
"Apa itu yang sebenarnya terjadi?" tanya Endra kemudian.
Intan tertawa mendengarnya, tidak mungkin dia seperti itu, karena kalaupun dia bermain bersama dengan temannya, dia akan menggunakan pengaman. Intan lalu kembali bercerita kalau dia sangat terpesona dan begitu kagum dengan Endra yang pekerja keras. Tidak dipungkiri kalau alasan yang paling utama adalah karena Endra yang begitu tampan dan kelihatan sangat gagah.
Dari mata turun ke hati, mungkin pepatah itu bisa menggambarkan apa yang dirasakan oleh Endra. Walau mungkin terlihat mustahil, tapi begitulah adanya.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Yang jelas aku menyukai mu, lalu bagaimana dengan dirimu? tidak mungkin kamu tidak tertarik padaku sedikitpun kan?" tanya Intan penuh harap.
"Aku mempunyai kekurangan yang bisa saja membuat mu tidak lagi menyukai ku lagi" ujar Endra, mencoba untuk tenang saat mengatakannya.
"Setiap orang sepertinya punya kekurangan, tapi aku sama sekali tidak melihat kekurangan dari dirimu. Apa mungkin kamu mengatakan ini, hanya karena kamu ingin menolakku?"
"Bukan, sungguh bukan seperti itu. Aku hanya merasa kekurangan yang ada pada diriku begitu besar, dan aku yakin kamu tidak akan bisa untuk mentolerir keadaan ku yang sebenarnya"
"Apa itu tentang perusahaan?" Intan menerka-nerka.
"Ada satu lagi masalah besar, selain dari masalah perusahaan" Endra masih ragu untuk menceritakan hal ini, karena mereka saja belum bisa dipastikan akan selalu bersama. Endra juga sangsi, dan masih tidak yakin kalau Intan mau menemani dirinya dalam mengobati kondisi dan keadaannya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi, dan tidak perlu lagi membicarakan masalah ini. Aku sangat menyukai dan mungkin aku juga mencintaimu, jadi kekurangan apapun, aku sudah tidak perduli lagi" Intan mendekati kursi Endra dan berniat untuk duduk dipangkuan pria yang ada dihadapannya itu.
"Disini terlalu banyak orang, saat ini aku tidak mau menjadi pusat perhatian" Endra menolak dengan halus.
"Baiklah, sepertinya selain tampan, tapi kamu juga sangat sopan, sekarang mari kita makan terlebih dahulu" Intan kembali duduk di kursi nya, dan terlihat beberapa pelayan datang membawakan makanan pesanan Intan.
Endra merasa pesanan terlalu banyak, tapi bagi Intan itu tidak masalah, karena dia ingin mencoba semua makanan yang ada di restoran ini. Menurut temannya, restoran ini makanan nya sangat nikmat.
"Bagaimana kalau tidak habis, ini sepertinya terlalu banyak" Endra mengambil sendok sambil bertanya pada Intan.
"Tidak masalah, kita bisa meninggalkan nya nanti" Intan menjawab dengan santai dan segera makan dengan lahap.
Tidak disangka ternyata Intan adalah wanita yang boros dan suka menghamburkan uang, tapi saat ini Endra tidak mempunyai banyak pilihan.
Setelah mereka selesai makan, Intan mengajak Endra kesebuah taman yang tidak jauh dari restoran itu. Intan ingin bergandengan tangan dengan Endra, tapi lagi-lagi Endra menolak dengan mengatakan dirinya tidak mau menjadi perhatian umum, karena di taman tersebut banyak orang.
"Aku merasa sepertinya aku sudah ditolak" ujar Intan kesal, dia lalu duduk di sebuah kursi.
Merasa serba salah, akhirnya Endra ikut duduk dan langsung memberanikan diri untuk mencium Intan, tangan Endra sedikit bergetar, karena ini adalah ciuman pertamanya. Dalam hati Intan, dia sangat senang dan gembira, karena menyadari dia mendapatkan pria yang polos.
