Endra

Endra
Obrolan Di Ruang Makan



"Endra, Endra,,," Ranti membangunkan anaknya. Hari sudah siang, tapi Endra belum juga bangun dari tidurnya. Ranti tentu saja tidak tau kalau tadi malam Endra telat tidur, karena menonton banyak film di laptopnya.


Ranti masuk secara perlahan, untung saja pintunya tidak terkunci, dan begitu kagetnya dirinya saat melihat laptop milik Endra yang sudah terbelah menjadi dua.


Dengan sedikit menggoyang tangan Endra, Ranti membangunkan anaknya yang terlihat masih tidur dengan nyenyak nya itu.


"Ada apa ma?" tanya Endra yang langsung bangun karena merasakan tangan mamanya yang memegangi tangan dan lengannya. Dengan sedikit risih, Endra melepaskan tangan mamanya tersebut.


Setelah kejadian penculikan yang dialami oleh Endra, Ranti sangat tau kalau anaknya itu tidak suka disentuh.


"Sudah siang, ayo sarapan dahulu. Apa kamu tidak ada acara hari ini?" tanya Ranti pelan, dia tidak tersinggung saat Endra melepaskan tangannya.


"Tidak ada ma, hari ini aku mau dirumah saja" jawab Endra, lalu segera turun dari ranjang nya, untuk segera membersihkan dirinya.


Ranti keluar dari dalam kamar anaknya, dan segera bergegas menemui suaminya yang sudah duduk di kursi ruang makan. Mereka akan sarapan bersama, jadi Ranti dan Rayhan mengobrol sembari menunggu Endra.


"Sepertinya Endra marah akan suatu hal tadi malam. Apakah aku salah ya, karena tidak memikirkan perasaannya?" Ranti terlihat bersedih, dia merasa bersalah karena begitu menerima Intan dengan baik dihadapan Endra.


"Laptop miliknya sudah terbelah menjadi dua begitu aku masuk ke dalam kamar, entah apa yang semalam terjadi. Mungkinkah Endra menerima perjodohan yang ditawarkan oleh Intan, karena melihat diriku yang terlalu bersemangat?" Ranti terus bertanya pada suaminya, tapi tidak menunggu jawaban, karena dia terus saja mengajukan pertanyaan yang lain.


"Aku hanya sangat senang karena pada akhirnya anak kita akan memiliki kehidupan yang normal seperti layaknya seorang pria, tapi kenapa saat ini aku merasa kalau aku sangatlah salah. Apakah aku terlalu egois?" Ranti mengambil satu gelas berisi teh hangat dihadapannya, lalu segera menyeruput nya.


"Pa,, kenapa kamu terus terdiam? aku sedang mengajakmu berbicara" Ranti melihat kearah suaminya yang sedang memandanginya.


"Kamu terus berbicara dan bertanya, tapi tidak menunggu jawaban dariku, karena ucapanmu tidak juga berhenti. Kalau kamu berbicara dan aku juga berbicara, lalu siapa yang akan mendengarkan?" Rayhan menjawab sambil mengambil sepotong roti, sepertinya dia sudah sangat lapar.


Ranti lalu tersenyum malu mendengarnya, dan meminta kepada suaminya untuk berbicara mengenai pendapatnya, tapi jangan menolak perjodohan Endra dan Intan, karena tetap saja Ranti berharap itu akan terjadi.


"Kamu tadi merasa bersalah karena menerima Intan, kamu juga sadar kalau kamu itu egois. Lalu kenapa kamu masih saja ingin Endra dan Intan terus bersama?" Rayhan tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


"Karena kapan lagi Endra akan disukai oleh wanita pa? aku hanya mengambil kesempatan yang sangat langka ini" jawab Ranti, lalu mengikuti suaminya mengambil sepotong roti, dia juga pasti sangatlah kelaparan, tadi malam dirinya dan Rayhan bermain cukup lama sebelum ketiduran.


Rayhan lalu menjelaskan bahwa masalah utama dalam sebuah pernikahan, adalah menghabiskan waktu bersama dengan satu orang selama bertahun-tahun dalam hubungan yang rentan perselisihan. Walhasil, hubungan pernikahan tak lagi soal bahagia dan tidak bahagia, tapi tentang akomodasi dan negosiasi. Itulah kenapa menurut Rayhan, cinta sangat dibutuhkan dalam hal ini, karena perasaan itu, bisa membantu pasangan untuk mempertahankan hubungan.


