Fatma's First Love

Fatma's First Love
Bee?



..."Ngapain harus dicari kalau udah ada di hati?" ...


..._Firman_...


“Astagfirullah, apa yang kalian lakukan?!” tanya Ayah Sabil dengan mata yang membelalak.


Mereka yang tertangkap basah saling beradu pandang satu sama lain. “Apa yang kita lakukan?” tanya balik Fatma dengan nada yang gemetar.


Firman memicingkan satu matanya, di detik kemudian pria itu mengernyitkan kening. Apa yang telah ia lakukan? Ia tak salah bukan? Gadis yang tidur satu ranjang dengannya adalah istri sahnya. “Apa yang telah saya lakukan?”


Pasangan suami istri yang masih berdiri di ambang pintu tertawa melihat keluguan putri dan menantunya. Sejauh ini tinggal bersama Fatma cukup membuat Firman memiliki watak yang hampir sama dengan istri kecilnya.


Setelah menutup pintu, Ayah Sabil dan Bunda Naumi mendekati mereka diikuti oleh Mbak Zulaikha. Ayah Fatur menepuk pundak menantunya.


“Kalian memang udah sah, tapi ingat ya, Nak Bobby. Fatma masih sekolah, tahan dulu ya!” Telak. Gelenyar aneh memeluk erat urat nadinya. Pipi Firman memerah, kalimat itu berhasil membuat lutut Firman lemas. Namun, wejangan Ayah Sabil seakan-akan menguatkan.


Firman sedikit terangah, bahkan dirinya sendiri tidak memiliki pikiran ke sana untuk saat ini. Banyak yang harus dipertimbangkan jika ingin melakukannya. Apalagi Fatma merupakan gadis yang menurutnya belum pantas melakukan hal itu.


Ia hanya membalasnya dengan kekehan. Sementara Fatma malah bertanya, “Apanya yang ditahan, Yah?”


“Nakalin anak ayah yang nakalnya kelewatan batas baik,” jawab Ayah Sabil dengan tenang.


Gadis itu memajukan bibirnya beberapa senti. Enak saja, anak baik dikatakan nakal. “Fatma tidak nakal ya Ayah!” Ia menyanggah perkataan ayahnya.


Bunda Naumi tertawa tipis. “Kalau Fatma anak baik, itu berarti turunannya bunda, kalau Fatma nakal berarti turunan Ayah ya 'kan?” Wanita paruh baya itu mengejek sang anak dan sang suami.


Tiba-tiba atensi semuanya teralihkan ketika Mbak Zulaikha yang sedari tadi diam angkat bicara. “Fatma, bagaimana keadaan kamu? Maaf ya, aku ke sini tidak bawa apa-apa,” katanya seraya memegang tangan Fatma.


Fatma mengangguk dan di detik yang sama senyum simpul terbit dari bibir manisnya. “Alhamdulillah keadaan Fatma jauh lebih baik, Kak. Tidak apa-apa jangan repot-repot. Dijenguk gini aja saya sudah senang,” jawabnya agak canggung.


Mbak Zulaikha yang semula menggenggam erat tangan Fatma, lalu gadis itu sedikit membawa telapak tangan Fatma sedikit terangkat ke atas. “Semoga kamu lekas sembuh ya, biar bisa sekolah lagi.”


Saking asiknya bertukar kabar karena memang beberapa hari belakangan ini tidak ada teman Fatma yang menjenguknya cukup membuat gadis itu bosan. Sampai-sampai mereka hampir saja melupakan beberapa sosok yang berdiri di sisi bagian ruangan. Gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan sedih, ada rasa iri dalam hatinya akhirnya kini angkat bicara. Walau Firman dapat melihat kesedihan dalam binar matanya.


Mengapa keluargaku tidak seperti keluarga kamu Fatma?


***


Angin semilir pagi berhembus menyapa mahluk bumi lainnya. Daun-daun di pohon yang lebat itu nampak seperti bergoyang ke sana kemari. Pagi ini cuaca nampak mendung, sepertinya hujan akan singgah sejenak untuk membasahi bumi.


Karena bosan terlalu lama berada di rumah sakit, pagi ini Fatma merengek ingin pulang ke rumah. “Kangen Bu Sulihah, pulang yuk Hubby ....”


Firman menghela napas sabar dan untuk hari ini tak terhitung ia telah memijat kening. Ia lalu bertanya kepada sang dokter dan telah diizinkan untuk pulang. Fatma tersenyum sumringah dan bersorak bahagia. Keluar juga dari kamar berbackground putih itu.


“Ayeee ... akhirnya pulang kampung .... ” Gadis itu bersenandung bahagia.


Pria yang dipanggil suami besar itu terkekeh, ia meraih ponsel untuk mengabari kedua orang tua istrinya, karena Fatma yang ngotot ingin pulang. Setelahnya, mereka pun menumpang mobil milik Firman yang kini melaju membelah jalanan yang terlihat masih sepi.


