
"Endra, maafkan mama dan ayah, bukan maksud kami menyembunyikan semua ini. Kami hanya tidak mau study mu terganggu, karena bagi kami yang paling penting itu adalah dirimu" Ranti tidak bisa menutupi lagi akan kondisi perusahaan keluarga mereka yang mengalami masalah, dan mungkin bisa saja mengalami kebangkrutan.
Selama ini Rayhan dan Ranti tidak menceritakan tentang masalah itu pada Endra, karena tidak mau kalau sampai anaknya memilih untuk menyudahi studinya di luar negeri.
Endra yang memang tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tidak menjawab apapun dan langsung masuk kedalam kamarnya dengan membawa dia koper besar baju-bajunya.
Masa kuliah Endra sudah selesai, dia dan Suseno memutuskan untuk kembali lagi ke negara asal mereka, dan tidak mempunyai keinginan untuk bekerja di negara dimana dia menuntut ilmu tersebut.
Tapi hal yang tidak terduga terjadi, begitu sampai di rumah, dia harus menghadapi masalah yang sebenarnya belum mau dihadapi oleh Endra, tapi mau dikata apa, karena itu sudah pasti menjadi tanggung jawabnya.
Karena tidak bisa mengeluarkan perasaannya, Endra meninju kaca yang ada di dalam kamarnya, Ranti panik mendengarnya dan langsung memeriksa kondisi anaknya.
"Jangan seperti ini Ndra, marahlah pada kami, jangan menyiksa dirimu sendiri" Ranti menangis saat melihat jari jemari tangan Endra yang berdarah-darah.
Tapi seperti tidak merasakan sakit, Endra hanya diam saja saat diobati luka nya oleh Ranti. Rayhan juga tidak bisa banyak berbicara, karena memang tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Sudah berbagai macam cara dilakukan oleh Rayhan, supaya perusahaan miliknya bertahan. Tapi tidak ada cara yang membuat perusahaan seperti dahulu lagi. Mungkin sudah waktunya dia untuk pensiun.
Rayhan berencana menjual perusahaannya, tapi selalu dilarang oleh Ranti, karena perusahaan itu nantinya harus menjadi milik Endra, apalagi yang bisa mereka tinggalkan untuk Endra saat mereka tiada nantinya.
"Memang apa yang bisa kita tinggalkan untuknya? perusahaan ini juga sudah tidak pantas lagi untuknya, Endra hanya akan kesulitan untuk memulihkan kembali kondisinya seperti semula" Rayhan memberikan alasannya.
"Setidaknya ada nama besar keluarga kita di perusahaan itu, lagipula perusahaan itu kita membangunnya dari nol, apa iya semudah ini kita menyerah?" Ranti bersikeras untuk tidak akan menjual perusahaan.
"Lalu bagaimana? Endra akan segera kembali, dia pasti akan segera mengetahuinya" Rayhan menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah sofa, kepalanya sangat pusing memikirkan tentang semua masalah yang terjadi.
"Kita lihat bagaimana Endra menyelesaikan masalah ini, sekarang dia sudah dewasa, walau mungkin traumanya masih belum sembuh total, tapi mama yakin kalau ada sedikit perasaan yang bisa ditunjukkan oleh Endra" Ranti merasa masalah ini ada baiknya juga, mereka bisa menggunakannya untuk mengetahui kondisi putranya.
Tapi seperti yang terlihat sekarang, Endra belum bisa mengekspresikan perasaannya dengan benar.
Hari-hari yang Endra jalani setelah pulang dari studinya adalah mulai bekerja di perusahaan milik keluarganya, dia akan mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya, supaya perusahaan kembali membaik.
"Ayah, malam ini ada acara makan malam yang diadakan di balai kota, dan kita diundang untuk menghadiri nya?" Endra memberikan sebuah surat undangan kepada ayahnya.
"Bukankah kamu tidak menyukai tempat atau acara semacam ini? Ayah sudah terlalu malas untuk hadir ke acara anak muda semacam ini, mereka hanya akan membanggakan diri mereka sendiri" ujar Rayhan, lalu meletakkan undangan yang dipegangnya ke atas meja.
