
...“Jangan menangis Fatmawati ... jika kamu saja membuat saya merasa sangat dicintai. Kenapa saya harus memilih pergi?"...
..._Fatma's First Love...
Hamparan kapas putih begitu kentara menyelimuti bentangan canva biru yang kini bercampur padu. Kicauan burung terdengar begitu merdu. Hembusan semilir angin tak terlalu kencang sesekali menyapu kulit Fatma yang masuk melewati jendela kamarnya. Mengemas barang-barang kini tengah dilakukan pasangan suami istri baru itu. Keduanya memutuskan untuk tinggal di rumah almarhum orang tua Firman, yang sudah lama hanya ditempati pembantunya saja.
“Pak Suami! Fatma boleh tidak bawa boneka beruang sama doraemon punya saya tidak?" tanyanya dengan tatapan memelas.
Pria itu kembali terkekeh, lalu mendekati istri kecilnya dan memgacak-acak lembut kepalanya. “Boleh, mau sekalian ranjangnya dibawa tidak?" goda Firman sekali lagi.
Fatma menunduk malu. Boneka yang semula berada di dekapannya kini ia turunkan hingga berada di posisi depan perutnya. “Hehehe, bisa saja. Pak Suami ini." Gadis itu mencubit-cubit perut Firman pelan. Ya, kini giliran Fatma yang menggodanya.
Firman melotot dan mencoba untuk menepis cubitan itu. “Geli, Sayang," desisnya memelas.
Sekarang Fatma tahu kelemahan suaminya. Ia berhenti sejenak, menyeringai dan kemudian melanjutkan aksinya. Seperti tak ingin memberikan ampun, Fatma malah semakin menjadi-jadi. Firman dan gadis remaja itu tertawa lepas, yang tadinya dekat lemari, pria itu kini lari mengelilingi ranjang. Ah, seperti kegiatan Hajar aswad saja. Beberapa kali bilang stop. Namun, Fatma menghiraukannya.
“Anak nakal, sudah dong, Sayang! Saya cape, nanti kalau tidak berhenti nilainya saya kurangi loh!" Firman memohon dengan napas terpongah-pongah. Ia sedikit mengancam. Namun, ancaman itu sepertinya tidak berpengaruh sama sekali. Lantas, apa yang bisa membuat gadis bandel itu berhenti?
"Gak asik ah, ancamannya nilai."
Akhirnya, keduanya berbaring setelah merasa lelah. Peluh mengucur di dahinya, begitu pula dengan napas yang tidak beraturan menandakan lelah memang mendera keduanya. “Pak Bobby udah ya, saya capek," katanya tanpa dosa.
“Saya juga capek, Fatma. Kamu sih ... disuruh berhenti engga mau nurut, jadinya lemes deh." Mendengar hal tersebut sontak membuat Fatma terbangun. “Pak Bobby, main kejar-kejaran di taman yuk? Mau tidak?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya.
“Hah?" Firman melongo mendengar penuturan Fatma. Katanya tadi lelah? Ah entahlah, moodnya perempuan memang tidak pernah bisa ditebak.
“Tidak sadar juga istri kecil ini," gummanya lalu tersenyum miring.
****
Fatma dengan langkah pelan menyeret kopernya. Kakinya terasa sakit dan pegal akibat ulahnya sendiri. Mengajak sang suami berlari terus gilirannya digelitiki, gadis keras kepala itu menangis dan pura-pura marah kepada suami besarnya. Namun, tak lama. Ya, ternyata ia memiliki kelemahan yang sama seperti suaminya.
“Apa ini dosanya istri nakal, Pak?" Nada itu terucap sangat tidak memiliki semangat.
Firman tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala pelan. Pria itu merangkul bahu Fatma. “Tidak kok, Fatma 'kan kamu adalah istri kecil saya yang paling menggemaskan sejagat raya."
Fatma bersemu. “Akh, Pak Bobby gombal," katanya malu-malu. Ilahi, mengapa setiap ia berada di dekat suaminya, debar aneh itu kembali hadir seperti saat pertama ia mengenal pria yang kini berdiri tak jauh dari posisinya?
