ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
13



Jam istirahat berlalu, Elena sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Ia tidak ingin bertemu dengan William, mengingat laki-laki itu sudah menjadi anak tiri ibunya.


Tiba-tiba kepalanya terasa berat, ia langsung memijat kecil pelipisnya. "Uhh, kepalaku pusing."


"Pusing?" saut Erix yang tidak sengaja mendengar ucapan Elena. "Kau baik-baik saja? mau aku antar ke UKS?"


Elena menoleh kecil, dilihatnya Erix yang menatapnya dengan penuh khawatir. "Tidak, terima kasih."


"Tapi, El!?"


"Jika kau bicara terus, kepalaku rasanya mau pecah!" cetus Elena. Seketika erox pun diam.


Beberapa menit kemudian datanglah seorang guru matematika membawa beberapa lembar kertas.


"Hari ini ulangan harian," ujarnya tanpa basa-basi. Anak-anak sontak terkejut.


"Kenapa mendadak?!" protes salah satu murid yang mewakili pertanyaan semuanya.


"Karena aku gurunya!" ketusnya. Seketika wajah seramnya tersenyum. "Jangan khawatir, tidak susah kok."


"Senyuman iblis!" batin semua orang.


Saat kertas soal dibagikan satu persatu, tibalah saatnya giliran Elena. Guru itu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.


"Saking mudahnya, aku yakin orang yang pintar pun akan kesulitan mengerjakannya," bisik nya.


Elena tidak membalas ucapannya, ia melirik ke arah guru itu dan tersenyum kecil. "Saya merasa tertantang."


Sejak masuk, banyak yang tidak menyukai Elena. Baik guru maupun siswa, tidak ada bedanya.


Salah satu guru yang tidak menyukainya, adalah guru matematika. Kebenciannya bermula saat kelas satu SMA. Saat Elena membenarkan rumus yang diajarkan oleh guru itu, entah kenapa wanita tua itu malah membencinya.


Elena membaca soal sebelum menjawabnya, bibirnya lagi-lagi mengukirkan senyuman. "Apa yang susah?" batinnya meremehkan.


Baru lima belas menit Elena berhasil mengerjakan semuanya, gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan. Orang-orang yang melihatnya justru dibuat kesal karena kepintaran Elena.


"Ohh, sudah?" ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Meminta agar Elena memberikan kertasnya.


Elena merogoh kantong, mengeluarkan benda hitam tipis. "Sebentar." Lalu ia memfotonya.


CKREKKK...


Semuanya melongo melihat itu.


"Apa yang kau lakukan?!" Sentak sang guru. ia merebut kertasnya dari tangan Elena.


"Memfoto bukti."


"Apa?!"


"Maksud saya, Bu. Saya ingin memfoto jawaban saya, takut ada orang jahat yang mengambil kertas saya, bagaimana?" jelas Elena. Gadis itu menggunakan kemampuan aktingnya.


"Siapa yang ingin mengambil kertas soal milikmu? aku yakin hanya beberapa saja yang benar!"


"Walaupun hanya beberapa harus difoto dong, tidak tau kan siapa yang akan mengambilnya? siapa tau orang pintar pun tertarik dengan kertas soal saya?" lagi-lagi Elena membuat sang guru diam, hatinya sangat puas dengan itu.


Elena memfoto kertas ujiannya karena tidak ingin kejadian itu terjadi, saat semua kertas milik semua orang sudah kembali, miliknya hilang begitu saja. Saat itu Elena ingin mengerjakan ulang tapi guru itu menolak dengan alasan tidak ada waktu, dan gadis itu diberikan nilai pas-pasan.


"Aku tidak ingin termakan lagi."


"Maaf, Bu. Apakah saya boleh keluar? karena mengerjakan soal yang sulit itu kepala saya sangat sakit," ucapnya sambil memegang kepala.


"Hahh, sana!"


Elena berjalan terhuyung-huyung, alasannya tidak dibuat-buat. Kepalanya memang sangat pusing dan sakit, dengan bantuan tembok Elena berhasil sampai di UKS.


Ibu penjaga UKS dengan tanah menuntun Elena, gadis itu dibaringkan di kasur.


"Obatnya sudah habis, saya akan membelinya. Tunggu sebentar," ujarnya lalu keluar dari sana.


Elena menghela nafasnya, lalu terpejam. "Sudah berkali-kali pun, tetap saja menyakitkan."


Jam menunjukkan pukul empat sore, samar-samar Elena terdengar suara lembar buku yang terbuka.


Mata yang terasa berat itu ia paksakan terbuka. "Sudah bangun?"


Mendengar suara yang tidak asing itu Elena cepat-cepat melebarkan matanya. "William?!"


Saat Elena memanggil namanya, William tersenyum. "Ya, aku yang menjagamu."


