Endra

Endra
Alasan Sebenarnya



"Apa nyonya tidak marah, karena nona juga kemari?" tanya Asep lalu ikut bangkit, dan memberanikan diri untuk memeluk tubuh nyonya itu.


"Kamu semakin nakal saja ya" ujar ibu Romlah, bukannya marah, dia terlihat senang dengan apa yang dilakukan oleh Asep, selama ini selalu dirinya yang berinisiatif untuk menyentuh Asep terlebih dahulu.


"Kalau aku bisa meminta, tentu saja aku ingin kalau kamu hanya milikku saja, tapi bukankah itu tidak mungkin. Karena sepertinya Intan sudah mengetahui perbuatan kita, jadi berikan saja apa yang dia mau, asalkan kamu jangan sampai melupakan diriku dan tidak mau melayaniku lagi" ujar ibu Romlah menjelaskan, lalu segera berbalik badan, supaya bisa mencium pria panas yang selalu memuaskan itu.


Asep lalu mengatakan kalau dia lebih menyukai saat berhubungan dengan ibu Romlah ketimbang dengan Intan, karena ibu Romlah penuh kelembutan saat bermain, berbeda dengan Intan yang bermain secara agresif.


Ibu Romlah tersenyum mendengarnya, hatinya berbunga-bunga karena Asep lebih memilih dirinya.


"Sudah dulu, sekarang kamu cepat bersiap, aku akan membuat suatu alasan pada pria liyo itu, supaya kamu tidak dimarahi. Tapi ingat nanti malam kamu harus menyenangkan diriku lagi" ucap bu Romlah lalu mengedipkan matanya sebelum keluar dari dalam kamar.


Asep menyunggingkan senyumnya, dia merasa sangat bangga karena bisa membuat puas kedua majikan perempuannya.


Ibu Romlah mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang, Roman lalu menanyakan tentang Asep. Ibu Romlah mengatakan kalau Asep terlihat sedang tidak enak badan, itulah yang membuat nya menjadi terlambat bangun.


"Jadi dia tidak bisa bekerja?" tanya Roman.


"Bisa, barusan aku agak lama, karena memberikan dia obat, supaya dia lebih mendingan. Saat ini dia sedang bersiap" ibu Romlah dengan manjanya terus saja nemplok pada suaminya, padahal sebenarnya dia sedang berusaha merayu sang suami untuk memberinya uang jajan yang lebih besar, selain dia juga mengulur waktu karena Asep sedang bersiap.


Roman tentu saja tau dengan apa yang diinginkan oleh istrinya, dan segera mengeluarkan dompetnya, dan memberikan banyak uang pada ibu Romlah.


"Terimakasih sayang. Aku juga izin ya, hari ini aku akan pergi ke salon" ibu Romlah mencium suaminya, berbarengan dengan datangnya Intan dari dalam kamarnya.


Roman menegur Intan yang malas-malasan, dan bahkan baru bangun setelah hari sudah sangat siang. Roman juga terus membujuk anaknya itu supaya mau bekerja, karena selama ini Intan hanya menghamburkan uang saja kerjaannya.


Intan malas menanggapinya, karena dia sepertinya sudah sangat biasa dengan kondisi ini, dia sudah sangat malas untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Ibu Romlah lalu melakukan kebiasaannya, yaitu membela anak semata wayangnya tersebut, dan mengatakan pada suaminya kalau Intan tidak perlu bekerja, apalagi tidak lama lagi dia akan menikah, jadi tentu saja tidak boleh kelelahan.


Tanya merasa bersalah sedikitpun, Intan lalu mengulurkan tangannya pada sang ayah, dia juga minta uang yang banyak, karena nanti sore akan kembali berkencan dengan Endra, sepulangnya Endra bekerja. Intan juga mengancam ayahnya untuk tidak menyinggung perasaan Endra.


"Kenapa kamu begitu tergila-gila pada pria itu? ayah masih tidak bisa mengetahui niat aslimu" ujar Roman yang lalu kembali membuka dompetnya, dan memberikan semua uang yang ada di dompetnya untuk sang putri tercintanya.


