
"Kalau den Endra tau menu masakan hari ini, pasti saja den Endra akan pulang" ujar bi Wulan melihat kearah meja makan. Ranti sengaja tidak menelepon Endra lagi, karena dirumah sedang ada masalah.
Ranti tidak mau menambah beban Endra yang sedang berjuang untuk memulihkan kembali kondisi perusahaan, kalau saat ini Endra pulang dan mengetahui salah satu asisten rumah tangga, akan segera meninggalkan rumah, Endra pasti akan merasa sedih.
Bi Wulan dan bi Yeni sangat dekat dengan Endra, karena saat dulu Endra kecil, kedua bibi itu yang mengasuh Endra, sementara Ranti yang sibuk bekerja, tidak bisa selalu menemani anak nya.
Sekarang Ranti tidak mau kalau sampai Endra bersedih, karena Endra sampai saat ini belum bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik dan benar, Ranti tidak mau hal buruk kembali terjadi pada anaknya.
"Bi Wulan, maafkan kami" Ranti mengantarkan kepergian bi Wulan sampai ke depan pintu pagar.
Bi Wulan tersenyum dan meminta kepada Ranti untuk tidak perlu lagi memikirkan hal ini di kemudian hari. Sudah terlalu banyak yang diterima bi Wulan selama ini, dari Ranti dan juga Rayhan. Bi Wulan tidak lupa mengatakan dan meminta kepada Ranti untuk menyampaikan salam perpisahannya pada Endra.
"Maaf bi, sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaan bibi yang satu ini, bahkan aku harus berbohong untuk ini, maafkan aku bi" Ranti terlihat menahan air matanya, bi Wulan akhirnya menyadari bahwa tuan mudanya belum sembuh total.
Bi Wulan menangis karena mengetahui kebenaran itu, Endra adalah baik yang tidak pernah merepotkan dirinya sedari dahulu. Bi Wulan pikir kondisi Endra sudah membaik sepulang dari luar negeri. Sebenarnya bi Wulan menjadi sangat berat untuk pergi, dia takut kalau kepergiannya akan berakibat buruk pada Endra.
Ranti lalu mengatakan pada bi Wulan kalau dia akan mengatakan bi Wulan pergi karena ada suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh bi Wulan, dan tidak akan mengatakan kalau kepergian bi Wulan karena mereka takut tidak akan sanggup untuk menggajinya lagi. Karena Endra pasti akan sangat merasa bersalah kalau tau alasan kepergian bi Wulan yang sebenarnya.
Setelah kepergian bi Wulan, tidak lama kemudian Endra pulang, Ranti sudah sangat ketakutan, kalau-kalau Endra tadi berpapasan dengan bi Wulan. Ranti menunggu apapun yang akan dikatakan oleh Endra, tapi Endra itu tidak sedikitpun membicarakan tentang kepergian bi Wulan.
Endra hanya meminta pada Ranti supaya segera bersiap, karena setelah hari berganti malam, mereka akan segera berangkat. Endra terlihat begitu bersemangat untuk datang ke acara itu, karena dia ingin segera mendapatkan relasi bisnis, supaya perusahaan cepat membaik.
"Bi Wulan, apakah baju kemejaku yang berwarna putih sudah di masukkan ke dalam lemari?" Endra masuk kedalam dapur dan langsung mencari bi Wulan, karena biasanya bi Wulan yang mengurus masalah bajunya.
"Sudah tuan muda, ada di lemari yang berwarna hitam, apa perlu bibi ambilkan?" bi Yeni yang sedang mencuci piring lah yang menjawab, karena memang dia yang tadi melakukan hal itu, atas permintaan dari bi Wulan.
Bi Wulan sangat tau, kalau Endra sangat menyukai warna putih, dan saat mendengar Endra yang akan pergi, bi Wulan sudah sangat paham kalau baju itu yang akan dipakai oleh Endra.
"Bi Wulan nya kemana bi Yeni?" tanya Endra heran, karena biasanya bi Wulan selalu ada di dapur di saat menjelang makan malam.
