
...“Apakah Pak Suami tahu, Fatma selalu bahagia jika berada di dekat kamu. Suami besar selalu punya banyak cara untuk membuat Fatma tertawa. Saya suka.”...
..._Fatma's First Love...
Malam semakin terjaga. Sang dewi malam semakin menampakkan pesonanya. Bintang dan bulan menjadi pelengkap di malam yang sunyi ini. Denting jarum terus berbunyi, jarum jam terus berputar. Menunggu. Sampai membuat gadis kecil nan lugu itu terlelap dalam tidurnya. Perlahan, terdengar keryitan pintu. Sesosok pria berkaca mata dengan kumis tipis menyerupai kumis lele itu membuka pintu rumahnya dengan perasaan lebih baik. Netra Firman langsung disambut dengan pemandangan istri kecilnya yang tertidur di pangkuan Bu Sulihah, wanita paruh baya itu mengelus-elus puncak kepala Fatma hingga terlelap. Sungguh. Kebiasaannya itu tidak bisa hilang. Furman menghela napas, merasa bersalah.
Ia lupa jika kini ia telah memiliki istri. Ingatannya kembali ke orang tuanya, benarkah yang membunuh orang tuanya adalah Ayah Sabil? Sepertinya mustahil, tetapi Om Wijaya tidak akan membohonginya. Firman terus berpikir. Ah, sebaiknya ia melupakannya sejenak. Semakin ia pikirkan, rasanya kepalanya semakin sakit.
Firman melangkahkan kaki dan mendekati Bu Sulihah yang sedang tersenyum kepadanya. “Eh, Den Firman sudah pulang,” sambutnya ramah.
Pria itu mengindahkannya dengan mengangguk serta membalas tersenyum tipis. “Maaf ya, Bu, saya jadi merepotkan Bu Sul.” Firman merasa tidak enak hati.
Wanita paruh baya itu terkekeh. “Tidak apa, Den. Ini Nak Fatmanya kecapean kayaknya, dibawa ke kamar saja. Biar tidurnya nyenyak juga.”
Wanita paruh baya itu sudah Firman anggap seperti ibunya sendiri, begitupun Bu Sulihah. Ia baru ingat, jika Bu Sulihah ‘kan sudah bekerja lama dengan orang tuanya. Sudah pasti tahu akan kasus yang menimpa kedua orang tuanya dulu, tetapi apakah Bu Sulihah tahu siapa yang membunuh orang tuanya?
Firman perlahan mengambil alih tubuh Fatma dan Bu Sulihah pun bangkit. Saat beliau akan pamit, Firman mencegah. “Bu, saya boleh tanya?”
Aktivitasnya terhenti. Di detik yang sama wanita itu tersenyum tipis bersamaan dengan anggukan kepala. “Boleh, sok attu mangga, Den!” jawabnya.
Firman terdiam sejenak, mengapa begitu susah menanyakan hal ini kepada Bu Sulihah? “Bu Sul sudah lama ‘kan kerja sama Ibu dan Ayah saya?” Bu Sulihah mengangguk. “Bu Sul tahu tidak kenapa orang tua saya meninggal, penyebab orang tua saya meninggal?”
Raut wajah Bu Sulihah berubah. Tubuhnya menegang, lidahnya terasa kelu. “Sa-sa-saya tahunya cuma ke–-kecelakaan, Den,” balasnya gugup.
Firman tertegun, jika sikap seseorang gugup pasti ada yang disembunyikan bukan? Rasanya, Bu Sulihah tengah diselimuti rasa takut kepada Firman sekarang.
“Apa hanya sekedar kecelakaan atau ....” Firman menggantung kalimatnya. Dadanya terasa nyeri.
Bukan ia tidak ikhlas. Namun, seperti halnya perempuan, Firman juga butuh kepastian. Dirinya tidak ingin menjadi seseorang yang sudah tahu, tapi bodoh. Namun, tidak ingin mencari apapun agar menjadi pintar.
“Ibu tidak tahu, Den. Maaf saya sudah mengantuk, izin pamit ya, Den Firman.” Wanita paruh baya itu pun dengan cepat pergi meninggalkan Firman yang masih mematung di tempat.
Buliran air matanya perlahan berjatuhan membasahi pipinya. Firman berdoa semoga percakapan dengan intonasi pelan tadi tidak terdengar oleh istri kecilnya yang masih berada di pangkuannya.
