
Endra termenung di dalam kamarnya, dia juga sebenarnya merasakan sedikit kebimbangan dengan apa yang sudah dia putuskan, tapi jelas-jelas Intan tadi mengatakan akan melakukan kerja sama kalau Endra mau berpacaran dan menikah dengannya. Untuk saat ini Endra tidak tau jalan yang lebih baik dari pada ini.
Karena tidak bisa tidur, Endra lalu memilih untuk mandi terlebih dahulu, supaya badannya lebih segar. Setelah selesai membersihkan dirinya, Endra lalu menghubungi Suseno dan meminta kabar tentang keberadaan bi Wulan.
"Bagaimana bisa sesulit itu hanya mencari seorang bi Wulan, bukankah biasanya kamu begitu mudah mencari keberadaan orang?" Endra sepertinya sedikit kalut, dia begitu menyayangi bi Wulan, sedari kecil, bi Wulan lah yang menjadi teman berceritanya.
"Aku akan bekerja lebih keras lagi, dan apakah kamu sudah mendapatkan klien?" tanya Suseno.
"Sudah, lagipula kamu tidak perlu bertanya, karena aku sangat yakin kalau kamu sudah tau akan beritanya" Endra sepertinya malas menanggapi Suseno, karena tiba-tiba saja dia merasakan kantuknya datang.
"Pikirkan dahulu sebelum kamu benar-benar mengambil keputusan. Ada hal yang harus kamu pikirkan dengan kondisimu" Suseno lalu menutup panggilan telepon.
Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Suseno. Endra terlihat bergetar, dan segera mengambil laptopnya, tidak lupa Endra juga mengambil sebuah headset. Endra memakai headset nya, lalu setelah tersambung pada laptopnya, dengan serius dia melihat kearah layar laptopnya, walau tangannya sedikit terkepal, merasakan rasa jijik, tapi dia harus menghadapinya.
Saat ini Endra tengah menonton film biru dan film semi, dengan tema romantis dan banyak adegan untuk orang dewasa. Sebelumnya Endra sangat trauma melihat adegan seperti itu, dia bisa pingsan. Tapi semakin dewasa, dia semakin menguatkan dirinya, karena bagaimanapun dia sadar kalau ini harus dia lakukan pada saatnya nanti. Apalagi saat ini ada kemungkinan besar kalau dia akan menikah secepatnya.
Film yang sedang ditonton oleh Endra, menunjukkan adegan yang sangat intens dan intim, dimana kedua pasangan yang saling cinta sedang memadu kasih di sebuah sofa, dan dilanjutkan di sebuah kamar.
Endra percaya bahwa hubungan seperti itu harus dilandasi atas dasar cinta, jadi dia tidak lagi mengingat traumanya saat melihat adegan orang memadu kasih dengan orang tercintanya. Berbeda dengan tragedi yang dia alami dahulu.
🖤 Flashback 🖤
"Sudah Tante, aku tidak kuat lagi. Aku mohon ampuni aku, bebaskan diriku, bukankah sudah terlalu lama aku berada di sini" Endra memelas dan memegangi lengan seorang wanita setengah baya yang berada di atas tubuhnya.
Tapi tidak ada rasa kasihan dari sekumpulan Tante-tante yang sedang mengerubungi dirinya. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Endra, salah seorang wanita lain yang berdiri di samping Endra, lalu segera mengambil sebuah botol di atas meja.
Endra menutup mulutnya saat dirinya dipaksa untuk meminum apa yang ada di dalam botol tersebut, karena rasanya setelah dia meminumnya, adalah rasa panas dan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Pplllaaakkkkkk
Sebuah tamparan keras menyambar pipi Endra, dan salah satu wanita membuka paksa mulut Endra. Akhirnya minuman itu berhasil masuk kedalam mulut Endra, dan tidak lama tertelan.
"Aaakkkkkhhh!!" Endra berteriak setelah minuman itu bereaksi pada tubuhnya tubuhnya, dan segera bangun, lalu menindih tubuh wanita yang tadi berada di atas tubuhnya.
Tawa terdengar bergema dari dalam ruangan dimana ada Endra di dalamnya, dia terlihat kesetanan dan kepanasan, satu persatu wanita yang berada didalam ruangan itu mendapatkan keinginannya dari tubuh kekar Endra.
Hingga sudah beberapa jam, Endra lalu ambruk, tapi barang pribadinya di bawah sana masih kokoh berdiri. Sepertinya minuman yang tadi di cekoki padanya, sudah lebih tinggi dosisnya.
Semua wanita yang ada disana, kembali berebut ingin mendapatkan semburan hangat dari Endra yang sepertinya sudah akan segera menumpahkan lahar panasnya. Mereka mengeluarkan uang masing-masing dan yang mengambil uang harus merelakan kenikmatan dari semburan Endra untuk wanita yang berani mengeluarkan uang lebih banyak.
"Ini benar-benar sepadan dengan rasanya" ujar wanita itu setelah bangkit dari tubuh Endra yang burungnya melemas karena baru muntah.
"Suamimu apa tidak pernah sekalipun seperti anak manis ini jeng?" tanya salah satu wanita yang berada disamping Endra dan mengelap keringat yang bercucuran di kening Endra"
"Tentu saja tidak, dia hanya bermain tidak kurang dari tiga menit" jawaban wanita itu mendapatkan sorakan dari teman-temannya.
Saat para wanita itu sudah kembali memakai bajunya, Endra terlelap karena kelelahan. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena saat para wanita itu keluar dari dalam ruangan, masuklah perkumpulan wanita lain yang siap bermain dengan Endra.
"Dia sedang tertidur, wah,,, pria muda ini benar-benar sangat tampan" ujar wanita yang baru masuk. Endra yang baru terlelap, dibangunkan oleh seorang wanita yang tidak memakai sehelai benangpun. Wanita itu sudah bermain dengan burung miliknya yang bahkan baru beberapa menit beristirahat.
🖤 Flashback End 🖤
Endra masih serius melihat film yang masih terputar, tapi hingga film itu selesai, dan bahkan sudah beberapa film yang dilihat oleh Endra, tapi apa yang diharapkan oleh Endra tidak terjadi sedikitpun.
Karena frustasi, Endra melemparkan laptopnya. Untung saja kamarnya yang besar, dan sedikit berjauhan dari kamar Ranti dan Rayhan, jadi suara benturan laptop di lantai tidak menggangu kedua orang tuanya.
Burung milik Endra sama sekali tidak bereaksi apapun setelah melihat begitu banyak film panas tadi, seharusnya bagi orang normal biasa, satu film saja sudah tentu bisa membangkitkan gairah, tapi tidak bagi Endra.
Keanehan ini sudah disadari oleh Endra sejak dirinya baru memasuki masa kuliahnya, tapi baginya itu bukan sesuatu yang harus dia cemaskan, setidaknya itu yang dia pikirkan saat itu. Tapi sekarang semuanya berbeda, dia harus segera menyembuhkan dirinya, karena kalau tidak, istrinya nanti yaitu Intan, pasti akan sangat kecewa padanya.
Sebagai orang dewasa, Endra sangatlah tau kalau hal ini sangatlah penting. Suatu hubungan antara wanita dan pria, pasti pada akhirnya saling melampiaskan nafsu. Tidak mungkin tidak, karena selalu seperti itu, sebab setiap orang pasti harus melepaskan hasratnya, apalagi kalau sudah menikah.
"Sepertinya bukan begini caranya. Ini tidak ada gunanya sama sekali" gumam Endra, lalu segera berjalan menuju ranjangnya, kantuknya sudah kembali lagi.