
...“Ketakutan terbesar dalam diriku adalah ketika aku kehilangan dirimu.”...
..._Fatma's First Love_...
Baskara menampakkan kemilaunya, pamas menyengat ubun-ubun siapa saja yang berada di taman kala itu. Suara serangga serta hembusan angin lalu melengkapi teriknya siang. Gadis dengan celana treining satu set dengan baju panjang itu menghembuskan napas lega, pelajaran olah raga kali ini, yaitu mempraktikkan permainan bola voli. Fatma sangat membenci pelajaran yang satu ini karena membuatnya merasa lelah, mungkin saja ia tidak terbiasa melakukannya.
Dengan senyuman manisnya, gadis itu melangkah riang menuju toilet untuk membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat sekaligus mengganti baju olahraganya. Pandangan Fatma yang tadinya memandang sekeliling kini menangkap tiga sosok geng buli yang sedang berjalan ke arahnya.
Ia mempercepat langkahnya. Namun, saat Fatma ingin berbelok memasuki kawasan toilet, jalannya dihadang oleh dua orang perempuan yang sangat membencinya.
“Kalian ma-–mau apa?” Fatma menunduk, ia belum mempunyai keberani untuk melawan orang yang ada di hadapannya.
“Mau nyiksa perempuan yang doyan banget ngerebut pacar orang!” Sinta membentak membuat Fatma terperanjat.
“Lo kemarin ngapain aja sama Yusuf, hah?!”
Fatma menggeleng. Kemarin dirinya hanya mengobrol saja, itupun sebentar. “Fat--Fatma kemarin cuma ngobrol biasa kok, Kak ... tidak lebih.” Gadis itu menjawab jujur. Memang benar ia mengatakan apa adanya, ia tak berbohong. Percayalah!
“Lo yakin?” Keke mengompori. Fatma hanya bisa mengangguk-angguk lemah.
“Hah, jangan percaya ... pelakor kaya dia, Sin. Modal cantik aja bangga!” Tangannya menyilang di dada. Lirikan sinis itu membuat Fatma tak tahan untuk menahan air mani. Rasanya ingin mengompol, pun bulu kuduknya ikut berdiri tegak.
“Saya cuma ngobrol aja, kok,” balasnya.
“Ngobrol apa lo, sampai berduaan kaya gitu, hah?! Pasti lo lagi nyoba buat deketin pacar gue terus godain dia 'kan?” Jemari Sinta mencengkam kuat dagu Fatma dan detik selanjutnya rasa panas menjalar.
“Oh, pantesan. Dasar pelakor!” Gadis itu bertepuk tangan pelan dan sedikit melambat. Kemudian telapak tangan Sinta melayang di udara hingga mendarat tepat di pipi Fatma. Tamparan itu meninggalkan bekas merah, tak lama rasa panas menjalar. Gadis itu merintih kesakitan, telapak tangannya menutupi sebagian bekas merah tersebut. Isak pilu kemudian terdengar, Fatma sudah tidak tahan, benar-benar tidak tahan. Pak Bobby, tolong selamatkan Fatma!
“Rasain!” Keke bergumam penuh penakanan.
***
Tubuh Fatma bergetar, usai mereka mendorong dan menampar kasar gadis malang itu. Bukan hanya itu, geng buli itu tak puas hanya menyiksa dengan perlakuan kecil tersebut, salah satu dari mereka membenturkan Fatma ke tembok membuat pelipisnya sedikit berdarah. Mereka juga menyiram Fatma dengan air, membuat tubuhnya menggigil.
Fatma merintih kesakitan. Buliran bening keluar dari pelupuk netra coklatnya. "Pak Bobby,” gumam Fatma menggigil. Bibirnya bergetar, warnanya mulai biru karena terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Bagaimana tidak, mereka tega mengunci Fatma dari luar. Entah dapat dari mana kunci kamae mandi. Namun, hal tersebut sudah kelewatan batas. Untung saja ada petugas yang biasanya bertugas untuk membersihkan kamar mandi mendengar rintihan sakit dan teriakan minta tolong dari Fatma. Kalau tidak, ia tak tahu hal buruk apa yang akan menimpanya kemudian.
