Falling In Love With My Coach

Falling In Love With My Coach
pesona Three-FAV



Fathur yang keluar dari mobil pribadinya terlihat cemas dan khawatir, fathur berjalan terburu-buru di lobi kantornya dengan wajah yang serius sehingga membuat karyawan yang melihatnya merasa takut.


Fathur masuk kedalam lift dan diikuti pak indra dibelakangnya.


Pak indra lalu menekan tombol lift lantai 13 dimana tempat kantor Ceo berada.


"maaf.......tuan muda fathur sebaiknya tuan muda membenarkan dasi tuan muda terlebih dahulu." pak indra melihat dasi fathur yang miring.


Tanpa mengatakan sepatah kata apapun fathur langsung menghadap ke cermin lift yang ada di sampingnya dan membenarkan dasinya yang miring.


Pintu lift sudah terbuka fathur langsung bergegas pergi kekantornya masih dengan wajah cemas yang datar.


Fathur membuka pintu kantornya dengan kasar didalam kantor sudah ada aditya rekan kerjanya dan vano sekretaris kantornya.


Aditya dan vano terkejut saat fathur membuka pintu dengan kasarnya.


"thur.....lo kenapa sih mau bikin kita berdua serangan jantung." aditya memegang dadanya.


"sorry gue nggak bermaksud kayak gitu." ucap fathur dengan nada kesal.


Fathur membuka jasnya dan melonggarkan dasinya lalu duduk dikursinya.


"pak fathur kenapa pak indra?" tanya vano ke pak indra tentang tingkah laku fathur.


"ada masalah pak vano."


"masalah apa pak?"


Sebelum pak indra menjawab pertanyaan dari vano terlebih dahulu pak indra di panggil sama fathur.


"pak indra!" panggil fathur dengan nada marah bercampur kesal.


"iya tuan muda." pak indra menghampiri fathur.


"pak bapak bisa pulang sekarang."


"tapi tuan." pak indra terkejut.


"tidak ada tapi-tapian pak, sekarang bapak pulang tanpa ada penolakan." fathur menahan amarahnya.


"masalahnya tuan nanti saya harus bilang apa ke tuan besar."


"ya bilang apa aja cari alasan gitu."


"baik tuan muda...kalau begitu bapak pergi dulu ya."


"hmmmmmm"


Pak indra lalu meninggalkan kantor fathur.


"pak fathur kenapa pak fathur suruh pak indra pulang?" tanya vano dengan bahasa formal.


"van lo bisa nggak......nggak usah pakai bahasa formal kalo ngomong sama gue hah!" ucap fathur kesal.


"ya nggak bisa lah nanti kalau misalkan karyawan lain dengar bagaimana?"


"sekarang kan lagi nggak ada karyawan jadi lo ngomong biasa aja kayak kita lagi nongkrong."


"iya......iya deh nih gue ngomong biasa."


"nah gitu dong." ucap aditya sambil merangkul bahu vano.


"lo ngapai ikut-ikutan hah?" vano melepas tangan aditya yang merangkul bahunya.


"eitssssss nggak papa dong."


"thur lo sebenernya lagi ada apa sih, kok muka lo cemas, khawatir, kesel, sama marah gitu?" tanya vano.


"iya lo kenapa thur ada masalah apa? Kalo ada masalah lo bisa kali cerita sama gue apa vano gitu."


"gue tuh lagi pusing banget."


"pusing kenapa?" aditya dan vano saling melihat dengan tanda tanya.


"tadi kan gue habis ketemu sama klien." fathur mulai menjelaskan.


"klien yang dari china itu thur?" ucap vano.


"iya no klien yang dari china itu." fathur mengangguk.


"ya kalo lo habis ketemu klien aturannya lo seneng dong bukanya malah kesel kayak gini." ucap aditya.


"masalahnya lo tau nggak gue udah nyiapin prensentasi untuk klien dari china ini itu dari 2 bulan lalu, tapi tiba-tiba dia nggak suka dengan hasil presentasinya padahal dia sudah setuju saat gue ngirim proposal presentasinya di e-mail, tapi pas ketemu dia malah nggak suka dan nyuruh gue untuk buat ulang." jelas fathur dengan kesal dan marah.


"yang lebih parah lagi masa gue harus ulang presentasi!" sambung fathur.


"ya.....apa susahnya sih, tinggal lo ulang lagi kan presentasinya." ucap aditya santai.


"enteng banget lo ngomong." fathur melempar kertas yang ada didepannya.


"ya kan lo tinggal presentasi ulang aja kan proposal punya lo?"


"enak kalo misalkan proposal itu gue ulang lagi, orang kliennya minta judul dan tema proposal yang lain." ucap fathur.


