Fatma's First Love

Fatma's First Love
Satu Seblak Empat Ratus Kecupan



...“Selain bebas memandu kasih, nikah juga tempat masalah datang menghampiri dan tugas kita adalah menghadapinya bersama. Jangan sampai membiarkan orang lain masuk yang akhirnya akan menebar perpisahan.”...


..._Fatma's First Love ...


“Pak Bobby,” panggil Fatma pelan.


Firman melerai pelukannya dan segera mengelas kasar jejak transparan. Ia menatap wajah ayu istri kecilnya dengan penuh kekhawatiran. “Kenapa, Sayang?”


“itu--” Fatma menjeda ucapannya. Firman dan Bunda Naumi menunggu apa yang akan gadis lugu itu katakan.


“Pengin seblak.” Membatu. Firman memasang wajah datar.


“Seblak? Mau masuk ICU? Bisa-bisanya saya khawatir kamu dengan santai bicara pengin seblak.” Fatma menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Memalingkan wajah tak menatap wajah suami besarnya.


“Minum aja, Zauj, Fatma haus.” lirihnya setelah menghembuskan napas dan memasang wajah memelas.


Bunda Naumi terkekeh, memecahkan kecanggungan. Meskipun, sebenarnya wanita itu tahu ada hal yang belum siap putrinya sampaikan. “Bunda kira mau seblak beneran, si manja ini,” katanya sambil membelai lembut kepala putrinya.


Fatma hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ia menunduk memikirkan arti dari mimpinya barusan. Pikirannya juga teralihkan dengan kejadian tadi siang. Tiga kakak tingkatnya itu tidak jadi mencelakainya, karena datang dua orang lain. Namun, siapa?


Fatma saat itu bersyukur karena hidunya terselamatkan dengan kehadiran mereka. Namun, ternyata dugaannya salah.


Bunda Naumi bangkit dari duduknya. “Fatma, Nak Firman, bunda keluar sebentar ya. Ayah kamu juga sekarang pulang, Sayang.” Bunda Naumi pamit.


Firman dan Fatma mengangguk dan salah satu dari mereka. “Hati-hati Bunda, maaf Firman tidak bisa mengantarkan Bunda,” katanya bersalah.


Bunda Naumi tersenyum. “Tidak apa-apa, Nak.”


“Bunda ....” Gadis itu merengek, membuat atensi keduanya beralih. Fatma merentangkan tangannya, meminta agar Bunda Naumi segera memeluk.


“Dasar anak manja,” ejek Bunda Naumi. Namun, tidak bisa dipungkiri wanita paruh baya itu akhirnya memeluk Fatma.


“Cepat sembuh ya, anak bunda. Bunda sedih nih, lihat putri satu-satunya bunda yang manja berbaring di sini,” keluh bundanya.


Fatma terkekeh. “Iya, Bunda.”


Gemas, Bunda Naumi mencubit pipi gembul gadis itu. “Jangan merepotkan mantu kesayangan bunda loh,” tatapan menuduh dilayangkan ke arah Fatma.


Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara itu, Firman malah tersenyum. “Iya, Bunda, Fatma susah makan nih, makannya pengin seblak, bakso aci, sama basreng mulu.” Firman ikut mengompori. Pria itu lantas menatap Fatma dengan menaik turunkan alisnya.


Fatma melayangkan tatapan protes. “Pak Bobby bohong, Bunda. Fatma anaknya rajin makan nasi kok, liat tubuh Fatma yang tambah gendut ini.” Gadis itu menyangga pengaduan suaminya.


Bunda Naumi terkekeh ke arah Firman. Sedangkan Fatma, perempuan itu melayangkan tatapan membunuh. Lalu, tanpa aba-aba menyentil pelan kening Fatma.


“Aduh,” Fatma meringis kesakitan seraya mengusap-usap keningnya.


“Bunda mah ... jahat, Ciyil tidak suka.”Fatma merajuk, tangannya menyilangkan di bawah dada. Ia mendengus kesal.


Bunda Naumi memutar bola matanya malas. Hanya dengan ini, kekhawatiran bunda bisa terobati, dan dengan cara ini pula dirinya bisa menghibur sang putri. Ia tak ingin Fatma terus memikirkan kejadian yang telah menimpanya tadi siang.


Firman mengerjap berkali-kali melihat anak dan ibu itu. Saat istri kecilnya mengaduh, suami besar baru mendekat. “Aduh, kasihan sekali istri kecilnya saya.” Firman ikut mengusap bekas sentilan mertuanya di kening sang istri.


“Kurang banyak Bunda,” lanjut Firman dengan berbisik membuat Bunda Naumi terkekeh. Menantunya mendukung dirinya.


“Gara-gara Pak Bobby sih, ini!” adunya.