Gadis itu memegangi kepalanya sendiri yang terasa pening. “Bunda, Ayah, sakit ....” Ia berkata disela isakannya.
“Ya Allah, kuatkan Ciyil,” lirihnya.
Kesadarannya mulai menghilang. Namun, sebelum itu suara teriakan, jeritan, dan bisik-bisik masuk melewati gendang telinga Fatma. Tubuhnya dipangku oleh anggota PMR, dan para guru langsung membawa Fatma ke rumah sakit, tidak lupa mereka juga mengabarkan hal tersebut kepada orang tua Fatma.
****
Isakan pilu memenuhi ruangan bernuansa serba putih itu. Bunda Naumi merasa dadanya sesak, melihat putri semata wayangnya terbujur tidak sadarkan diri. Meskipun dokter sudah menangani, dan tidak ada masalah yang serius. Namun, tetap saja rasa khawatir seorang ibu itu tetap terasa.
Ponsel milik Bunda Naumi berdering. Segera ia mengangkat telpon yang ternyata dari sang suami. Suara salam menyapa.
“Fatma, Mas. Fatma ....” Wanita paruh baya itu mengatakan dengan lemah dan dengan isakan tangis mengiringi.
“Sabar ya, Bunda Sayang. Sekarang saya di jalan mau ke bandara.” Pria paruh baya dari seberang menjawab.
“Hati-hati,” balas Bunda Naumi. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala putrinya.
Di sana Ayah Sabil tersenyum getir. “Iya, Sayang. Jaga putri kita ya, Nak Firman ada?”
Bunda Naumi menggeleng. “Nak Firman belum datang, lagi di perjalanan pulang kampus.” Bunda Naumi menjelaskan.
Semua orang punya kesibukan masing-masing. Bukan tidak ingin selalu berada dan mengawasi Fatma. Namun, Firman juga mempunyai urusan lain selain istrinya.
Tadinya, Firman percaya jika tidak akan ada yang berani menyakitinya lagi setelah kejadian Yusuf, Arka, dan Denis kemarin. Ternyata dugaannya salah total.
Di sinilah Firman, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, pria itu diselimuti rasa khawatir yang berlebihan. Namun, ia berusaha untuk mengontrol emosi agar tidak memengaruhi dirinya saat ini.
“Maafkan saya, Fatma! Tunggu, sebentar lagi saya sampai, Sayang.” Firman bergumam, tidak kuasa menahan rasa sesak.
“Ya Rabb, tolong jangan ambil dahulu dia dari hamba,” doa Firman.
Doa adalah senjatanya umat muslim. Dengan doa, siapapun akan terasa dekat, walaupun jarak beribu-ribu kilo memisahkan. Apapun yang terjadi kepada keduanya, itu sudah goresan takdir. Namun, yang namanya takdir, ada yang bisa diubah dan ada juga tidak.
Tanpa doa, meskipun jarak dekat. Namun, akan terasa jauh. Hidup ini butuh Allah bukan Allah yang butuh kita. Di zaman sekarang ini banyak yang beranggapan sebaliknya. Manusia enggan melaksanakan ibadah dan perintah Allah.
Jika hamba terlalu berlebihan dalam mencintainya, tolong berikan hamba izin bertaubat, dan beribadah lebih lama bersamanya, kepada-Mu.
****
Dengan kesadaran yang belum datang. Mimpi menghampiri Fatma. Raga itu berjalan tidak tentu arah di sebuah taman, rerumputan, dan bunga-bunga yang di sana nampak indah.
Fatma tersenyum dengan terus menatap ke sana-kemari. “Di sini berbeda, di sini menenangkan.” Ia berucap bahagia.
Bunga matahari berwarna kuning tampak bersinar di ujung antara bunga yang lainnya. Fatma menghampiri bunga itu untuk memetiknya. Ia merasa terpikat dengan warna bunga itu.