"serius lo!" mata aditya melalak besar.


"serius dit! Itu berarti gue harus nyari dan susun lagi semuanya dari awal."


"itu yang buat gue kesel dan marah banget." sambung fathur.


"thur! Gimana kalo gue yang bikin proposalnya." ucap vano disela-sela percakapan aditya dan fathur.


"gue bilang biar gue yang buat proposalnya, boleh kan?"


"boleh banget, lo serius tapi kan." fathur meyakinkan perkataan dari vano.


"iya serius, lo santai aja nanti kalo misalkan sudah selesai gue kasih ke lo prolosalnya."


"thank you ya bro." fathur berjalan menghampiri vano dan menjabat tangannya lalu merangkul bahunya.


"iya...... it's okey santai aja." ucap vano.


Fathur yang tadinya pusing, cemas, khawatir, kesal, dan marah menjadi tenang.Karena ucapan dari vano yang mau membantu menyelesaikan masalahnya.


"sekarang udah siang nih." aditya menunjukkan jam yang ada ditangannya.


"kalo gitu kita makan siang bareng aja." ucap fathur.


"boleh tu, kalo gitu kita makan dicafe depan kantor aja." ucap vano.


"okey biar gue yang bayar." fathur menunjukkan dompetnya.


"okey karena si bos yang akan bayar makananya gue akan makan sepuas gue." ucap aditya.


Fathur dan vano menggelengkan kepalanya.


Mereka bertiga keluar dari kantor, saat keluar dari kantor semua karyawan wanita yang ada dilobi kantor melihat mereka bertiga yang berjalan beriringan dengan mata yang terpesona.


Tak hanya karyawan wanita dilobi kantor yang terpesona melihat pesona dari ketiga pria tampan itu, saat mereka keluar dari kantor dan berjalan kearah cafe semua wanita yang ada dijalan pun terpesona saat melihat fathur, vano, dan aditya yang berjalan beriringan.


Fathur, vano, dan aditya masuk kedalam cafe, didalam cafe semua wanita melihat terpesona ke arah mereka.


"oh my god mereka so sexy." ucap semua wanita ke fathur, vano, dan aditya.


"kayaknya semua wanita lagi lihatin kita deh." ucap aditya dengan percaya diri.


"geer lo dit." ucap vano.


"kita pezen makan aja." ucap fathur.


"weather's." panggil fathur.


Pelayan lalu datang menghampiri mereka.


"mau pesan apa." pelayan wanita itu bertanya dengan wajah yang terpesona.


"lo berdua mau pesen apa." tanya fathur.


"gue pesen minum aja." ucap vano.


"gue juga thur." ucap aditya.


"pesen minum apa?"


"terserah lo aja lah."


"ya udah mbak kalo begitu kita pesan kopi aja, tiga ya mbak." fathur mengatakan pesanannya.


"baik tapi tunggu bentar ya." mata pelayan itu tidak berpaling dari tiga pria tampan itu.


"iya kita tunggu, tapi kenapa mbaknya masih disini ya." vano heran.


"saya lagi lihat pemandangan."


"pemandangan apa emangnya." aditya melihat pemandangan mana yang dikatakan sama pelayan wanita itu.


"pemandangannya ada didepan saya." pelayan wanita itu tersipu malu.


"didepan." aditya melihat apa yang ada didepan pelayan wanita itu.


Aditya menyadari bahwa maksud dari pemandangan indah itu adalah dia, fathur, dan vano.


Setelah menyadari aditya tersenyum.


"mbak maaf nih mana pesenan kita?" tanya fathur.


"ya ampun maaf ya, tunggu sebentar saya ambilin dulu." Mbak pelayan langsung pergi setelah menyadari bahwa pesenan yang mereka pesan belum ada.


Mereka bertiga yang melihat mbak pelayannya yang gagal fokus karena kegantengan mereka hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"emang pesona kita itu nggak ada dua-nya." ucap aditya.


"nggak ada dua-nya orang kita aja bertiga." ucap vano.


"ehhh iya ya."


Tak lama kemudian kopi pesenan mereka datang.


"kalo kita lagi minum kopi kayak gini, gue ingat pas dulu kita sekolah lagi duduk di atas sekolah sambil kita minum kopi buatan vano." ucap aditya.


"gue juga inget, kopi buatan vano itu nggak ada dua-nya." ucap fathur.


"bener banget."


"kalo misalkan kita mengingat masa kita sekolah dulu rasanya indah banget." ucap vano.


"bener banget."


Saat tiga sekawan primadona saat sekolah dulu sedang duduk sambil menikmati kopinya.


Mereka berbincang-bincang mengenang saat masa-masa indah sekolah dulu.