Endra

Endra
Saling Memanfaatkan



"Tentu saja, tadi nyonya menghubungi ku dan menanyakan mu"


"Apa yang kamu katakan?"


"Apalagi yang bisa aku katakan? sudah tentu aku mengatakan bahwa dirimu sedang berkencan, dan nyonya terdengar sangat senang sekali"


Endra menghembuskan nafasnya begitu mendengar penjelasan dari Suseno. Mereka tidak lagi saling berbicara di sisa perjalanan mereka menuju rumah.


Ranti yang begitu antusias sudah menunggu di depan rumah, dan langsung menyambut kedatangan anaknya dengan wajah penuh kebahagiaan. Tapi Endra yang memang tidak terlalu senang, dan bahkan dia sebenarnya sedang sedikit kesal, hanya menangapi sekenanya saja.


"Bagaimana Ndra? apakah sudah ada kemajuan dari hubungan kalian?" tanya Ranti dengan mata yang berbinar-binar, walau sudah mulai terlihat guratan keriput di wajah nya, tapi Ranti masih terlihat cantik dan segar.


"Iya begitulah ma, aku mau mandi dulu ya ma. Dan jangan menunggu ku untuk makan malam, tadi aku sudah makan sore dengan Intan. Ajak saja Seno, sepertinya dia belum makan" ujar Endra, lalu segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Kali ini giliran Suseno yang menjadi sasaran rasa penasaran Ranti. Tapi tidak ada yang bisa dikatakan atau diceritakan oleh Suseno, karena tadi saat Endra dan Intan bertemu, dia diminta untuk menjauh.


Tentu saja Ranti tertawa mendengarnya, karena Ranti berfikir kalau Endra dan Intan pasti melakukan itu, karena tidak mau diganggu, apalagi tadi adalah kencan pertama mereka.


"Iya sudahlah, sekarang ayo kita makan malam terlebih dahulu" Ranti mengajak Suseno untuk makan malam bersama, dan Suseno yang kelaparan tentu saja langsung menyetujuinya.


Rayhan yang baru keluar dari dalam kamarnya juga merasa penasaran, tapi kali ini Ranti yang menjelaskan, walaupun penjelasan yang diucapkan oleh Ranti, hanyalah dugaan saja. Dan Suseno yang sangat kelaparan, tidak terlalu memperhatikan dan memperdulikan pembicaraan Rayhan dan Ranti.


Setelah makan malam selesai, Suseno langsung pamit untuk pulang, karena besok dia harus bekerja lebih keras, sebab besok adalah hari pertama perusahaan mereka akan bekerja bersama dengan perusahaan Intan.


"Baiklah, berhati-hati di jalan" ujar Ranti.




"Apa ayah ini tidak waras? bagaimana bisa aku harus menunggu perusahaan kita berkembang terlebih dahulu, baru bisa menikah dengan Endra?" Intan duduk di atas sofa dan meletakkan kakinya ke atas meja, lalu meminta salah satu asisten rumah tangga nya untuk memijatnya.



"Kita harus tau terlebih dahulu, dia berguna atau tidak untuk perusahaan kita, kalau tidak untuk apa? lagipula perusahaan miliknya sedang dalam masalah. Ayah tidak mau kalau dia hanya menyeret kita untuk bangkrut bersama" ayahnya Intan berkacak pinggang melihat anaknya yang begitu tergila-gila pada Endra.



"Lagi pula apa yang sebenarnya kamu lihat dari pria itu? bisa-bisanya begitu melihat langsung menyukainya. Bukankah kamu mempunyai banyak teman pria? bahkan banyak anak dari pemilik perusahaan yang lebih besar. Ayah sering melihat dirimu diantar pulang oleh mereka"



"Aku sudah bosan dengan para pria yang selama ini bermain denganku. Mereka hanya mengambil keuntungan dariku saja. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk serius denganku, walau kita sudah sering bermain bersama" Intan bergerak hingga membuat asisten rumah tangga nya terjengkang. Bukannya kasihan dan merasa bersalah, Intan malah memarahinya.