Endra lalu menjelaskan, kalau dia memang tidak menyukai tempat semacam itu, tapi untuk saat ini sepertinya mereka harus melakukannya, siapa tau nantinya ada perusahaan atau orang yang bisa membantu perusahaan mereka.
Di acara seperti itu, pasti akan berkumpul banyak orang penting, jadi Endra bisa menggunakannya untuk mengajak banyak perusahaan lain untuk bekerja sama, dan diharapkan hal itu bisa memperbaiki kondisi perusahaannya.
"Sebaiknya ayah juga mengajak mama, malam ini kita berangkat bersama" Endra lalu segera kembali lagi ke kantornya.
"Nanti malam akan ada acara besar, Endra mengajak kita untuk menghadirinya" Rayhan menjawab, lalu meminta istrinya untuk duduk di pangkuan nya. Ranti mendekat dan menuruti keinginan suaminya, mereka terus membicarakan tentang Endra.
Ranti tidak percaya kalau anaknya mau menghadiri acara seperti itu, karena selama ini Endra tidak pernah mau saat diundang ke acara semacam itu. Rayhan lalu menjelaskan pada Ranti, bahwa itu juga yang tadi dia tanyakan pada Endra, tapi sepertinya Endra melakukan hal ini karena terpaksa, demi perusahaan mereka.
Ranti sepertinya takut kalau nanti terjadi hal yang tidak di inginkan, misalnya seperti Endra yang bisa saja kumat dengan traumanya. Rayhan lalu menenangkan istrinya, dan mengatakan kalau acara nanti malam sangat formal, jadi tidak mungkin terjadi sesuatu pada Endra.
"Selalu ada pesta dansa di acara seperti ini" ujar Ranti mengingatkan.
"Endra tidak selemah itu sayang, dia hanya trauma karena melihat orang yang sedang melakukan hal tidak senonoh, kalau cuma dansa, dia tidak mungkin akan pingsan" Rayhan menenangkan istrinya.
Ingatan akan perkataan dokter yang melakukan visum pada tubuh Endra begitu dia ditemukan, kembali teringat oleh Rayhan. Dokter mengatakan bahwa alat vital pria milik Endra terluka dan banyak lecet. Rayhan tidak bisa membayangkan apa yang sudah dialami oleh Endra, kalau sampai Endra yang kuat bisa mengalami trauma, itu pasti karena hal yang dialaminya begitu besar.
Rayhan tiba-tiba memeluk Ranti dengan erat, saat ingatan itu kembali muncul, sebagai seorang ayah, dia tidak sanggup membayangkan anaknya yang terluka.
Hal itu tidak pernah diketahui oleh Ranti, karena Rayhan sengaja tidak memberitahukan hal itu, karena dikhawatirkan Ranti tidak akan sanggup menanggung kenyataan.
"Endra sudah dewasa, kalau seperti ini terus, bagaimana nanti saat dia menikah?" Ranti yang tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba memeluknya erat, lalu menanyakan tentang hal yang pastinya suatu saat akan dilalui oleh Endra.
"Memiliki ketertarikan dengan lawan jenis saja tidak, bagaimana bisa dia menikah?" Rayhan menjawab dengan refleks, yang membuatnya mendapatkan cubitan di perutnya dari Ranti.
"Suatu saat pasti akan ada wanita yang membuatnya tertarik, dia itu tetap saja lelaki biasa" Ranti hendak turun dari pangkuan suaminya, tapi Rayhan tidak membiarkannya. Sepertinya dia mau meminta jatah tambahan, walau tadi malam sudah dapat. Ranti mencoba menolak, karena hari sudah siang, dan dia juga harus pergi ke dapur, untuk memberikan perintah pada bibi yang sedang bekerja dirumahnya.
"Sebentar saja sayang, aku janji tidak akan lama" Rayhan terus berusaha untuk merayu istrinya"
"Tidak mungkin sebentar, eh Endra? kenapa kembali lagi nak?" Ranti melihat kearah pintu dan langsung bangun dari pangkuan suaminya.
Rayhan juga langsung berdiri, walau tidak bisa melihat ke arah pintu, karena posisi duduknya membelakangi arah pintu, sementara Ranti yang dari tadi berada di pangkuannya bisa melihat dengan leluasa ke arah pintu.