Endra

Endra
Asep



"Intan yang sering menceritakannya" jawab ibu Romlah dan masih berusaha untuk menggoda suaminya.


"Aku lelah, sudah sekarang kita lebih baik tidur. Besok aku harus bertemu dengan tim dari Endra"


Ibu Romlah kesal dengan penolakan dari suaminya, hingga tidak lama terdengar suara dengkuran dari suaminya itu, membuat ibu Romlah semakin kesal saja, dan memilih untuk keluar dari dalam kamar.


Sudah terlihat sangat sepi, sepertinya sudah pada istirahat karena memang sudah semakin larut. Ibu Romlah berjalan pelan menuju sebuah kamar di halaman belakang rumahnya.


"Nyonya, apa tuan sudah tidur?"


"Tentu saja, itulah kenapa aku ada disini. Pak tua itu selalu saja seperti ini, kalau tidak mau melayaniku, saat melayaniku pun dia selalu loyo. Sudahlah jangan banyak bicara lagi, kunci pintunya dan segera bermain" ibu Romlah langsung merebahkan tubuhnya sendiri di sebuah kasur kecil yang ada dikamar yang juga kecil tersebut.


Kamar itu adalah kamar milik Asep, yang merupakan supir pribadi keluarga mereka. Asep menjadi pemuas nafsu saat ibu Romlah sedang ingin menuntaskan hasratnya tapi tidak dia dapatkan dari suaminya.


Saat setengah perjalanan dari aksi mereka untuk menuju puncaknya, terdengar bunyi dari gagang pintu yang bergerak, kelihatan sekali kalau ada seseorang yang ingin masuk kedalam kamar.


Ibu Romlah meminta pada Asep untuk membiarkannya begitu saja, karena dia sedang nanggung, apa yang terjadi nantinya ya tinggal hadapi saja, begitu pikir ibu Romlah.


"Asep, Asep" bisik seseorang dibalik pintu. Ibu Romlah membelalakkan matanya, karena mengenali suara tersebut.


"Ternyata kamu sangat nakal ya dirumah ini?" ujar ibu Romlah melihat ke arah Asep yang sedang menggali miliknya terus menerus tanpa mengenal lelah, hingga akhirnya ibu Romlah tidak kuat lagi dan mengejang hebat penuh kenikmatan.


"Nyonya mau kemana? jangan bergerak dahulu, aku belum dapat" pinta Asep memelas.


"Sudah dulu, aku sudah lelah. Kamu selalu hebat. Pantas saja banyak yang mendatangi kamar ini. Sudah selesai kan saja dengan seseorang yang menunggu di depan pintu itu" jawab ibu Romlah dengan centilnya.


Karena sudah sangat mengenal pemilik suara yang baru saja memanggil Asep, saat membuka pintu kamar, tentu saja ibu Romlah sudah tidak kaget lagi siapa yang berada di depan pintu kamar milik supir pribadi keluarga mereka itu.


"Mama, apa mama sudah selesai? aku kesal karena keduluan mama terus" ujar Intan lalu segera masuk ke dalam kamar dan gantian dia yang menjadi pemeran utama wanita dalam adegan panas di dalam kamar sempit milik seorang pria perkasa yang saat ini burungnya minta dijinakkan oleh seseorang.


"Selalu saja aku dapat sisa" ujar Intan kesal, tapi dia tetap membuka bajunya dan langsung menyerbu tubuh Asep yang sudah sangat kepanasan. Intan mengancam Asep untuk melakukan lagi setelah ini menyemburnya, karena dia tidak akan puas kalau hanya bermain sebentar.


Intan yang sedari tadi kesal karena ayahnya mengundurkan pernikahannya dengan Endra, membuatnya harus mendapatkan pelampiasan rasa kesalnya. Untuk keluar dari rumah dan bermain dengan teman-temannya, Intan sangat malas, karena hari sudah sangat malam.