Setelah berhasil memetiknya, alam yang tadinya nampak indah berubah menjadi sebuah hutan yang menyeramkan. Tepat dihadapannya berdiri rumah tua. Suara tawa menggelegar terdengar sampai keluar.
Fatma yang penasaran memasuki rumah itu dengan terus memperhatikan sekitar. Ini rumah yang sangat jelek, bahkan tidak pantas untuk disebut rumah.
“Ini akibatnya kalau kamu tidak menuruti apa yang aku katakan!” Perempuan itu membentak.
Sedangkan satu perempuan lain yang mengenakan jilbab, terduduk lemas. Wajahnya sudah dipenuhi lebam, bekas tamparan juga sayatan. Satu cambukan kini melayang mengenai punggung perempuan itu disusul suara rintihan.
“Maaf,” lirih perempuan itu.
“Kamu harus mati!” Perempuan itu tertawa mengerikan, dengan tatapan kilat penuh amarah.
“Kamu tahu rasanya punya keluarga hancur? Apa yang menimpa aku, itu semua karena mereka!” bentaknya dengan mata yang melotot hingga Fatma dapat melihat kentara bola mata itu akan keluar.
Fatma merasa perempuan yang memakai hoodie hitam itu sudah gila. Entah mendapat keberanian dari mana, gadis itu berjalan mendekati.
“Saya tidak ingin mati, tolong biarkan saya dan anak saya hidup biasa seperti semula!” katanya memohon. Gadis itu terisak, cairan bening terus menetes membasahi pipinya yang dipenuhi luka. Peris, luka, duka, dan air kata tercampur aduk menjadi satu mewarnai hidupnya.
Satu tamparan mendarat kasar, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Namun, perempuan itu tidak melawan. “Lakukanlah semaumu jika itu bisa melepaskan saya dan anak saya!”
“Kamu yang memulai, maka selesaikanlah!” bentaknya murka.
Fatma tidak bisa melihat jelas siapa orang yang kini sedang melakukan kekerasan itu. Dengan tega menyakiti perempuan, padahal dia sendiri adalah seorang perempuan.
Tiba-tiba seorang anak kecil menabrak kasar Fatma , membuatnya terhuyung. Anak itu berlari memeluk ibunya, yang terduduk di tanah. “Ibu, bangun ... Ibu selalu ngajarin Arin menjadi anak yang kuat. Ibu juga harus kuat!” Anak perempuan itu menjerit.
“Diam kamu anak kecil! Jangan menangis, aku tidak suka!” Perempuan itu mendekatinya dan menarik kasar.
“Diam!” teriaknya mengerikan.
Fatma ingin sekali melihat siapa wajah itu. Namun, pintu yang terbuka kasar memalingkan semuanya. Ia kembali sadar, mimpinya selesai saat Firman datang menghampiri dan memeluk istri kecilnya. Netra Fatma perlahan terbuka dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa, tenang ya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Saya ada di sini untuk kamu.” Firmany menyemangati seolah tahu apa yang istrinya rasakan.
Dalam pelukan suami besarnya, Fatma menangis sambil menggumam. “Mimpi itu, anak kecil dengan wajah pucat itu, dan perempuan yang memakai jilbab itu, Ciyil merasa seperti mengenal mereka. Suaranya pun terdengar sangat familiar.”
“Pak Bobby,” panggil Fatma pelan.
Firman melerai pelukannya. Ia menatap wajah Fatma dengan penuh kekhawatiran. “Kenapa, Sayang?”
“itu–-” Fatma menjeda ucapannya.
“Belikan seblak!” Firman memasang wajah datar. Istri kecilnya ini selalu saja membuatnya khawatir. Sepertinya terlalu lama bersamanya membuat Firman terkena serangan jantung mendadak. Gadis itu tersenyum manis tanpa dosa. Pun ia menaik turunkan alisnya menggoda.
Bersambung ....
Pasuruan, 28 April 2023