
"Apa kamu sudah menunggu lama?" tanya Intan pada Endra yang terlihat sudah duduk di sebuah kursi taman.
"Tidak, aku juga baru sampai"
"Maaf aku terlambat, tadi sedikit macet di jalan"
"Tidak apa-apa, apa kamu sudah makan?" Endra berusaha untuk bersikap lebih baik pada Intan, supaya mereka lebih cepat untuk saling mengenal lebih dalam.
"Belum, aku begitu lapar. Ayo kita makan" Intan sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh Endra.
Mereka lalu menuju restoran tempat kemarin mereka makan siang bersama, tentu saja Intan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, untuk terus saja menempel pada Endra.
"Disini banyak orang, bisakah kamu sedikit menjauh?" Endra merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Intan, tapi Intan terlihat tidak perduli, dan mengatakan kalau ini negara bebas.
"Negara ini bukan negara yang menganut paham ketimuran, disini kita bebas. Lihatlah sekelilingmu, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tidak ada yang perduli dengan orang lain, yang mereka perdulikan hanyalah diri mereka sendiri" Intan bahkan semakin berani dengan meletakkan telapak tangannya di paha Endra.
Sekuat tenaga Endra menahan rasa mual dan pening yang dia rasakan. Karena sentuhan itu membuat Endra teringat dengan traumanya. Bagi pria lain, mungkin itu terasa menyenangkan, tapi tidak bagi Endra.
"Tolong lepaskan tanganmu, aku akan membicarakan tentang hal serius, mengenai pernikahan kita" Endra merasakan tangan nya semakin bergetar, karena merasakan mual yang semakin menjadi-jadi. Untung saja, tidak lama kemudian, Intan menarik tangannya kembali.
"Apa yang baru saja kamu katakan?" Intan terlihat sangat penasaran.
Endra minum air putih sebanyak-banyaknya, untuk menenangkan hatinya, dia tidak mau kalau sampai pingsan ditempat ini.
"Satu hari ini, aku dan ayahmu sudah bekerja dengan sangat baik, sepertinya ada kecocokan diantara kami. Setelah nanti perusahaan mengalami perubahan yang signifikan, bagaimana kalau kita menikah?"
"Kenapa seperti itu? aku pikir akan dilakukan secepatnya" Intan kecewa mendengar apa yang dikatakan oleh Endra.
"Aku merasa kalau tidak akan butuh waktu lama, untuk itu kita mungkin tidak akan bisa untuk sering bertemu. Aku harus focus pada perusahaan terlebih dahulu, supaya kita bisa cepat melangsungkan pernikahan" jawab Endra yang paham kalau Intan kesal padanya.
Endra sebenarnya masih ragu dengan kondisi trauma yang dialaminya, tapi untuk membicarakannya dengan Intan, dia masih ragu untuk melakukannya, karena dia takut kalau sampai Intan menjauhi dirinya, karena Endra takut kalau Intan bisa saja menyudahi kerja sama mereka. Mereka lalu makan dengan diam, saling memikirkan perasaan mereka masing-masing.
Biasanya para pria akan langsung bertekuk lutut padanya, dari awal mereka bertemu, tapi tidak dengan Endra, karena hanya masalah perusahaan yang di utamakan.
"Baiklah aku mengerti, untuk saat ini focuslah pada perusahaan saja, tapi kamu harus segera menikahiku setelah perusahaanmu membaik" Intan akhirnya menyetujui perkataan Endra, lagipula selama menunggu Endra, dia bisa bermain-main dengan teman-temannya terlebih dahulu.
Setelah selesai makan, Endra memutuskan untuk pulang ke rumah, karena hari sudah memasuki waktu malam, Intan kembali kecewa dibuatnya, tadinya dia pikir Endra akan mengajaknya ke suatu tempat terlebih dahulu.
"Kenapa dia sangat membosankan begini, seharusnya kalau waktu sudah malam, ya ajak aku tidur bersama, bahkan hotel juga tidak terlalu jauh dari sini" Intan ngedumel sambil melihat mobil Endra yang pergi menjauh.
"Tapi inilah yang membuatku makin penasaran dengannya. Endra sangat terhormat, berbeda dengan pria kebanyakan yang selama ini aku kenal" Intan tersenyum sambil terus berbicara sendir, dia juga lalu memilih untuk pulang, lagipula dirumah juga ada Asep. Intan yang tadi siang belum puas bermain dengan teman-temannya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena dia ingin cepat bermain dengan Asep.
Hari berganti hari, tak terasa sudah beberapa bulan terlewati, Endra dan Intan juga hanya sesekali bertemu untuk sekedar makan saja. Hingga suatu hari, Intan dibuat sangat bahagia, karena Endra melamarnya.
Pernikahan mereka dilakukan besar-besaran, kondisi perusahaan juga sangat meningkat pesat, bahkan menjadi lebih besar lagi, setelah mereka menikah.
Malam pengantin telah tiba, para tamu undangan juga sudah pulang. Endra membawa pulang Intan, dia menolak untuk melakukan malam pertama di hotel tempat mereka melangsungkan pernikahan.
"Kita lakukan dirumah saja" ucap Endra singkat. Intan tidak membantah, baginya tidak masalah dimanapun juga.
Mereka berdua mandi bergantian, Endra tentu saja begitu tegang, karena ini adalah kali pertama dia akan melakukan hubungan, atas dasar kesadaran dirinya sendiri.
Intan yang sudah tidak sabar, langsung menubruk Endra hingga terlentang di ranjang. Tapi betapa terkejutnya dia, karena setelah beberapa lama, tapi burung Endra tidak juga terbangun. Endra sendiri tengah berusaha untuk menahan rasa mual nya, karena Intan terus menyentuh dan mencumbunya, tapi keinginan untuk sembuh, membuat Endra sanggup menahannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi" Intan duduk, dia sudah benar-benar kepanasan, tapi Endra bahkan belum aktif sedikitpun. Akhirnya mau tidak mau, Endra menceritakan semuanya. Intan begitu terkejut, lalu segera turun dari ranjangnya, setelah memakai kembali pakaiannya.
"Aku harus menenangkan diri terlebih dahulu" Intan mencari kunci mobilnya, dan segera bergegas pergi. Endra yang merasa bersalah, lalu segera menyusulnya.
Endra begitu terkejut, karena Intan ternyata tidak pulang kerumah orang tuanya, tetapi memilih masuk kesebuah hotel. Endra tidak berpikir positif, dan bangga pada istrinya itu, karena memilih tidak pulang ke rumah untuk mengadu pada orang tuanya.
"Dia pasti ingin menenangkan diri di tempat ini" Endra tersenyum bahagia, karena ternyata istrinya begitu baik.