Bagaimana tidak? Ini baru pukul enam pagi. Firman mengira jika Fatma akan beristirahat di rumah, ternyata dugaannya salah.


“Pak Bobby sekarang ngajar gak?” tanya Fatma melirik sang suami yang sedang fokus mengemudi.


Pria berkaca mata itu mengangguk. “Iya,” jawabnya simpel.


Fatma menunjukkan deretan giginya. “Saya mau sekolah ... boleh ya, ya ... ya?” bujuknya dengan sedikit mengguncang-guncangkan lengan Firman.


Pria itu melotot, yang benar saja? Baru juga keluar dari rumah sakit sudah mau masuk sekolah. “Harus sembuh dulu ya, Bee,” balasnya tanpa menengok.


Fatma menunjukkan mimik puppy eyesnya kepada suami besar. “Pak Bobby ... boleh ya? Fatma bakal bosen di rumah.”


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Tadi katanya pengin pulang ke rumah, pas udah mau pulang malah pengin sekolah. Nanti kalau udah di sekolah pengin ke Makkah. Kalau udah di Makkah minta ke Jeddah. Dasar istri nakal, tidak pernah bersyukur!” Pria itu menggerutu, tapi masih bisa didengar oleh Fatma.


Istri kecilnya melotot tidak percaya. “Pak Bobby jahat,” lirihnya. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, percuma membujuk suaminya yang keras kepala.


Bukannya Firman tidak mau, jika saja Fatma sudah sehat ia akan mengizinkan apapun itu asal alam batas wajar. Berbeda dengan sekarang, ia baru saja pulih dari sakitnya.


“Memangnya kamu gak takut disakiti lagi Bee?” Ia keceplosan dan detik selanjutnya Firman merutuki dirinya sendiri yang asal ucap.


Bagaimana kalau Fatma merasa sedih? Namun, jawaban istrinya selalu diluar dugaannya. “Sesuai apa yang Hubby katakan. Fatma itu harus berani, kalau ada yang buli berarti harus Fatma lawan ya, jangan takut. Nah, sekarang Fatma engga mau dikatain pecundang!” balasnya dengan percaya diri.


Firman tersenyum, pria itu mendengarkan celotehannya. Niatnya hari ini Firman akan mengurus siapa yang tega melakukan tindakan keji itu, dan berharap Fatma akan tenang. Namun, sepertinya rencananya tidak akan berjalan sempurna.


“Bee, kamu ingat tidak siapa yang sudah mendorong kamu sampai tidak sadarkan diri?" tanyanya pelan.


Fatma terdiam, berusaha mengingat. Bayangan itu mulai meliputi pikirannya. Seorang guru yang tidak sengaja lewat, membubarkan mereka. Lalu ia meneruskan niatnya untuk pergi ke toilet, untuk membasuh wajahnya sekaligus mengganti baju. Sebelum itu terjadi, insiden pun dimulai.


Fatma menggeleng lemah. “Fatma engga ingat, Hubby. Pelakunya ada dua orang. Fatma engga sempat liat wajahnya, tapi Fatma yakin kalau mereka perempuan,” jelasnya lesu.


Firman melirik Fatma yang terlihat sedih, pria itu langsung menggenggam tangan istrinya. “Tenang ya, benar kata Fatma tadi. Kamu harus berani!” Firman menyemangati istri kecilnya.


Fatma mengangguk dan tersenyum, waktunya gadis itu memanfaatkan situasi. “Jadi Fatma diizinkan buat sekolah ‘kan, Hubby?” tanya Fayma setengah menggoda dengan menaik turunkan alisnya.


Firman tertawa. Pintar juga dia, siapa yang berani menolak permintaan istri kecil ketika wajah ayu nan lugu mampu meluluhkan hatinya. Pria tampan itu mengangguk. “Iya deh, jangan lupa ya nanti jaga mata jaga hati! Jangan dekat-dekat sama bocah ingusan itu lagi!”


Fatma tertawa renyah. “Ciee ada yang cemburu nih ....” Fatma meledek dengan mendekatkan wajah ke telinga Firman. Gadis itu menarik turunkan alisnya, tidak lupa juga menirukan gaya ‘Saya’ milik suaminya.


Mereka berdua kini telah sampai di kediaman Firman. Terlihat Bu Sulihah yang sedang menyiram tanaman, perempuan paruh baya itu menyambut keduanya dengan hangat.


“Assalamualaikum Bu Sulihah, Fatma si anak shalihah welcome back!” serunya saat memasuki rumah.


Bu Sulihah tertawa renyah. “Welcome, Neng!” sambutnya tidak kalah seru.


“Gimana keadaannya, apakah baik-baik saja?”


“Baik dong, Bu. Orang dijagain sama pangeran dari surga! Saking sehatnya, sekarang juga Fatma bisa salto,” jawabnya sumringah untuk menggoda Firman.


“Jangan aneh-aneh ya, Bee!” Titahnya memperingatkan.


