
"Tuhan tidak sayang Elena ya, Lili?" tanya Elena kecil. Lili menatap wajah Elena dan merasa kasihan dengan kondisi gadis tanpa orang tua itu.
"Tuhan sayang semua umatnya, Elena," Lili menanggapi pertanyaan Elena. Kali ini gadis itu menatap langit-langit.
"Kalo sayang kenapa Elena tidak boleh bertemu dengan Tuhan? Kenapa Elena sembuh ya? Tapi kenapa tuhan hilangkan semua isi otak Elena? Elena seperti gadis bodoh yang tidak tau apa-apa, Lili."
Kali ini Lili tidak bisa berkata-kata, ia menahan tangisnya. Air matanya sedikit memaksa dan mengalir begitu saja. Elena keheranan melihat Lili menangis.
"Lili, kenapa?" tanya gadis itu polos. Lili menggeleng kecil.
"Kenapa Elena berfikir begitu? Tuhan tidak hilangkan isi otak Elena, mungkin Tuhan punya alasan lain kenapa isi otak Elena hilang, tapi nanti akan tuhan kembalikan kok. Lagipula Elena tidak bodoh, Elena itu pintar."
Ucapan Lili membuat Elena diam sejenak, sepertinya kali ini gadis itu sedang berfikir dan kembali menyiapkan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.
"Kapan ya tuhan kembalikan? Orang yang tidak tau apa-apa itu disebut bodoh, dan Elena salah satunya."
"Elena, Tuhan pasti kembalikan apa yang pernah Tuhan ambil darimu, Lili tidak tau kapan itu, tapi Tuhan pasti kembalikan, jangan khawatir ya."
Elena mengangguk mengiyakan, kelihatannya gadis itu sudah mengantuk karena bicaranya yang tidak ada habisnya. Lili tidak keberatan berada disisi Elena, walaupun itu mengurangi jam tidurnya. Gadis kecil ini benar-benar membutuhkannya, ia akan kehilangan arah jika Lili meninggalkannya seorang diri.
Suara deringan alarm membuatnya terbangun, gadis itu kembali memimpikan masa kecilnya. Ia duduk, mengucek mata karena buram.
Dalam hatinya berdoa. "Tuhan, tolong jangan kembalikan apa yang pernah kau ambil dariku."
Elena Gabriela namanya, gadis pendiam yang cantik dan berIQ tinggi itu nyatanya memiliki masa lalu yang buruk, hanya saja Elena pandai dalam menyembunyikan perasaannya membuatnya terlihat seakan baik-baik saja.
Saat ini Elena duduk di bangku SMA semester dua, peringkat satu di sekolah dan kerap selalu mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat.
Banyak yang merasa iri dan juga kagum terhadap sosok gadis pendiam itu, Elena tidak bergaul dengan siapapun, kemanapun ia selalu sendiri membuatnya dicap sebagai gadis pintar yang sombong.
Namun itu hanya gosipan para manusia yang iri terhadap Elena, membuat image Elena buruk adalah satu-satunya cara mereka untuk mempermalukannya.
Nyatanya, seburuk apapun gosip yang tersebar, Elena tidak pernah ambil pusing tentang hal itu. Gadis itu seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi dan memilih untuk diam saja menikmati kehidupan sekolah.
Namun tetap saja, kehidupan itu sama halnya seperti warna hitam dan putih. Jika ada hitam, tentu ada putih bukan? seseorang pernah bertanya pada gadis pendiam itu. "Mengapa kau tidak membela diri saat mereka membicarakan keburukan mu? apa kau tidak marah?"
Elena malah tersenyum kecil dan berkata. "Itu hak mereka, aku tidak pantas ikut campur. Jika aku marah, aku tidak ada bedanya dengan mereka."
Suatu hari kelas Elena kedatangan murid baru, para gadis bersorak gembira karena bertambahnya jumlah teman sekelas mereka yang tampan, sementara murid laki-laki hanya mendengus kesal karena itu.
"Perkenalkan namaku, Erix Bastian."
Erix menatap Elena dengan penuh harap agar gadis itu terkagum melihatnya, namun kenyataannya Elena tertidur di tempatnya bahkan ia tidak tau jika orang baru akan menjadi teman sekelasnya.
