Fatma's First Love

Fatma's First Love
Malu-malu, tapi Mau



...“Tidak perlu risau, bukankah bangkai busuk akan tercium meskipun disembunyikan dengan begitu rapi?”...


..._Fatma's First Love_...


Tidak semua kenangan dapat tercipta indah, tetapi sepahit apapun kenangan itu jika berarti dalam kehidupan seseorang, maka tidak akan pernah mudah untuk terlupakan, bukan berarti akal tidak ingin melupa. Namun, hati yang sulit untuk diajak kerja sama.


Semuanya berjalan indah, kecuali saat masa itu datang. Saat orang tua Fatma terkena musibah, dan suaminya yang dituduh menjadi tersangka. Kepingan hati yang masih retak itu, perlahan memburuk. Bunda Naumi memang bukan wanita yang Ayah Sabil inginkan awalnya. Namun, ia mencintai Ayah Sabildengan sangat tulus. Meskipun harus bertahan dengan cinta bertepuk sebelah tangan.


“Bunda,” panggilan Fatma memecah keheningan, membuyarkan lamunan wanita paruh baya yang kulitnya mulai tampak sedikit keriput di beberapa bagian.


Bunda Naumi tersenyum. “Ada sejarahnya dong Sayang!” seru Bunda Naumi sedikit tersenyum kecut. Namun, tidak terdengar begitu antusias dalam membahasnya.


Gadis bermata bulat yang tidak menyadari itu lantas meminta Bunda Naumi untuk menceritakannya. Wanita paruh baya itu menghela napas berat sebelum bercerita. Firman, pria itu menajamkan pendengar. Mungkin terlihat tidak sopan, tetapi pria itu adalah pendengar yang baik. Sorot matanya memperhatikan gerak-gerik kedua orang yang berada di hadapannya.


“Usia kalian tidak jauh berbeda 'kan? Terpaut jauh, tetapi adalah selisih berapa tahun. Saat itu sebelum kalian lahir, kami para orang tua. Sepakat untuk membuat rencana perjodohan dini, jika seandainya anak kami sepasang. Usulan nama itu berasal dari Ibu Firman--Bu Ayu.”


“Orang berkata bahwa nama itu seperti doa. Ibu Firman berharap kalian menjadi anak-anak yang shalih-shalihah. Kami pun menyetujui inisial nama kalian sama.”  Bunda Naumi terkekeh pelan.


“Kalian sering bermain bersama beberapa tahun, tetapi sibuknya orang tua Nak Firman dan Ayah Sabil membuat kalian terhalang untuk bertemu. Sampai akhirnya kalian tidak pernah bertemu kembali saat Firman mulai menginjak sekolah dasar. Ditambah lagi Nak Firman yang dipondokkan oleh kedua orang tuanya membuat kalian jarang sekali bertemu.” Bunda Naumi bercerita panjang lebar.


Gadis itu mengangguk, tetapi masih ada suatu hal yang membuatnya penasaran. “Jadi, Ayah sama Bunda dengan orang tua Pak Bobby itu sahabatan?” Bunda Syalum mengangguk dengan senyuman tipis. Tak lama tangan itu membelai puncak kepala Fatma.


“Tapi ... Fatma belum tahu sebab orang tua Pak Bobby meninggal. Apakah Bunda tahu?” Ia bertanya lirih karena ragu.


Suami besarnya itu menunduk dalam. Ini adalah hal yang paling tidak ingin Firman dengar, pria itu sangat membencinya. Apalagi saat mengingat jika Ayah Sabil, mertuanya sendiri adalah penyebab kecelakaan itu terjadi. Alasan Ayah Sabil kenapa bisa melakukan hal itu, membuat Firman terus berusaha untuk mencari tahu dengan perlahan.


Jika terburu-buru ia takut pria paruh baya itu akan menjawab dengan jawaban yang tidak diinginkan, lagipula Firman juga membutuhkan bukti.


“Mereka ... kecelakaan,”  jawab Bunda Naumi lemah.


Fatma merasa bersalah. Dirinya memang bukan tipe orang yang sangat kepo, tetapi kali ini rasa keinginan tahuan dalam hatinya seperti meminta untuk menggali lebih dalam tentang Ali lebih lanjut. Fatma istrinya, apakah wajar?


