ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
9



Sore itu cuacanya sedikit bertoleransi, Elena bisa datang mengunjungi Lili sekarang. Siang tadi ia sudah meminta izin membawa kucing kesayangannya Plori ke apartemen untuk menemaninya.


Elena menggunakan jaket hitam untuk menghindari angin sore yang dingin, rambutnya ia biarkan terurai. Entah kenapa dari mulai kepergian Vienna Elena tidak suka menguncir rambutnya.


"Aku suka hal baru."


Itu yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Elena tidak peduli, kini dirinya sudah mulai terbiasa dengan rambut terurai.


Ditengah jalan, Elena melihat seseorang menjatuhkan apelnya dari keranjang. Ia seperti kesulitan memasukan barang kedalam bagasi mobilnya.


Elena mengambil apel itu, ia menaruhnya pada keranjang.


"Tadi terjatuh," kata Elena, seorang wanita itu menatap Elena. Keduanya saling bertatapan dengan raut wajah yang sama-sama terkejut.


"Ha-halo, Elena. Lama tidak bertemu," sapanya ramah, Elena mengangguk kecil.


"Halo juga kak Kellie."


Kellie tersenyum kikuk, ia tidak percaya seseorang yang ditemuinya adalah Elena. Jujur gadis yang berdiri didepannya memang terlihat sangat berbeda. Dulu Elena selalu menguncir rambutnya, memakai jepit bunga putih setiap hari dan selalu tersenyum setiap saat.


Kini yang dilihat Kellie benar-benar seperti orang asing, Elena tidak banyak bicara. Tatapannya juga sangat berbeda dari dulu, Kellie tau semua ini memang kesalahan adiknya, Erlen terhadap Elena.


"Kau mau kemana?" tanya Kellie, Elena diam sesaat sebelum menjawab.


"Rumah," balasnya singkat, Kellie tidak bisa berkata-kata lagi.


"Aku duluan kak," pamit Elena, ia berjalan menjauh dari Kellie yang masih tidak percaya dengan yang ditemuinya barusan itu.


"Itu benar-benar kau yang membuatnya begitu?" kali ini Erlen keluar dari mobilnya, sudah cukup untuknya bermain petak umpet.


"Ya, itu salahku," sahut Erlen, keduanya menatap punggung Elena yang mulai menjauh.


"Hatinya pasti sudah Sangat tersakiti, kesalahan yang paling fatal adalah saat kau menyakiti hati seseorang sampai membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat," gumam Kellie, Erlen hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Aku jadi tidak yakin Len, jika Elena akan memaafkan mu nantinya," kali ini ucapan Kellie benar-benar membuat Erlen kembali meratapi kesalahannya.


"Aku tau, aku tau itu," tekan Erlen, ia langsung masuk ke dalam mobil.


Kellie hanya menggeleng kecil, adiknya sudah benar-benar menjadi seperti seorang penjahat. Menyakiti perasaan seseorang itu termasuk kejahatan yang sama dengan membunuh secara perlahan.


Untung Elena termasuk gadis yang kuat, jika tidak mungkin saat ini gadis itu sudah tinggal nama.


Elena mengetuk pintu rumah yang ukurannya bisa terbilang besar. Itu adalah rumah Lili, orang yang dulu mengasuhnya sekaligus mengganti posisi ibu.


Pintu terbuka, dilihatnya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan cantik. Wanita itu tentu saja Lili, ia langsung memeluk Elena dengan erat, seakan tak mau dilepaskan.


"Kau baik-baik saja kan akhir-akhir ini?" tanya Lili khawatir, kedua tangannya mengusap pipi Elena, gadis itu mengangguk kecil.


"Ah, syukurlah. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku Jika terjadi sesuatu denganmu,"  sambung Lili, ia segera mempersilakan Elena masuk.


Keduanya duduk di sofa, Lili sangat senang dengan kedatangan Elena. Eri sang suami saat ini sedang keluar membuatnya kesepian karena sendiri.


"Dulu kau banyak bicara," ungkap Lili sambil terkekeh, Elena hanya tersenyum kecil.


Lili memang sedikit khawatir dengan perubahan Elena yang terbilang sangat jauh dari dulu. Gadis yang dulu selalu bertanya apapun yang membuat otaknya penasaran kini hanya diam tanpa menanyakan apapun lagi.


"Tapi semenjak kelulusan, kau lebih banyak diam," ungkap lili lagi, ia mengerti mungkin teman Elena yaitu Vienna pergi meninggalkannya sendiri, membuat gadis itu menjadi tertutup.


"Aku menyukai hal baru, nyonya," balas Elena, lili mengangguk kecil dan tersenyum.


"Kau bebas menentukan apapun, itu hidupmu, tapi jangan sampai kau salah pilih ya," pesannya pada Elena, gadis itu kembali mengangguk


Elena tau mana yang baik dan mana yang buruk. Dirinya sudah besar, ditambah ingatan yang kembali itu membuatnya tau arti kehidupan yang sebenarnya.


"Aku,-- sebenarnya ingatanku sudah kembali," ungkap Elena, Lili terkejut bukan main, kedua pupil matanya membesar.


"Sejak kapan? Kenapa kau diam saja? Seharusnya kau katakan hal penting ini padaku," Lili terus menerus melempari pertanyaan, Elena diam sejenak. Dirinya merasa tidak enak karena menutupi hal yang menurut Lili besar.


"Maaf, ingatanku kembali saat dua hari aku tinggal di apartemen. Saat itu aku tidak bisa apa-apa, reaksi kepalaku sangat menyakitkan," jelas Elena, Lili masih memasang wajah khawatir.


