
Di rumah, Elena bisa menjadi dirinya sendiri, tapi jika sudah di sekolah gadis itu berubah kepribadiannya menjadi tertutup dan pendiam. Tidak banyak yang tau jika hati Elena sedang terluka, tapi ia bisa mengontrol emosinya.
Saat ini didepan gadis itu sudah ada sosok yang baru, menghadangnya agar tidak keluar kelas, padahal ia ingin menghabiskan waktunya di atap sekolah untuk menikmati udara segar di pagi hari.
"Minggir!" ketus Elena. Sosok itu masih tetap ditempat tanpa membiarkan celah untuknya lewat.
"Apa kau tidak tertarik padaku?" tanyanya yang tidak lain adalah Erix. Elena menyergit, mencoba untuk mencari tau arti yang dibicarakan laki-laki itu.
"Mengapa diam? Atau kau memang tertarik padaku kan?" ujar Erix lagi dengan pedenya membuat Elena ingin memuntahkan roti yang sudah didalam perutnya.
"Tidak, samasekali, sekarang minggir!" tekan Elena lagi. Namun Erix masih belum memberi celah untuknya, ingin sekali Elena menonjok wajah mengesalkan itu.
"Apa kau sungguh tidak tertarik padaku? semua gadis justru memperebutkan diriku," ujar Erix. Lagi-lagi Elena dibuat kesal oleh kata-katanya yang memuakkan itu.
"Mereka buta!" kini Elena berbalik kembali ke tempat duduknya, ia sudah tidak ingin lagi ke atap dikarenakan keberadaan Erix yang membuatnya kesal.
"Elena Gabriela!" panggil Erix membuat gadis itu berhenti melangkah, ia menoleh ke belakang.
"Bagaimana kau tau nama panjang ku?"
Kali ini Erix kikuk sendiri, nyatanya dulu ia memang mengenal baik Elena, tentu saja segala hal mengenainya ia tau. "Itu, aku tau dari teman-teman."
Elena melanjutkan langkahnya, ia kini sudah ditempat duduknya, memainkan game Pau untuk menghilangkan rasa bosannya.
"Elena, istirahat nanti bisakah kita makan bersama?" tawar Erix. Ia masih belum menyerah untuk mendapatkan hati Elena.
Elena menghela nafasnya sebelum menjawab. "Jangan mendekatiku! aku tidak sama dengan perempuan lain yang begitu memujamu, keberadaan mu benar-benar sebuah masalah bagiku, apa aku perlu pindah kelas agar bisa tenang?" tekan Elena membuat dada Erix terasa sakit.
Erix menyadari kesalahannya, mendekati seakan keduanya memiliki ikatan itu adalah hal yang mustahil, Elena tidak ada ketertarikan lagi padanya, apalagi pada dirinya yang dulu.
"Aku mengerti, maaf." Erix kembali ke tempatnya, ia memang belum pernah mengejar dan sekarang dirinya tau betapa menyakitkan rasanya mengejar orang yang tidak menyukai keberadaannya.
Jam istirahat datang, Elena keluar dengan terburu-buru, perutnya sudah sangat lapar. "Bu, nasi goreng pedas!"
"Bu, nasi goreng tidak pedas!"
keduanya saling menatap, ternyata itu Sia. "Bu, layani aku dulu," ucap Elena. Sia yang mendengar itu merasa tidak terima.
"Hei, aku yang datang ke sini duluan!" tekan Sia kesal. Elena masih dengan tatapan tidak peduli.
"Aku bicara duluan."
"Bagaimana kau tau? bukankah kita bicara secara bersamaan?!" seru Sia lagi.
Elena menghela nafas, ia tidak tau kenapa dan bagaimana jika dirinya bertemu dengan Sia, ada saja yang diperdebatkan.
"Aku bicara empat kata, sedangkan kau lima kata, sudah jelas siapa yang lebih dulu bukan? begitu saja tidak tahu," jelas Elena yang lagi-lagi membuat Sia geram. Ia tidak tau kenapa dirinya selalu kalah jika berdebat dengan Elena.
"Tidak bisa, ayo suit!" pinta Sia. Elena malah berjalan pergi menuju meja kosong.
"Sambalnya dua sendok ya, Bu." pintanya yang tidak merespon ucapan Sia.