“Ibu ... Yah ..., maafkan Firman, andai saja Firman engga ikut study tour saat itu, mungkin saya tidak akan kehilangan kalian. Saya belum menghabiskan banyak waktu bersama kalian. Sosok Ayah yang tegas, rela sibuk bekerja untuk menafkahi Ibu dan Firman. Namun, juga masih bisa meluangkan waktu untuk kami. Bu ... Yah ... Firman kangen sama kalian ....”
Pria itu terisak dari monolog lirihnya. Orang lain mungkin melihat Firman seperti tidak mempunyai kesedihan dan masalah. Ia bukanlah anak broken home seperti yang lain, tetapi Firman berasal dari keluarga yang lengkap. Hanya saja, dulu ia terlalu cuek, pendiam, dan dingin.
“Harusnya, Firman dulu bersyukur memiliki kalian, maafkan Firman yang tidak terlalu menganggap kalian ada. Mungkin, jika Firman memanfaatkan waktu bersama kalian, Firman tidak akan merasa kehilangan mendalam seperti ini. Sekarang ... Firman merasa menjadi anak yang paling dosa, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tuanya, maafkan Firman Bu ... Yah ... Kini kalian berada dalam keabadian dan satu surga telah tertutup untuk Firman.” Lirihnya, lalu menunduk.
Tanpa disadari, pria itu membiarkan cairan bening itu menetes di atas wajah istri kecilnya yang telah terbangun karena mendengar isakan pilu dari suaminya.
Apa kejadian itu hanya kecelakaan semata? Jika benar itu adalah pembunuhan yang telah direncanakan, maka tolong berikan Firman petunjuk ....
Suaranya bergetar, tubuhnya berguncang hebat, Firman merasa hanya untuk bernapas pun sulit. “Apakah benar Ayah Sa–-” Perkataan Firman menggantung di udara.
Tangan mungil dari sesosok gadis yang terbaring di pangkuannya menghapus jejak air mata Firman, membuatnya terdiam. Perlahan netra yang sembab itu memandang lengan Fatma, lalu mengikuti pemilik lengan itu. Gadis itu terbangun?!
Firman tersentak, terperanjat sedikit terkejut. “Fa--Fatma ke-–kenapa ba–-bangun?”
Fatma hanya tersenyum seraya mengusap air mata di wajah suami besarnya yang begitu dekat dengannya. “Pak Bobby jangan menangis,” cegahnya yang masih dengan suara khas orang bangun tidur.
Perlahan tubuh mungil itu bangun. Lalu memeluk Firman erat, pria itu belum menyadari apa yang terjadi. Lalu, tidak ada guntur maupun hujan, tiba-tiba Fatma melepaskan kacamata yang melekat, kemudian mengecup kedua kelopak mata Firman beserta pipinya menjadi yang paling akhir.
“Pak Bobby selalu melakukan itu kalau Fatma menangis. Pak Suami jangan sedih, ada Allah sama Fatma di sini. Kata Pak Bobby tadi siang kita akan menjalani ini bersama-sama, bukan?”
Firman tersenyum haru. Lalu membalas pelukan Fatma tidak kalah erat. Gadis itu memang tidak tahu apa-apa, tetapi kehadiran gadis lugu ini menjadi penguat dirinya. Firman tidak tega jika harus melampiaskan apa yang dilakukan Ayah Sabil kepada putrinya.
“Pak--Pak Bobby!” Fatma memukul punggung suaminya memberontak.
Firman yang menyadari napas Fatma tidak normal kemudian melerai pelukannya. “Huh Huh,” helaan napas Fatma terdengar memburu. “Jahat,” katanya sambil kembali mengatur napas.
Pria itu terkekeh, mengacak-acak rambut Fatma. “Saya lemah ya?” tanya Firman tersenyum getir.
Ia menatap manik suaminya dengan intens, wajahnya semakin maju mendekati Firman. Pria itu bergidik ngeri serta memundurkan wajah, menggeserkan tubuhnya, sehingga menabrak ujung sofa.
“Fat--Fatma ma–-mau apa?” Pria itu bertanya takut.
Sekarang Firman benar-benar seperti Fatma saat didekati oleh Yusuf. Ketakutan. Sepertinya Fatma akan melakukan apapun kepadanya. Tunggu, Fatmawati gadis manja dan polos ‘kan? Berarti itu lebih bahaya.
“Pak Bobby lemah, Hahaha.” Tawanya menggema keras.