Firman mengacak-acak gemas jilbab istri kecilnya. Gadis itu cemburu. “Pak Bobby, Fatma boleh tanya tidak?" Anggukan itu sebagai jawaban yang mewakili rangkaian kalimatnya.
"Bapak punya mantan tidak?"
“Punya dong!" jawab Firman dengan semangat. Fatma mendengus dan senyum yang semula mekar merekah kini kembali layu.
“Siapa?" tanyanya malas.
Pasti Pak Bobby belum bisa move on deh dari mantannya, apalagi kalau cinta pertamanya. Fatma sebel deh, lagian kenapa sih Cipah dari sekian banyaknya topik harus pilih itu? Tapi kan ia juga kepo. Gerutunya terus saja gadis itu katakan jauh dalam batinnya.
“Gamon ya, Pak?" Fatma melepaskan rangkulan suaminya. Pria itu bingung, menatap wajah Fatma sejenak dengan mengkerutkan keningnya pertanda bahwa ia tidak mengerti.
Fatma yang melihat bahwa pria itu tidak paham dengan yang ia katakan langsung menjelaskan. “Hufh! Gamon itu singkatan dari gagal move on." jelas Fatma tidak bersahabat.
“Ohh, baru dengar istilah itu saya, Sayang."
Fatma memutar kedua bola mantaya malas. “Kenapa tidak memilih menikah dengan dia aja?!"
"Sudah kok," jawab pria itu dengan santainya.
Telak. Sontak Fatma sedikit melotot tatkala ia mendengar jawaban dari suaminya. Jantungnya seperti dihantam ribuan batu besar. Artinya? Adakah dari kalian yang tahu maksud pria itu?
“Pak Bobby poligami?!" tanyanya dengan mata yang siap meneteskan air mata. Firman mengangguk dengan senyum jail khas ketika sedang mengusili Fatma.
“Fatma gak mau! Pak Bobby jahat, pasti sekarang kita juga mau samperin dan tinggal bareng dia, ya? Pak Bobby tega banget jadikan Fatma yang kedua! Bapak tahu engga sakitnya diduain?! Pak Bobby jahat. Fatma kesel! Sebel deh sama Pak Bobby!" Gadis itu terus saja memberontak memukul pelan bahu Firman. Namun, aksinya terhenti saat pria dengan kemeja hitam itu membawa Fatma berhambur ke dalam pelukannya.
"Maaf," lirihnya menyesal.
Fatma menangis, ia tergugu. Sebagian kemeja Firman dibasahi oleh air mata istri kecilnya. Tangis itu terdengar begitu sedih hingga sebagian tubuh Fatma ikut bergetar. Seketika Firman terkejut. “Ya Allah, Fatma saya cuma bercanda. Bener, serius barusan bercanda! Aduh, jangan menangis dong Sayang." Pria itu terus saja berusaha membujuk istri kecilnya agar ia kembali tenang. Ah, mungkin Fatma hanya terkejut.
Fatma diam. Namun, tangisannya terus terdengar. Sekarang Firman menyerah, ia melerai pelukannya. Pria itu mensejajarkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya dengan Fatma.
Cup!
“Jangan menangis, Cipah ... jika kamu saja membuat saya merasa sangat dicintai. Kenapa saya harus memilih pergi?" Pria itu mengelas jejak bening Fatma dengan punggung jemarinya.
Fatma membeku dengan wajah sembab. "Pak Bobby tidak akan meninggalkan Fatma 'kan?" Firman menggeleng dengan cepat. Pria itu memegang kedua bahu Fatma dengan posisi menghadap ke arahnya. Ia menatap lekat manik indah istri kecilnya.
“Pak Bobby gak bakal ngelakuin poligami 'kan?" Firman kembali menggeleng.
“Pak Bobby--"
Rasanya Firman gemas sendiri. Ia langsung memotong pembicaraan Fatma secepat kilat. “In syaa Allah, tidak akan pernah, Sayang! Saya ... berjanji." Di akhir kalimat pria itu sedikit menggantungkan kata-katanya. Sekelebat, atensi Fatma menangkap Firman dengan tatapan yang nanar ke arah depan.