“Maaf.” Fatma menunduk merasa bersalah.


Atmosfer seketika terasa tegang. Firman berusaha mencairkan suasana dengan tersenyum tipis, lebih tepatnya memaksakan senyum. “Tidak apa-apa, Fatma.” Ia menghibur dan merangkul pundak Fatma menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.


“Pak Bobby sedih engga?”  Fatma bertanya dengan sedikit mendongak.


Firman terkekeh. “Ya pasti sedih lah, Fatma. Bagaimana pun saya ‘kan juga manusia bukan malaikat hehehe.”


Ternyata sesulit itu menyembunyikan luka. Fatma ikut tersenyum tipis. “Pak Bobby itu bagi Fatma bukan malaikat, tapi super hero!” seru Fatma dan memeluk erat suaminya.


Bunda Naumi tertawa kecil, Fatma juga ikut tertawa kali ini, tidak terpaksa. Bunda Naumi bangkit lalu meminta izin pergi ke dapur untuk melanjutkan acara masak yang tertunda.


Dengan isakan pilu Bunda Naumi menyandarkan punggungnya dekat meja kecil yang di atasnya terdapat penanak nasi. “Mas, saya harus bagaimana?”


Tangan Bunda Naumi meraih ponsel yang berada dalam saku gamisnya. Ia menghubungi suaminya, jika sudah menyangkut hubungan keluarga, ia tidak kuat. Hal yang membuat dirinya trauma adalah ketika Ayah Sabil masuk ke dalam jeruji penjara.


“Assalamualaikum, Bunda,” sapa Ayah Sabil setelah deringan ketiga.


Dengan suara purau Bunda Naumi menjawab, “Mas ... kamu kapan pulang?” Bunda Naumi bertanya sampai-sampai ia melupakan untuk menjawab salam.


Ayah Sabil terdiam sebentar ketika mendengar suara Bunda Naumi yang terasa berbeda. “Jawab salam dulu, Bunda!” katanya berusaha menghibur.


“Minggu depan baru pulang, memangnya kenapa Bunda bertanya seperti itu?”


“Bunda takut ... gimana kalau Mas Sabil berada dalam masalah lagi? Pasti mereka engga akan biarin itu terjadi. Mereka itu licik, gimana kalau mereka nyuci otak Firman dan Fatma terus menjadikan mereka pelampiasan?”


“Sudah ya, Bunda Sayang. Tidak perlu risau, bukankah bangkai busuk akan tercium meskipun disembunyikan dengan begitu rapi?” Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Ayah Sabil menjawab.


“Lusa in syaa Allah saya pulang, Bunda. Jaga diri baik-baik, ya.”


Bunda Naumi mengangguk, meskipun ia tahu itu tidak akan terlihat. Tak lupa ia memaksakan pula untuk tersenyum.


“Ana uhibu kafillah, Zaujati. Saya balik kerja ya, i miss you, my wife.” ungkap seseorang dari seberang sana.


“I love you too, i miss you, my husband,” balas Bunda Naumi seraya terkekeh.


***


“Suami besar!” Fatma mulai mengejek Firman dengan menjulurkan lidahnya. Gadis itu kesal, karena suapan terakhir kebab dan seblak miliknya Firman habiskan.


Mereka memutuskan untuk bermalam bersama di rumah Bunda Naumi, mengingat sudah lama mereka tidak menginap di rumah tua itu. Terakhir mungkin ketika saat mereka dinyatakan sah menjadi suami istri. Sebelumnya, Firman mengabari Bu Sulihah agar tidak perlu khawatir dan meminta untuk menjaga rumahnya.


“Bodo, ah bodo!”  Fatma turun dari sofa ia berjalan ke dekat jendela.


Firman terkekeh melihat tingkah laku istrinya itu memang menggemaskan. “Mau kebab lagi?” Firman bertanya.


“Gak! Fatma gak mau!” Fatma memandang keluar, melihat kompleks perumahannya yang ramai. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu bersama dengan berkumpul di taman kecil rumahnya masing-masing.


Gadis yang mengintip di kaca jendela itu menyunggingkan senyum manis ketika ada keluarga muda yang sedang mengasuh anaknya bersama. Fatma jadi berpikir bagaimana nanti jika mereka berdua mempunyai anak juga. Apa sifatnya akan manja seperti dirinya dan Bunda Naumi ataukah seperti Firman yang agak kaku, dan formal?


