
Beno, anna, alin, dan aryo baru keluar dari kelasnya.
"guys......guys.......guys......" beno memanggil aryo, anna, dan alin yang berjalan didepannya.
"kenapa sih ben?" suara anna lelah.
"kalian pasti haus kan.....habis belajar seharian."
"kalo kita haus emangnya kenapa!" anna meninggikan suaranya karena kesal.
"mulai nih mereka berdua." ucap alin yang berjalan bersama aryo dibelakang anna dan beno.
Mendengar ucapan dari alin, aryo hanya tertawa kecil.
"ya.....nggak usah ngegas gitu dong lo ngomongnya." beno marangkul anna dan mencubit pipi anna.
"ihhhhh....lo kenapa sih cubit-cubit pipi gue, sakit tau!" anna mengelus pipinya yang di cubit sama beno.
"heleh......lebay lo." beno kembali mencubit pipi anna.
"lo bisa nggak sih, nggak usah bikin gue kesel sehari aja!" anna menahan amarahnya yang hampir memuncak.
"nggak gue nggak bisa."
"BENO gue udah mulai kesel sama lo." anna yang masih dirangkul sama beno mulai memukul badan beno dengan tangan kecilnya.
"aduh sakit an." beno melepas rangkulannya.
"biarin aja emang enak."
"tangan lo sih kecil tapi tenaganya kayak tanos tau nggak." beno memang badannya yang habis dipukul sama anna.
"perang dunia akan dimulai nih." ucap alin sama aryo.
"sabar ya lin." aryo mengusap punggung alin.
"santai aja yo, gue malah khawatirnya sama lo."
"kenapa khawatir sama gue?" aryo bingung.
"lo kan baru sama kita gue khawatir lo nggak biasa sama tingkah mereka lo malah trauma nanti."
"nggak kok santai aja."
"BENO!!!!!!!" anna berteriak sambil mengejar beno.
Alin dan aryo yang sedang asik berbincang terkejut karena teriakan dari anna itu.
"untung gue nggak punya riwayat jantung?" alin mengelus dadanya.
Aryo hanya tersenyum tipis.
Alin yang masih mengejar beno, melemparkan kata-kata umpatan ke beno.
"BENO! SIALAN LO! SINI NGGAK LO ANJING!!!!!!" Anna melempar umpatan ke beno dengan wajah yang marah.
"hahahahhaha, nggak mau, nggak mau." Beno tertawa dan makin mengejek anna.
"STOPPPPPPP!!!" Teriak alin dari jauh untuk menghentikan pertengkaran anna dan beno.
Mendengar teriakan alin. Anna dan beno terdiam seketika.
Sedangkan aryo masih terkejut dan terheran sambil menatap alin.
"ternyata alin punya suara yang keras juga." guman beno.
"itu beneran alin." ucap anna dengan wajah yang tidak percaya.
Alin dana aryo menghampiri beno dan anna yang sudah tidak bertengkar.
"kalian tu nggak bosen apa tiap hari berantem terus." omel alin.
"ini tuh semua gara-gara beno tuh," anna menunjuk beno dengan wajah kesal.
"kok gue lo tu." beno tidak terima.
"nggak lin lo percaya gue kan, emang benonya aja tu brengsek."
"gue? Brengsek? Eh lo tu yang ngeselin."
"apaan sih kok gue ngeselin!"
"udah...udah...udah... Stop lama-lama gue bisa kena serangan jantung kalo ialian kayak gini terus."
"guysss, sorry gue nyela pembicaraan kalian,"
aryo mengeluarkan suaranya tiba-tiba.
"iya aryo ada apa?" alin bertanya dengan nada yang lembut.
"dari pada kalian berantem, mending kita beli es cendol aja? Tuh es cendol yabg ada di depan sekolah enak lo." aryo menunjuk abang es cendol gerobak yabg mangkal di depan gerbang sekolah.
"boleh banget dong aryo."
"kalian berdua daripada berantem ayok kita minum es cendol aja."
"iy ya.......kita ikut."
