Endra

Endra
Intan VS Atika



"Bukankah kamu memiliki banyak teman dan juga kenalan, apa kamu tidak bisa memberikan Endra padaku saja" ujar Atika, membuat Intan marah dan langsung mengacungkan pisau steik yang sedang dia pegang.


Atika tentu saja kaget melihatnya, dia tidak menyangka kalau Intan sangat serius dengan Endra, karena teman yang disewanya saja, tadi di biarkan duduk berdekatan dengan nya, dan bahkan berciuman.


"Jangan pernah berfikir untuk berani mendekati pria pilihan yang akan aku jadikan suamiku. Pria lain hanya mainan buatku, tapi tidak dengan Endra, karena dia hanya milikku, kamu itu bukan levelku untuk bersaing!" Intan berteriak dan matanya melotot, tapi melihat Atika yang terlihat gemetaran dan ketakutan, Intan langsung tertawa melihatnya. Dan dengan meremehkan, Intan kembali berkata sesuatu yang membuat Atika begitu kesal, walaupun tetap saja Atika tidak bisa berbuat apapun untuk membalas.


Perkataan Intan sudah sangat mengoyak hati Atika terlalu dalam, karena Intan terus saja menghina kondisinya yang tidak sekaya dirinya. Atika bahkan mengutuk Intan dihatinya, dan berkata dalam hati, kalau dia masih mau berteman dengan Intan, hanya karena hartanya saja.


"Memang kamu yang melihatnya terlebih dahulu, tapi kamu tidak pantas atau layak untuknya. Endra sangat sempurna, jadi dia hanya cocok dengan diriku saja" ujar Intan, lalu menghabiskan makanannya.


Atika menelan ludahnya dan sedikit merapatkan giginya, dia sungguh sangat kesal dan penuh dendam pada Intan, tapi saat ini, dia hanya bisa menahannya saja. Setelah selesai mereka semua makan, Intan memanggil pelayan dan ingin membayar, tapi ternyata restoran tersebut hanya bisa melakukan pembayaran di kasir. Tentu saja Intan menjadi kesal lagi, karena menurutnya itu terlalu buang-buang waktu.


Setelah mengambil uang di dalam dompetnya, Intan memberikan uang itu pada Alek dan memintanya untuk membayarkan di kasir, sementara dia akan menunggu di dalam mobil.


"Baiklah Atika, untuk membalas kebaikan mu yang memperlihatkan Endra padaku, hari ini kamu boleh bermain dengan kami. Nanti diperjalanan aku akan memanggil teman yang lain lagi" ujar Intan, dan pastinya membuat Atika menjadi senang.


"Endra?" Intan membelalakkan matanya saat melihat Endra turun dari mobilnya, dan tidak lama keluar juga Roman dan Suseno dari mobil yang sama. Sepertinya ini waktu makan siang, dan mereka memilih restoran ini untuk beristirahat.


Awalnya Intan berniat untuk bersembunyi saja, tapi Roman yang mengenali mobilnya, lalu datang mendekat dan memanggil anaknya tersebut, tentu saja Intan mau tidak mau lalu keluar dari dalam mobil.


"Ayah" ucap Intan, lalu menyalami tangan ayahnya, bahkan Roman sampai heran dengan tingkah anaknya yang tidak biasa itu, karena biasanya saat bertemu, Intan hanya meminta uang saja, tapi entah kesambet setan apa, yang membuat Intan begitu terlihat sangat menghormatinya.


"Tadi ayah melihat postingan mu, bukankah kamu mengatakan akan menemani mamamu untuk pergi ke salon? ayah pikir kalian belum pulang, karena nomor ponsel mamamu belum aktif dan tidak bisa dihubungi. Apa mamamu tidur didalam mobil karena kelelahan?" Roman bertanya pada Intan, dan memeriksa kedalam mobil anaknya itu, untuk mencari keberadaan Romlah.


"Intan, ini kembaliannya!" Alek tiba-tiba datang dan berteriak, dia tidak terlalu memperhatikan keberadaan Roman dan Endra.


Tentu saja Intan kelabakan melihatnya, dan langsung pandangan matanya terfokus kearah Endra.