Bunda Naumi mencibir dengan gerakan mulut tanpa suara mengikuti perkataan Fatma. Gadis itu yang tidak sengaja melihat seketika merengek, “Bunda ....”


Saat itu juga Bunda Naumi berlalu pergi. “Bunda pergi dulu Nak Firman, kalau Fatma bandel ajak tidur saja!” Ia berkata diiringi tawa.


Firman menimpali, “Dengan senang hati, Bunda!” candanya.


Fatma yang tidak mengerti menggeleng pelan. “Pada aneh, tanpa disuruh juga dari tadi Fatma dah tiduran kali,” gumamnya.


Pria itu tertawa mendengar penuturan Fatma. “Istri kecil ... sudah kamu diam saja!” Firman mengejek.


“Tau ah!” Fatma ngegas dan memalingkan wajahnya, ngambek lagi deh.


Firman terkekeh pelan. “Uuu ... istri saya, sini wajahnya dong. Tidak boleh berpaling dari suami. Dosa loh nyuekin suami, memangnya Fatma mau dapat dosa?” Pria itu membujuknya.


Hati Fatma yang lembut langsung menuruti apa yang Firman katakan. “Fatma engga mau dapat dosa, Pak,” katanya sambil cemberut.


Firman tersenyum sangat manis. “Istri shalihah.” Ia lalu mengecup kening Fatma dan pipinya bertubi-tubi, membuat Fatma menggeliat kegelian.


“Pak Bobby sudah dong!” katanya disela tawa. Firman tidak berhenti, ia melupakan kepala Fatma yang tadi sedikit terluka.


Mengingat itu, Fatma mempunyai ide agar suaminya berhenti. “Ah, Pak Bobby ... sakit.” Ia meringis kesakitan dan memegang kepalanya berakting.


Firman pun panik. Saat itu juga Fatma berkata mengikuti sound yang ia dengar saat teman kelasnya tidak sengaja memutarnya menjadi nada dering telepon.


“Panik gak? Panik gak? Paniklah masa engga!” Fatma tertawa begitu puas melihat Firman memasang wajah panik.


Pria itu melongo seperkian detik, oh jadi dirinya dipermainkan “Dasar istri kecil yang nakal.” Firman berkata sambil cemberut.


Selanjutnya, gadis itu menahan napas ketika Firman mendekatkan wajahnya kepada Fatma. Panik gak? Panik gak? Paniklah masa engga!


Firman menirukan apa yang tadi Fatma katakan. Semburan tawa keluar dari mulut pria itu, tanpa aba-aba juga satu kecupan mendarat di bibir Fatma. “Saya menang,” bisik Firman tepat di telinga istrinya.


Fatma bergidik ngeri, mendengar suara Firman yang pelan dan serak. “Iya,” katanya tanpa tenaga. Ia menunjukkan wajah memelasnya.


***


Pria paruh baya itu mendapatkan laporan tentang kecelakaan yang menimpa Fatma. Banyak saksi mata yang menunjuk ketiga siswi pembuat onar ini.


Tiga siswi itu menunduk ketakutan, terutama Inggit. Si ketua geng buli, sok berkuasa itu meremas jemarinya sendiri. Tangannya berkeringat dingin.


“Kami ti–-tidak melakukan apapun, Pak.” Sinta mengelak.


Pak Jalil melayangkan tatapan intimidasi, seperti akan membunuh. “Jangan bohong, jelas-jelas tadi kalian yang menghalangi jalan Fatma, dan kalian juga membentak serta menamparnya!” Pak Jalil menggeram marah.


Beginilah pergaulan, kita terkadang memang tidak melakukan masalah apapun, tetapi jika bergaul dengan orang yang sering membuat masalah maka orang itu juga akan terseret walau ia tak ikut melakukan sepercik masalah itu.


Inggit, yang hanya ikut berdiri saja kala kejadian itu pun terpanggil. Sepanjang duduk di ruangan kepala sekolah, dirinya hanya bisa diam. Tidak ingin ikut campur terlampau jauh.


Sinta menghela napas berat sebelum bercerita. “Ya, kami hanya melakukan sebatas itu, Pak. Kejadian selanjutnya bukan kami yang melakukan, karena saat itu ada guru yang memergoki aksi kami.”


Namun, tak jauh dari Inggit mendudukkan diri, terdengar suara Keke dan Sinta yang gemetar, menahan isak tangis. Jika guru lain, Sinta tidak akan setakut ini, tetapi jika sudah menyangkut orang di depannya. Sinta tidak akan bisa kabur, dan akan menghadapi siksaannya sendiri.


“Baiklah, saya pegang omongan kalian!”  ujarnya tegas penuh penekanan. “Lalu, apa kalian tahu siapa yang melakukannya?” Tatapan intimidasi itu kembali menyelidiki.