"Tidak apa-apa, Erix. Masih banyak waktu, kau tampan, dan dia menyukaimu dulu," batin Erix meyakinkan dirinya.
Erik duduk tepat dibelakang Elena, ia merasa sangat senang karena setiap hari dapat melihat gadis yang disukainya bahkan dengan jarak yang dekat.
Setelah pelajaran selesai, semua bersiap pulang, lain dengan Elena, gadis itu harus pergi ke tempat perlombaan dan bisa pulang malam nanti.
Elena berjalan ke lorong-lorong, guru pembimbingnya sudah menunggu di depan sekolah, setelah sampai di latar depan Elena melihat seseorang berdiri disana sambil menatapnya.
Itu Erix, ia sengaja menunggu Elena untuk memperkenalkan dirinya secara pribadi pada gadis pendiam itu.
Saat jarak Elena mulai dekat dengannya, Erix langsung mengulurkan tangannya. "Hai, aku Er--"
Elena melewatinya.
"Erix--, tunggu!" Erix langsung mencegat Elena, ia menarik tangan gadis itu.
Tatapan tidak suka kini datang dari Elena, ia menatap tajam Erix. "Lepaskan!" tekan Elena. Erix langsung melepaskannya.
"Elena!" Teriak seseorang dari dalam mobil hitam. Itu adalah guru pembimbing, orang yang akan mengantar Elena ketempat perlombaan.
"Ah, maaf! aku benar-benar minta maaf!" ujar Erix sambil membungkuk kecil. Elena tidak memperdulikannya, ia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Erix yang masih diam ditempat.
"Tadi itu anak baru kan?" Angel bertanya. Tangannya masih sibuk menyetir mobil.
"Tidak tau," balas Elena singkat. Angel tersenyum kecil.
"Jangan terlalu dingin, atau nanti kau tidak akan pernah punya pacar."
"Aku tidak mengharapkan itu, Bu. tolong fokus menyetir saja." kali ini jawaban Elena sama seperti sebelumnya, jika ditanya seperti itu dengan mudahnya gadis itu mengalihkan topik atau menyuruh sang guru untuk diam.
Tentu saja sikapnya terhadap guru tidak termasuk pelanggaran, Elena memang seperti itu, semua guru sudah memakluminya, hanya saja yang tidak bisa diajak kompromi itu siswi-siswi yang merasa posisinya terebut oleh Elena.
Padahal, dari awal gadis itu tidak pernah merebut apapun milik mereka, salahkan otak mereka yang lambat merespon, salahkan sikap mereka yang terlalu banyak mencampuri urusan orang hingga urusan sendiri dilupakan, salahkan mereka yang ingin pintar tapi tidak ingin belajar.
Intinya semua masalah yang ada pada mereka, itu adalah salah mereka sendiri yang tidak bisa mengatur hidup agar lebih baik dari sebelumnya.
"Kebanyakan orang ingin sesuatu yang instan tanpa melalui sebuah proses panjang."
Saat ini Erix berada di kamarnya, ia membuka laci meja dan melihat selembar foto yang sudah sangat usang. Didalam foto itu terdapat tiga orang lawan jenis yang tertawa lepas tanpa beban.
Jarinya menelungkup pada foto gadis dengan rambut kuncir kuda dengan sebuah pita bunga berwarna putih, raut wajahnya terlihat sendu saat memikirkan hal menyenangkan dulu, namun saat ini hatinya terasa sakit saat tau gadis yang dulu tertawa bersama kini mulai mengabaikannya.
"Aku membencimu sekaligus mencintaimu, kau menyadarkan ku arti sebuah persahabatan, cinta, dan kehilangan secara bersamaan."
Erix mencium foto itu, lalu diletakkannya kembali pada tempatnya, ia menyalakan ponsel yang sejak dulu dimatikan daya olehnya.
Beberapa telefon dan pesan masuk layaknya seorang penggemar, jarinya menekan satu nama dengan pesan terbanyak diantara lainnya.
"Kenapa kau tiba-tiba keluar dari sekolah?"