Selagi Fatma melamun, Firman kembali memesan kebab yang sama seperti tadi. Tidak lama, bel berbunyi dan Firman pun turun meninggalkan Fatma yang masih asik melamun untuk mengambil pesanannya di lantai bawah.


“Terima kasih, Pak.”  Firman berkata kepada driver gofood itu.


“Iya, sama-sama,” balasnya ramah.


Pria itu kembali masuk, ia mengetuk pintu kamar Bunda Naumi untuk menawarkan kebab. “Bunda, apakah sudah tidur?” tanya Firman.


Tidak lama pintu pun terbuka menampilkan sosok cantik yang mirip seperti Fatma. “Belum, Nak.” Bunda Naumi membalas diiringi senyuman.


“Baru saja Firman membeli kebab tiga, Bunda mau tidak?” Bunda Naumi terkekeh lalu mengangguk.


“Boleh dong, kapan lagi bunda dikasih makanan sama menantu!” antusiasnya. Melihat antusias Bunda Naumi, Firman seperti mengaca. Sifat bunda dan istri kecil sama saja, tidak ada bedanya.


Firman terkekeh, ia berlalu setelah Bunda Naumi mengucapkan terima kasih kepadanya. Saat membuka pintu kamar, Firman dikejutkan oleh gadis kecil yang kini sedang berkacak pinggang.


“Dari mana saja Pak Guru nyebelin? Bagus ya, ninggalin istri pas lagi ngambek gitu aja!” tanyanya dengan memutar bola mata malas. Ia mendengus kesal.


“Kenapa sih, pria tuh suka banget ninggalin pas lagi sayang-sayangnya? Ngasih harapan, tetapi tidak memberi kepastian.”


Fatma menggerutu sambil masuk kembali ke kamar. Firman tertawa, ia juga mengikuti gaya istri kecilnya berbicara. “Kenapa sih, perempuan itu suka baperan? Padahal ditinggalkan sebentar, niatnya memberi kejutan.”


Firmam meletakkan kebab di atas meja kecil. Ia membukanya lalu melahap tanpa berkata kembali. Ia senang melihat istri kecilnya itu kesal.


Fatma yang melihat itu melongo. Ia meneguk ludahnya kasar. Pengin juga ....


Firman yang melihat gadis di hadapan dengan air liur seperti meleleh-leleh itu sebisa mungkin untuk menahan tawa. “Mau gak?” Fatma tersadar, di detik yang sama ia menggeleng tegas.


“Ya udah, kalau begitu saya habiskan lagi, ya.”  Setelah kebab punya Firman habis, ia meraih kebab jatah milik Fatma.


Gadis itu cemberut setelah mendengus. Ia melihat kembali pemandangan di luar sambil terus menggerutu pelan.


“Nyebelin!”


“Dasar suami engga peka!”


“Pelit!”


“Ahhh Fatma kesel deh sama Zauj!”


“Tapi pengin,” rengeknya, ia menggigit jarinya sendiri. Melirik sedikit ke arah Firman yang membuka bungkusan kebab itu dengan pelan, seakan-akan tengah menggoda Fatma. Mulutnya terasa dipenuhi oleh air liur yang menggenang.


Tidak kuat melihat itu Fatma berlari dan merebut kebab dari tangan suaminya. Ah, selemah itu 'kah iman Fatma? Beberapa menit lalu ia menggeleng dan menolak keras pemberian suaminya. Gadis itu melahapnya dengan cepat. Mulut firman sedikit terangah, tidak percaya, detik selanjutnya ia mengacak gemas jilbab yang Fatma kenakan.


“Malu-malu tapi mau. Dasar perempuan!”


***


“Lanjutkan rencana selanjutnya besok! Paham?” Seorang perempuan memberi penegasan.


Bu Aris terkekeh sinis. “Selalu, saya tidak ingin melihat Firman bersama Fatma hidup bahagia!”


Dua perempuan itu tertawa. Sedangkan satu yang lain hanya memutar bola mata jengah. “Fatma, nasib lo malang banget sih?! Seneng juga sih bisa liat lo menderita.” Gadis jutek itu tertawa menyeramkan.


Bersambung ....


Pasuruan, 28 April 2023