"Aku semakin menyukaimu. Kamu harus segera bertanggung jawab untuk menikahiku, karena kamu sudah menciumku. Dari tadi kamu tidak mau aku sentuh, dengan alasan tidak mau menjadi perhatian umum, tapi sekarang ini yang kamu lakukan" Intan terlihat malu dengan apa yang dilakukan oleh Endra, karena biasanya para pria akan melakukan ini ditempat tertutup, supaya orang lain tidak mengetahuinya.
Sementara Endra melakukan ini karena takut kalau Intan yang tadi terlihat kesal, akan menghentikan proses kerja sama perusahaan mereka. Sekalian Endra juga mengetes dirinya sendiri, apakah akan terjadi masalah kalau dia melakukan hal ini. Tapi ternyata tidak ada yang terjadi, bahkan dia tidak merasakan apapun.
Endra bahkan sampai bingung, karena setau dirinya, sesuatu seperti ini seharusnya membuatnya berdebar atau perasaan bahagia, tapi saat ini dia tidak merasakan apapun. ini hanya seperti mereka bergesekan kulit secara tidak sengaja.
"Apa kamu yakin akan menikah denganku? bukankah kamu bahkan belum tau apa kekurangan diriku?" tanya Endra.
"Aku sangat yakin. Sekarang hari sudah semakin gelap, ayo kita pulang, besok kita bertemu lagi setelah kamu pulang bekerja ditempat ini" Intan bangkit dari duduknya dan di ikuti oleh Endra.
Kring kring kring kring
Terdengar bunyi panggilan di sebuah ponsel, Intan menyadari kalau itu adalah suara dari ponsel miliknya.
"Iya ayah?" ternyata yang menelepon Intan adalah ayahnya.
"Tapi yah?" terlihat Intan yang kesal dengan sesuatu, entah apa yang membuatnya kesal, karena Endra juga tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya Intan.
"Kenapa harus seperti ini?! bukankah ayah sudah pernah berjanji, akan memberikan apapun yang aku inginkan!" Intan terlihat semakin kesal, Endra menoleh ke sekitar nya, dia merasa tidak nyaman karena saat ini mereka menjadi perhatian umum. Setelah tadi mereka menjadi perhatian karena berciuman, saat ini hal yang sama terulang kembali.
Intan terlihat mematikan panggilan di ponselnya dengan penuh amarah, Endra sebenarnya tidak menyukai sikap Intan, tapi tidak mungkin bagi Endra untuk menegurnya.
Intan lalu berjalan cepat menuju mobilnya, dia semakin kesal saat melihat Suseno yang berada di dalam mobil Endra. Tadinya Intan berfikir untuk mengajak Endra bersenang-senang, ternyata Endra masih saja dikawal oleh ajudannya tersebut.
"Sebenarnya kamu ini bayi atau apa? kenapa dia selalu mengekor padamu?" tanya Intan kesal, lalu segera masuk kedalam mobilnya, dan menyuruh Endra untuk pulang saja.
"Sudahlah sana kamu pulang saja, aku bisa sendiri. Dan jangan lupa, besok sore kita bertemu lagi di taman ini" Intan langsung menutup pintu mobil dan segera bergegas pergi.
Endra memasuki mobilnya, dan barulah dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dia tumpahkan sedari tadi. Endra begitu kesal pada sikap dan perilaku Intan yang terlihat sangat tidak sopan.
"Kenapa?, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Suseno setelah memakai sabuk pengamannya. Endra tidak menjawab dan hanya mengembuskan napasnya. Endra memang belum bisa untuk mengeluarkan perasaannya, dia sebenarnya mungkin bisa merasakannya, tapi tidak bisa mengekspresikan nya.
"Sudahlah, ayo cepat pulang, ini sudah malam. Baterai ponsel ku juga dari tadi siang sudah habis. Apakah mama menghubungimu?" tanya Endra. Mobil mereka sudah berjalan perlahan, meninggalkan taman yang menjadi saksi bisu ciuman pertamanya. Ciuman yang dia berikan pada wanita, hanya karena masalah perusahaan.
Tidak selayaknya sebuah ciuman pertama, yang seharusnya penuh kehangatan dan di berikan pada wanita yang benar-benar dia cintai.