ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
2



Sinar matahari masuk lewat celah-celah jendela, menyinari seorang gadis yang masih menelungkup dalam selimut tebalnya.


Sebuah suara gedoran pintu terdengar nyaring, Elena menutup telinganya dengan bantal, ia tau pasti anak iblis itu yang melakukannya.


"Elena! Elena! Elena!"


Seperti biasa dia memanggil namanya layaknya seorang polisi, Elena membanting bantalnya asal dan berjalan menuju pintu keluar.


Cklekkk...


Seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun berdiri dengan raut wajah tanpa dosa, ia tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.


"Good morning! aku kesini ingin mengembalikan gelang yang aku ambil satu Minggu yang lalu," ujarnya sambil menunjukkan satu manik bulat berwarna putih ditangannya.


Elena mengkerut kan keningnya. "Apa itu nampak seperti sebuah gelang?"


Anak laki-laki itu menggaruk kepalanya sambil terkekeh. "Hanya ini yang tersisa, berterima kasihlah padaku yang masih menjaganya walaupun sekarang tidak utuh."


Brakkk....


Elena menutup pintu dengan keras, ia tidak peduli lagi dengan bocah iblis itu.


"Tunggu! aku bisa jelaskan, sebenarnya aku kesini bukan cuma untuk mengembalikan gelang yang tidak utuh!" teriaknya sambil terus menggedor-gedor pintu.


"Berisik! aku mau tidur, sekali kau gedor lagi akan aku potong tanganmu!" tekan Elena mengancam. Setelah itu tidak ada suara lagi, Elena tersenyum lega, akhirnya ia bisa melanjutkan tidurnya.


"AKU TIDAK PEDULI!"


Kali ini gedoran nya tidak main-main, Elena mengusap pelipisnya. Kepalanya sudah sakit ditambah seorang anak yang tidak pernah berbuat baik padanya membuat kepalanya bertambah sakit.


kali ini Elena berdiri dengan kedua tangannya yang masih mengepal, ingin sekali ia menonjok bocah iblis yang saat ini sedang duduk manis di Sofanya. "Katakan, apa ada hal lain selain menggangguku? Kapan kau bisa dewasa, Leo?"


Leonal Frensio, adik laki-laki Sia Fransiska sekaligus tetangga sebelah apartemennya, bocah itu tidak pernah melakukan hal baik terhadap Elena, maksud dari hal baik itu ia selalu menganggu pada gadis yang memang tidak suka akan hal itu.


"Maaf."


Elena menyerngit, tidak biasa anak itu berinisiatif untuk meminta maaf duluan. "Apa? aku tidak dengar."


"Bodoh!" umpat Leonal kesal.


"Keluar, aku tidak butuh bocah kurang ajar!" Tekan Elena sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


"Maaf! aku benar-benar minta maaf!" Seru Leonal meminta maaf. Elena melihat sesuatu yang tidak biasa dimata anak laki-laki itu.


"Katakan, apa mau mu?"


Leonal masih ragu-ragu untuk menjawab, pasalnya ia tidak suka meminta bantuan apalagi pada orang yang selalu menjadi sasaran kenakalannya.


"Tolong ajari aku matematika," Pinta Leonal dengan suara pelan. Elena hampir tidak mendengarnya.


"Ajari apa?" Tanya Elena. Ia ingin memastikan apakah telinganya tidak salah dengar dengan permintaan yang tidak biasa dari Leonal.


"Ajari aku matematika!" Teriak Leonal kesal.


Elena menutup mulutnya, ia hampir saja terbahak-bahak saat mendengar permintaan Leonal. "Apa aku tidak salah dengar? Dimana bocah tengik yang selalu memamerkan kepintarannya kemarin?"


Leonal diam membisu, ia sungguh malu dengan sikapnya yang sok pintar dihadapan Elena, sekarang saat dirinya ingin meminta bantuan Elena justru mengejeknya.


"Itu dulu," ucap Leonal lagi. Lagi-lagi Elena harus memasang telinganya agar bisa menangkap suara Leonal yang sangat kecil itu.


"Heh, kenapa kau tidak minta pada kakakmu saja? bukankah dia juga pintar?" Elena berjalan mengambil segelas air putih, ia lalu duduk di sofa yang sama.


Leonal yang menduga air itu untuknya merasa kesal karena Elena meminumnya saat dirinya benar-benar kehausan.


