
"Iya ma?" tanya Endra.
Ranti menggoda Endra, karena mengira bahwa anaknya itu sedang melamun kan Intan yang tanpa malu menyatakan perasaannya, bahkan di depan kedua orang tua. Ranti sangat suka karena lebih baik seperti itu, daripada berhubungan secara diam-diam.
"Tapi ma, mereka itu baru kenal, mama juga baru mengenal siapa Intan, bagaimana bisa mama begitu menyukainya?" Rayhan bertanya pada istrinya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya yang langsung menyukai Intan.
Ranti mengatakan kalau dia sebenarnya sangat berharap semenjak dahulu, dia ingin merasakan seperti teman-teman nya yang sering menceritakan tentang anaknya. Ada yang bercerita kalau anaknya sudah mulai berpacaran, ada yang mengajak orang tuanya berkencan, ada juga yang anaknya membawa pulang seseorang untuk dikenalkan pada orang tuanya.
Semua itu belum pernah dirasakan oleh Ranti, padahal dia sudah sangat berharap. Masa-masa remaja Endra akhirnya dilalui, tidak seperti normalnya remaja pada umumnya.
"Maaf Ndra, mungkin ini sedikit pribadi, tapi ayah harus menanyakan tentang masalah ini" Rayhan memantapkan hatinya untuk bertanya pada anaknya, walau pertanyaan ini sebenarnya sangatlah pribadi dan sedikit sensitif.
"Aku bisa ayah, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Aku sudah dewasa, aku bukan lagi Endra yang begitu ketakutan saat melihat sentuhan, kalau itu sentuhan didasari oleh rasa cinta" Endra memalingkan wajahnya saat mengatakannya, dia melihat kearah jalanan dari balik jendela mobil.
"Apa kamu mencintai Intan? bukankah kalian baru saling mengenal?" Rayhan tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh anaknya tadi.
"Tentu saja belum, tapi bukankah hubungan yang diawali tanpa paksaan, sudah tentu itu akan berakibat baik?" Endra sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang dia katakan sendiri, dia hanya mencoba mengatakan sesuatu, yang membuat kedua orang tuanya tidak perlu khawatir lagi.
"Jangan paksakan dirimu Ndra?" ujar Rayhan.
"Tentu saja aku harus memaksa diriku sendiri ayah, bukankah aku harus menghadapinya? aku juga tau kalau apa yang aku derita, hanya aku sendiri yang bisa menyembuhkannya" Endra lalu memejamkan matanya.
Semua terdiam mendengar jawaban dari Endra, karena ternyata Endra juga paham akan hal itu, selama ini mereka mengira kalau Endra tidak pernah bertumbuh, karena ada salah satu dokter yang mengatakan, kalau kondisi Endra, bisa saja membuatnya berhenti bertumbuh secara mental.
Tetapi ternyata Endra tetaplah lelaki biasa, dan bertumbuh layaknya pria pada umumnya. Untuk masalah hati, dia memang belum pernah menyukai, atau bahkan mencintai siapapun, tapi bukankah memang cinta itu tidak pernah di ketahui kapan kedatangannya.
Kali ini Endra, demi perusahaannya mencoba untuk membuka hatinya, walau dia tau kalau hal ini juga sebenarnya tidak benar dalam memulai sebuah hubungan, apalagi hubungan yang lebih serius.
"Apa kamu yakin kalau sanggup menghadapi segala konsekwensinya? untuk perusahaan, biarkan saja seperti itu, dan segera jual saja kalau sudah tidak bisa diselamatkan. Ayah tidak mau kalau sampai kamu berkorban terlalu banyak" Rayhan berusaha menghentikan niat anaknya.
Saat ini yang lebih penting adalah memulihkan kembali perusahaan, untuk hal lain, bagaimana nanti saja. Itulah yang dipikirkan oleh Endra. Mungkin perusahaan Intan tidak terlalu besar, bahkan setara dengan perusahaan keluarga Endra, hanya saja perusahaan Intan saat ini dalam kondisi yang stabil, jadi bisa menarik perhatian dari perusahaan lain, supaya mau melakukan kerja sama.
Mereka sudah sampai di rumah, Endra langsung masuk ke dalam kamarnya, sementara Ranti dan Rayhan masih membicarakan tentang Intan.
