ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
14



Elena berlari diantara jalanan gelap, tidak ada satupun titik cahaya. Keringat dinginnya terus mengalir membanjiri wajah.


TAP... TAP... TAP


Langkah yang terdengar tenang itu terus mendekat, Elena tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, walaupun berlari sekencang mungkin langkah kaki dibelakangnya seakan berjarak beberapa meter saja.


SREKKK... KREKKK


Elena memejamkan matanya, berharap jika ini hanya mimpi buruk saja, rasanya ia tidak sanggup berlari lagi.


Saat terus berlari, gadis itu menabrak sebuah tembok didepannya, tangannya meraba memastikan jika itu memang benar-benar tembok.


"Jalan buntu?"


TAP... TAP... TAP


Suara itu makin jelas, lagi-lagi Elena memejamkan matanya, hatinya terus berdoa agar dirinya terbangun dari mimpi buruk itu.


Beberapa detik terasa hening, tidak ada suara sedikitpun. Elena mulai yakin jika dirinya sudah aman.


Saat membuka matanya, perempuan dengan wajah menyeramkan tepat didepan wajahnya, dengan senyuman lebar seakan menunggu saat dirinya membuka mata.


"KYAAAA!!!"


Elena terdiam, ternyata itu hanya mimpi buruk, keringat dinginnya masih terasa nyata, tubuhnya seakan lumpuh secara mendadak. Elena menghela nafasnya lega, bersyukur jika itu hanya mimpi semata.


TOK... TOK... TOK


Tubuh Elena seketika bereaksi, ia tidak tau kenapa tiba-tiba rasa takut dalam mimpinya terbawa sampai bangun.


TOK... TOK


Matanya melirik kearah jam alarm berbentuk kucing di lemari samping tempat tidurnya. "Pukul sebelas, siapa yang datang?"


Suara ketukan itu kian terulang lagi, Elena tidak berniat membukanya namun telinganya merasa risih akan hal itu.


Dengan terpaksa, Elena segera turun dari tempat tidur. Berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar, jujur saja dirinya sangat takut dengan hal mistis apalagi mengingat baru saja dirinya bermimpi bertemu sosok menyeramkan.


TOK... TOK... TOK


Tangannya sudah memegang knop pintu, dengan gemetaran tentunya. Otaknya sudah menebak sosok yang ada didepan pintunya saat ini, namun hatinya terus mendorong agar dirinya memberanikan diri.


"Tuhan, jika didepan ku adalah sosok menyeramkan, tolong hilangkan ingatanku nantinya!" batinnya berdoa.


Setelahnya, ia membuka pintu dengan mata yang tertutup rapat.


"Eh? kenapa tidak ada suara? apa jangan-jangan benar-benar hantu?" gumamnya yang masih tidak berani untuk membuka mata.


"Siapa yang kau panggil hantu?"


Elena terkejut, suara yang tidak asing terdengar jelas ditelinga nya. Perlahan matanya terbuka, dilihatnya dari bawah sampai atas. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Vi--vienna?!"


Elena memberikan gelas berisi jus jeruk. "Silakan," ujar elena. Lalu ia kembali duduk di didepan Vienna.


"Terima kasih!" responnya sambil tersenyum ramah.


Gadis cantik dengan jaket kulit hitam dan jeans ketat itu adalah Vienna Clarissa Nara, teman masa kecil Elena yang dulu pergi ke luar negeri karena alasan pendidikan.


Rasanya canggung jika tiba-tiba berhadapan dengan orang yang dulu pernah sedikit cekcok karena masalah kecil.


"Bagaimana kabarmu, Elena?" tanya Vienna.


"Sepertinya tidak ya?" gumam Vienna merasa bersalah. "Maaf, ya."


Elena meneguk minumannya tiga kali, lalu menjawab. "Kau tidak salah, kenapa minta maaf?"


"Karena aku egois, meninggalkan temanku hanya untuk kepentingan pribadi."


Elena menatap Vienna, teman kecilnya itu kini terlihat seperti seorang yang menyesal karena suatu hal.


"Maaf!"


"Sudahlah, mengejar mimpi itu juga penting, justru aku sangat bersyukur kau masih mengingatku walaupun sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun," ujar Elena sambil terkekeh kecil.


Walaupun Vienna melihat tawa di bibir Elena, ia masih bisa menebak dari gerak gerik matanya yang tidak biasa, gadis itu tidak baik-baik saja, dulu bahkan sekarang pun.


"Jadi, kenapa kau pulang?" lanjutnya. Vienna menopang dagunya sambil tersenyum.


"Entahlah, karena bosan mungkin?" jawab Vienna. Elena hanya merespon dengan deheman. "Apa kau, tidak penasaran dengannya?" ujar Vienna mengubah topik.


Seketika wajah Elena berubah menjadi dingin, bukan karena dirinya melainkan karena pertanyaan yang menyangkut orang yang dulu pernah menjadi nomor satu di hati Elena.


"Aku tidak tertarik."


Tanpa Elena sadari, Vienna tersenyum lega. Ia sangat lega karena Elena sudah tidak terpaku pada satu orang saja yang pada akhirnya menyakiti hatinya.


Yang Vienna tau, Elena adalah tipe gadis yang akan terus memperjuangkan cintanya. Mengingat dulu gadis itu sangat tergila-gila pada laki-laki yang tidak pernah mengaanggapnya ada.


"Baguslah," ujar Vienna bernafas lega.


Bukan hanya Vienna yang lega karena Elena sudah tidak menyukai laki-laki itu, sebaliknya Elena pun senang karena Vienna masih tetap sama.


"Ini, aku ada sesuatu untukmu," lanjutnya lagi memberikan sebuah bingkisan coklat pada Elena.


"Apa ini?" tanya Elena setelah menerima bingkisan itu.


"Hadiah kecil." Vienna beranjak dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar, disusul oleh Elena. "Maaf menganggu malam-malam, aku hanya tidak tenang jika belum bertemu denganmu."


"Tidak apa, terima kasih atas kunjungan dan hadiahnya."


"Oh, ya! besok jangan terkejut ya? kau akan bertemu denganku setiap hari," pesan Vienna sambil mengedipkan sebelah matanya.


Elena hanya memiringkan kepalanya sedikit, tanda dirinya tidak mengerti ucapan Vienna. "Kau pulang sendiri?" tanyanya kemudian.


"Iya, jangan khawatir. Aku tidak takut hantu," jawabnya membuat Elena memalingkan wajah.


"Siapa yang takut," gumamnya kecil.


"Hahaha, dan satu hal yang ku lupakan."


"Apa--!"


Tiba-tiba Vienna memeluk Elena dengan erat, meluapkan semua rasa rindunya yang selama ini tertahan oleh jarak.


"Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan terus disisi mu," bisik Vienna dengan lembut.


Tangan Elena bergerak, membalas pelukannya. "Iya, terima kasih, Vi."


Setelah kepergian Vienna dari rumahnya, Elena terduduk kemudian. Air matanya sudah tak tertahankan lagi, perlu diperjelas jika itu bukanlah air mata kesedihan melainkan kebahagiaan yang dirindukannya sejak dulu.


"Terima kasih Tuhan."