ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
16



Di sebuah rumah mewah, seseorang wanita paruh baya sibuk membaca dokumen mengenai status pribadi seseorang dari tahun ke tahun.


Dengan statusnya saat ini tidak sulit untuk mencari informasi yang hanya bisa didapatkan dengan uang.


"Walaupun begitu, sebagai seorang ibu, aku ingin mengetahui segalanya tentang putriku."


Saat membuka dokumen ke dua, betapa terkejutnya ia melihat sebuah kertas keterangan dokter yang terselip dan terjatuh ke lantai.


Saat membacanya, seluruh tubuhnya bergetar hebat, hatinya seperti teriris, ia tidak tau jika putrinya yang baru berumur lima tahun sudah mengalami kecelakaan parah.


"Putriku, Elena pernah hilang ingatan?!"


TOK... TOK


Belum selesai ia membaca semua dokumennya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Dengan buru-buru, ia langsung menyimpan dokumen itu di tempat yang aman.


"Mama, kata nenek kau tidak enak badan?" ujar William dari luar kamar.


Nenek itu adalah pembantu rumah yang bertugas menyiapkan makanan, walaupun umurnya sudah tua ia sangat suka membuat makanan karena itu sang nenek pun mengabdi pada keluarga William.


"O-oh, ya Will. Maaf membuatmu cemas, Mama ingin kembali lanjutkan tidur."


Mendengar itu William masih penasaran apakah mamanya itu benar-benar tidur karena suara yang didengarnya seperti suara orang menangis.


"Baik, jaga kesehatanmu, Ma."


Di tempat lain, Elena sibuk menemani Vienna berkeliling. Dari mulai pergi ke toko boneka, sampai ke taman safari untuk melihat binatang langka.


"Energi anak muda memang hebat ya?" gumam Elena yang sudah terengah-engah. Gadis itu terduduk di kursi taman sambil menikmati angin sore hari yang sejuk.


Tanpa Elena sadari, seseorang mendengar gumaman nya. "Kau bicara seperti orang tua saja."


Elena langsung menoleh ke belakang, dilihatnya Erix dengan kemeja dan topi hitam di kepalanya sambil memamerkan senyuman manisnya.


"Kau ini seperti ekor saja ya? mengikuti terus," ucap Elena dengan wajah datarnya.


"Tidak apa kau anggap aku begitu." Erix berjalan memutar ke depan kursi. "Apa aku boleh duduk?" tanyanya sambil menunjuk tempat kosong di sebelah Elena.


"Tidak."


"Baik, terima kasih." Erix langsung duduk, ia tidak peduli dengan tolakan Elena.


"Aku bilang tidak bodoh!" celetuk Elena kesal. Erix menatapnya sambil tersenyum.


"Aku tidak peduli penolakan."


"Kalau begitu, aku akan pergi sebelum kau datang," ucap Elena.


"Elena, boleh aku bertanya?" tanya Erix tiba-tiba. Elena mengangguk kecil. "Apakah kau menyukai William?"


Elena tersentak, ia menatap lekat wajah Erix. "Kenapa tiba-tiba?"


"Jawab saja!"


"Entahlah, aku tidak tau." Elena kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Kau tidak boleh sampai menyukainya!" pinta Erix.


"Kau siapa melarang-larang?"


"Karena hanya aku yang boleh menyuka--"


"Maaf, lama. Aku tidak tau antriannya sangat panjang!" seru Vienna menyela ucapan Erix secara tiba-tiba. "Eh? kenapa ada orang lain di sini?"


Vienna berdiri tepat didepan keduanya, ia heran melihat laki-laki asing yang terus-menerus menundukkan kepalanya.


"Siapa dia, El?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Tidak tau," jawab Elena. Spontan Erix terkejut karenanya.


"Ohh, hebat juga bisa disini ya?"


Vienna terus menerus menatap Erix yang sama sekali tidak berkutik, laki-laki itu nampak seperti seorang anjing yang takut pada majikannya.


"Hei, tatap aku!" pinta Vienna. Dengan cepat Erix menggeleng. "Jika tidak, akan aku patahkan lehermu hingga kau bisa terus menunduk seumur hidup."


"Aku benci gadis kasar sepertimu!" cetus Erix. walaupun ketakutan terbesarnya masih tetap identitas aslinya yang mungkin dapat diketahui dengan mudah oleh Vienna.


