
Endra dan kedua orang tuanya berangkat, terlihat Endra yang sangat tidak nyaman begitu memasuki mobil, karena dia tau kalau tempat yang akan dia tuju, adalah tempat dan suatu acara yang tidak dia sukai, tapi Endra mengembalikan semangatnya dengan mengingat untuk kepentingan apa dia datang kesana.
Disaat mereka sampai ketempat acara, terlihat sudah sangat ramai dengan tamu undangan, Endra dan kedua orang tuanya, lalu menuju meja yang disediakan untuk mereka.
Makan malam itu berjalan dengan lancar, dan setelah beberapa saat, acara makan sudah selesai, lalu dilanjutkan dengan acara bebas atau acara ramah tamah. Endra lalu segera melancarkan aksinya, dari tadi dia sudah menargetkan siapa yang akan dia ajak untuk bekerja sama.
Disisi lain ada dua wanita yang sedang mengobrol bersama, salah satu wanita lalu menunjuk kepada Endra yang sedang berbicara kepada seseorang dengan serius.
"Intan, lihatlah pria yang disana itu, arah jam 10, aku dari tadi memperhatikan nya, dia sangat tampan, dan dia itu adalah tipe ku"
"Yang mana sih?" Intan menoleh, mencari sosok yang dikatakan oleh temannya. Dan begitu matanya menangkap sosok yang di tunjukkan oleh temannya, hatinya merasa sangat senang melihatnya. Tanpa memikirkan perasaan teman yang tadi sudah mengatakan kalau Endra adalah tipenya, Intan langsung berjalan mendekati Endra.
Karena tengah memikirkan strategi supaya bisa menjalin hubungan kerja sama dengan orang yang sedang diajaknya bicara, Endra tidak memperhatikan Intan.
Intan tidak menyerah dan terus mencari tau, apa yang membuat Endra begitu serius, bahkan dihadapan wanita cantik seperti dirinya.
Endra terlihat lesu saat kembali lagi ke meja, dimana kedua orang tuanya berada, sepertinya dia gagal mendapatkan relasi bisnis. Rayhan dan Ranti menyemangatinya dan memintanya untuk segera pulang saja kalau Endra lelah.
Sementara itu Intan juga kembali lagi ke meja dimana temannya memperhatikan dari tadi, temannya itu bahkan mentertawakan Intan yang di cuekin oleh Endra.
"Kamu jangan berani mentertawakan aku ya, sekarang diamlah, karena bisa aku pastikan kalau pria itu akan menjadi milikku"
"Lalu bagaimana dengan kedua temanmu yang selalu bermain denganmu itu"
"Tenang saja Atika, mereka itu hanya mainan ku saja. Kalau kamu sekali-kali mau bermain dengan mereka juga boleh saja. Asal kamu kuat saja, karena mereka itu sangat pintar bermain, tapi bagiku tidak terlalu, karena aku sanggup bermain dengan mereka, dua lawan satu" Intan begitu bangga dengan kelakuan buruknya.
Setelah merasa Endra melakukan pergerakan, Intan merasa kalau Endra pasti akan segera pergi, dengan cepat Intan langsung menuju kepada kedua orang tuanya yang juga datang ke acara itu, untuk mengenalkan dirinya pada seseorang, dan kalau bisa langsung melamarnya.
Awalnya tentu saja kedua orang tuanya menolak keinginan Intan, tapi setelah Intan mengancam, akhirnya kedua orang tuanya mengikuti keinginan dari anaknya yang sering kali permintaannya di luar batas.
Kedua orang tua Intan mendekati Rayhan dan Ranti yang sudah bersiap untuk segera pergi dari acara itu. Dengan cepat kedua orang tua Intan mengatakan apa yang mereka inginkan. Rayhan tentu saja menolaknya, karena tau kalau Endra pasti tidak akan mau. Berbeda dengan Ranti yang terlihat begitu terpesona melihat Intan yang sangat cantik.