"Dan aku tau siapa ibuku, ayahku. Mereka tidak membuang ku, hanya ekonomi yang memaksa mereka, tapi jika mereka masih mengingatku sebagai putrinya, harusnya dari dulu mereka mencari ku," penjelasan Elena membuat Lili terdiam, lili mengerti kenapa gadis yang selalu ceria itu diam dan tertutup ternyata ada alasan yang nyata tentang ingatannya yang kembali membuat Elena frustasi.


"Terima kasih banyak, nyonya."


Lili memeluk Elena, ia tau gadis itu masih butuh pelukannya setiap saat untuk menenangkan diri. Elena selalu terlihat tegar didepan Lili, begitupun didepan orang lain.


Gadis itu seakan terlihat baik-baik saja, cara menutupinya benar-benar sempurna. Elena bisa dikatakan pembohong terbesar karena caranya untuk menutupi sangat sempurna.


"Aku selalu berdoa pada Tuhan agar tidak bertemu dengan orang tuaku lagi, sudah cukup ingatan saja yang menyakiti hati ku, tidak dengan orangnya," ungkap Elena, Lili masih memeluk erat Elena. Sesekali ia menciumi pelipis Elena.


"Tuhan akan melakukan yang terbaik, Elena. Jangan khawatir," ucap Lili menenangkan.


Keduanya melepas pelukan, tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Lili tau gadis itu pasti menahannya karena tidak ingin memperlihatkan kelemahan batinnya.


"Aku akan kembali," raut wajah Lili sedih, ia ingin lebih lama lagi dengan Elena.


"Apa tidak menginap saja?" usul Lili, Elena menggeleng.


"Besok sekolah, lagipula aku tidak mau terus menerus membebani nyonya," ungkap Elena, Lili menggeleng cepat.


"Sama sekali tidak, justru keberadaan mu aku jadi lebih bahagia. Aku selalu berterima kasih pada Tuhan karena mempertemukan ku denganmu" tegas Lili, Elena tersenyum lega.


Ia tau Lili sangat tulus padanya tapi kerabat Lili yang tidak menyukai keberadaannya. Saat bertamu Elena selalu diusir keluar karena dirinya kerap dikaitkan dengan pertanda buruk.


Saat itu Elena masih terlalu kecil untuk menanggapi omongan kerabat Lili, tapi sekarang dirinya mengerti semua itu, dari dulu keberadaannya tidak diterima.


"Terima kasih untuk segalanya, aku benar-benar tidak tau dengan apa harus membalas,"  Lili tersenyum, senyum yang mengandung penuh arti.


"Kau segalanya bagiku, melihatmu bahagia saja sudah cukup untukku."


Elena berjalan dengan Plori, kucing itu terlihat senang diajak jalan-jalan menuju rumah barunya.


Plori menggunakan tali Harness khusus, didalam kurungan terus-menerus membuat kucing itu bosan, bahkan hewan itu berlari cepat membuat Elena harus menyamai kecepatannya.


"Pelan-pelan, Plori," pesan Elena, kucing itu tidak peduli, ia berlari membuat tali yang ada ditangan Elena terlepas.


Elena terkejut, ia berlari mengejar Plori yang terus-menerus berlari tanpa arah.


"Hap, tenang. Kau itu harus menurut pada pemilik mu," ucap Erlen mengelus kucing putih yang tadi sempat menabrak kakinya.


Erlen menatap Elena yang berjalan mendekat, gadis itu terlihat kelelahan karena ulah kucing putih ini.


"Kau baik-baik saja?" tanya Erlen, Elena mengangguk kecil.


"Kucing ini baru diajak keluar ya? Sampai tidak terkendali karena mendapati dunia luar," tanya Erlen lagi, Elena kembali mengangguk.


Memang benar, Plori selalu didalam rumah, Elena tidak pernah mengajaknya keluar jalan-jalan membuat kucing itu menjadi lebih liar saat di luar.


"Ayo kita pulang, Plori," Elena mengendong kucing putih itu, ia membawa tas ransel khusus kucing untuk berjaga-jaga. Plori dimasukkan kedalamnya lalu Elena menggendongnya.


"Meoww."


"Kelihatannya dia tidak suka didalam," tebak Erix, Elena tidak peduli. Ia tidak mau berlarian mengejar kucing lagi, ditambah banyak kendaraan yang lewat, ia takut Plori tertabrak jika sedikit saja dirinya lengah.


Elena menatap Erix sekilas, setelahnya ia berjalan meninggalkan Erix yang masih tersenyum, laki-laki itu merasa sedih karena selalu diabaikan.


Sebelumnya Erix memang sengaja menunggu Elena di sana, ia yakin gadis itu akan kembali. Erix tau Elena tinggal sendiri di apartemen, entah alasan apa yang membuat gadis pendiam itu ingin hidup sendiri.


Erix masuk ke dalam mobil, ia mengendarainya dengan cepat.


Elena sampai di apartemen, ia menutup pintu dan mengeluarkan plori. "Ini rumah barumu, mulai sekarang kau akan menemaniku disini."


Plori sempat terlihat kebingungan, ia mungkin butuh waktu untuk mengenal ruangan barunya. Kucing itu berlari kesana-kemari, Elena hanya mengukirkan senyumnya. Melihat kucing putih kesayangan adalah satu hal untuk menghilangkan rasa sakitnya, walaupun tidak semua, tapi Elena senang.


Malam sudah tiba, kini Elena sedang memakan Mie di tempat makan. Sesekali ia melirik plori yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu, senyuman terukir di bibirnya.


"Tidak ada lagi kesepian, sekarang sudah ada yang menemani," batin Elena.


Besok Elena akan membeli makanan khusus kucing, tadi dirinya hanya membawa sedikit makanan kucing yang tersisa dari rumah Lili.


Setelah selesai makan, Elena menghampiri plori, ia mencium kucing itu. "Selamat malam, plori."