Sebelum pergi Erix membisikan sesuatu pada Elena.


"Maaf, El. Inilah kenapa aku tidak menerima tawaran mu tadi. Aku benci temanmu yang satu ini, bahkan sampai sekarangpun."


Setelah itu, Erix langsung berlari meninggalkan keduanya. Vienna memberikan minuman pada Elena.


"Besok-besok, aku tidak ingin pergi denganmu lagi," gerutu Elena menancapkan sedotan pada minumannya.


"Jangan begitu, hatiku terasa sakit mendengarnya!" protes Vienna.


Elena menatap Vienna tidak percaya. "Jangan-jangan kau suka aku?!"


mendengar hal itu Vienna langsung bergidik ngeri. "Apa tidak ada lagi laki-laki didunia ini sampai aku harus belok?" celoteh Vienna kesal.


Elena terkekeh kecil, melihat raut Vienna yang seakan mengatakan dirinya masih bergantung pada laki-laki itu menjawab pertanyaannya dengan jelas.


"Baiklah, aku pulang," ujar Elena beranjak dari duduknya.


"Tunggu, kau bahkan belum menghabiskan minuman mu!"


Elena menatap minuman gelasnya. "Oh, ini sangat enak, aku bahkan tidak rela menghabiskannya."


***


Leon membuka pintu apartemen dengan sangat hati-hati, ia berjalan mengendap-endap di lorong gelap rumahnya. Berharap agar orang itu tidak mengetahui kedatangannya.


Sialnya, baru saja sampai di depan pintu kamarnya, lampu tiba-tiba menyala. Dilihatnya sang kakak yang sudah berdiri di samping pintu keluar.


"Bagus sekali ya, anak kecil baru pulang jam segini?" ujar Sia sambil tersenyum.


"Tak usah sok mengatur-atur!" Leon mengeluarkan kunci kamar dari dalam sakunya.


"Bagus sekali ya seorang anak kecil cara bicaranya sudah seperti om-om."


Karena kesal Leon tidak bisa membuka pintunya dengan benar, berkali-kali kunci yang dipegangnya itu terjatuh karena salah memasukan.


"Dengar-dengar, kau sudah menjadi pintar ya, sampai tidak pernah datang belajar ke Elena lagi?"


"Berisik! aku datang ataupun tidak itu tidak ada hubungannya dengan mu!" bentak Leon. pintunya sudah berhasil terbuka, laki-laki kecil itu langsung cepat-cepat masuk kedalam kamarnya.


"Tentu saja ada bodoh, aku kan kakakmu!"


Sia mengambil ponselnya, lalu ia langsung mengirim pesan pada Elena agar membantunya meluluhkan hati sang adik.


"Mana bayaran ku?" pinta Elena mengulurkan tangannya.


"Dimana-mana, kerja dulu baru minta bayaran!" geram Sia kesal. Elena masih menunjukan wajah datarnya.


"Kalau begitu aku permisi."


"Ahh, iya-iya. Lukisan ini sudah menjadi milikmu!" ujar sia dengan nafas yang masih terengah-engah karena berlari ke dalam mengambil bayaran yang diinginkan Elena.


Elena tersenyum senang mendapatkan lukisan abstrak yang terdiri dari putih, biru dan merah. Melihatnya saja membuat hati senang.


"Bagaimana pekerjaanmu?"


Elena menyimpan lukisan itu dengan hati-hati, lalu berjalan menuju kamar milik Leon.


Hanya bicara sedikit, pintu kamarnya sudah terbuka lebar, Sia yang melihat itu hanya terdiam.


"Jadi kau punya masalah dengan teman sekelas mu?" tanya Elena sambil memakan camilan milik Leon.


Laki-laki kecil itu hanya mengangguk sambil menunduk. "Padahal aku dulu yang menyukai Fera!" geram Leon kemudian.


"Lalu?" Kali ini Elena beralih meminum Yakult milik Leon.


"Aku tidak terima! padahal aku sudah jujur padanya tapi kenapa dia selalu mengajak Fera belajar bersama?!" lanjut Leon.


"Hmm, sepertinya aku tau kenapa kau sampai membolos dari les ku."


"Apa? secepat itukah kau mengetahuinya?!"


"Pertama, boleh aku habiskan ini?" tanya Elena menunjukkan Camilan yang sudah tersisa satu.


"Itu sudah habis, sialan!"