“Bee?” tanyanya penuh keheranan.


“Iya, itu jawaban sayangnya Pak Bobby sama Fatma, Bu.” Bu Sulihah bergidik ngeri. Bisikan itu menusuk gendang telinganya. Sesaat setelah mengatakan, Fatma tertawa tipis dan wanita paruh baya itu menatap ke arah Firman.


“Saya bisa dengar Fatma. Siapa yang panggil Bee, nggak--nggak ada!” ujarnya ketus.


“Tuh 'kan, Bu. Hubby malu-malu. Ya sudahlah, panggil aja Bee, nggaj usah malu-malu. Toh ya ini di depannya Bu Sulihah. Kayak sama siapa aja. Ya nggak Bee?” Fatma sedikit menekan ujung kalimat. Firman yang merasa tertekan seketika wajahnya memerah.


“Sudah. Ini kok malah mengejek satu sama lain. Kalau Den Firman mau panggil apa tadi? Bee?” Fatma mengangguk cepat.


“Ya monggo to, Den. Bu Sul tidak keberatan. Wajar jika sepasang suami istri memiliki panggilan sayang.” Firman tersenyum tipis. Ia jadi teringat mendiang orang tuanya, terutama ibunya. Andai saja jika orang tuanya masih hidup, mungkin sekarang pria itu akan merasa lebih bahagia. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, ia selalu merindukan orang tuanya. Hatinya juga berusaha untuk ikhlas, jika imannya goyah sedikit, pasti pria itu akan menyalahkan orang lain dan tidak menerima takdir.


Setelah bercengkraman beberapa menit, akhirnya mereka naik ke lantai atas untuk bersiap-siap ke sekolah. Berusaha secepat mungkin agar tidak terlambat. Rasanya sangat tidak enak jika murid dan guru terlambat.


“Hubby, buku matematika Fatma di mana, ya?” tanyanya seraya mengancak-acak bukunya. “Perasaan Fatma letakkan di sini deh, Pak,” lanjutnya sesaat.


Firman yang sedang menyisir rambutnya menoleh, ia mendekati Fatma. “Kamu lupa naruhnya kali, Bee,” balasnya. Pria itu menyimpan sisir di meja rias Fatma. Lalu membantu sang istri mencari.


Beberapa menit telah berlalu, waktu mereka terbuang sia-sia. Firman menghela napasnya kasar saat tahu di mana keberadaan buku itu berada. Ia membatin dalam hatinya, Sabar Man, jangan nyumpah.


Firman mendekati istrinya yang masih kelimpungan mencari bukunya. Pelukan dari belakang Fatma rasakan, hanya ini yang bisa meredakan kekesalan Firman. Kembali pria itu membatin dalam hatinya. Kalau bukan istriku, dan kalau bukan gadis yang aku cintai udah aku balik badan kamu, Bee.


“Huh, Pak Bobby, bukunya belum ketemu jangan manja kaya Fatma dulu ah!” Gadis itu terlanjur lelah karena tak kunjung menemukan bukunya. Firman bisa merasakan jika istrinya kesal dari nada bicaranya, dan tiba-tiba melepaskan paksa pelukannya.


Firman mengendus-endus leher istri kecilnya. “Udah ketemu, Bee,” jawabnya tanpa memberi penjelasan.


Mendengar itu sontak Fatma langsung berbalik. “Apa di mana Hubby?” tanyanya terkejut.


“Di hatimu, Bee,” jawab Firman menggoda tanpa dosa.


Menyebalkan! Fatma memasang wajah datar dan kembali membalikkan badan. Namun, Firman berhasil menahannya. Pria itu menatap lekat netra coklat sang istri.


“Ngapain harus dicari kalau udah ada di hati? Uhh, Fatma tercantiknya saya, bukunya sudah ada di tas kamu. Udah lima belas menit kita buang-buang waktu ....”


Tanpa aba-aba tubuh Fatma terangkat ke udara. “Diam, untuk mempersingkat waktu daripada terlambat! Bukunya udah ada di tas!” tegasnya ketika Fatma memberontak.


Bu Sulihah yang melihat tas kerja dan tas Fatma tersampir di bahu Firman, serta Fatma yang ada digendongannya sontak tersenyum penuh arti. Semakin manis saja, pasangan ini.


Sementara yang dilihat ternyata tengah menenggelamkan wajahnya di dada Firman. Pak Bobby malu-maluin!


****


Kini Firman sedang berada di ruangan kepala sekolah. Pria itu ingin bertanya perihal yang menimpa istrinya. Dari saksi mata, sudah ada satu tersangka.


“Jadi siapa pelakunya, Pak?” tanya Firman. Firman membelalak. Membeku. Ia tidak menyangka ketika sesaat setelah bapak kepala sekolah membisikkan sesuatu memberitahu siapa pelakunya.


“Benarkah, Pak? Dia ... pe--pelaku--nya?”


Bersambung ....


Pasuruan, 16 Juli 2023