"kita......." ucap beno.
"kenapa! Lo nggak mau." ucap anna nyolot.
"ya udah nggak usah nyolot juga dong."
"bukan nyolot udah bawaan lahir."
"tau ahhh mending gue pergi duluan, lin, yo ayok kita minum es cendol? Untuk si bangsat terserah dia." anna jalan terlebih dahulu.
"what? Bangsat, lo tu yang bangsat?" ucap beno sambil menunjukkan jari tengahnya ke arah anna.
"udah ayo kita minum es cendol."
Mereka berempat menuju kearah abang es cendol gerobak yabg mangkal di depan gerbang sekolah.
"bang es cendolnya dong." ucap anna.
"berapa neng?"
"4 bang." sahut alin.
"okey siap."
Sambil menunggu es cendolnya di buat, anna, alin, aryo, dan beno duduk berjejer di sebelah gerobak es cendol. Sehingga membuat orang-orang yang lewat melirik kearah mereka.
"orang-orang kenapa ya? Pada lihatin kita?" ucap aryo heran.
"lihat gue ganteng kali." sahut beno sambil menunjukkan pose ganteng.
"idihhhh najis." celetuk anna dari ujung.
"kenapa lo iri."
"gue iri? Sorry ya."
Tak lama kemudian es cendol yang ditunggu pun datang.
Cendol yang bercampur santan dan gula merah, di bungkus di dalam plastik dan di seruput menggunakan pipet khas es cendol.
Membawa kenikmatan saat di minum siang hari.
"uhhhh mantap banget, rasanya langsung serrrrrrr.....didalam tengorokan." beno menikmati kesegaran es cendol.
Disaat mereka berempat sedang menikmati kesegaran dari es cendol, semua mata orang yang melintasi mereka spontan .elihat kearah mereka.
Tiba-tiba ada seorang ibu dan bapak yang ingin membeli es cendol.
Dan melihat mereka berempat yang duduk berjejer sambil menyeruput es cendol dengan damai membuat ibu dan bapak tersebut tersenyum dan tertawa kecil.
"permisi adek-adek." panggil bapak-bapak itu.
Panggilan tersebut membuat mereka berempat menoleh dan berhenti menyeruput es cendolnya.
"ehh iya kenapa pak." sahut anna sambil teresenyum.
"kalian berempat sahabatan ya?" tanya bapat itu.
"iya pak." jawab alin.
"nama geng kalian, geng cendol."
"bukan pak"
"ohhhh...bapak kira nama geng kalian geng cendol, soalnya saat minum cendol kalian barengan dan sama lagi."
"ohhh gitu ya pak."
"kalo gitu bapak pamit ya."
"iya pak."
"geng cendol, nggak buruk sih namanya." ucap beno.
"masa iya sih kita minum cendolnya sama."
ucap aryo.
"iya ya padahal kan minum cendol tinggal diseruput langsung ditelen." ucap beno heran.
"iya ya" anna juga heran.
"geng cendol bagus juga tuh, soalnya kan gara-gara nih cendop anna sama beno nggak berantem lagi." ucap alin.
"yaudah gimana kalo kita ikrarkan bahwa geng kita sekarang namanya geng cendol, setuju!!" teriak beno.
"setuju" sahut anna, alin, dan aryo.
"gitu doang ngasih nama gengnya, nggak ada seru-serunya." ucap anna.
"ini udah siang, gue laper, kalo lo mau seru noh.... lo nyalain petasan, gue mau balik laper.
" ucap beno sambil meninggalkan anna, alin, dan aryo.
"gue juga mau balik." ucap aryo.
"gue juga."
Alin dan aryo berjalan meninggalkan anna.
"ya minimal ada tepuk tangannya lah gitu, biar berkesan dikit."
"nih gue ditinggal sendirian nih"
"tau ahhh gue juga laper mau pulang."
Anna juga ikut pergi.
Sekarang mereka berempat memiliki nama geng.
G3ng cendol yang dibentuk dengan tidak sengaja, tidak meriah, dan tidak berkesan.