“Iya, tayang, anak Bunda Naumi yang manja seperti balita. Ehemm." Tiba-tiba di tengah keheningan Bunda Naumi muncul dengan dehaman yang membuat lamunan singkat Firman sirna. Ia menaikkan satu alisnya dan melirik ke arah belakang.
“Ekh Bunda." Pria itu tersenyum nyengir, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bunda Naumi hanya tersenyum memperingati.
"Dasar, pengantin baru, bermesraan tidak tau tempat."
“Yang penting halal." Gadis itu menjawab seraya menunjukkan deretan giginya yang putih.
***
“Pak, saya izin pamit, ya!" Pria berkaca mata dengan kumis tipis yang sudah berada di dalam mobil pajeronya itu berteriak kepada pak satpam. Jangan lupakan posisi kaca mobil yang setengah terbuka dengan kepala Firman yang dijulurkan keluar.
“Hati-hati ya, Nak Firman!" Firman mengangguk dan tersenyum simpul. Kemudian, ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Pria itu menutup kembali jendela mobilnya dan di menit pertama ia melirik istri kecilnya yang sedari tadi cemberut. “Kenapa? Istri kecilnya saya kenapa bibirnya manyun seperti ikan cucut?" tanya Firman yang berulang kali menggoda Fatma. Namun, dengan nada yang lembut.
Desiran angin malam menusuk hingga ke tulang rusuk. Atmosfer sejuk ini terlalu berlebihan dirasakan. Dengan sweater abu-abu yang membungkus tubuhnya, Fatma memeluk tubuhnya sendiri, mendekapnya dengan kedua tangan mungil itu. Kemudian, Firman mencoba untuk membenarkan sabuk pengaman yang gadis itu lupa kenakan.
Mobil pun tidak lama melaju dengan kecepatan sedang. Sentuhan lembut nan hangat Fatma rasakan. Firma menggenggam telapak tangannya, tak lupa sesekali pria itu mengelus-elus punggung telapak tangan istrinya. “Kenapa? Coba cerita," tanyanya kembali.
“Pak Bobby tahu tidak?"
“Menjos, oncom, tempe?" jawab Firman selengekan seraya atensinya fokus ke arah depan menyetir.
“Akh, tambah nyebelin aja. Pokoknya pengin cokelat! Tambah seblak, pengin boci juga, duren, tidak lupa kebab, bakso, spageti biar tambah enak. Minumnya lanjut jus alpukat, es doger biar tambah nikmat!" Fatma meracau dengan jemarinya yang seperti orang menghitung, Firman terkekeh sambil menggeleng. Istri kecilnya ini memang unik.
“Pak Bobby ....“ Sepanjang perjalanan Fatma merengek seraya bergelayutan di lengan kiri suaminya. Heran. Terbuat dari apakah telinga Firman hingga ia sangat betah mendengarkan segala keluhan dari bibir merah muda Fatma.
“Iya, Sayang ... di sini, “ jawab Firman dengan sangat lembut.
Fatma langsung bersemu ketika mendengar panggilan itu. Nadanya begitu lembut dan berhasil membuatnya menerbitkan senyum simpul. Sungguh, hatinya menghangat mendengar panggilan sayang yang terlontar dari bibir Firman yang terdengar manis.
“Kenapa ya, Ayah setiap hari Minggu sama Juma’at itu suka engga pulang ke rumah? Padahal ‘kan seharusnya kita malam mingguan sama keluarga. " Gadis itu terus menggerutu.
“Bunda juga engga menaruh rasa curiga lagi sama Ayah! Fatma jadi kesal sendiri tahu!"
Firman tersenyum mendengarnya. “Itu tandanya Bunda percaya. Fatma tahu engga kunci hubungan biar tetap adem ayem?" Fatma menggeleng lemah.
“Kepercayaan. Meskipun sejauh apapun jarak memisahkan, jika keduanya saling menjaga hati dan kepercayaan. In Syaa Allah, akan tetap dipersatukan."
