
"Jadi Leonal bukan adikmu?"
William meminum air yang diberikan Elena, sementara Raihan masih mengibas-ngibaskan kipas tangan yang terbuat dari plastik milik Elena.
"Jangan pernah percaya dengannya," Elena menekan perban lebih keras membuat Leonal merintis kecil.
"Tapi kenapa dia bilang kau kakaknya?" Raihan ikut bertanya karena penasaran.
"Hubungannya dengan Sia tidak akur, jadi dia selalu datang kemari membuat ulah," jelas Elena.
"Aku sudah tidak nakal!" celetuk Leonal membela diri.
Elena hanya merespon dengan tatapan, lalu kembali memijat pergelangan kaki Leonal yang ter kilir.
Setelah selesai, Elena berjalan menuju kamar. "Kalau kalian sudah selesai, bisa pergi dan jangan lupa tutup pintu, aku mau lanjut tidur," jelas Elena dengan nada santainya, William dan Raihan justru terkejut.
"Apa dia tidak takut kita akan melakukan sesuatu?" celetuk Raihan yang menunjuk kamar Elena dan bertanya pada Leonal.
"Elena memang seperti itu, walaupun setiap ucapannya selalu pedas namun sebenarnya tidak jahat."
"Setidaknya, dia bisa mengusir kan jika ingin tidur? kenapa sangat tenang seakan tidak terjadi apa-apa?" oceh Raihan yang tidak mengerti sifat Elena.
Raihan begitu karena khawatir dengan Elena yang seorang gadis namun memiliki sifat yang acuh tak acuh kepada semua orang yang nyatanya tidak semuanya baik.
"Itu tidak benar, dia hanya seperti itu pada kita. Artinya dia mempercayai kita sebagai orang asing," jelas William sambil tersenyum.
Keesokan harinya, tepat saat jam istirahat. Sia bergegas menuju kelas Elena, tanpa rasa malu ia masuk kedalamnya melihat Elena yang sedang tertidur pulas di sana.
Brakkk...
Sia menghentakkan kedua tangannya ke meja, orang-orang terkejut karenanya namun Elena malah bangun dengan santai.
"Apa?" tanya Elena mencabut headset yang sedari tadi menempel ditelinga nya.
"Kau apakan adikku?"
"Bagus sekali, kau langsung menuduhku, benar-benar seperti seorang kakak," ujar Elena tersenyum kecil.
"Jawab saja, El. Saat pagi dia baik-baik saja namun sorenya dia terluka--"
"Ada apa?" potong Erix, ia penasaran dengan apa yang terjadi.
"Adikku terluka saat pulang, dan ia tidak pernah berkunjung ke apartemen lain selain Elena," jelas Sia menatap Elena, gadis yang ditatap belum merespon, ia masih sibuk memainkan ponsel hitamnya.
"Aku pikir bukan Elena yang melakukannya, ia tidak mungkin menyakiti seseorang anak kecil," ujar Erix membela Elena.
"Tapi--"
"Adikmu hampir tertabrak truk, untung William dan sepupunya menolong, luka itu belum seberapa jika Leonal benar-benar tertabrak kan? mungkin sudah tidak terbentuk," jelas Elena santai, Sia yang mendengarnya terbelalak.
"El, apa kau tidak mual?" tanya Erix menutup mulutnya karena membayangkan apa yang Elena ucapkan.
"Apa? oh, ya. Aku pernah melihat orang tertabrak didepan mataku. Jadi ya, biasa saja," jawab Elena dengan nada yang sulit dicerna, Erix seketika diam.
"El, kau bilang William yang menolong adikku? bisakah aku bertemu dengannya? aku ingin berterimakasih, dan ya, maaf karena telah menuduh mu."
Elena mengangguk sebagai respon bahwa ia memaafkan Sia, dirinya memaklumi apa yang dirasakan Sia. Ya, rasa khawatir seorang kakak itu tidak main-main. "Dan untuk William, hm. sebentar lagi juga datang--"
"Elena!!!" panggil William dengan suara lantang membuat anak-anak yang masih stay didalam kelas terkejut sekaligus kagum dengan paras William yang tampan.
"Ya, itu dia," gumam Elena kecil sambil tersenyum kecil.