"Siapa bilang dia pintar? saat aku tanya bilangan bulat dia malah tidak tau," Jujur Leonal membuat Elena lagi-lagi tertawa. "Kau kan pintar, apa salahnya menolong satu anak yang kesusahan? itung-itung beramal agar mendapatkan pahala."


"Sekarang, saat kau membutuhkan bantuan baru memujiku? Jangan harap aku mau membantu bocah nakal sepertimu, Never!" tekan Elena sambil menggoyangkan gelas yang masih tersisa sedikit air.


"Kau sangat kejam pada anak kecil!" seru Leonal tidak terima. Ia sudah bersusah payah menanggung malu untuk bicara masalahnya, Elena malah mengejek dan menolak membantunya.


"Tubuhnya saja yang kecil tapi hati iblis," balas Elena santai.


"Hiks, kau sangat kejam, jika aku tidak bisa memperbaiki nilai ku, bisa-bisa aku akan tinggal kelas."


Elena memainkan rambutnya, ia sungguh menikmati suasana saat ini. "Apa peduliku?"


"Bagaimana jika aku berjanji tidak akan nakal selamanya? bisakah kau membantuku?" tawar Leonal tidak menyerah. Elena Berhenti memainkan rambutnya.


"Tidak!"


"Bagaimana jika aku membelikan mu milkshake coklat setiap harinya?"


"Ti--, mungkin itu bisa ditoleransi."


"Benarkah? Baik mulai besok ajari aku matematika!" Leonal beranjak dari duduknya.


"Dua milkshake, dan satu keripik kentang pedas!" Pinta Elena lagi. Leonal melongo.


"Bukankah itu berlebihan? bahkan melebihi uang jajan ku!" keluh Leonal. Elena tidak peduli.


"Bukankah aku sama seperti guru privat? dimana-mana kau harus membayar jika ingin diajari, jika keberatan cari saja orang lain," jelas Elena membuat Leonal tidak bisa berkata-kata lagi. Mungkin Elena berusaha membalas dendam karena kenalannya dulu.


"Tunggu aku pintar, aku akan menjahili mu lagi!" batin Leonal kesal. Ia keluar dengan perasaan campur aduk, sejak dulu tidak pernah ada yang membuatnya kesal selain Elena.


"Kita lihat seberapa tahan dirimu bocah," gumam Elena terkekeh kecil. Ia sangat puas dengan kejadian hari ini. Mulai sekarang sebutan iblis berpindah padanya.


Leonal sudah didalam apartemennya, ia melihat sosok kakak perempuannya yang masih santai melihat TV dengan popcorn ditangannya.


Laki-laki kecil itu melewatinya.


"Kemana saja kau?" tanya Sia membuat Leonal menghentikan langkahnya.


"Bukan urusanmu!" cetus Leonal melanjutkan langkahnya.


Tatapan Sia tidak lagi berfokus pada TV, ia melihat punggung adik laki-lakinya yang menjauh dan masuk kedalam kamar, raut wajahnya berubah, ia tidak lagi tertarik dengan makanannya ataupun TV yang ada didepannya.


Sia berjalan menuju kamar Leonal, tangannya mengetuk pintu kamar berkali-kali tapi tidak ada balasan. "Leon, kau baik-baik saja?"


Hening, Sia selalu merasa tidak berguna sebagai seorang kakak, ia bahkan tidak tau apapun tentang adiknya.


"Apa kau lapar? Aku membeli ayam bakar." lagi-lagi adiknya tidak merespon, Sia mengetuk pintunya lagi. "Leon?"


"Berisik!"


Sia menyandarkan kepalanya ke pintu, sudah berkali-kali ia berusaha untuk dekat dengan Leonal namun selalu saja gagal.


"Kapan kau akan memaafkan ku?"


Didalam kamar, Leonal mengambil sebuah kotak dari atas lemari, ia membukanya melihat sudah berapa banyak uang yang dikumpulkannya selama setahun ini.


Ia sudah menetapkan hatinya untuk tidak selalu meminta uang pada kakaknya, tangannya mengambil satu persatu uang kertas sambil ia hitung.


Setelah sudah terhitung semua wajah Leonal terlihat sedih, ternyata gabungan hanya cukup untuk membelikan jajanan Elena selama dua belas hari saja.


"Bagaimana ini? ulang tahun Fera seminggu lagi."