Fatma memegang dagunya, tanda berpikir. “Pak Bobby , akan selalu percaya sama saya dan keluarga ‘kan, Pak?“
Pria itu hanya mengindahkannya dengan mengangguk. “In syaa Allah, Sayang. Terus apa alasan Ayah tidak pulang?"
“Kata Ayah, ada yang harus diurus, lembur, bantu temen, mau ngeronda. Akh, pokoknya alasannya banyak banget, sampai Fatma sendiri lupa apa saja." Bibir itu kembali maju beberapa sentimeter sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
Firman terdiam. Rasanya tidak mungkin orang sebaik Ayah Sabil selingkuh bukan? Apalagi jika dilihat hubungan keduanya pun terasa baik-baik saja. Malah humoris, tapi sampul luar tidak selamanya indah.
“Fatma, berpikir positif yuk! Memelihara sifat suudzon terhadap Allah ataupun makhluk itu tidak baik, Sayang. Sebagaimana, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 12. Fatma tahu bunyinya?" Ia mencoba untuk tidak memperkeruh perasaan hati istri kecilnya.
Fatma menggeleng bak bayi polos. “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
“Nah ... jadi itu yang Allah firmankan. Kita mencoba berbaik sangka yuk, Sayang!" Pria itu mencolek dagu Fatma sehingga membuat sang empu malu.
“Siap, Sa-sayang, “ gugupnya. Bukannya dijawab, pria itu malah tertawa lepas mendengar panggilan romantis itu
***
Fatma kini tengah berjalan di koridor kelas sebelah XII IIS 2, ini adalah kelas di mana gang buli berada. Bagaimana tidak, suasana sekitar nampak sepi ditambah lagi kelas itu dekat dengan gudang yang sudah tidak dipakai. Sedangkan sisi kanan kirinya adalah lab bahasa dan juga lab biologi. Ia selalu takut jika harus melewati jalanan tersebut. Lututnya gemetar begitu pula jantungnya berpacu kencang. Fatma berjalan dengan posisi menunduk, mempercepat langkahnya. Berdoa di dalam hati, agar ia selamat sampai ke kelas. Awalnya ia menduga di antara mereka tidak ada yang melihat. Namun, dugaannya salah.
Tas punggung yang Fatma kenakan ditarik kasar, lalu tubuh mungilnya didorong sampai terjatuh. Sinta menemukannya! Fatma tidak berani mengangkat wajahnya. Bahkan untuk sedikit mendongak, melirik saja Fatma tidak memiliki keberanian.
“Ngapain berangkat bareng Pak Bobby, ha? Mau cari muka biar dapet nilai bagus? Oh, atau mau ngajak ...." Kata-kata itu tidak dilanjutkan kembali. Namun, senyuman penuh tuduhan itu memperingati.
“Halah, cewek kayak gini mah pakai hijab, tapi sok suci!" Keke menimpali dengan delikan penuh cibiran.
“A--aku, a--ada salah apalagi ke kalian?" tanyanya ketakutan.
Sinta tertawa. “Masih nanya juga, lo?! Dasar otak udang!" bentaknya seraya menjundu pelan salah satu pelipisnya.
Sinta melangkah mendekati Fatma, menginjak tangannya lalu memutar-mutar sepatunya tanpa perasaan. Senyuman sinis tercetak di wajah Keke dan Sinta. Sedangkan satu perempuan di belakang keduanya hanya memasang wajah datar.
Fatma mendesis kesakitan sembari memegangi bagian lengan atas tangannya. “Ssss sa-sakit, Kak. To-tolong lepasin!"
Fatma terus merintih kesakitan, tak ada satu pun yang menolongnya. Ia hanya tergugu. Ilahi, sampai kapan ia akan menjadi bulan-bulanan Sinta dan temannya? Pak Bobby, tidakkah kau tahu jika Fatma kecilmu mengalami pembullyan kembali?
Lengan Keke tergerak ingin menjambak rambut Fatma. Namun, seseorang dari belakang berhasil menepisnya kasar. Keke menggeram, menatap siapa sang pelaku. “Ngapain ikut campur sih, Suf?!"
Bersambung...
Pasuruan, 12 Maret 2023