Firman melongo setelah diperlakukan itu. Otaknya masih bertanya-tanya, hingga segudang pertanyaan bersarang di benaknya. Benarkah ini istri kecilnya yang polos dan manja? Sedangkan Fatma, gadis itu telah menyeimbangkan kembali wajahnya, dan sofa sekarang menjadi korban aksi pukulan Faa. Andai sofa bisa berkata, mungkin dirinya akan berkata, ‘Apa salah gua, sampai dapat majikan yang nyiksa gini?!ʼ
Tanpa aba-aba lagi, Firman yang greget dengan tingkah laku Fatma langsung mengangkat tubuh mungil gadis itu ke punggungnya seperti menggendong koala.
“Kamu masih ingat, ketika sebelum nikah saya pernah bilang, ‘Ini baru pendaftaran Fatma. Nanti setelah akad baru mulai.ʼ” Fatma mengangguk disertai wajah yang kini berubah datar. Entah mengapa saat telapak tangannya menyentuh dada Firman, debar aneh itu kembali hinggap. Ah, padahal ini bukanlah yang pertama kalinya.
“Sekarang kita mulai.” Telak. Fatma membulatkan mata sempurna. Apakah ia tak salah dengar yang baru saja suaminya itu katakan? Mulai? Setelah sampai di kamar, ia membaringkan sedikit kasar tubuh Fatma. Gadis itu sedikit meringis kesakitan. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya. Ia takut. Benar-benar takut, apa yang harus ia lakukan? Bunda, tolong Fatma!
****
“Pak Suami! Ciyil tidak bisa jalan, tanggung jawab!” Fatma berteriak dengan selimut yang masih setia di atas tubuhnya. Gadis itu masih seperti posisi semula, tak kunjung beranjak dari atas ranjang.
Terdengar balasan teriak seraya diiringi tawa dari kamar mandi, “Kok bisa, Sayang?”
“Gara-gara Pak Bobby, ngajak mainnya kasar!” jawabnya dengan nada suara merajuk.
Firman semakin tertawa keras. “Emangnya kita main apa, Sayang?” jahilnya sembari menyiapkan tas untuk kerja.
“Gobak sodor. Main ranjang 'lah.” Fatma berkata dengan wajah kesal bercampur lugu. Di detik ketiga, gadis itu memutar bola mata malas.
Gelak tawa Firman semakin keras, terdengar begitu renyah. Gadis ini membuat pikiran orang lain menjadi jalan-jalan. Mendengar tawa suaminya, Fatma pun ikut tertular. Lalu tidak lama kembali bercerita.
“Pak Bobby gelitikin Fatma sampai lemes banget, terus ketiduran dengan posisi kaki tidak baik. Otomatis kaki Fatma sakit, pegel, pokoknya Pak Bobby tanggung jawab! Gendong Fatma ke kamar mandi, jangan lupa juga ambilin baju Fatm!” cerocosnya panjang kali lebar.
“Eeh anunya sekalian engga?” Firman menghentikan aktivitas ketika Fatma bercerita. Sesalah itukah sampai dirinya harus menggendong gadis itu ke kamar mandi segala?
‘Firman, ingat ini ujian,ʼ
“Anu apa?” Fatma menaikkan satu alisnya.
“Ya, anu.” Firman berkata bingung. Ia menggaruk tengkuknya, dan membenarkan letak dasi yang belum terpasang dengan sempurna.
“Iya, anunya itu anu apa?” rengek Fatma seraya memukul-mukul pelan kasur tampar ia tiduri.
“Da le man, “ katanya pelan. Namun, dengan kata yang ditekan.
“Ikh, Pak Suami. Ya iyalah!” Gadis itu dibuat semakin kesal.
“Iya ... ya?” monolognya bingung seraya menaikkan satu alis. Ia memasang raut wajah kebingungan. Memang, gadis tidak pernah bisa ditebak.
“Iya!” balas Fatma dengan galak.
"Sekalian sama tali surganya engga?" tanyanya lagi terdengar ambigu membuat Fatma harus menerka-nerka dan memutar otaknya.
"Aduh, istilah apa lagi sih itu?" keluhnya seraya memegang jidatnya.
"Itu loh, anu ...."
"Iya anu apa, Pak?" tanya Fatma yang sudah mulai dibuat greget. Ia membulatkan bola matanya.
"Ku tangnya juga?" Wanita itu terpaku mendengar pertanyaan dari suami tercintanya itu. Sedangkan Firman hanya bisa menggaruk belakang kepalanya tanpa dosa. Sebenarnya malu mengatakan itu, namun semuanya ditepis keras demi membuat istrinya senang.