Inggit yang sedari tadi diam, angkat bicara. “Saya tahu,” jawabnya.


Pak Jalil memusatkan atensi sepenuhnya kepada Inggit. Ia mengangkat alisnya dengan mengerut. “Siapa?” tanyanya cermat.


***


“Mas!” Perempuan itu menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manisnya.


Katanya, lelah akan hilang bila disambut dengan senyuman orang tersayang. Bunda Naumi mencium punggung telapak tangan Ayah Sabil.


Setelah itu, pria paruh baya meraup wajah Bunda Naumi, menghapus jejak air mata yang tersisa di sana. Ayah Sabil mengecup kening sang istri. “Saya sangat merindukanmu, Sayang,” katanya.


Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu memeluk sang suami. “Saya juga merindukanmu, Sayang,” balasnya.


Ayah Sabil terkekeh. “Di dalam saja yuk!” ajaknya.


Setelah pulang dari rumah sakit, Bunda Naumi mengabari Ayah Sabil untuk langsung pulang dulu ke rumah, dan memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit bersama. Keduanya, memasuki rumah besar itu dengan Ayah Sabil yang merangkul pinggang istrinya.


“Bagaimana keadaan anak kita, Bun?” Ayah Sabil bertanya.


Raut sedih terpancar di wajah Bunda Naumi. “Saya khawatir, Mas,” ungkapnya dengan menunduk.


Ayah Sabil menggeser duduknya dan membawa istrinya ke dalam dekapannya. Menguatkan dengan menggenggam tangannya.


“Kita percayakan semuanya sama Allah ya, Sayang. Allah pasti akan melindungi keluarga kita, yakinlah itu!” Ayah Sabil tersenyum.


“Beginilah hidup ... jika kurang kejujuran,” gumamnya.


Bunda Naumi mendongak. “Apa kita harus jujur?”


Ayah Sabil menggeleng cepat. Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. “Saya takut, Nak Firman tidak percaya. Biarlah, dia tahu dengan sendirinya!”


Pria paruh baya itu mengangguk lemas. “Semoga hubungan anak kita baik-baik saja setelah ini. “ Bunda Naumi membalas.


****


“Euy, Pak Bobby!” teriak Fatma di dalam kamar mandi. Gadis satu ini ingin membuang hajatnya. Namun, ia merasa malu ketika Firman akan ikut membantunya ke dalam.


Pria berkaca mata itu menghembuskan napasnya berat sebelum membalas teriakan istrinya. “Apa euy?” tanyanya.


“Udah euy. Bantuin buka pintu dong, Pak Suami euy!” Fatma menggedor pintu sambil tertawa malu.


Firman membuka pintu kamar mandi dari luar dengan kesal. “Apa sih, ah, kita euy-euyan segala! Panggil sayang gitu!” Firman menggerutu.


Fatma tertawa terpingkal-pingkal. “Iya euy!” balasnya tidak henti tertawa, gadis itu melangkah kembali ke ranjang.


“Pak Suami pengen makan euy,” katanya setengah mengejek.


“Tapi seblak ya, euy,” lanjutnya.


Firman memutar bola matanya jengah. “Tidak akan saya belikan. Malas!” Pria itu menjawab dengan ketus.


Sifat manja itu kembali Fatma munculkan. “Aaaa, Pak Bobby. Beliin euy ....” Ia memanggil dengan nada merengek.


Firman menengok. “Pengen seblak ya ... pliss ....” Gadis itu meminta dengan mengerlip lucu dan menangkupkan tangannya di depan dada.


Firman semakin mendekat ke arah Fatma. “Bilang sekali lagi ke saya!” suruhnya lembut.


Fatma mengangguk sekali, ia meneguk ludahnya kasar. Kini tubuhnya sudah menempel di punggung ranjang dengan posisi Firman yang berada tepat di depan wajahnya.


“Pengin seblak,” cicitnya.


Firman tersenyum miring. Ia membisikkan sesuatu, “Satu seblak empat ratus kecupan,” tawar Firman dengan menaik turunkan kedua alisnya. Sungguh, tawaran itu sudah seperti ancaman bagi Fatma. Enak saja, Firman untung banyak dong kalau gitu.


Gadis polos itu menggeleng lemah. “Pengin bubur rumah sakit aja kalau gitu gak jadi pengin seblaknya,”  katanya tersenyum paksa.


Firman menjauh lalu mengacak-acak jilbab istri kecilnya. “Istri kecil, jangan nakal-nakal, kalau saya balik nakalin bahaya loh.” Peringatan Firman layangkan dengan senyuman seindah neraka, eh surga ding.


Bersambung ....


Pasuruan, 20 Mei 2023