ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
10



Elena berlari secepat mungkin agar tidak ketinggalan pelajaran, pasalnya semalam ia begadang untuk memecahkan rumus kimia yang belum diajari oleh guru.


"Gawat, gawat!" gumamnya, ia tau saat ini guru yang mengajar terkenal killer, ia tidak mau kena hukuman karena telat.


Jika saja guru lain, mungkin masih bisa ditoleransi tapi guru satu ini tidak pernah pandang bulu, baik Elena maupun yang lainnya tetap saja salah dimatanya.


Elena menggebrak pintu, karena panik ia tidak bisa menahan diri, dilihatnya sang guru dan murid lain yang sedang menatapnya.


Kacamata yang dipakai dilonggarkan, ia menatap Elena lekat, dalam hati gadis itu berdoa agar lolos dari maut ini.


"Telat satu menit!" ketusnya, Elena tidak merespon, ia menundukkan kepalanya karena takut.


"Maaf," ucap Elena dengan nada pelan.


"Maaf saja tidak cukup, apa gunanya polisi jika maaf diterima?"


Suasana kelas hening, tidak ada yang berani berkomentar, Elena seakan sedang menampilkan teater untuk hiburan orang-orang.


"Maaf, tapi saya bukan penjahat yang memerlukan polisi," celetuk Elena asal, ia tidak peduli lagi akan hukuman yang menimpanya, guru didepannya selalu bicara seenaknya.


"Kamu!--"


"Pak!" panggil Erix mengangkat tangan kanannya, kini seluruh pandangan tertuju padanya. "Maaf mencela, tapi jika bapak terus berdebat maka waktu mengajar akan cepat habis, waktu itu sangat berharga bukan?"


Guru itu mengangguk kecil sambil berfikir sejenak. "Benar juga. Kamu, keluar sana! saya tidak menerima siswa yang melanggar aturan."


Bukanya khawatir Elena justru tersenyum kecil. "Baik, terima kasih," setelahnya ia keluar dengan perasaan senang.


bagaimana mungkin tidak, Elena bebas tanpa pelajaran, perutnya sudah memanggil sejak tadi, kini saatnya pergi makan di kantin.


Elena duduk sambil berkumandang kecil, menunggu menu makanan datang, kantin yang sepi itu sangat nyaman baginya.


"Senangnya," gumamnya.


Dari kejauhan seseorang yang tidak asing datang, ia berjalan cepat dengan nafas yang terengah-engah.


"E--Elena!" panggilnya, Elena menoleh.


Ternyata itu Anna, gadis diawal yang muncul saat Fifi memamerkan peringkatnya.


"Hmm?"


Bisa dilihat dari raut wajah Anna yang kebingungan, ia tidak tau harus berbuat apa saat ini. "Itu, a-aku butuh bantuan mu."


"jadi kau tidak berani meminta bantuan orang lain?" ujar Elena, Anna mengangguk.


"A-aku tidak berani, saat diminta untuk mengambil barang bekas aku sangat gugup, ini pertama kalinya," jelasnya.


keduanya berjalan beriringan, lorong masih terlihat sepi karena masih jam pelajaran, setelah sampai di sebuah tempat yang agak jauh dari gedung utama.


Elena bahkan baru tau di belakang gedung sekolah terdapat sebuah bangunan kecil yang agak usang. "Kau yakin disini tempatnya?" tanya Elena, Anna mengangguk kecil. "Kalau begitu ayo masuk, disini menyeramkan."


Pintu terbuka dengan suara deritan karena sudah lama tidak dibuka, bahkan pegangan pintunya saja sudah benar-benar berkarat.


Elena melihat isi dalam ruangan itu, tanpa lampu dan sangat lembab. "Uhh, aku benci kegelapan," gumamnya, ia langsung masuk ke dalam.


"Apa yang kau perlukan?" tanya Elena yang tidak di respon oleh gadis berkacamata itu.


"Anna?" Elena menoleh kebelakang, ia melihat Anna yang masih mematung di luar. "Jangan-jangan kau--"


BRAKKK...


dengan cepat Anna menutup pintu, ia juga menguncinya dari luar, Elena berlari dan memukul-mukul pintu.


"BUKA! JANGAN MAIN-MAIN, ANNA!!!" teriak Elena, ia bahkan hampir menangis. Sungguh, ini adalah hal yang paling tidak ia sukai.