"Aku lapar sayang" ujar Rayhan.


"Sudah tahan dulu sebentar lagi, karena aku yakin Endra tidak akan lama lagi" jawab Ranti, lalu kembali meminta Rayhan untuk berbicara.


"Cinta tanpa rasa hormat, sepertinya itu mustahil bisa bertahan lama, jadi sebenarnya cinta memang bukan yang utama dalam sebuah hubungan pernikahan supaya selalu langgeng" Rayhan melihat foto dirinya dengan Ranti, yang terpasang di dinding. Foto saat Endra masih kecil dan mereka sedang piknik bersama sambil menikmati pemandangan dan ditemani dengan camilan. Rayhan terlihat melamun untuk sesaat, hingga dia lalu kembali pada kesadarannya.


Lebih lanjut, Rayhan mengatakan bahwa, kunci utama dalam kehidupan pernikahan. Yaitu komunikasi yang baik. Lalu ada rasa hormat yang rupanya lebih penting ketimbang cinta. Sebab, cinta bisa datang dan pergi, tetapi rasa hormat bisa membuat hubungan bertahan. Lalu yang terpenting adalah kepercayaan, karena hal itu merupakan fondasi yang paling sulit dibangun khususnya bagi orang yang pernah kecewa oleh hubungan. Kepercayaan di sini tak melulu soal perselingkuhan, tapi janji kecil yang dilanggar, niat buruk, dan harapan yang tak terwujud.


Yang tak kalah penting adalah aspek sosial dan ekonomi di mana kesejahteraan pasangan menjadi salah satu faktor vital dalam pernikahan. Pasangan yang bahagia membahas keuangan mereka setiap bulan, sedangkan pasangan yang tidak bahagia, tidak melakukan hal tersebut. Dari situ survei menyimpulkan bahwa salah satu kunci kebahagiaan hubungan adalah percakapan.


"Kamu melakukan survey dimana?" tanya Ranti penasaran.


"Bukan aku yang melakukan survey. Kenapa kamu bercanda disaat aku sedang serius berbicara?" Rayhan kesal karena ucapannya dipotong oleh Ranti, dengan pertanyaan dari istrinya itu yang membuatnya tidak mood lagi untuk terus berbicara.


"Ulluuhhh, kakek tua ini gampang sekali marah. Kamu sudah seperti kakek-kakek tua saja" ujar Ranti semakin menggoda suaminya.


"Yang penting kamu tetap cinta pada kakek tua ini" ujar Rayhan sewot.


"Sayangku, cintaku, jangan ngambek dong. Kan kamu jadi terlihat sangat imut" rayuan gombal Ranti sukses membuat Rayhan tersenyum manis.


"Ini pertanyaan serius sayang. Bukankah kita tau kalau Endra tidak menyukai sentuhan? lalu bagaimana cara dia nantinya berhubungan dengan istrinya?" tanya Ranti. Rayhan tidak tau harus menjelaskan apa, karena dia juga tidak tau jawabannya.


Mereka juga tau kalau Endra masih memiliki trauma terhadap sentuhan, apalagi nantinya saat sudah mempunyai hubungan yang lebih mendalam dengan Intan, hal itu tidak dipungkiri pasti akan terjadi. Tidak mungkin sebagai wanita biasa, Intan tidak mengharapkan sentuhan dari kekasihnya atau suaminya, jika nantinya mereka sudah menikah.


"Apa perlu kita tanyakan pada dokter?" tanya Ranti kemudian, tapi belum juga pertanyaan itu mendapatkan jawaban, Endra sudah keluar dari dalam kamarnya dan mendekati mereka.


"Tidurmu nyenyak Ndra?" tanya Rayhan berbasa-basi.


"Iya pa" jawab Endra singkat.


Ranti dan Rayhan saling berpandangan, mereka tau pasti kalau Endra sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, terbukti dengan laptopnya yang rusak, tapi kali ini, baik Ranti maupun Rayhan, tidak berani bertanya alasannya.