
"Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit"
Endra mengatakan sesuatu yang membuat kedua orang tuanya kaget, mereka yang awalnya ingin ke dokter untuk membicarakan tentang kondisi Endra saat ini, tapi bingung cara membicarakannya dengan Endra, malah sekarang Endra sendiri yang mengatakan ingin pergi ke dokter.
"Kamu mau kami temani?" tanya Ranti pelan.
"Tidak perlu ma, aku ini kan bukan anak kecil lagi. Aku bisa sendiri, mungkin aku hanya minta ditemani oleh Suseno" Endra mengambil sebuah piring, lalu segera menyendok kan nasi goreng yang ada di atasnya.
"Bi Wulan sebenarnya pergi kemana ma?" tanya Endra, tanpa melihat kearah Ranti.
"Kalau tidak salah, katanya bi Wulan akan berusaha untuk mencari pekerjaan. Mama juga tidak tau, kenapa bi Wulan begitu cepat ingin pergi, padahal mama bisa membantunya mencarikan pekerjaan pada teman-teman mama, tapi bi Wulan bersikeras untuk segera pergi dari sini" Ranti menjelaskan sembari mengingat kejadian kemarin.
Endra tidak bertanya lebih lanjut, lalu segera menghabiskan sarapannya, karena dia sudah membuat janji dengan seorang dokter. Waktu janji bertemu yang dia dapatkan adalah di pagi hari, jadi Endra harus segera bergegas.
Suseno datang dan menjadi supir untuk Endra hari ini, mereka segera berangkat ke rumah sakit, setelah berpamitan pada Ranti dan Rayhan.
"Perusahaan Intan sangat kecil Ndra, kamu yakin memilih perusahaan itu bekerja sama dengan perusahaan kita?" tanya Suseno saat mereka dalam perjalanan.
Endra lalu menjelaskan, kalau begitu susah mendapatkan perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan mereka, dikala perusahaan mereka sedang tertimpa masalah seperti sekarang ini. Jadi mau tidak mau, Endra tetap akan melakukan kerja sama dengan perusahaan Intan.
"Apa karena kamu begitu terharu karena ada wanita yang melamar mu?" tanya Suseno dengan jahil nya.
"Selama ini bukankah begitu banyak wanita yang ingin menjadi wanita mu, kenapa hanya Intan yang langsung kamu terima? Apa dia sangat menarik?" tanya Suseno, sepertinya kali ini dia benar-benar sedang penasaran.
Tidak ada jawaban yang didengar oleh telinga Suseno, karena Endra memilih diam dan melihat jalanan dari balik jendela mobil. Endra menerima Intan, hanya karena Intan mau bekerja sama dengannya, karena kalau untuk perasaan, sungguh tidak ada perasaan apapun yang dirasakan Endra terhadap Intan.
Perjalanan menuju ke rumah sakit, yang memang tidak terlalu jauh itu, akhirnya sampai juga pada tujuannya. Endra meminta pada Suseno untuk menunggu di dalam mobil saja, atau boleh kalau Suseno ingin pergi kemanapun, asalkan saat nanti Endra sudah selesai memeriksakan kondisinya, Suseno sudah siap sedia.
Kalau bukan karena sebenarnya Endra masih mengantuk, karena tadi malam tidur terlalu larut, Endra pasti bisa sendiri untuk pergi ke rumah sakit. Tapi dia tidak mau mengambil resiko, dengan menyetir dalam kondisi yang sedang tidak stabil dan sebenarnya dia juga masih sedikit mengantuk.
Endra masuk kedalam ruangan, dimana seorang dokter yang terlihat masih muda, sudah menunggunya. Endra langsung pada intinya, dan menjelaskan kondisinya.
"Kalau itu aku yang mengalaminya, mungkin aku sudah mati" dokter itu terlihat prihatin mendengar cerita dari Endra.
Cerita yang begitu memilukan dari seorang remaja yang mengalami tindakan penculikan, dan mengalami pelecehan terus-menerus selama hampir dua minggu. Terlihat dokter mengatur nafasnya sebelum berbicara untuk menjelaskan.
