
"Apa ada yang ketinggalan?" Ranti berjalan dengan cepat kearah pintu, Rayhan merapikan bajunya terlebih dahulu sebelum melihat anaknya.
"Endra,, hah?" Rayhan terbengong begitu melihat Ranti membuka pintu kamar, tapi tidak terlihat ada Endra disana. Ranti tertawa, lalu dengan cepat keluar dari dalam kamar dengan tidak bisa menyembunyikan tawa nya.
Rayhan menepuk keningnya, dia menyadari kalau dirinya telah di jahili oleh sang istri. Tidak lama, Rayhan tersenyum melihat tingkah istrinya, walau diumur yang sudah tidak lagi muda, mereka masih sering saling menjahili dan hubungan mereka juga tetap mesra dan harmonis serta romantis.
"Bi Wulan, dimana bi Yeni?" tanya Ranti pada asisten rumah tangga nya.
"Sedang membersihkan halaman nyonya, karena tadi kami menunggu nyonya, tapi karena lama, jadi Yeni memilih membersihkan halaman, sembari menunggu perintah dari nyonya" jawab bi Wulan sambil meletakkan pisau yang tadi sedang dia gunakan untuk memotong bawang.
Ranti bertanya untuk apa bi Wulan memotong bawang, padahal dia belum memberikan perintah apapun untuk masakan apa yang hari ini akan dimasak. Bi Wulan lalu menjelaskan bahwa dirinya hendak membuat bawang goreng, karena persediaan bawang goreng mereka tinggal sedikit lagi.
Ranti sangat senang, karena mendapatkan asisten rumah tangga yang sangat kompeten, mereka terkadang melakukan sesuatu walaupun belum diperintahkan. Para asisten rumah tangga nya sangat rajin, jadi Ranti sangat menghargai dan menghormati mereka, bahkan sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
Ranti adalah anak tunggal, jadi dia tidak memiliki banyak saudara, kedua orang tuanya juga sudah lama tiada, untungnya dia memiliki suami yang mempunyai beberapa saudara, jadi Ranti tidak terlalu merasa sendirian.
Apalagi saat ini dirumah, ada dua asisten rumah tangga yang selalu sigap membantunya. Ranti juga selalu mengobrol dan bercerita dengan dua asisten nya tersebut untuk sekedar mengisi waktu, karena sudah beberapa tahun terakhir, dirinya tidak diperbolehkan lagi untuk bekerja.
Rayhan melarang Ranti untuk terus bekerja, dan memintanya untuk di rumah saja, dan Ranti menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Hari ini bagaimana kalau kita membuat sop ayam, lalu bikin sambal tomat" Ranti berbicara sambil membuka kulkas. Ranti sangat tau dengan makanan kesukaan anaknya.
Endra menyukai sambal tomat, apalagi sambal buatan nya, sebenarnya bukan hanya sambal tomat, tapi sambal apapun Endra menyukainya, karena dia sangat suka makanan pedas.
Bi Yeni sudah kembali lagi dari halaman, lalu membantu memasak, dan seperti biasanya, mereka melakukan pekerjaan dapur tersebut sambil mengobrol. Ranti juga tidak keluar lagi dari dapur, dan memilih untuk ikut mengobrol bersama kedua asisten rumah tangga nya, walau dia dilarang membantu.
Ranti dengan bercanda lalu bertanya pada bi Wulan dan bi Yeni, bagaimana mungkin kedua asistennya tersebut bisa melarangnya untuk membantu, bukankah yang punya kuasa untuk memerintahkan di rumah ini adalah dirinya.
Hingga saat masakan hampir selesai, bi Wulan lalu bertanya tentang masalah yang sedikit pribadi. Bi Wulan sepertinya tau dengan kondisi perusahaan keluarga majikannya yang tengah mendapatkan masalah, dan bahkan sebentar lagi ditakutkan akan bangkrut. Bi Wulan mengatakan untuk mempekerjakan saja salah satu dari mereka.
