
Lili dan teman-teman berkumpul disebuah cafe yang letaknya agak jauh dari rumah, mereka merayakan hari jadi pernikahan salah satu teman Lili.
Tidak jauh dari sana, William dan mamanya, Elis sedang menikmati kue dan secangkir kopi hangat. Berbeda dengan William, laki-laki itu memesan minuman dingin dengan kue lapis coklat dan keju.
William sedikit heran dengan Elis yang tiap detiknya melirik kearah meja yang berisi enam orang itu. Sesekali ia bertanya namun mamanya itu selalu mengalihkan pembicaraan.
Saat salah satu dari ke enam itu berjalan menuju toilet, tiba-tiba Elis ingin pergi ke toilet juga.
William yang curiga dengan hal itu diam-diam mengikutinya dari belakang.
"Kau Lili bukan?" ucap Elis.
"Iya, anda siapa?" jawab Elis dengan raut wajah bingung.
"Aku ibu dari anak yang kau asuh."
Lili terkejut bukan main, ia tidak menyangka pada akhirnya seseorang merebut Elena darinya.
"S-saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan."
"Jangan pura-pura tidak tau, aku sudah menyelidiki ini," ucap Elis. Lalu ia mengeluarkan selembar kertas perjanjian asuh anak. "Aku akan menjamin biaya hidupnya, asal kau tidak melepaskannya."
"Apa maksudnya?"
Lili benar-benar dibuat bingung oleh setiap ucapan Elis.
"Tolong anggap dia sebagai anakmu selamanya, aku tidak bisa mengurusnya karena aku sudah memiliki keluarga sendiri."
Ucapan yang keluar dari mulut Elis seperti bisa yang disemburkan langsung dari mulut ular kobra, sangat menyakitkan dan mematikan. Walaupun hatinya sedikit lega karena tujuannya bukan untuk mengambil Elena, tetap saja. Siapa ibu yang tega melakukan itu pada anaknya sendiri?
"Apa kau benar-benar manusia?" tanya Lili.
"Apa maksud pertanyaan mu itu?"
"Manusia pasti memiliki hati nurani walaupun sekecil apapun itu, tapi kau? apa kau iblis yang menyerupai manusia?! melahirkan seorang anak namun kemudian kau telantarkan?! aku benar-benar tidak habis pikir!" tekan Lili emosi.
Ia marah karena orang yang dirindukan Elena tidak pernah sekalipun merindukannya, bahkan sampai memikirkannya. Hatinya sakit karena dulu tiap malam Elena selalu bertanya-tanya dimana ibunya berada.
"Kau tidak pernah tau penderitaan gadis itu selama ini kan? saat umurnya masih kecil--"
"Elena pernah tertabrak truk dan hilang ingatan kan? koma selama tiga bulan dan saat sadar kau sudah disampingnya? berlagak seperti seorang ibu yang sesungguhnya?" jelas Elis menyela ucapan Lili.
"Harusnya kau senang karena orang sepertimu yang selamanya tidak akan pernah punya anak mendapatkan Elena kan?" lanjut Elis lagi. Kali ini Lili tidak berkata-kata, ia tidak tau sejauh mana perempuan didepannya itu mengetahui segalanya.
"Tidak usah sok peduli dengan kehidupan pribadi gadis itu, sekarang beri tau aku nomor rekening mu. Dalam lima menit, uang akan langsung masuk."
Lili meraih tas yang sejak tadi digantung di tembok sampingnya. "Tidak butuh, aku memang ibunya! jangan harap kau ambil putriku itu!" tekan Lili lalu keluar dari sana.
William yang mendengar jelas pembicaraan itu dari luar karena pintu yang tidak tertutup rapat menghentakkan kakinya ke ban mobil setelahnya ia masuk dan melaju sekencang mungkin.
Keesokan harinya, William datang ke sekolah dengan ekspresi berbeda. Jika biasanya laki-laki itu datang ke kelas Elena dan mengucapkan selamat pagi, hari ini ia tidak melakukannya.
Bahkan Vienna dan Raihan pun merasa heran akan sifat William yang aneh itu.
"Apa kau yang membuatnya marah?" bisik Vienna. Raihan menggeleng kecil.
"Apa aku terlihat seperti orang yang kurang kerjaan?!" ketus Raihan kesal.