"Ini ambil semua saja, nanti ayah bisa mengambil lagi" ujar Asep kemudian.


"Kamu benar sudah baikan Sep?" tanya Roman.


Asep terlihat kebingungan mendengar pertanyaan dari tuannya, hingga dia melihat kode dari bu Romlah yang menganggukkan kepalanya. Asep lalu mengiyakan pertanyaan dari tuannya tersebut.


Ibu Romlah dan Intan masih duduk di ruang makan setelah kepergian Roman dan Asep, mereka mengobrol dengan kejadian semalam.


Ibu Romlah begitu penasaran pada Intan yang mau bermain dengan seorang supir, tidak lupa ibu Romlah juga bertanya, sejak kapan Intan mengetahui dirinya sering bermain dengan Asep, karena tadi malam anaknya itu terlihat sangat biasa saat melihat dirinya keluar dari dalam kamar Asep.


Intan lalu mengatakan kalau sudah sejak lama dia mengetahui nya, itu yang membuatnya juga penasaran dan ingin bermain dengan Asep, dikala dia sedang malas bermain dengan teman-temannya. Lagipula dengan Asep dia tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, tidak seperti dengan teman-temannya yang melakukannya harus disebuah hotel mahal, padahal rasa mereka sama saja.


Setelah berbicara panjang lebar, Intan lalu menjelaskan pada mama nya, alasan yang paling kuat kenapa dia begitu ingin segera menikah dengan Endra, yaitu karena Intan merasa kalau Endra pasti bisa memuaskan dirinya kalau dilihat dari postur tubuh Endra yang sangat sempurna.


"Jadi kamu tidak benar-benar mencintai nya?" tanya bu Romlah.


"Aku menyukainya karena alasan itu, cinta juga mungkin karena alasan itu. Lagipula aku sudah berumur ma, dan aku tidak mau bekerja, sementara sampai saat ini tidak ada yang mengajakku untuk menikah, sementara Endra sedang dalam posisi yang pasti menerima diriku karena kondisinya, jadi aku bisa memanfaatkan hal itu. Aku bisa mendapatkan suami yang sangat berpostur sempurna, dan aku bisa mendapatkan orang yang bisa menafkahi diriku" jawab Intan panjang lebar, membuat ibu Romlah yang mendengarnya geleng-geleng kepala.


Mereka bahkan mengobrol dengan bebas, tanpa memperdulikan para asisten rumah tangga mereka yang bisa saja mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi tentu saja baik ibu Romlah, maupun Intan, tidak memperdulikan nya, karena semua asisten rumah tangga mereka sangat takut pada mereka.


Setelah selesai sarapan, Intan lalu segera bangkit dari kursinya dan mengatakan pada mamanya, kalau siang ini dia akan bermain dengan temannya, sebelum berkencan dengan Endra nanti sore.


Tentu saja ibu Romlah tidak habis pikir, karena anaknya itu ternyata sangat hiper dalam berhubungan, padahal tadi malam sudah melakukan hal itu dengan Asep. Bahkan tadi Asep mengeluh padanya dan mengatakan kalau Intan sangat aktif dan agresif.


Intan berdandan dengan cantiknya dan segera bergegas pergi menggunakan mobil pribadinya. Ibu Romlah yang ingin pergi kesebuah salon lalu meminta tumpangan.


"Tapi ma, bukankah tujuan kita berbeda?" Intan sepertinya hendak menolak untuk mengantarkan mamanya.


"Jangan seperti ini, antarkan aku dahulu, baru kamu bersenang-senang lah. Mamamu ini selalu membela dirimu dihadapan ayahmu, jadi berterima kasihlah sedikit padaku" ujar ibu Romlah yang langsung masuk kedalam mobil anaknya.


Dengan sedikit menggerutu, Intan akhirnya membiarkan mamanya masuk kedalam mobilnya. Kalau dipikir-pikir ini bisa juga menguntungkan bagi dirinya. Intan lalu mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ponsel pada dirinya dan juga mamanya.


"Mau apa?" tanya bu Romlah heran.