"Traumamu itu sangat normal terjadi, apalagi kejadian penyebabnya begitu besar" dokter berhenti berbicara lalu meletakkan kacamatanya, dan melihat ke arah Endra dengan focus, lalu meneruskan penjelasannya.
Hampir semua penyintas nya dari sebuah trauma, mereka mengalami reaksi psikologis yang intens. Meskipun tidak semua orang menunjukkan reaksi yang sama, kebanyakan dari mereka akan merasakan ketakutan berlebihan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa menyakitkan tersebut. Termasuk, ketakutan untuk melakukan hubungan ****, sekali pun mereka melakukannya dengan tersayang.
"Kamu mengatakan bahwa akan segera menikah, jadi pasti itu yang menjadi kekhawatiran mu. Cobalah untuk menceritakan hal ini dengan pasangan mu, karena sepertinya ini butuh waktu lama untuk menyembuhkan, kalau tidak ditemani oleh orang yang tepat. Karena sebenarnya trauma mu ini, bisa disembuhkan dengan ditemani oleh orang yang begitu kamu percayai, dan akan lebih baik lagi kalau orang itu adalah orang yang kamu cintai" Dokter kembali berhenti berbicara, saat melihat Endra begitu gelisah.
"Apa calon istrimu sudah mengetahui kondisi mu?" tanya dokter itu. Endra menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Penderita trauma perlu waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk kembali membangun kehidupan dan menghadapi ketakutan mereka. Jadi aku sarankan agar calon istrimu bisa menemani dirimu. Oh iya maafkan aku yang sangat tidak formal ini dalam berbicara. Aku melakukan ini supaya lebih santai saja" ujar dokter sambil tersenyum, tapi Endra tidak membalas senyuman tersebut. Dokter semakin paham, bahwa trauma Endra sangatlah besar. Karena tidak hanya mempengaruhi fisik, tapi juga mentalnya.
Dokter lalu menjelaskan bahwa, banyak orang, terutama mereka yang kurang berpengalaman secara seksual, takut bahwa mereka tidak akan dapat menyenangkan pasangannya dengan baik, hal itu untuk orang yang tidak mengalami trauma seperti Endra, apalagi yang mengalami trauma, pasti ketakutannya berkali lipat.
Meskipun ketakutan ini umumnya ringan, tidak menutup kemungkinan jika kondisi bisa bertambah parah. Dalam beberapa kasus, kecemasan kinerja dapat berkembang menjadi genofobia.
"Aku mengerti kekhawatiran dan keluhan serta ketakutan yang kamu rasakan, tapi ada kunci untuk mengatasi rasa tegang sebelum berhubungan adalah, komunikasikan, yaitu bicara dengan pasangan kamu, apa yang menjadi kekhawatiran, apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak, apa yang membuat kamu nyaman ataupun tidak nyaman ketika berhubungan dan hal lainnya yang perlu diketahui pasangan kamu. Dengan adanya komunikasi dan keterbukaan antara dirimu dan pasangan, maka diharapkan ketegangan akan hilang dan kamu bisa menjadi lebih tenang dan rileks sebelum berhubungan. Mungkin saat itu, adik kecil kamu dibawah sana itu, akan bangun" dokter tersenyum sambil mengatakannya.
"Bagaimana kalau tetap saja tidak berfungsi?" tanya Endra.
"Lakukan foreplay atau bahasa lainnya adalah pemanasan sebelum berhubungan. Sebelum melakukan penetrasi seksual. minta pasangan kamu untuk melakukan foreplay secara perlahan dengan tujuan kamu dapat terangsang. Dan ketika kamu terangsang maka sudah bisa dipastikan kalau 'adikmu' itu akan terbangun" dokter memainkan matanya saat selesai menjelaskan, sepertinya dokter itu adalah dokter yang suka bercanda, supaya mengurangi ketegangan pasien.
Sepertinya Endra masih belum yakin, dia lalu menjelaskan dengan kejadian tadi malam, bagaimana dia yang tidak mempunyai reaksi apapun saat melihat film panas.
"Itu hanya film saja, coba lakukan yang beneran" ujar dokter sambil mengedipkan matanya pada Endra.