ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
4



Saat ini Elena berjalan menuju apartemen, beberapa pasang mata kerap memperhatikannya karena seorang yang berjalan beriringan bersamanya.


Itu Sia, gadis yang lebih pendek darinya kini berjalan di samping bersamanya, Elena bingung sendiri karena gadis mungil itu tidak bicara sejak tadi, ia tidak mengerti situasi dimana secara tiba-tiba gadis yang selalu membencinya itu kini menempel padanya.


"Apa kau kemasukan setan yang menyukaiku?" celetuk Elena menebak membuat Sia langsung menatapnya dengan tajam.


"Aku ya aku!" ujarnya.


Elena mengangguk mengiyakan. "Mungkin kau memang Sia."


Sia tidak merespon, Elena semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Sia yang tiba-tiba semakin dekatnya. "Bukankah dulu kau selalu ogah mendekat padaku?"


Lagi-lagi Sia menatap sinis Elena. "Memang!" ketusnya. Elena menyerngit.


"Lalu? oh, aku mengerti. sekarang kau sudah mendapat penerangan kan jika dekat denganku kau bisa mendapat keberuntungan," celoteh Elena dengan senyuman sumringahnya. Sia yang mendengar itu merasa kesal sendiri.


"Itu karena apartemen kita bersebelahan!" seru Sia yang mempercepat langkahnya.


Elena terkekeh geli, sementara Sia masih menggerutu dalam perjalanannya. Ia masih tidak percaya jika gadis yang terlihat pendiam disekolah itu justru gadis yang banyak berkomentar saat sudah mendekati rumah.


"Apa-apaan dia? aku baru tau!" gumamnya kesal.


Saat ingin membuka pintu, justru Sia dikagetkan dengan Leonal yang tiba-tiba membukanya duluan.


Melihat Leonal membawa tas membuat Sia menyerngit heran, ia pun bertanya. "Mau kemana?"


Leonal memalingkan wajahnya dan berjalan menuju tangga apartemen. "Leon!"


"Kerja kelompok!" teriak Leonal mempercepat langkahnya.


Sementara Elena menyaksikan itu, ia tidak percaya jika hubungan keduanya terlihat tidak baik. "Apa mereka bertengkar?" Batinnya penasaran.


Leonal yang mengaku ingin mengerjakan tugas kelompok itu sebenarnya ingin belajar bersama Elena, laki-laki itu justru melewati Elena seakan keduanya tidak saling kenal.


"Hm, begitu rupanya."


Lima menit berlalu, seseorang mengetuk pintu, Elena sudah menebak orang dibalik pintu itu. Ia akan mengintrogasi sebelum memulai belajar.


"Jadi, kenapa kau bertengkar?" tanya Elena sambil memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya.


Leonal tidak menjawab, ia mendengus kesal karena Elena langsung melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ia sukai.


"Tugasmu seharusnya mengajariku saja, tanpa harus ikut campur masalah lainnya, aku kan sudah memberikan apa yang kau mau!"


Kali ini Elena menyeruput minuman yang diberikan oleh Leonal. "Sebagai seorang guru, aku berhak tau masalah muridnya. Jawab saja setelah itu kita akan mulai belajar."


Leonal menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Elena. "Dia selalu mengadu kenakalanku pada mama, dan uang jajan ku berkurang karenanya."


Elena mengangguk mengerti. "Oh begitu."


"Iya, makannya cepat belajar!"


Elena mulai mengajari Leonal matematika mulai dari dasar sampai ke inti, ia juga memberi Leonal tugas sekaligus pekerjaan rumah untuk besok.


Keesokan harinya, seperti biasa Elena berangkat pagi-pagi, ia menaiki bus agar bisa sampai lebih cepat.


beberapa detik setelah dirinya duduk seseorang membicarakannya dengan suara keras, tentu saja mereka berfikir jika Elena tidak mendengar itu semua karena gadis itu memakai headset, tapi sesungguhnya headset yang menempel ditelinga nya sejak tadi itu mati.


"Lihat disana, dia itu gadis terpintar tapi aku tidak yakin karena ada rumor mengatakan jika dia melakukan itu dengan kepala sekolah," ujar salah satu dari mereka melihat ke arah Elena.