"Hahaha, memang begitu kan?" ejek Vienna.
"Enak saja! mungkin marah karena tidak mendapatkan uang jajan?" tebak Raihan. Vienna berfikir sejenak.
"Mungkin saja!"
"Biarkanlah, nanti jam istirahat juga dia akan kembali heboh." Vienna terkekeh sambil mengangguk setuju.
Namun saat jam istirahat, William sama sekali tidak beranjak dari tempatnya sedikit pun. Walaupun Vienna sudah mencoba menggunakan cara jitu seperti biasanya untuk memancingnya namun itu tidak berhasil sama sekali.
"AKU AKAN MAKAN BERSAMA ELENA!!!"
Sebuah botol bekas melayang dan mendarat tepat di kepala Vienna.
"BERISIK! CEPAT TEMUI ELENA TERSAYANG MU ITU! SUDAH BERAPA KALI KAU BICARA SEPERTI ITU?!" Teriak ketua kelas.
"Hah?! iri bilang!" seru Vienna tak mau kalah.
"Tidak ada dari satu orangpun disini yang iri! kau saja yang berlebihan!"
"Tidak, aku memang seperti ini. Dan apa maksudmu melempar ku botol?!" Vienna langsung mengambil tempat minum Raihan yang berisi penuh dan melemparnya dengan kencang.
Ketua kelas pun, terbaring tak berdaya.
Elena menatap Vienna dan Raihan, seperti biasa keduanya menemui Elena untuk makan siang.
"Apa kalian sudah pacaran?" celetuk Elena. Keduanya langsung terbelalak.
"Hah?! apa maksudmu, itu hal mustahil!" pekik Raihan dengan gelagapan.
"Ya, sangat mustahil!" lanjut Vienna yang sama gelagapan nya.
"Ya, soalnya ini pertama kalinya kalian datang berdua. Dimana William?"
Raihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Vienna pun enggan untuk menjawab.
"Ada apa?" tanya Elena lagi. Ia makin penasaran dengan apa yang terjadi.
"Begini, seperti laki-laki itu sedang datang bulan."
Ketiganya, mengintip kelas. Dan benar saja William sama sekali tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya.
"Lihat itu, betapa menyeramkan nya seorang manusia humoris saat sedang marah?!" bisik Vienna. Raihan mengangguk setuju, Elena hanya menatap dengan tatapan datar.
Elena berjalan masuk membuat keduanya tersentak, gadis itu tidak suka sembunyi-sembunyi, ia lebih suka menanyakan langsung daripada tidak akan pernah tau inti masalahnya.
"Ada apa?" tanya Elena. William terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. "Aku dengar kau sedang datang bulan?" celetuknya lagi membuat siapapun yang mendengarnya ternganga lebar.
"BODOH!!!" umpat Raihan dan Vienna secara bersamaan.
William langsung beranjak dari duduknya, dan keluar dengan cepat. Walaupun Raihan dan Vienna sudah menghalaunya, namun tidak bertahan lama.
Elena memiringkan kepalanya, ia tidak mengerti sifat laki-laki yang hanya bisa diam tanpa bicara tentang masalahnya, menurutnya itu membuang-buang waktu untuk mengurusi hal seperti itu.
"Sepertinya dia memang datang bulan," ucap Elena menghampiri keduanya.
"Kau ini bodoh atau terlalu jenius?! mana ada laki-laki yang datang bulan?!" geram Raihan. Ia menahan emosinya agar tidak sengaja menarik rambut panjang Elena.
"Tapikan kau yang bilang begitu."
Vienna menyenggol lengan Raihan. "Memang kau yang bicara seperti itu duluan! jangan salahkan Elena!"
Raihan hanya pasrah disalahkan, ia tidak mau menambah pikiran lagi. "Lalu sekarang bagaimana?"
"Sepertinya, ada sesuatu yang tidak ingin dia sampaikan pada kita," tebak Elena. Keduanya saling menatap.
"Apa benar?" tanya Vienna pada Raihan.
"Mana aku tau!" tekan Raihan kesal.
"Biarkan saja, nanti juga kembali dengan sendirinya." Elena berjalan meninggalkan keduanya, gadis itu ingin melihat kelas Sia. Sejak jam istirahat sampai bel masuk tidak ada tanda-tanda kemunculan gadis mungil itu.
"Aku punya firasat tidak enak."