
"Aku sudah harus pergi lagi" Intan bangkit dari ranjang sebuah kamar hotel, setelah Alek dan temannya menyirami lahan sempitnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, jadi sudah bisa dipastikan kalau Endra sudah akan segera pulang dari bekerja.
"Aku belum puas, lagipula biasanya kamu yang buat kita kewalahan, kenapa sekarang kamu sudah mau pergi?" Alek ikut bangkit dan menciumi leher Intan, tapi Intan langsung mendorongnya.
"Aku juga sebenarnya masih sangat sanggup, tapi aku harus pergi berkencan. Aku hanya melampiaskan hasratku untuk sementara, kalau nanti tiba pada waktunya, aku juga tidak mau terus seperti ini. Aku juga hanya wanita biasa, aku ingin hidup normal seperti yang lainnya. Aku ingin mempunyai keluarga" Intan berjalan ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri sebelum menemui Endra. Dan meminta pada Alek untuk bermain saja dengan Atika.
Atika yang tengah di garap oleh temannya Alek, tersenyum senang mendengarnya. Karena memang nafsunya belum sepenuhnya tersalurkan, Alek lalu mendekati Atika, dan segera menyerbu gunung kembarnya, karena bagian bawah Atika sedang dipakai oleh temannya.
Mereka sepertinya sudah biasa melakukan hal bebas seperti ini, jadi tidak ada rasa canggung sedikitpun.
"Gantian!" Alek kesal karena temannya tidak kunjung selesai, tapi Atika yang mengerti, melarang teman Alek untuk menyudahi aksinya, dan memintanya untuk melanjutkan.
"Aku lebih suka permainan temanmu ini daripada permainan mu yang sangat monoton, jadi kalau mau bermain, sadar diri saja dan menunggu giliran" ujar Atika dengan senyuman sinis nya.
"Kurang ajar, aku akan membuatmu meminta ampun karena berani meremehkan diriku!" Alek terpancing emosi dan segera menarik badan temannya, hingga penyatuan Atika dan temannya itu harus terlepas.
"Saat tadi kalian sedang serius dan asyik bermain dengan Intan, aku memasang sebuah kamera kecil yang tersambung dengan temanku diluar sana. Aku tau kalau aku tidak bisa melakukan apapun mengenai hal itu untuk mengancam Intan, tapi aku bisa menggunakannya untuk kalian. Jadi kalau kalian berani kasar padaku, maka video itu akan aku sebarkan!" Atika terlihat takut melihat Alek yang penuh dengan amarah dan menarik rambutnya, sepertinya Alek ingin melakukan penyatuan dengan kasar.
Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Atika, Alek langsung melepaskan tangannya dari rambut Atika, dan langsung melihat sekeliling, untuk mencari tau dimana kamera yang dimaksudkan oleh Atika.
Alek kesal, tapi terus berusaha mencari kamera yang dimaksudkan oleh Atika, dan akhirnya dia menemukan nya. Kamera kecil itu terletak di atas lemari, dan tertutupi sebuah tisu.
Atika mempunyai kebiasaan membuat video saat dirinya melakukan hubungan dengan siapapun itu, kadang kala dia menjualnya kalau ada yang berniat membeli, tentu saja Atika tetap tau aturan, karena dia tidak akan menjual atau menyebarluaskan video itu kalau yang bersangkutan dalam video tidak berkenan, jadi hanya dia jadikan sebagai koleksi pribadi.
Kadang kala Atika melakukan masturbasi dengan menonton video dirinya sendiri yang tengah bermain bersama pria. Dan tentu saja kali ini Atika tidak menyia-nyiakan kesempatan, karena pemeran prianya sangatlah sesuai.
Alek dan temannya cukup gagah, walau tidak setampan Endra, dan tubuhnya juga tidak segagah calon suami Intan itu.
"Dasar kurang ajar!" teriak Alek, berbarengan dengan Intan yang sudah selesai mandi, lalu dengan tergesa keluar dari dalam kamar mandi.
"Dia memang aneh, aku juga tau tentang hal ini. Tapi tenang saja, karena dia tidak akan berani menyentuh kita. Yang harus kalian lakukan hanyalah ikuti kemauannya saat ini" ujar Intan pada Alek, kali ini dia sedang terburu-buru, jadi malas mengurus hal-hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
"Kalau sampai video itu kamu sebarkan, maka sedetik kemudian kamu akan hilang dari bumi ini. Jadilah wanita pintar dan pandai berterima kasih. Sekarang aku biarkan kamu bermain dengan kedua temanku sampai puas. Jadi sadar dirilah!" Intan mengancam Atika yang tengah merintih keenakan karena ulah temannya Alek. Sepertinya temannya Alek sangat menikmati permainannya dengan Atika, karena dengan Intan, dia selalu menjadi nomor dua setelah Alek.
"Baiklah, kamu tenang saja, aahhh,, hati-hati dijalan!" Atika menjawab sambil merintih dan berteriak, karena berbarengan dengan lahan sempitnya di sirami oleh temannya Alek.
Intan langsung bergegas menuju taman yang menjadi tempat kencannya dengan Endra.