"Banyak orang mendambakan kehidupan cinta yang selalu bergairah hingga ajal menjemput. Konsep cinta romantis semacam ini, tidak banyak orang yang beruntung bisa mendapatkannya, bukankah dari dahulu sudah banyak orang menikah karena perjodohan?. Sudah lah, jangan terlalu khawatir lagi, Endra saja yang akan menjalaninya biasa saja, kenapa kamu yang sepertinya sangat gelisah?" ujar Ranti menenangkan suaminya.
"Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda, jangan samakan dengan zaman dahulu" jawab Rayhan, sambil membuka dasinya. Mereka lalu berjalan menuju kamar, karena malam sudah sangat larut.
"Pada zaman ini, umumnya orang menikah dengan alasan ekonomi atau politik, itu sangat mudah sekali ditemukan. Dan pada akhirnya mereka bisa juga hidup bahagia bersama dengan keluarganya" Ranti masih terus saja berbicara sambil membersihkan make up di wajahnya.
"Apa kamu tega kalau sampai Endra yang mengalami hal ini, bukankah kamu begitu menyayanginya, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?" Rayhan sepertinya mulai kesal.
"Dengan kondisi Endra, sampai kapan dia akan mempunyai pasangan? saat ini ada wanita yang dengan lantang menyatakan perasaannya, bahkan berniat untuk membantu perusahaan kita yang sedang dalam masalah, bukankah ini adalah hal yang seharusnya tidak kita tolak?" Ranti masih tetap saja pada pendiriannya.
Rayhan lalu mengemukakan bahwa percintaan yang penuh gairah dan cinta menjadikan pernikahan sebagai prioritas di masa kini. Di sisi lain, karena cinta romantis pula pernikahan menjadi sesuatu yang labil dan serba tidak pasti. Jika perasaan itu sudah hilang, orang akan berpikir untuk meninggalkan pasangan.
"Yang mempunyai perasaan saja bisa luntur dan hilang dengan seiring waktu, lalu bagaimana dengan hubungan tanpa cinta? aku tidak mau kalau sampai Endra menderita karena menjalani hubungan tanpa cinta" Rayhan memeluk erat tubuh istrinya, dia ingin meredakan kekesalan nya pada sang istri, karena dia tidak mau kalau sampai dia menjadi marah pada istri tercintanya itu.
"Cinta sering dipandang sebagai esensi pernikahan. Padahal sebenarnya itu tidaklah selalu benar. Karena pernikahan adalah sebuah kerangka kehidupan bersama yang melibatkan banyak faktor lain. Lagipula cinta yang penuh gairah hanyalah pengalaman jangka pendek" Ranti membalas pelukan suaminya.
"Tapi buktinya kita masih bergairah sampai sekarang" Rayhan mulai menciumi telinga istrinya, lalu segera menggendongnya untuk bisa menyalurkan hasratnya yang sudah tertahan dari tadi siang.
"Itu karena kamu spesial" jawab Ranti sambil terpejam merasakan kenikmatan karena sentuhan dari suaminya. Cukup lama pertempuran itu terjadi, setelah Rayhan menyelesaikan kegiatannya, mereka masih betah tiduran sambil terus saling memeluk, sepertinya mereka belum terlalu mengantuk.
"Untuk isu-isu keluarga yang sering kita dengar di media, sekarang aku bahkan meragukan ada pernikahan yang bahagia, apalagi setelah melihat angka perceraian yang cukup tinggi. Aku menaruh curiga pada para pasangan yang hingga kini masih tetap bersama. Di mataku, sebagian pasangan memilih bertahan karena anak, uang, atau takut kesepian. Tapi aku harap selama nya aku dan kamu, selalu diliputi dengan cinta. Begitu pula dengan kehidupan Endra nantinya, aku harap dia bisa menumbuhkan cinta itu. Walau sekarang hubungan mereka dimulai tanpa cinta, tapi aku harap secepatnya cinta itu tumbuh, dan semoga Endra sanggup untuk mempertahankan nya sampai akhir" ujar Ranti panjang lebar sambil menciumi dada suaminya yang masih polos.
Rayhan memilih diam dan tidak menjawab lagi, karena dia sadar kalau tidak mungkin dirinya bisa menang berargumentasi dengan Istrinya.