
Endra merasa konsultasi kali ini tidak terlalu membantunya, karena hal itu juga dia dapatkan dari dokter yang dia hubungi lewat online. Setelah merasa sudah cukup untuk kali ini, Endra lalu pamit pada sang dokter.
Setelah menunggu beberapa saat di depan mobil, Suseno akhirnya datang dan segera bergegas masuk kedalam mobil. Lalu tanpa malu, Suseno menanyakan tentang kondisi Endra, dan apakah ada obatnya. Karena tidak jawaban, Suseno memilih untuk langsung melajukan mobil.
"Endra, kamu memberikan lagi nomorku pada orang lain? ini tadi ada yang menghubungi. Sepertinya ini Intan" Suseno menyerahkan ponselnya saat mereka sedang berada di lampu merah.
Setelah membaca pesan dari Intan yang masuk di ponsel Suseno, Endra lalu meminta pada Suseno untuk berputar arah. Mereka tidak akan langsung pulang, karena Intan mengajak Endra untuk makan siang di sebuah restoran.
Suseno merasa ragu untuk mengikuti ajakan Endra, apalagi ini adalah pertemuan calon kekasih, dan bahkan mungkin Endra dan Intan akan segera menikah. Tapi karena Endra terus memaksanya ikut, akhirnya Suseno tidak mempunyai pilihan lain.
Sudah bisa dipastikan kalau Intan sangat kecewa, begitu melihat Endra tidak sendirian, melainkan datang berdua dengan dengan seseorang.
"Perkenalkan, ini adalah Suseno, dia adalah asistenku dan juga sahabat ku" Endra memperkenalkan Suseno pada Endra.
"Oh, ternyata cuma ajudan? sudah sana duduknya terpisah. Aku hanya ingin berduaan dengan tuan mu!" ujar Intan, yang disaat pertemuan pertama nya dengan Suseno, sudah menunjukkan ketidak sukaan nya.
Suseno cukup mengerti dan segera duduk di kursi yang sedikit jauh dari Endra. Sebenarnya Endra hendak meminta Suseno untuk duduk saja di sebelahnya, tapi Suseno memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya.
Dari sini sebenarnya Suseno sudah sangat mengetahui kepribadian dari Intan yang hanya baik pada orang yang di sukai nya, atau orang yang hanya memberikannya keuntungan saja.
Setelah mencari tau lebih banyak, ternyata perusahaan Intan memang terlihat kecil, tapi perusahaan itu sangat berkembang dan sahamnya juga tinggi, sepertinya itu yang membuat Intan terlihat sangat sombong.
"Kenapa kamu membawanya? aku tidak mau kencan pertama kita harus terganggu" ujar Intan.
"Kami sedang ada urusan tadi, kebetulan kami sedang dalam perjalanan"
"Ya sudahlah, suruh saja dia pulang terlebih dahulu, masa iya dia terus memperhatikan kita" Intan kesal saat melihat kearah Suseno yang duduk tidak terlalu jauh. Endra menoleh dan melihat ke arah Suseno, yang tentu saja Suseno langsung mengerti dan memahami situasi. Suseno lalu segera bergegas pergi.
Endra terus saja berbicara mengenai perusahaan, tapi sepertinya Intan tidak terlalu tertarik pada hal itu. Selama ini Intan tidak bekerja, dan yang bekerja hanyalah ayahnya, jadi menurut Intan, urusan pekerjaan dibicarakan saja dengan ayahnya, saat besok mereka mulai bekerja sama.
Untuk saat ini, Intan hanya ingin membicarakan tentang hubungan mereka. Karena dia sebenarnya tidak pernah bekerja, hanya ayahnya yang bekerja keras.
"Apakah mungkin tuan Seto besok berada di perusahaan? kita harus segera tanda tangani kontrak kerja sama. Supaya secepatnya kita bisa membicarakan langkah selanjutnya" Endra menarik tangannya yang hendak di pegang oleh Intan.