Elena langsung terduduk, rasa sakitnya seketika kembali bagaikan akar yang tiba-tiba menjalar. "Ukhhh!"


"Kau baik-baik saja?!" respon William melihat Elena kesakitan. "Obat, ya obat!" William segera mengambil pil dan segelas air putih. "Ini, cepat minum agar tidak sakit lagi!"


Melihat pil bahkan mencium baunya saja Elena tidak suka, gadis itu segera memalingkan wajahnya. "Aku baik-baik saja."


"Walaupun minum obat pun jika waktunya sakit, ya tetap sakit!" ujar Elena. Laki-laki itu malah terlihat kebingungan.


"Maksudnya?"


Elena diam, tidak seharusnya ia mengatakannya pada William. "Tidak, bukan apa-apa."


Alis William mengkerut, ia tidak suka dengan penjelasan yang setengah-setengah, itu membuat otaknya harus berfikir untuk menemukan jawabannya.


Tiga puluh detik William berfikir, akhirnya ia mengerti. "Maksudmu, bukan cuma sekali kau merasakan sakit di kepalamu?!"


Elena berdehem sebagai respon, William menaruh gelas dan obatnya di meja, lalu ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.


"Hallo, aku butuh ambulance. Ada yang sakit parah,--"


Mendengar itu, Elena buru-buru turun dari ranjang, tubuhnya terhuyung saat ingin meraih ponsel William.


BRUKKK...


keduanya jatuh bersama.


"Apa yang kau lakukan?!" ketus Elena sambil mematikan panggilan.


"Anu, lebih baik kau turun dulu dari tubuhku."


Mendengar itu Elena langsung buru-buru bangun dan menyingkir dari atas tubuh William. "Itu bukan kesengajaan!" ketus Elena memalingkan wajahnya.


William mengacak-acak rambutnya. "Walaupun berat, tapi aku menyukainya," ucap William sambil tersenyum.


"Pikiranmu kotor sekali ya?" celetuk Elena mengambil tasnya yang sudah ada di kursi UKS.


"Apa?! bukan itu yang aku maksud!!!" geram William.


Elena tidak menggubris, ia berusaha berjalan tanpa terhuyung-huyung.


Namun tetap saja tidak bisa, badannya terasa lebih berat dari biasanya. Tiba-tiba, tubuhnya terhuyung ke depan, Elena pasrah mencium lantai.


namun bukanya lantai yang ia cium, melainkan sebuah tubuh dengan aroma khas yang tidak pernah berubah.


"Jika kesulitan, biasakanlah untuk meminta tolong," ujar William.


Elena menghela nafasnya, setelah itu ia menjauhkan wajahnya dari tubuh William. "Tolong bantu aku," pintanya ragu-ragu.


William tersenyum manis, lalu memapah Elena. "Dengan senang hati."


Elena memalingkan wajahnya, entah kenapa wajahnya mendadak menjadi panas. "Padahal aku ingin menjaga jarak darimu," batinnya.


Saat ini keduanya duduk bersebelahan di bus. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki itu malah ikut padahal jaraknya dengan rumah sangat berbeda jauh.


"Aku kan bilang sampai halte saja, kenapa kau ikut naik?" celoteh Elena sebal.


"Jalan-jalan!" jawab William sambil tersenyum senang.


"Terserah kau saja, asal jangan ikut ke apartemenku!" ketus Elena memberikan peringatan.


"Ha? apa? telingaku tersumpal kenangan!"


"Berisik!"


Sesampainya di depan apartemen, William lagi-lagi memapah Elena. Tidak peduli walaupun gadis itu berontak dan menyuruhnya kembali, William takan pergi sebelum Elena sampai di apartemennya dengan selamat.


"Sudah! aku bisa naik tangga sendiri," pinta Elena menjauhkan dirinya dari William.


Lagi-lagi William menarik tangan Elena. "Justru yang aku takutkan itu di tangga, bagaimana jika kau jatuh?"


"Kau sangat menyebalkan!" ketus Elena pasrah.


"Memang." Lagi-lagi William tersenyum.


"Sudah sampai, aku antar sampai kamar ya?" lanjut William. Elena membuka pintunya dan masuk.


BRAKKK...


"Ehh, aku tidak ditawari minum nih?"


"Pergi!" seru Elena dari dalam.


"Baik, semoga cepat sembuh. Elena," ujar William.


Elena mengintip dari jendela, memastikan laki-laki itu sudah hilang dari pandangannya atau belum.


William masih sibuk memainkan ponselnya di pinggir jalan, tepat di depan apartemennya. Tiba-tiba mata mereka bertemu, William tersenyum dan melambaikan tangannya, Elena terkejut dan buru-buru masuk kamar.


"Apa-apaan dia?!"