Temannya sontak juga melihat Elena, walaupun ada rasa ragu dihatinya melihat gadis secantik Elena bisa berbuat buruk seperti yang dikatakan temannya.


Pikirannya bertanya mengapa gadis itu sama sekali tidak terlihat buruk, bahkan dari awal melihatnya ia merasa seperti melihat seorang peri cantik dengan seragam sekolah.


Saat sampai di tempat tujuannya, Elena berjalan dengan tenang, ia berhenti tepat di samping kedua orang yang tadi membicarakannya, ia menoleh ke samping dan tersenyum manis.


"Terima kasih atas peringatannya, aku bisa lebih berhati-hati."


Setelah mengucapkan itu, Elena segera turun dari bus, kedua orang yang yang tadi membicarakannya hanya melongo tidak percaya.


Tanpa disadari seseorang yang mengenakan jaket abu-abu dengan masker hitam yang menutupi wajahnya tersenyum, ia sudah memperhatikan Elena sejak tadi, awalnya dirinya tidak peduli tapi saat melihat tindakan dan senyuman Elena yang menurutnya sangat cantik itu kini menyentuh hatinya.


Seperti biasa Elena kini duduk di kelas dengan rasa bosan yang sangat menyiksa, Erix datang kali ini ia mengenakan jaket hitam membuat penampilannya lebih menarik.


"Pagi, El," sapa Erix saat melewati Elena. Gadis itu hanya mengangguk sebagai respon.


Erix duduk, melihat punggung Elena yang lebih kecil darinya, rambutnya terurai indah, hitam dan lurus. Ingin sekali tangannya mengelus rambut Elena yang halus itu tapi batinnya terus menolak agar tidak memperdalam kebencian Elena padanya.


Matematika, pelajaran yang selalu muncul itu berhasil membuat semua siswa kesal dibuatnya, jam pelajaran matematika justru lebih lama dari pelajaran lainnya membuat kebanyakan siswa frustasi dan keluar dari sekolah.


Setelah pelajaran berakhir, orang-orang dikelas mengeluarkan keluh kesahnya karena selain tugas yang sulit sang guru juga memberikan pekerjaan rumah yang lebih sulit.


Tentu saja bagi Elena tidak ada soal yang sulit, matematika seperti makanannya sehari-hari, bahkan tanpa berfikir dan menghitung pun ia sudah tau jawaban akhirnya.


Seorang perempuan dengan gaya rambut sanggul dengan pita merah itu mendekati Elena, ia menatap Elena ambisius. "Hai, El. Apakah kita bisa mengerjakan PR bersama pulang nanti?"


Elena menatap wajah gadis itu lekat. "Apa kita saling kenal?" jawab Elena dengan ekspresi dinginnya. Gadis itu berdecih kesal dan pergi tanpa merespon.


Dalam hati Elena tersenyum, ia tau gadis itu salah satu orang yang selalu menyebarkan rumor buruk tentangnya. "Dasar bermuka dua."


Beberapa detik setelah itu Sia datang dan masuk ke dalam kelas Elena begitu saja, ia menghampiri Elena dengan raut wajah tanpa dosa.


"Ayo, ke kantin," ajak Sia antusias. Elena menyergit keheranan. "Hai, Erix! aku Sia Fransiska, teman baik Elena," sapanya juga pada Erix sambil mengulurkan tangannya.


Erix membalas, ia juga sama herannya dengan Elena. Pasalnya, Erix tidak ingat pernah bertemu dengan Sia. "Oh, hai," Erix membalas uluran tangannya.


Elena hanya memutar bola matanya, ia mengerti mengapa Sia tiba-tiba datang ke kelasnya dan berusaha terlihat akrab, ternyata karena Erix.


"Ngomong-ngomong kenapa kau tau namaku?" tanya Erix.


"Oh, itu. Elena yang memberitahunya," jawab Sia. Elena yang mendengar itu langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.


"Hei, tunggu aku! sampai jumpa, Rix."


Sia langsung berlari menyusul Elena, sementara Erix tersenyum senang karena Elena menceritakannya kepada Sia.