Malam semakin larut, tapi Intan sepertinya belum puas juga, padahal terlihat kalau Asep sudah kelelahan dan meminta ampun. Tapi tentu saja Intan tidak perduli, dan meminta Asep untuk meminum obat perangsang, supaya dia tetap kuat.


Ibu Romlah yang sudah puas langsung tidur disamping suaminya yang masih terlihat tertidur dengan nyenyak, bahkan terus saja mendengkur. Tapi karena ibu Romlah sedang senang, karena hasratnya sudah tersalurkan, jadi bu Romlah tidak marah mendengar dengkuran suaminya, hanya saja bu Romlah lalu tidur membelakangi suaminya itu.


Malam itu terlewati dengan begitu panas di kamar belakang, setelah menyembur nona mudanya beberapa kali, Asep akhirnya tumbang juga, apalagi di pagi harinya dia harus bekerja untuk mengantarkan ayahnya Intan untuk bekerja.


"Sudah nona, aku sangat lelah. Besok aku harus mengantarkan tuan Roman untuk bekerja" Asep terkulai lemas, begitu juga dengan miliknya yang sudah menyusut kembali.


"Baiklah, lagi pula aku juga sudah sangat puas. Bermain denganmu cukup lumayan juga" ujar Intan, lalu keluar dari dalam kamar Asep, setelah meletakkan beberapa lembar uang diatas meja kecil yang ada di pojokan kamar, Intan letakkan bersebelahan dengan uang pemberian ibu Romlah.


Sepertinya malam ini Asep sedang panen, selain mendapatkan kepuasan dari dua wanita mulus, dia juga mendapatkan tambahan uang saku. Asep yang menikmati hal ini, tidak memikirkan akibatnya nanti kalau sampai Roman, yang merupakan suami dari Ibu Romlah dan juga ayah dari Intan, mengetahui semua ini.


Yang terpenting bagi Asep sekarang adalah, dia menikmati surga dunia ini, selama masih bisa. Lagipula bukan dia yang menggoda kedua majikannya terlebih dahulu, tapi kedua majikannya yang kegatalan itu yang sering masuk kedalam kamar nya, tentu saja ini rezeki nomplok yang tidak mungkin di tolak oleh Asep.


Pagi menjelang, dan Asep belum juga bangun. Roman bahkan sudah selesai sarapan. Ibu Romlah yang mengetahui kalau semalam Asep juga didatangi oleh Intan, tersenyum dalam hatinya, karena menyadari kalau Asep pastilah kelelahan. Ibu Romlah hanya tidak menyangka kalau anaknya itu mau juga bermain dengan seorang supir, padahal dia mempunyai banyak teman bermain pria.


"Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? dasar tidak becus bekerja!" Roman marah dan hendak menuju ke kamar Asep, tapi ibu Romlah menghalanginya dan menenangkan suaminya.


"Sudah duduk dahulu, aku yang akan memanggilnya, pagi-pagi seperti ini jangan marah-marah dulu, nanti akan mempengaruhi pekerjaan mu dalam seharian ini" ujar ibu Romlah, lalu segera bergegas berjalan ke arah kamar Asep.


Dirumah ini, sudah menjadi rahasia umum dari para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah. Mereka sudah tau semua dengan permainan rekan kerja mereka yang menjadi supir keluarga tersebut, tapi karena hal itu, Asep menjadi disegani oleh rekan kerjanya, karena merasa menjadi backingan dari nyonya dan nona di rumah ini.


Ibu Romlah masuk kedalam kamar, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan terlihat lelaki yang semalam telah memuaskannya itu masih tidur dengan nyenyak. Ibu Romlah mengunci pintu, lalu merangkak menindih tubuh Asep.


Asep kaget tapi langsung tersenyum begitu melihat siapa yang membangunkannya.


"Dasar anak nakal, sampai jam berapa kamu bermain dengan Intan? sampai kamu kelelahan seperti ini?, ayo bangun, si loyo sudah menunggu mu.


Ibu Romlah lalu bangkit kembali dari tubuh Asep, karena takut suaminya curiga kalau dia pergi terlalu lama.