****
Hari ini adalah jadwal pria berkumis lele itu mengajar, saat tiba di depan gerbang Fatma minta diturunkan, sedangkan saat Firman bertanya katanya malu. Dasar Fatma, ada-ada saja.
Pria itu keluar dari mobil. Dirinya berpapasan dengan Fatma yang tersenyum dengan semburat merah menghiasi wajahnya. Gadis itu tersenyum malu-malu menyapa Firman. “Pagi Pak Bobby” sapanya lalu berjalan cepat tanpa menunggu Firman membalas terlebih dahulu.
Firman tertawa sendirian. Gemas sekali dengan tingkah laku istri kecilnya itu. Sampai tiba-tiba sapaan seorang perempuan membubarkan lamunannya. Dari pagi, Fatma memang berhasil membuat suami besarnya seakan-akan lupa dengan masalah yang tengah ia hadapi.
“Pengantin emang beda ya,” kata Zulaikha dengan nada mengejek.
Pria itu hanya menanggapinya dengan terkekeh sebentar. “Makasih ya, Mbak. Berkat Mbak bantu membujuk Om Wijaya, saya bisa menikahi Fatma. Saya sangat bahagia sekali,” ungkap Firman tulus.
Zulaikha ikut tertawa. “Iya dong, sama-sama, tapi ingat sama misi kita! Jangan sampai lupa,” senyuman miring penuh arti itu lalu terbit.
“Misi?” tanyanya seraya mengingat.
“Satu orang.” Zulaikha memberi kode, dan saat itulah Firman tersadar. “Aku pamit ya, Aiman!” lanjutnya.
Pria itu sangat mencintai istri kecilnya, tetapi jika bukan karena misi cinta mereka tidak akan pernah bisa bertambah. Sebab jika mereka akan berpisah dan harus memilih satu sama lain, Firman tak bisa, karena mungkin sekarang dirinya belum bisa sampai mengikat. Cinta atau orang tua? Firman yakin orang tuanya sudah bahagia di sana. Namun, tidak bisa dipungkiri hatinya masih ingin tahu apa yang terjadi dan berharap orang tuanya masih ada. Orang tuanya harus mendapatkan keadilan.
****
Tiga siswa beserta dua orang tua kini telah berkumpul di ruangan kepala sekolah. Benar, Firman melaporkan tindakan yang mereka lakukan kepada Fatma beberapa hari lalu, atas bantuan Bu Aris panggilan orang tua pun dilaksanakan atas izin kepala sekolah.
Menyadari ada yang kurang, Bu Aris pun bertanya, “Yusuf, kemana orang tua kamu?”
“Ayah pergi keluar kota,” jawabnya malas.
“Ibu?” Bu Aris tidak menyerah.
“Meninggal.” Yusuf menjawab ringkas.
Wanita paruh baya itu, Pak Jalil-–kepala sekolah Madrasah Aliyah itu beserta Firman tertegun. Memang, setiap kali ada rapat wali murid, yang datang bukan orang tua Yusuf, melainkan paman atau tidak bibi angkatnya.
“Sudah dikabari?” Suara bariton Firman memecah keheningan dan anggukan Yusuf sebagai jawaban.
Pak Jalil sebagai kepala sekolah melaporkan kelakuan para anak itu kepada orang tua mereka, mereka meminta maaf dan berjanji akan memberi hukuman. Namun, hukuman sekolah juga tetap berlaku.
“Skors kalian selama empat hari, karena kalian sering melakukannya. Bersikaplah sewajarnya seperti anak sekolah pada umumnya, kalian di sini untuk belajar bukan untuk numpang tenar, terlihat seperti jagoan, paham?!” wejangan terakhir Pak Jalil. Mereka memilih untuk menunduk dalam tak berani mendongak walau hanya melirik.
Urusan pun selesai. Yusuf, Denis, dan Arka dipulangkan bersama para orang tuanya. Meskipun begitu, Yusuf izin dengan dalih ingin ke kelasnya terlebih dahulu.
“Gua harus kasih tahu Fatma bagaimana pun caranya. Mereka tidak baik, mereka punya rencana jahat!” sebenarnya itu alasan Yusuf yang sebenarnya.
Dengan langkah tanpa keraguan, Yusuf melangkah menuju kelas Fatma berada.
Bersambung...
Pasuruan, 26 April 2023