"Maaf, Elena. Aku tidak ingin melakukannya tapi aku terpaksa, orang-orang itu mengancam ku," lirih Anna, Elena terdiam sejenak. "Sekali lagi, maaf.


Suara langkah kaki Anna terdengar, Elena tau gadis itu sudah pergi meninggalkannya. Elena terduduk, dalam ruangan yang lembab dan gelap itu, perlahan rasa takutnya semakin menjadi.


"Tidak!!!" kedua tangannya menutup telinga rapat-rapat, suara yang pernah didengarnya kembali terngiang dalam telinganya.


Sia menatap piring yang masih penuh dengan nasi, ia juga menatap ponsel yang tidak asing baginya. "Kemana dia?"


Gadis cantik itu duduk, ia memainkan ponselnya sambil menunggu makanannya.


beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya datang dengan nampan berisi pesanannya.


"Nyonya, apa kau tau dimana Elena?" tanya Sia pada pemilik warung.


"Lah, belum datang juga? tadi ada, tapi mungkin dia ke toilet," ujarnya.


Sia mengangguk kecil lalu langsung menyantap makanannya, setelah habis ia menjadi geram karena Elena tidak kunjung datang.


Gadis itu langsung pergi ke toilet, memeriksa setiap inci toilet bahkan ia sampai menggendor saat ada seseorang di dalamnya.


Sia makin heran, kemana perginya Elena, ia tidak mungkin meninggalkan makanannya yang belum tersentuh itu.


saat keluar dari toilet, Sia bertabrakan dengan Raihan, sontak gadis itu ingin mengeluarkan kata-kata kasarnya namun gagal karena melihat William bersamanya.


"Oh, kau lihat Elena?"


"Dimana Elena?"


Seketika hening, Raihan bahkan heran mengapa banyak orang yang mencari gadis acuh tak acuh itu.


"Kau tidak tau?" tanya William.


Sia menggeleng. "Aku bahkan baru selesai mencarinya di toilet," jelas Sia.


Saat ini ketiganya berdiri di depan meja makan, William memeriksa ponsel hitam milik Elena sedangkan Raihan sibuk menyeruput susu kotaknya.


"Ini memang miliknya," gumam William. "Pasti terjadi sesuatu padanya. Kalian berdua, berpencar lalu cari di setiap ruangan!" seru William sambil berlari.


"Kenapa aku juga ikut terlibat?!" protes Raihan melempar kotak susu yang sudah kosong ketempat sampah.


"Hei!" panggil Sia. Raihan menoleh, dilihatnya gadis itu sedang memegang pisau milik nyonya kantin. "Jika kau menolak, akan aku lempar ini!" ancam Sia, Raihan langsung bergidik ngeri lalu pergi begitu saja.


William membuka gudang olahraga yang letaknya di depan gedung, entah kenapa feeling-nya mengatakan jika Elena sedang di sekap disuatu ruangan.


Bel masuk berbunyi, William tidak memperdulikannya, ia masih sibuk mencari keberadaan Elena yang tiba-tiba hilang.


"Semoga kau baik-baik saja, El."


William berlari kebelakang, kali ini ia tidak masuk ke dalam sekolah melainkan memutar lewat samping luar.


dari kejauhan dirinya sudah melihat sebuah bangunan kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung, dilihat dari tembok yang catnya sudah memudar disertai lumut hijau membuatnya yakin itu adalah gudang.


William memegang knop pintu, ia berusaha membukanya namun gagal. "Sial, dikunci."


"Siapa?"


Suara parau itu terdengar, William yakin itu adalah suara Elena. "Elena?! kau didalam?"


"Wi-will, tolong aku," lirih Elena dari dalam, William yang mendengar itu langsung yakin jika gadis pendiam itu sedang tidak baik-baik saja.


"Tenang, sekarang menjauhlah dari pintu, aku akan mencoba mendobraknya," pinta William.


"iya," jawab Elena yang masih dengan nada paraunya.


"Sudah menjauh?" tanya William lagi.


"Sudah."


William melangkah mundur, jujur saja ini adalah pertama kalinya dirinya mencoba mendobrak pintu, hatinya berdoa agar tubuhnya bisa mendobrak pintu itu.


dalam hitungan detik William berlari dan menabrakkan tubuhnya ke pintu, rasa sakit terasa namun pintu juga berhasil dibuka.


dilihatnya Elena yang terduduk lemas disana, matanya bengkak, pipinya basah karena air mata, tanpa aba-aba Elena langsung berlari dan memeluk William dengan erat.


"Aku sangat takut."