
Anna, beno, alin, dan aryo sudah sampai ditempat makan yang tak jauh dari sekolahanya, tempat makan itu terkenal dikalangan murid smk cakrawala.
Tempat makan itu bernama lesehan bu jumi dan menu yang terkenal dilesehan bu jumi adalah ayam gepuk(geprek).
Anna, beno, alin, dan aryo memarkirkan motor mereka didepan lesehan bu jumi.
"guys kalian mau makan apa kira-kira." alin membuka helm pelindung kepalanya.
"kalo gue jelas menu best seller-nya bu jumi dong." beno turun daru motornya.
"kalo lo an."
"gue apa aja lah yang penting makan."
"lo gimana yo mau pesen makan apa?"
"hmmmmm gue belum tau mau pesen apa."
"ahhhhhhh okey....okey.....okey."
Mereka berempat masuk ke lesehan bu jumi lalu duduk disalah satu tempat lesehan disitu.
"mana nih pelayannya bu jumi?" beno menoleh kekiri dan kekanan.
"ya lo panggil lah ben, kalo nggak lo panggil tuh pelayan mana datang kesini." anna mengelengkan kepalanya.
"heeeeeeee iya juga ya." beno menggaruk kepalanya.
"pelayannnnnnnn!" teriak beno.
Setelah beno berteriak dengan suara kerasnya tak lama kemudian seseorang datang menghampiri tempat duduk mereka.
"permisi neng sama Aa'-nya mau pesan apa ya?" tanya pelayan wanita.
"saya mau pesen makanan sama minuman best seller-nya lesehan bu jumi." beno mengangkat tanganya.
"kalian mau pesen apa?"
"gue sama aja kayak yang lo pesen." ucap anna.
"kalo kalian berdua."
"sama-in aja ben."
"okey kalo lo yo."
"sama-in juga ben."
"okey."
"mbak pesen menu best seller-nya empat ya mbak."
"kalau begitu ditunggu ya pesenannya." pelayan wanita menukis pesanan mereka berempat.
"sambil nunggu pesenannya datang gimana kalo kita main game." beno menyarankan bermain game saat menunggu pesenannya tiba.
"boleh tu ide yang bagus." ucap alin.
"iya boleh juga, tumben banget lo punya ide bagus ben." anna mengacungkan jempol ke beno.
"lo ikut kan yo."
"boleh." aryo mengangukkan kepalanya.
"kira-kira kita main game apa nih?" tanya alin.
"gimana kalo kita main monopoli, yang kalah dalam permainan kita kasih hukuman." saran dari anna.
"nggak-nggak kalo main monopoli pasti selesainya lama nanti." ucap beno.
"iya an gimana kalo game yang lain ada yang punya saran?"
"kalo kita main ular tangga gimana."
"apaan sih ben masa kita main ular tangga sih." anna memukul tangan beno.
"hehhh namanya juga ngasih saran."
"ya kalo ngasih saran tuh yang bener dong."
"masih untung gue kasih kalian saran."
"ehhhhhh udah.....udah......kok malah pada ribut sih." alin melerai percekcokan antara anna dan beno.
"teman-teman boleh nggak aku kasih saran juga." ucap aryo disela-sela percekcokan.
Beno, anna, dan alin terdiam dan mereka bertiga melihat kearah aryo.
"kalian kenapa lihatin gue kayak gitu?" aryo salah tingkah saat di tatap sama beno, anna, dan alin.
"nggak-nggak papa lo punya saran apa yo." tanya anna antusias.
"iya yo." beno dan alin juga antusias.
"saran gue gimana kalo kita main truth or dare."
"truth or dare." anna mengulangi salah satu kata dari aryo.
"boleh juga tuh ide yang bagus." beno merangkul pundak aryo.
"lo bisa jelasin yo gimana cara mainnya." ucap alin.
"bisa! Jadi permainannya gini nanti botol minuman ini akan diputar." aryo mengangkat botol minuman.
