Endra

Endra
Gigolo



"Tidak ayah, tidak ada mama di dalam mobil, tadi mama memintaku untuk pergi terlebih dahulu, ternyata aku melupakan hari dimana aku mempunyai pertemuan dengan teman-teman kuliahku. Aku pikir itu besok, ternyata hari ini" Intan berbicara dengan lancar, setelah bisa menguasai perasaannya.


"Lalu siapa pria ini? kenapa dia memberikan kembalian uang padamu? apa kamu hari ini kembali berfoya-foya?" tanya Roman penuh selidik, sepertinya dia lupa kalau saat ini, dia tengah bersama dengan Endra.


"Sesekali tidak apa-apa untuk mentraktir teman-teman mu, maafkan ayah yang terlalu kolot ini. Sekarang ayah dan Endra harus makan siang terlebih dahulu, sembari membicarakan tentang pekerjaan" Roman akhirnya mengerti situasinya, dan dengan cepat menyelamatkan nama baik anaknya.


Setelah dari pagi bekerja bersama dengan Endra, dan mengetahui bahwa Endra begitu kompeten dalam bekerja dan menangani suatu pekerjaan, Roman sepertinya menyukai Endra.


"Endra, jangan lupa nanti sore kita ketemuan di taman yang kemarin, aku menunggumu" Intan memegangi lengan Endra, sebenarnya Endra merasa tidak nyaman, tapi demi mengambil hati Roman, dia menahannya dan menjawab Intan dengan menganggukkan kepalanya.


Endra dan Roman berserta beberapa tim mereka, lalu segera memasuki restoran, sementara Intan dan teman-temannya segera pergi menuju tempat, dimana mereka akan bersenang-senang.


"Dasar kamu ini, bisa-bisanya begitu manis pada pria yang terlihat sangat tidak memperdulikan dirimu" ujar salah satu dari teman Intan.


"Apa kamu cemburu padanya? kenapa perkataan mu seperti itu?" ledek Intan tanpa merasa bersalah.


"Tentu saja aku cemburu, kita ini sering bertemu dan berhubungan, kalau nantinya kamu menikah dengannya, pasti kita tidak akan bebas lagi seperti sekarang ini" teman Intan mengatakan dengan jelas, apa yang membuatnya tidak menyukai Endra.


Mereka sudah mengetahuinya sejak awal, hanya saja tentu saja mereka masih ingin terus bersenang-senang dengan Intan, apalagi saat Intan mengajak mereka untuk bermain seperti ini, pasti saja Intan memberikan uang jajan yang tidak sedikit bagi mereka. Dan sudah bisa dipastikan kalau pendapatan itu akan segera sirna kalau Intan sudah menikah nantinya.


Endra terlihat begitu gagah dengan postur tubuh yang sempurna, dengan begitu pasti saja Intan sudah akan terpenuhi hasratnya hanya dengan Endra saja.


"Kasihan sekali kalian ini para gigolo, pasti kalian takut kalau sampai mata pencaharian kalian menghilang kan?" tanya Atika dengan sedikit mengejek.


"Diamlah, kamu ini hanya wanita murahan yang diajak untuk bergembira, jadi jangan terlalu banyak berbicara" Alek terlihat marah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Atika, walau itu kebenaran, tapi tentu saja Alek kesal mendengarnya.


Atika menahan kemarahannya, dia juga merutuki nasibnya yang tidak sekaya Intan, hingga bisa mendapatkan pria manapun yang di inginkannya.


"Kalian ini sangat berisik sekali, kita sudah sampai nih. Sekarang kita masuk dulu Atika, nanti setelah setengah jam, kalian berdua menyusul, nanti aku akan memberikan nomor kamar hotel nya via WhatsApp!" Intan kesal karena teman-teman nya terlalu banyak berbicara.


Mereka berpisah untuk sementara, mengecoh kalau-kalau ada yang mengikuti.