ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
7



William melemparkan tasnya asal, ia langsung merebahkan diri di kasurnya yang nyaman. Ia masih tidak percaya jika hari pertamanya masuk sekolah justru malah bertemu Elena, sebuah keberuntungan besar mengingat bahwa dirinya sudah tertarik pada gadis pendiam itu sebelum masuk sekolah.


Sebuah senyuman terukir di bibir William, kini ia ingin cepat-cepat menanti hari esok agar bisa bertemu dengan Elena lagi.


Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar, William langsung menyahut. "Kenapa?"


"Makan, bodoh!"


Ternyata itu Raihan, William segera mengganti baju dan keluar turun untuk makan.


"Ada apa Will? ini pertama kalinya kau memasang wajah senang saat pertama sekolah," ujar Elis, mama dari William. "Apa bertemu gadis cantik?" lanjutnya lagi.


Benar kata pepatah, jangan membohongi orang tua karena insting mereka sangat tajam. Elis dengan mudahnya menebak ekspresi putranya yang terus tersenyum kecil sejak tadi.


"Bukan bertemu gadis, Tante. Tapi dia itu kerasukan," celetuk Raihan asal membuat mimik wajah William kembali kesal.


"Iri bilang bos!"


Elis hanya tersenyum melihat putra dan keponakannya yang setiap hari beradu mulut membuat isi rumah menjadi hidup karenanya.


"Dulu hanya ada kesunyian."


Elis tertegun mendengar William memukul piring dengan sendok karena perdebatannya dengan Raihan yang belum selesai.


"Dia sudah makan belum ya?" gumamnya dalam hati.


Tampa sadar Elis memikirkan seseorang yang sama berharganya dengan keluarga saat ini, William yang merasa sang mama melamun langsung bertanya.


"Mama, kenapa?"


Elis terkejut dan kembali memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. "Hm? tidak apa-apa kok, Will."


William mengangguk-angguk mengerti, sejak kemarin tingkah Elis menjadi sedikit aneh. "Apa terjadi sesuatu pada mama kemarin?" batinnya penasaran.


"Kau ada kegiatan besok?" tanya Raihan berganti topik, William yang sedang meneguk air langsung menggeleng.


"Bagus, ayo kita joging pagi."


William mengangguk dan mengacungkan jempolnya mantap.


Keesokan harinya William berdiri dengan kesal, disampingnya ada Raihan yang sedang melakukan peregangan sebelum memulai joging.


"Kau pikir arti joging pagi itu apa?" celetuk William.


"Joging yang dilakukan pagi hari?" jawab Raihan santai.


William melemparkan handuk kecil ke wajah Raihan, handuk yang sedari tadi menggantung di lehernya itu mendarat pas di sana.


"Ini sudah mau tengah hari bodoh!" umpat William kesal, ia menatap jalanan yang sudah dihiasi cahaya panas dari matahari yang tidak biasa.


"Kenapa kau marah? kan kau sendiri bangun lima menit lebih awal dari ku."


William memalingkan wajahnya, memang dirinya juga salah karena telat bangun tapi tetap saja mengingat lari pagi pada siang hari itu sangat creepy untuknya.


"Kan kita bisa melakukan Minggu depan," gumam William yang masih tidak mau untuk joging.


"Tidak! sesuatu yang sudah direncanakan kemarin harus dilakukan sekarang, jika tidak kau bisa gagal nikah," jelas Raihan dengan wajah serius, William yang mendengar itu malah kesal bukan main.


"Apa hubungannya dengan nikah woy?!"


"Mitosnya begitu, ayo jalan!"


Raihan berlari duluan, William menghela napas pasrah. "Kau memang psikopat Rai!" serunya lalu menyusul dari belakang.


Keduanya berlari kecil dengan beriringan di samping jalan raya, keringat William sudah bercucuran akibat sinar matahari yang menyengat.


Sementara Raihan? Laki-laki itu masih stay cool dengan kacamata hitam dan topinya yang dapat menghalau sinar matahari.


"Sial!" umpatan yang ke sekian kalinya terucap kembali oleh lisan William.


Jalanan yang terlihat sepi itu menampakkan sosok anak laki-laki dengan kresek abu-abu ditangannya berjalan menyebrang, William melihat satu mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi.


Karena William ragu mobil itu akan berhenti karena lampu lalulintas masih berwarna hijau, ia terus menatapinya hingga jarak mobil dengan sang anak semakin dekat, William langsung berteriak.