Endra lalu meminta waktu pada Intan, untuk masalah perasaannya, apalagi mereka baru saja saling mengenal, tidak mungkin perasaan yang semacam itu bisa datang dengan mudah. Intan lalu mengatakan kalau untuknya, menyukai Endra adalah suatu hal yang mudah, karena bahkan baru pertama kali bertemu juga, Intan sudah langsung menyukainya.
"Kamu yakin kalau itu rasa suka, atau sebenarnya itu hanya rasa penasaran saja?" tanya Endra pada Intan.
"Tentu saja aku menyukai mu, kalau tidak untuk apa aku bersusah payah meminta pada kedua orang tuaku, terutama ayahku, untuk mengajakmu bekerja sama di perusahaan kita. Dan harus kamu tahu ya, aku memang menyukaimu, tapi aku tidak bodoh, jadi kontrak kerja sama tidak akan terjadi, kalau belum ada kejelasan dalam hubungan kita" Intan mengatakannya sambil tersenyum, tapi membuat Endra kaget, dia tidak berfikir kalau Intan mempunyai pikiran seperti itu.
Endra menjelaskan kalau dia tidak akan ingkar janji, tapi bukankah lebih baik kalau pernikahan itu terjadi setelah ada rasa cinta. Endra lalu penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Intan, bagaimana bisa seorang wanita cantik seperti Intan langsung mengajak menikah seseorang yang baru ditemuinya, karena menurut Endra, selama ini pasti banyak pria yang menyukai Intan.
"Aku bosan dengan semua pria yang ada di sekelilingku selama ini" jawab Intan sambil meminum jus strawberry yang ada di depannya.
"Apa maksudmu dengan bosan?" tanya Endra heran. Intan terlihat kelabakan untuk menjawabnya, tapi dia bisa menjawab dengan cepat.
Intan mengatakan bahwa selama ini para pria yang berada di sekelilingnya hanya memanfaatkan dirinya saja, jadi Intan merasa sudah muak. Intan mengatakan itu sambil terus memamerkan senyum cantiknya.
"Bukankah bisa dikatakan aku juga memanfaatkan dirimu?" tanya Endra lagi.
"Bukan kamu yang mendekatiku terlebih dahulu, tapi akulah yang terlebih dahulu tertarik padamu. Aku merasa kamu begitu mempesona dan sangat ulet dalam bekerja, terbukti dengan di acara seperti semalam juga, kamu tetap saja bekerja keras" Intan yang tadi malam begitu terpesona melihat Endra, tidak memperdulikan hal yang lain lagi.
Sebenarnya mungkin rasa penasaran adalah penyokong terbesar Intan dalam mendekati Endra, karena hanya pria itu yang sama sekali tidak melihat kearahnya tadi malam. Sementara pria lain, dimanapun dia berada, sudah pasti begitu mengaguminya.
"Apa menurutmu aku cantik?" tanya Intan pada Endra, dan tidak lupa memainkan matanya untuk menggoda. Tapi bukannya tergoda, Endra malah merasa risih dengan wanita yang terlalu agresif seperti Intan. Selama ini memang banyak sekali yang mendekati Endra dengan terus menunjukkan pesona mereka, tapi tentu saja Endra langsung menolaknya.
Saat ini Endra harus mengingat lagi tujuannya, yaitu untuk mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Intan. Mungkin terdengar dan terlihat kejam, tapi bukankah Intan sendiri yang menawarinya. Jadi Endra tidak perlu lagi berpura-pura.
"Pokoknya seperti yang aku katakan tadi, kerja sama hanya akan terjadi jika hubungan kita sudah jelas" Intan menegaskan. Dia ingin secepatnya menjadikan Endra sebagai kekasihnya atau kalau bisa, secepatnya mereka harus menikah.
"Aku merasa ini sangat terburu-buru, apakah mungkin ada yang kamu sembunyikan?" tanya Endra penuh selidik.
"Apa kamu berfikiran bahwa aku sedang hamil, lalu aku menjebak mu untuk menjadi ayah bagi bayiku?" Intan menjawab dengan sebuah pertanyaan.