"dan jika botol ini berhenti kearah kita maka kita harus memilih antara truth or dare, dimana truth itu pertanyaan dan dare itu tantangan." jelas aryo.
"kalo misalkan kalian pilih truth maka kalian harus jawab pertanyaan salah satu dari kita dan jika kalo kalian pilih dare berarti kalian harus menerima tantangan yang diberikan salah satu dari kita." sambung aryo.
"gimana kalian paham kan?"
"paham.....paham....." beno mengangukkan kepalanya.
Anna dan alin tidak bersuara tetapi mereka mengangukkan kepala mereka.
"lo paham nggak an." tanya beno.
"ya paham lah anna gitu loh." anna meletakkan jari telunjuk dan jempol di dagunya.
"sok paham lo an, kalo nggak paham nggak papa lo bilang aja nggak paham." ledek beno.
"idihhhh emang gue paham kali, emangnya lo yang pura-pura paham padahal nggak paham." ledek anna.
"yo sabar ya mereka berdua emang sering berantem nggak jelas kayak gitu." jelas alin ke aryo.
"iya nggak papa kok, mereka berdua lucu." aryo tertawa kecil saat melihat tingkah anna dan beno.
"lucu! Mereka berdua lucu, lucu darimananya yo." alin merasa aneh dengan perkataan aryo.
Aryo hanya menanggapi perkataan dari alin dengan senyuman.
"anna....anna lo kali yang pura-pura paham kan." beno menoyor kepala anna.
"lo kali yang nggak paham." anna membalas menoyor kepala beno.
Beno dan alin saling menoyorkan kepala masing-masing.
"udah! Stop! Stop! Kalian berdua nggak malu apa sama aryo, berantem mulu dari tadi." alin melerai beno dan alin berantem.
Mareka berdua langsung berhenti saat mendengar perkataan dari alin.
"ehhh iya gue lupa kalo ada aryo di sini, sorry ya yo." ucap anna.
"iya sorry ya yo." ucap beno.
"iya nggak papa kok."
"nih kita jadi nggak main gamenya." ucap alin.
"jadi kok jadi." ucap anna.
"yaudah kita mulai sekarang ya." aryo memutar botol yang sudah di letakkan di bagian tengah meja.
Botol berputar dengan cepat dan berhenti di
arah anna.
"yahhhhh." anna menghela napasnya.
antusias.
"hmmmm gue pilih truth aja lah."
"okey siapa yang sekarang mau kasih pertanyaan ke anna?" tanya aryo.
"gue aja." beno mengangkat tangan.
"okey berati beno ya yang akan ngasih pertanyaan." ucap aryo.
"okey siap kan lo an dengan pertanyaan yang gue kasih ke lo."
"siap!"
"gue mau nanya ke lo ada nggak cowok yang lo lagi sukai saat ini." beno mengangkat-angkat alisnya.
Alin dan aryo yang mendengar pertanyaan dari beno tidak sabar mendengar jawaban dari anna.
"nggak ada!" jawab anna singkat.
"singkat amat jawabnya."
"yang penting kan udah gue jawab."
"okey sekarang kita mulai lagi permainannya ya."
Aryo memutar lagi botolnya dan kali ini botol berhenti diarah beno.
"sekarang giliran lo ben." ledek anna ke beno.
"lo pilih apa ben." tanya alin.
"gue pilih dare."
"sekarang siapa yang akan kasih tantangan ke beno." tanya aryo.
"gue!" anna mengangkat tanganya.
"hmmmmmmm." anna senyum licik.
"tantangan untuk beno adalah lo harus teriak sekenceng-kencengnya disini dan lo harus bilang kalo lo itu jelek."
"nggak gue nggak mau gue cakep kali masa harus bilang jelek." protes beno.
"iya kalo lo nggak mau berarti lo pengecut." ledek anna.
"gue nggak pengecut." beno kesal.
"ya kalo la nggak pengecut lo lakuin dong tantangannya."
"okey siapa takut."
"gue teriak sekarang." beno kesal tingkat tinggi.
"ya udah sana teriak yang kenceng."