William berjalan mendekat, mengabaikan tatapan para gadis yang terpesona akan ketampanannya itu. "Hai, ayo makan," ajak William pada Elena.
"William," panggil Sia dengan canggung, William menoleh menatap Sia yang sejak tadi disampingnya.
"Ya? ada apa?"
"Haha, sebenarnya sepupuku yang menolongnya, aku diam saja dan Elena yang mengobatinya, tapi jangan khawatir akan aku sampaikan terima kasih mu yang seharusnya miliknya itu."
Sia mengangguk, dan menatap Elena lagi, ia tersenyum seakan mengukirkan rasa terima kasihnya.
"Kalau begitu ayo makan!" seru William dengan semangat, Elena mengangguk dan beranjak dari duduknya, kebetulan perutnya juga terasa lapar.
Baru selangkah Elena berjalan, tiba-tiba Erix menggenggam tangannya seakan menahan Elena agar tidak pergi. "A-apa?" tanya Elena dengan raut terkejut.
"Sejak kapan?"
Elena mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti pertanyaan Erix. "Maksudmu? akhh," genggaman Erix semakin keras membuat Elena merintis kesakitan.
"Sejak kapan kalian dekat!"
Plakk...
William menampar tangan Erix yang sontak tangannya melepas Elena. Ia marah karena Erix membuat Elena kesakitan. "Jangan sentuh Elena!" tekan William.
Erix langsung tersadar dengan apa yang terjadi, ia merasa gelagapan karena frustasi akan Elena yang direbut oleh orang lain.
"Ma-maaf, aku banyak pikiran, aku pergi dulu."
Kepergian Erix membuat semua orang melihat sisi lain darinya, bahkan Elena. William melihat gadis itu diam membeku layaknya orang yang melihat hantu untuk yang pertama kalinya.
"Elena?"
Elena masih tetap diam, pikirannya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia merasa Erix mirip dengan cinta pertamanya yaitu Erlen, tapi batinnya terus menolak akan hal itu melihat tampilan Erix sangat berbeda dengan Erlen.
"Elena?!" panggil William lagi, kali ini Elena tersentak dan menatap William. "Ada apa?" tanyanya lagi, Elena menggeleng cepat.
"Tidak, tidak apa-apa."
Di kantin, Elena lebih banyak melamun dan menganggur kan makanannya, Sia pun sama, William benar-benar sedikit kesal dengan situasi saat ini.
Sia beranjak dari duduknya dan membayar makanannya, ia juga membeli dua roti dan air mineral. "Aku duluan," pamitnya, Elena mengangguk kecil.
Kali ini hanya ada William dan Elena, gadis itu tetap diam memandangi makanannya yang belum tersentuh sama sekali.
William menundukkan kepalanya di meja, menatap Elena dari bawah, gadis itu sontak terkejut. "Ada apa?" tanya William dengan suara lembut membuat pikiran Elena dalam sekejap hilang.
"Dia mirip dengannya," ujar Elena, entah kenapa baru kali ini dirinya terbuka pada orang lain, bahkan William yang notabenenya adalah murid baru.
"Siapa?" tanya William lagi.
"Cinta pertamaku."
Deg...
Hati William mendadak sakit, entah kenapa ia tidak menyukai Elena memikirkan orang lain, selain dirinya. "Apa kau masih menyukainya?"
Elena menggeleng kecil, rasa cinta yang dulu pernah ia miliki itu sudah hilang sekarang, hanya saja mengingat hal itu selalu membuat hati yang dulu sudah sedikit terobati kembali pada semula.
"Sakit rasanya," gumam Elena menahan air mata, ia tidak boleh terlihat lemah di depan William.
William mengambil sesuap kue miliknya lalu mendaratkannya pada mulut Elena. "Bagaimana, manis kan?"
Wajah Elena mendadak memerah, ia tidak percaya William menyuapinya bahkan dengan sendok yang sama dengannya. "A--apa?!" Elena segera mengambil air putih dan meneguknya hingga habis.
"Seperti itulah endingnya, walaupun dulu kau merasa sakit tapi sekarang sudah tidak apa-apa, lupakan perlahan dan terima yang baru."
Ucapan William membuat Elena termenung sejenak lalu ia menatap William yang sedang tersenyum manis.
"Iya, kau benar."