"Yang benar kalau bekerja, sekarang bangun dan pijat lagi dengan benar, atau kalau tidak, aku akan memecatmu!"



"Baik Nona" jawab asisten rumah tangga nya dengan penuh ketakutan.



"Ada apa ini?" ibu Romlah yang merupakan mama dari Intan, keluar dari dalam kamarnya.




Ibu Romlah merasa kalau Intan terlalu berlebihan, bagaimana kalau asisten tersebut terluka, hingga nantinya tidak bisa bekerja. Mereka nantinya bisa rugi, karena gaji mereka tetap harus dibayarkan walau mereka sedang sakit, apalagi ini sakit karena di sengaja.



Intan mengangkat bahunya, merasa tidak perduli. Ibu Romlah lalu mengeluhkan sikap Intan yang terlalu tidak bisa diatur.



"Jangan membuat masalah lagi Intan, bagaimana kalau pembantu itu mengundurkan diri? itu akan menyusahkan mama yang harus mencari lagi penggantinya. Lagipula bahkan pembantu itu baru berapa hari bekerja di rumah ini" ibu Romlah kesal pada anaknya yang selalu membuat masalah.



Intan lalu meminta pada mamanya, untuk membujuk ayahnya, supaya pernikahan nya dengan Endra bisa segera dilaksanakan. Intan malah merasa terancam kalau mereka menikah saat perusahaan Endra sudah stabil nantinya, karena Endra bisa saja meninggal dirinya, karena keinginannya sudah terwujud.



"Aku melihat kalau Endra adalah pria yang sangat bekerja keras, dan percayalah padaku, bahwa perusahaan kita akan cepat maju dan berkembang kalau berada dalam pimpinannya, lagipula ayah juga sudah tua. Jadi lebih baik ayah pensiun saja" ujar Intan dengan entengnya.



Ibu Romlah yang selalu memanjakan anak nya, sudah tentu lama-kelamaan mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Setelah Intan masuk kedalam kamarnya, ibu Romlah lalu menuju ke suaminya yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam kamar.



"Yang dikatakan oleh Intan cukup masuk akal juga. Perusahaan Endra itu sebenarnya perusahaan yang cukup bagus, hanya saja mereka kecolongan dengan mempercayai seseorang yang membawa kabur uang perusahaan. Hingga mereka terancam bangkrut, tapi menurutku perusahaan itu akan segera bangkit kembali, apalagi Endra Prasetya yang merupakan lulusan terbaik dari universitas di luar negeri itu, pasti sangat pintar. Kalau dia memanfaatkan perusahaan kita untuk membangkitkan lagi perusahaan nya, kita juga harus memanfaatkannya, jadi kita saling memanfaatkan"



"Kamu bahkan sudah menyelidiki nya juga?" tanya ayahnya Intan.



"Tentu saja, bagaimana bisa aku hanya diam saja. Aku juga tidak mau kalau sampai anakku menyukai, atau bahkan menikah dengan orang yang tidak berbobot" ibu Romlah dengan bangganya menunjukkan hasil dari penyelidikannya.



Diketahui bahwa Endra bahkan begitu pintar dan menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna. Dan yang lebih membuat ibu Romlah senang adalah, Endra bukan pria brengsek di luar sana. Pria itu diketahui belum pernah dekat dengan wanita manapun, jadi sudah dipastikan kalau Endra sangat bersih dalam hal ini.



Tidak seperti anak-anak dari pemilik perusahaan lain yang kebanyakan banyak tingkah, dan bahkan mempunyai anak yang disembunyikan di usia mereka yang masih muda.



"Ayah kan tadi mengatakan kalau banyak pria lain disekitar Intan? Asal ayah tau saja, para pria itu hanya teman bersenang-senang Intan saja, karena para pria itu sudah menikah, tapi pernikahan mereka disembunyikan dari media bahkan dari keluarga mereka sendiri" ibu Romlah mendekati suaminya dan berusaha untuk menggodanya.



"Dari mana kamu tau?" tanya pria yang sudah berumur itu, sambil menahan tangan istrinya yang sudah berada di kancing baju yang dipakainya.