Elena menatap Sia, gadis itu sibuk dengan ponselnya. "Kenapa kau duduk di depanku?" tanya Elena heran. Pasalnya masih banyak meja kosong untuk ditempati tapi Sia malah duduk tepat di depannya.
"Memangnya kenapa? Ini untuk umum, siapapun boleh duduk dimana saja!" ketus Sia. Elena tidak lagi mempermasalahkannya.
Setelah pesanannya sampai, suara ricuh terdengar, tidak jauh dari posisinya, Elena melihat Erix yang sedang dikerubungi oleh gadis-gadis.
Elena berdecak sebal, namun lain dengan Sia, ia menatap kagum Erix seakan ia adalah satu-satunya laki-laki yang berwajah tampan.
"Kau juga?" gumam Elena menatap Sia. Gadis itu belum melepaskan pandangannya dari sosok Erix
"Kalo kau suka kenapa tidak kau dekati?" ujar Elena lagi. Kali ini Sia merespon.
"Apa kau buta? lihat disekelilingnya, begitu banyak perempuan, aku tidak mau mati muda," ucap Sia. Ia kembali menatap Erix.
"Sebenarnya dia satu kelas denganku," jujur Elena lalu memasukkan satu suap nasi kedalam mulutnya.
Sia tersentak, kali ini pandangannya fokus ke Elena. "Benarkah? kenapa tidak bilang?"
"Kau tidak bertanya, dia juga duduk tepat di belakangku," lagi-lagi Sia dikejutkan dengan ucapan Elena. Namun bukankah itu bagus? ia bisa mengunjungi Elena di kelasnya setiap hari seperti halnya seorang teman yang baik.
Tunggu, keduanya adalah musuh, Sia selalu ingin diatas Elena dan Elena tidak pernah membalas ocehannya, apakah itu bisa disebut sebagai teman?
Sia menggeleng cepat, ia tidak pernah terpikirkan untuk menjadi teman baik, namun sekarang dirinya malah duduk di meja yang sama dengan pesanan yang sama dan bicara seperti layaknya seorang teman, mungkin orang-orang juga berfikir demikian.
Sia berdiri dan mengebrak meja, membuat Elena terkejut akan hal itu. gadis itu menunjuknya dengan jari tangannya. "Kita adalah musuh! aku tidak akan membiarkan kau merebutnya!"
Elena hanya bisa melongo dengan tingkah Sia yang menurutnya aneh, kapan dirinya ingin mengejar Erix? melihatnya saja benar-benar membuatnya mual.
"Oke? Apa kau tidak ingin ini? aku habiskan ya?" kali ini Elena beralih topik, sungguh disayangkan melihat makanan yang belum tersentuh dibiarkan.
Sia yang melihat Elena ingin menyantap makanannya langsung cepat-cepat mengambil piring yang berisi nasi goreng miliknya menjauh, ia langsung duduk di meja yang sama namun jarak yang yang sedikit jauh dari Elena.
Elena tersenyum, Sia tidak seburuk yang dipikirannya. Walaupun sifatnya yang terlalu blak-blakan, namun hati gadis itu tidak hitam seperti orang-orang yang saat ini berusaha untuk dekat dengannya.
Sia juga kadang membantunya jika ada orang yang bicara buruk dibelakang, gadis itu membelanya mati-matian, padahal orang yang dibicarakannya bahkan tidak peduli akan hal itu.
"Terkadang, orang yang terlihat membenci itu adalah orang yang akan menolong dimasa depan."
Piring dan gelasnya sudah kosong, tapi Elena masih tetap setia di tempat, menemani Sia yang belum selesai makan, walaupun dirinya terlihat tidak peduli namun dalam hati ia benar-benar sangat menyayangi gadis itu.
"Saat makan kau jelek sekali," celetuk Elena mengejek. Sia yang sedang sibuk itu kini menatapnya tajam.
"Duduk tegak, dan buatlah makanan yang menghampiri mulut, bukan sebaliknya," jelas Elena. Dirinya tidak tahan dengan cara makan gadis itu yang menurutnya sangat berantakan.
"Suka-suka!" ketus Sia kesal. Elena hanya berdecih kecil.
"Jika Erix tidak memandang mu jangan salah kan aku," ucap Elena lagi. Sia yang mendengar itu langsung melakukan apa yang di pinta Elena.