"sabar dong, gue berdiri dulu." beno berdiri dari duduknya.
Beno sudah bersiap-siap berteriak untuk memenuhi tantangannya.
Beno mengambil napas panjang dan mulai berteriak.
"gue jelekkkkkkkk!" beno berteriak kencang.
Teriakan beno memenuhi seluruh lesehan bu jumi dan membuat semua orang melihat kearahnya dan beno pun tertunduk dan langsung duduk karena malu dengan tingkahnya sendiri.
"hahahahahahahaha." aryo, anna, dan alin tertawa.
"hahh hahhh hahh hahh." anna tertawa paling keras diantara yang lain.
"puas lo!" beno kesal.
"puas banget." anna masih tertawa.
"kita main lagi ya." ucap aryo.
Aryo memutar lagi botolnya dan botol berhenti tepat di depannya sendiri.
"sekarang giliran lo yo." ucap alin.
"lo pilih apa yo?"
"gue pilih truth."
"sekarang giliran gue ya yang kasih pertanyaan." ucap alin.
"hmmmm." aryo mengangukkan kepalanya.
"yo gue kan ngelihat lo disekolah tu udah pinter, kepercayaan semua guru, udah tu jadi ketua kelas lagi tapi yang gue bingung kok lo nggak pernah ya berteman atau sosialisasi gitu sama teman-teman yang lain."
Saat alin mengajukan pertanyaannya aryo terlihat gelisah dan merasa tidak nyaman. Anna dan beno yang melihat aryo seketika diam membuat mereka bingung dan bertanya-tanya.
"sebenarnya tuh........gue disekolah sering dibully." suara aryo bergetar.
"apa!" beno, anna, dan alin kaget dengan jawaban dari aryo.
"siapa yang ngebully lo yo." tanya anna.
"iya siapa yo." tanya beno.
"yang bully gue tuh jonny, dira, sama anggota gengnya."
"mereka tuh bener-bener ya." anna marah.
"kenapa lo kok dibully sama mereka dan apa alasan mereka ngebully lo yo." tanya beno.
"mereka ngebully gue karena gue nggak bisa ngelawan mereka dan juga karena semua guru yang ada disekolah selalu aja milih gue dan mereka terus aja meras gue, kalo gue nggak bisa nurutin perintah mereka maka mereka akan memukul orang-orang yang juga kena bully sama kayak gue itu alasannya gue nggak bisa apa-apa." jelas aryo.
"mereka tuh bener-bener ya kalo misalkan gue ketemu sama mereka gue habisin mereka." anna marah.
"gue akan ngehajar mereka sampai mereka habis." ucap beno.
"iya gue juga akan ngehabisin mereka." ucap alin.
"lo nggak usah khawatir yo kalo misalkan lo dibully lagi sama mereka lo bilang aja ke kita nanti biar kita yang beresin semuanya." ucap anna.
"makasih ya kalian semua udah baik sama gue."
"iya tenang aja, gimana kalo lo masukbke circle kita aja." ucap beno.
"boleh juga tu." alin setuju.
"gue setuju." teriak anna.
"emangnya boleh?"
"tentu saja boleh." ucap beno.
Disaat mereka sedang berbincang-bincang pesanan mereka datang.
"ini pesanannya." pelayan menaruh satu-persatu makanan dan minuman di atas meja.
"karena makanannya udah sampai kita makan dulu aja ya." ucap alin.
"dan kita juga harus menyambut teman circle baru kita juga." ucap beno.
"bener banget tuh." anna setuju.
"kalo begitu kita cheers bareng yok." ucap beno.
Mereka berempat mengangkat minuman yang ada di depan mereka.
"cheers." mereka berempat bersulang.
"selamat datang aryo di circle kita." ucap beno.
"terima kasih semua."
"sama-sama."
Mereka berempat menikmati makanan yang ada dihadapan mereka dan mereka juga senang karena mereka mendapatkan teman baru di percirclelan mereka.
Mereka semua bercanda tertawa bersama.