Ranti meminta pada suami dan anaknya untuk duduk kembali, Endra sudah pasti menolaknya, tapi Intan mempunyai jurus yang membuat Endra terdiam setelah mendengarnya, dan akhirnya mengikuti Ranti untuk duduk kembali.
Endra sebenarnya merasa biasa saja pada Intan, selama ini dia sudah biasa melihat wanita cantik saat kuliah di luar negeri, apalagi dia memang tidak mempunyai ketertarikan pada wanita. Sebenarnya ada hal yang dia sembunyikan selama ini mengenai kondisinya, tapi dia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Kondisi itu yang membuatnya membatasi pergaulan dengan wanita, selain karena traumanya.
Traumanya tidak separah dulu lagi, mungkin karena dia semakin dewasa dan semakin matang, walau tetap saja dia belum sembuh total.
Dengan tidak sabar, Endra menanyakan tentang apa yang tadi di katakan oleh Intan, perkataan yang membuat Endra mau untuk duduk kembali. Intan dengan senyumannya langsung kembali focus melihat kearah Endra, sedari tadi Intan terus diajak berbicara oleh Ranti yang terlihat antusias melihatnya.
Ranti begitu senang karena ada wanita yang mau mendekati Endra terlebih dahulu, karena selama ini Endra tidak mau untuk mendekati wanita dan selalu saja menutup perasaannya.
"Tentu saja benar Endra, benarkah begitu ayah?" ujar Intan, lalu melihat ke arah ayahnya.
Pembicaraan tentang kerja sama dua perusahaan akhirnya tidak terhindari lagi, padahal sebenarnya Intan ingin mengobrol dengan Endra. Intan begitu tergila-gila melihat Endra dan langsung sangat menyukainya.
Diketahui perusahaan keluarga Intan sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi melihat kondisi perusahaan nya sendiri, membuat Endra akhirnya mau untuk bekerja sama.
"Kalian pastinya akan saling mengenal terlebih dahulu saja kan? tidak mungkin kalian akan langsung menikah, bukankah kalian baru pertama kali ini bertemu?" ayahnya Intan sepertinya masih ragu dengan keinginan anaknya.
"Tentu saja" jawab Endra mantap, dia tidak mungkin mau untuk langsung menikah, apalagi dia belum memiliki perasaan apapun terhadap Intan.
Pembicaraan malam itu akhirnya selesai setelah acara juga benar-benar hampir selesai, dan semua tamu undangan sudah pulang. Endra diminta untuk mengantarkan Intan, tetapi Intan dengan bijak, atau entah ada yang disembunyikan nya karena sikapnya sangat terlihat dibuat-buat setelah mengobrol beberapa lama. Endra bisa menyadari itu, tapi tidak dengan Ranti yang masih saja terlihat begitu bahagia karena Intan.
Intan mengatakan untuk tidak usah repot-repot, lagipula ini sudah sangat malam, lebih baik mereka pulang bersama dengan orang tua masing-masing saja untuk malam ini.
"Kita bisa bertemu lagi setelah mempunyai waktu luang, saat ini yang lebih penting adalah memulihkan kembali perusahaan, aku dan keluargaku akan membantu sebisa kami, setelahnya kita bisa berkencan supaya bisa semakin dalam saling mengenal" Intan lalu membungkukkan badannya sebagai salam perpisahan untuk malam itu.
"Kamu sangat sopan sekali sayang, pasti kedua orang tuamu sangat bangga" Ranti mengusap lembut bahu Intan, sebelum dia bergegas berjalan menyusul Endra yang terlihat sudah sangat lelah untuk berbasa-basi.
Disaat perjalanan pulang, Endra lebih sibuk dengan ponselnya, dia mengirimkan pesan pada Suseno untuk menanyakan tentang bi Wulan. Endra begitu kecewa karena Suseno belum bisa menemukan keberadaan bi Wulan.
Endra bahkan melamun sampai tidak mendengar suara mamanya yang sedari tadi mengajaknya berbicara.
"Endra!" Ranti akhirnya sedikit berteriak memanggil nama anaknya.