"Kemana perginya bi Wulan? bukankah ini sudah waktunya makan malam? biasanya bibi berdua sedang menyiapkan untuk makan malam, walaupun kami akan makan malam di luar, tapi kan bibi berdua harus makan?"
"Bi Wulan sudah mengundurkan diri tuan muda" jawaban bi Yeni membuat Endra kaget, karena di usia yang tidak lagi muda, bi Wulan memilih untuk mengundurkan diri. Endra berfikir apakah mungkin bi Wulan sedang sakit. Endra tidak menunggu waktu lebih lama lagi, lalu segera menuju ke kamar Ranti, untuk menanyakan tentang masalah bi Wulan.
Endra mengetuk pintu, lalu menunggu untuk sesaat, karena pintu tidak langsung dibuka. Saat pintu terbuka, Rayhan yang terlihat membuka pintu, dan menanyakan apa yang di inginkan oleh anaknya itu.
"Bi Wulan kenapa?" Endra langsung pada intinya bertanya pada ayahnya, Rayhan sedikit bingung, bagaimana caranya untuk menjelaskan, karena dia juga tau kalau Endra begitu menyayangi bi Wulan.
Ranti keluar dari dalam kamar mandi, dan melihat anak serta suaminya yang mengobrol di depan pintu, Ranti lalu meminta Endra untuk masuk ke dalam kamar.
"Bi Wulan memutuskan untuk pergi dari rumah ini, karena,,," Ranti berhenti menjelaskan, dia bingung untuk merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan pada Endra.
"Mama berusaha untuk membohongi siapa? apa mama pikir aku tidak tau kalau saat ini mama terlihat begitu panik. Mama seperti ini karena ingin menutupi kebenaran kan?, tidak perlu berbohong padaku ma, apapun itu alasannya, aku harap mama mengatakan yang sebenarnya. Jangan karena mama takut akan kondisiku, membuat menjadi berbohong. Lagipula aku sudah tidak selemah itu ma, aku yang saat ini sudah lebih kuat" Endra lalu duduk di sebuah kursi yang ada di dalam kamar kedua orang tuanya.
"Mungkin kamu tau sendiri kondisi keuangan kita saat ini, bi Wulan berhenti karena mengetahui kondisi kita" Ranti berbicara perlahan, lalu ikut duduk di sebelah Endra.
"Mama memecatnya karena kita tidak sanggup lagi membayarnya?"
"Endra, mamamu tidak memecatnya, bi Wulan sendiri yang awalnya membicarakan tentang masalah ini, tapi memang bukankah benar kalau kita tidak akan bisa membayar gajinya untuk beberapa bulan kedepan?, dari pada kita menahannya, itu malah akan merugikan bi Wulan sendiri" Rayhan ikut menjelaskan dan mengusap lembut bahu Endra.
"Tapi ayah, bi Wulan sudah tua, mau pergi kemana dia? anaknya juga ada yang masih kecil, tidak mungkin bi Wulan akan dengan cepat mendapatkan pekerjaan" Endra sebenarnya tau, kalau bi Wulan mengatakan masih punya anak yang masih kecil itu adalah kebohongan, walau sebenarnya bukan kebohongan sepenuhnya.
Bi Wulan memiliki beberapa anak asuh yang masih kecil, selama ini anak-anak itu ada di sebuah yayasan, dan bi Wulan secara rutin memberikan segala kebutuhan anak-anak itu setelah gajian. Tidak berbeda dengan bi Wulan, bi Yeni juga melakukan hal yang sama, hanya saja bi Yeni masih memiliki keluarga, dan juga mempunyai beberapa cucu yang harus bi Yeni bantu untuk memenuhi kebutuhannya.
Mungkin karena inilah yang membuat bi Wulan mengalah pada bi Yeni, karena merasa bi Yeni yang lebih membutuhkan pekerjaan. Endra lalu keluar dari kamar kedua orang tuanya, setelah mengetahui semua.
"Cepat cari bi Wulan" pinta Endra pada Suseno dalam sambungan telepon.