Dengan cepat, Raihan berlari dan melompat, menangkap anak laki-laki itu, keduanya saling berguling dan benar saja, mobil truk itu menabrak tiang listrik.


Alasan William berteriak nama Raihan dan menyuruhnya menolong anak itu karena ia tau sepupunya adalah seorang atlet profesional yang sudah memenangkan berbagai penghargaan bahkan sampai tingkat internasional.


Suasana yang tadi sepi kini banyak didatangi orang-orang, tidak ada yang bisa mereka lakukan, hanya bisa melihat dan memfoto kejadian lalu pergi.


"Ya, itulah manusia jaman sekarang," batin William sambil menggelengkan kepalanya kecil.


William mendekati Raihan yang terduduk dan anak laki-laki yang meratapi kresek berisi minuman yang sudah tidak utuh. "Minumanku."


"Sudahlah, yang penting nyawamu selamat," ujar Raihan sambil menepuk kotoran yang menempel di celananya.


"Hmmm."


William melihat luka di bagian lutut kiri, ia mengeluarkan ponsel berniat memanggil ambulance. "Kau terluka, aku panggil ambulance sekarang."


Anak laki-laki itu terbelalak, ia langsung menggeleng cepat. "Tidak, aku baik-baik saja! lihat," ia beranjak dari duduknya, berniat untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa."


Berniat untuk berdiri, ia malah langsung terduduk kembali karena merasakan sakit yang luar biasa di pergelangan kakinya.


William yang melihat itu langsung menebak. "Kakimu ter kilir?"


"Mungkin," balas anak itu singkat. "Tapi tolong jangan telepon ambulance, aku tidak ingin kakakku tau," pintanya.


William menghembuskan napas dan berjalan mendekat lalu duduk dengan membelakangi. "Naik," ucapnya yang berniat menggendong anak malang itu.


"Tapi aku berat," ujar anak itu merasa tidak enak.


William tersenyum dan menunjuk Raihan. "Kita bisa bergantian," raut Raihan seketika berubah masam, ia kesal karena William seakan selalu mengaturnya.


"Siapa namamu?" tanya Raihan ditengah perjalanan.


"Leonal," jawabnya. William mengangguk kecil.


"Apa rumahmu masih jauh?" tanya Raihan yang sudah mulai bosan.


"Tidak, sebentar lagi."


Sesampainya disebuah gedung apartemen, keduanya menaiki tangga menuju kamar yang dikatakan Leonal, tentu saja anak itu masih tetap setia digendong oleh William.


Raihan menekan bel pintu, menunggu respon dari dalam, beberapa detik kemudian suara derit pintu pun terdengar, terlihat seorang gadis yang tidak asing untuk William.


"Elena?!"


"Kakak!"


Elena sontak langsung menutup kembali pintunya, ia juga sama terkejutnya dengan William karena kedatangan yang tiba-tiba ditambah lagi, dengan bocah iblis?


Gadis itu kembali membuka pintu, hanya untuk sekedar memastikan bahwa matanya tidak salah melihat Leonal.


Dan ternyata benar, itu sosok Leonal, dilihat dari kulitnya yg putih dan wajahnya yang khas mirip Sia membuatnya sangat yakin.


Elena kembali menatap kedua orang yang sudah ia ingat di otaknya itu. "Kenapa bisa dengan mereka?" Batinnya.


"Hei, cepat bawa kami masuk, disini panas!" celetuk Raihan sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.


"Maaf?" ucap Elena bingung.


"Dia adikmu bukan? lihat, aku menolongnya dari maut," celoteh William, Elena sedikit memiringkan kepalanya.


"Adik?"


Leonal yang merasa kebohongan akan terungkap sebentar lagi, ia langsung membuka mulut. "Kakak, cepat obati aku, ini sangat sakit."


"Aku takkan tertipu oleh mulut iblis mu, bocah!" ketus Elena yang tidak mau tertipu oleh Leonal lagi. "Kalian salah rumah, dia adik Sia Fransiska, lihat pintu disamping itu? itu rumahnya."


"Tidak, Elena kau kejam! aku ini murid mu, hampir tertabrak karena membelikan minuman untukmu!" seru Leonal tidak terima, ia bahkan menggoyangkan tubuhnya membuat William sedikit kewalahan karenanya.


"Murid?"