"Maksud bibi apa? kami masih sanggup kok bi, untuk membayar gaji bibi berdua" jawab Ranti menutupi sesuatu, sebenarnya memang hal itu sudah sejak beberapa hari terakhir ada dipikirannya, tapi untuk membicarakannya dengan kedua asisten rumah tangga nya, sungguh Ranti tidak sanggup.
"Maafkan kami nyonya, sepertinya kami tidak tau diri, seharusnya disaat nyonya sedang kesusahan seperti ini, kami seharusnya selalu menemani nyonya, tapi malah ini yang kami sampaikan. Sekali lagi mohon maafkan kami nyonya, tapi tidak dipungkiri bahwa kami masih membutuhkan biaya, karena anak-anak kami masih kecil" bi Wulan tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan bersalahnya, tapi hanya ini yang bisa dia lakukan.
Bi Wulan dan bi Yeni sebenarnya sangat betah, dan tidak ingin pergi dari rumah Ranti, untuk mencari majikan baru. Tapi mereka juga tidak boleh egois, karena saat ini keluarga majikannya, yaitu Ranti dan Rayhan, tengah dilanda masalah, dan karena begitu baiknya pasangan suami istri itu, sampai tidak berani untuk memecat karyawan mereka.
Rayhan datang, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan, karena kelihatannya sangat serius. Ranti lalu menjelaskan semuanya, Rayhan mengembuskan napasnya dengan berat setelah mendengarnya, tapi kenyataannya sebenarnya memang sepertinya salah satu bibi harus segera pergi dari rumah.
Kesedihan tidak bisa lagi dibendung, tapi Rayhan juga tidak tau cara apa yang lebih baik dari pada ini. Karena tidak mungkin kedua asisten rumah tangga nya tetap bekerja, tapi dia tidak bisa memberikan upah yang sesuai.
Sebenarnya gaji bi Wulan dan bi Yeni memang terbilang sangat besar, dibandingkan dengan asisten rumah tangga di sekitar komplek yang mereka tinggali, tapi karena pekerjaan bi Wulan dan bi Yeni yang terbilang sangat bagus, maka Rayhan dan Ranti tidak merasa rugi melakukannya.
Setelah membicarakan masalah itu, akhirnya bi Wulan yang memilih untuk pergi, karena dia sangat faham dengan kondisi bi Yeni yang lebih membutuhkan pekerjaan dengan gaji besar untuk saat ini.
Bi Yeni merasa sangat terharu dengan keputusan rekan kerjanya selama beberapa tahun ini, mereka sudah bersama dan saling bahu membahu untuk mengabdi kepada keluarga Rayhan, tapi kali ini mereka harus terpisah.
Ranti menahan kesedihannya dan berusaha menahan air matanya, hingga saat waktu makan siang sudah tiba, Ranti memaksa bi Wulan dan bi Yeni untuk makan bersama. Awalnya bi Wulan dan bi Yeni menolaknya, karena tentu saja itu tidak sopan.
Biasanya juga sebenarnya Ranti selalu mengajak kedua asisten rumah tangga nya untuk makan bersama, tetapi selalu ditolak, dan alasannya selalu sama, yaitu mereka merasa hal itu tidak sopan. Tapi kali ini Ranti memaksa dan menarik kedua tangan bi Wulan dan bi Yeni.
Setelah mendudukkan kedua asistennya di kursi meja makan, Ranti lalu mengambilkan makanan untuk Rayhan terlebih dahulu, mereka tidak menunggu Endra pulang, karena tadi Endra sudah mengatakan untuk tidak bisa pulang saat makan siang, dan memilih makan di kantornya.
Endra pasti malas kalau harus bolak balik hanya untuk makan, padahal kalau tau menu hari ini, pasti Endra memilih untuk pulang. Biasanya Endra makan makanan luar, jarang sekali dia makan seperti yang hari ini dibuat oleh bi Wulan dan bi Yeni, atas perintah dari Ranti, dan resepnya juga adalah resep yang sudah diberikan oleh Ranti.