Fatma cuma buat manfaatin Fatma saja. Kenapa sih, semua orang kaya gak mau Fatma ada di dunia ini? Padahal kalau gak mau Fatma ada, masukin aja ke perut Bunda lagi. Kalau bisa! Sebel deh jadinya.”


Firman membiarkan istri kecilnya itu mengeluarkan semua unek-uneknya. Meskipun sebenarnya Firman juga lelah, tetapi ia merasa tidak pantas untuk menunjukkan itu di depan Fatma.


Bukan tanpa alasan Firman mengangkat telpon itu dengan menjauhi Fatma. Melainkan karena tadi Zulaikha membahas tentang kasus orang tuanya. Wanita itu sungguh baik, ingin membantunya.


Melihat Fatma yang terus menunduk dan tidak ada lagi ucapan yang keluar dari bibir merah mudanya. Firman berbisik, “Selesai, Sayang?” Ia mengangkat dagu Fatma.


“Kadang kala, kita tidak harus selalu menerima apa yang orang lain katakan. Karena ucapan orang lain tidak semuanya baik dan benar. Jika ucapan itu menunjukkan ke jalan yang benar, maka terimalah! Jika tidak, tolaklah!”


“Tetapi satu hal yang harus Fatma ingat, kamu jangan mempercayai perkataan orang lain tanpa adanya bukti.” Firman tersenyum seraya membenarkan jilbab istrinya, kemudian tangan itu turun dan akhirnya memegang kedua pundak Fatma.


Fatma ikut menatap Firman dengan lekat. Wajah Fatma yang tadinya sejajar diangkat sedikit, lalu kecupan manis mendarat di keningnya.


Saya akan selalu berdoa, semoga keluarga kecil kita tidak tertimpa sesuatu yang selalu membuat saya khawatir, Fatma. Saya berjanji akan selalu menjadi perisai untukmu.


Berbeda dengan Fatma. Gadis itu menahan napas sampai kecupan itu selesai. Jantunnya selalu berdetak cepat, padahal hanya hal sederhana, tetapi berefek besar.


“Fatma, saya mencintai kamu tulus karena Allah. Jika ada yang berkata alasan saya bukan itu, maka perkataan itu mungkin termasuk sisi lain. Kamu tahu perbedaan tujuan utama dan sisi lain?”


Mendadak otak Fatma kembali blank. Ah sepertinya otak Fatma selalu blank. “Terus yang menjadi alasan utama Pak Bobby apa?” beo Fatma.


Fatma menggesek dagunya dengan tangan. “Kamu dan keluargamu.” Firman menjawab dengan tatapan yang Fatma tangkap menyiratkan kebimbangan.


Bel masuk berbunyi kembali. Fatma yang ingin bertanya lebih lanjut pun tidak jadi. “Masuk dulu sana, Sayang! Bel sudah berbunyi,” suruh Firman seraya mengacak-acak jilbab Fatma.


Dengan ragu gadis itu mengangguk. Baru tiga langkah berjalan, Firman sudah menghampirinya kembali. “Ciyil, jantung kamu baik-baik aja 'kan?” Firman berlagak tidak tahu.


Fatma menggeleng lucu. Duh, kenapa sih guru yang satu ini tidak peka? Fatma rasanya sangat malu. Santai sekali Pak Bobby ini. Curang deh!


“Kepala sekolah sudah tahu kita menikah, Fatma. Seperti kata orang, uang bisa menutupi mata dunia. Jangan khawatir. Saya sebenarnya tidak melakukan ini, tapi Mbak Zulaikha yang khawatir.” Fatma hanya tersenyum tipis dan mengangguk, menanggapi pembicaraan suaminya.


Mbak Zulaikha aja terus yang dibicarakan dari tadi ....


“Enak ya, jadi banyak duit.”  Fatma bergumam. “Apa kesetiaan juga bisa dibeli?" lanjutnya lirih.


Sebelum dirinya menutup pintu, terdengar suara Firman berkata. “Fatma, nanti kita mampir ke rumah Bunda dulu ya, sehabis pulang sekolah dan setelah membeli seblak.”


***


Sepasang pengantin muda itu memasuki rumah yang berukuran tidak begitu besar di depannya. Semburat jingga menggores kanvas, sang dewi malam sebentar lagi akan menelan indahnya senja. Sesuai yang Firman katakan, keduanya mampir ke rumah Bunda Naumi setelah pulang sekolah. Tak hanya itu, Firman juga menepati janjinya dengan membelikan Fatma seblak.


“Bundaaaa!” Fatma berteriak saat masuk.


“Ucap salam, Nak!”  Bunda Naumi balas berteriak lalu langkahnya menghampiri dua mahluk bumi itu.


“Bunda ... angenn,” kata Fatma manja lalu berlari memeluk sang bunda.


Bunda Naumi menjitak kecil kepala Fatma. “Anak manja turunan siapa, sih. Tidak malu apa? Fatma sudah menikah, Sayang,” katanya mengejek.


Fatma cemberut. “Tega ah, Bunda.” Fatma melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk suaminya yang berada tepat di belakang gadis itu.


“Cih, udah punya suami mah beda.” Gelak tawa Firman dan Fatma menyambut. Dengan Fatma yang masih memeluk bundanya, pria itu menyalami Bunda Naumi.


Mereka pun duduk di sofa, Bunda Naumi sebelumnya membawa minuman beserta cemilan untuk anak dan menantunya. Rindu juga beberapa hari tidak bertemu dengan sang anak. Bunda Naumi bersyukur karena sepertinya tidak terjadi apa-apa di bahtera rumah tangga putri semata wayangnya.


“Bunda, Ciyil mau tanya deh, kalau Ciyil pikir-pikir kenapa ya, nama Pak Bobby sama Fatma itu hampir mirip? Kaya kembar gitu? “ Wajah lugu itu bertanya. “Apa emang kalau udah jodoh wajahnya akan sedikit mirip, ya?” Ia terkekeh senang.


Sungguh Fatma, nama inisial sama 'F' nya saja udah dibilang kembar.


Bunda Naumi memudarkan senyumannya seperkian detik. Netranya menerawang jauh. Pikirannya seketika bercabang. Ini yang tidak siap untuk Bunda Naumi katakan. Kenangan pahit masa terakhir itu, membuatnya enggan menceritakan kembali mengenai isi sisi manisnya dua keluarga.


Bunda Naumi sangat merindukan suasana itu.


Bersambung ....


Pasuruan, 28 April 2023