ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
5



Elena menatap Sia sambil tangannya menggoyangkan gelas yang berisi jus jeruk. Sia, gadis itu sibuk dengan makanannya.


"Apa kau bertengkar dengan adikmu?" tanya Elena memulai percakapan. Sia terhenti sejenak lalu mengangguk. "Sejak kapan?"


"Kenapa kau sudah seperti wartawan?!" celetuk Sia sedikit kesal. Ia melanjutkan makannya.


"Sebenarnya adikmu memintaku untuk menjadi guru matematikanya," jelas Elena. Sia terkejut dengan pengakuan dari Elena.


"Sejak kapan?" tanya Sia tiba-tiba.


"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan mu?" gumam Elena tiba-tiba. Ia meminum jusnya lagi.


"Cih, dasar pendendam!" celetuk Sia kesal karena Elena membalas perilakunya.


"Sebenarnya kami tidak pernah akur semenjak pindah ke apartemen, dulu aku pernah membohonginya agar menunggu ayah ibu berbaikan dan menjemput kami pulang, namun Leon tau kenyataannya jika keluarga utuh tidak bisa kembali lagi," sia menjelaskan dengan suara yang sedikit parau. Wajahnya tertunduk, Elena tau jika gadis itu tidak mau menunjukkan ekspresi sedihnya.


"Oh, begitu."


Sia kembali menunjukkan ekspresi seperti biasa, ia menatap Elena dengan raut wajah penasaran. "Lalu, sejak kapan kalian dekat?!"


Elena menghela nafas sebelum bicara, ia tidak tau jika bocah iblis yang selalu mengusik ketenangannya itu datang ke apartemennya secara diam-diam. "Dia selalu datang, hampir setiap hari aku tidak bisa tidur nyenyak karenanya."


Sia terbelalak dengan pengakuan Elena, ia tidak tau jika adiknya sangat dekat Elena. "Apa yang dia lakukan?"


"Mencuri gelang ku, menggedor-gedor pintu, dan sekarang dia memintaku untuk menjadi guru matematikanya."


Lagi-lagi Sia menunduk, ia tidak tau harus senang atau sedih, dalam hatinya merasa bersyukur karena Leonal terbuka pada Elena namun sesuatu yang lain membuatnya merasa sedikit iri.


"Aku--,"


"Wah wah, aku tidak tau jika gadis bisu dan gadis bodoh bisa makan bersama," potong seorang gadis bersama Fifi dengan rambut merah kuning hijau layaknya pelangi.


"Yah, siapa tau dia ingin diajari agar pintar oleh si bisu," sambung temannya dengan tubuh yang agak besar.


"Mereka memang cocok, tapi jika aku menjadi si bodoh itu, aku merasa sangat malu," ujar si gadis jangkung dengan lipstik merah tebal.


"Siapa yang kau panggil bodoh?!" seru Sia kesal. Ia juga beranjak dari duduknya.


"Uhh, dia tersinggung guys, siapa tau jika nilainya dibawah rata-rata? atau peringkat satu dari bawah? Hahaha--"


"Peringkat seratus tujuh saja bangga," celetuk Elena tenang.


"Apa?! bagaimana kau bisa--," Fifi sontak terkejut dengan tebakan Elena yang benar-benar akurat. Ia sudah berbohong pada teman-teman jika peringkatnya masih belum jauh dari sepuluh terbesar.


"Peringkat satu sampai sepuluh memang terpampang jelas di Mading sekolah, tapi peringkat dibawahnya tidak ada yang tau, banyak yang menyembunyikan karena malu tapi aku tau semua jadi tidak ada gunanya kau berbesar kepala."


Ucapan Elena membuat yang mendengar melongo tidak percaya. Bahkan Fifi, satu-satunya orang yang merasa gelagapan karena kebohongannya terbongkar.


"Hahaha, aku saja masih dua puluh satu, tapi kau? sekarang siapa yang pantas dipanggil bodoh?!" ejek Sia dengan tawanya yang menggelar. Elena hanya tersenyum kecil.


"Itu bohong! aku ini peringkat sebelas!! tau apa kau bisu!"


"Anu, sebenarnya peringkat ku sebelas," ucap seorang gadis yang masuk lewat celah-celah kerumunan.


Gadis itu pendek, lebih pendek dari Elena, memakai kacamata dan juga rambutnya dikepang dua membuatnya seratus persen terlihat culun di mata orang-orang.


"Kau Anna?" tanya Elena. Gadis berkacamata itu mengangguk.


"Tidak, untuk apa aku berbohong," ujar Anna membenarkan ucapannya. Fifi kembali terlihat gelagapan.


"Diam! kau ingin aku mengatakan pada kepala sekolah agar menampilkan semua peringkatnya?!" seru Elena kesal. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Fifi yang keterlaluan.


"Hehh, bisa apa kau?" celoteh Fifi meremehkan.


"Apa kau tidak bertanya kenapa aku tau peringkat mu? kepala sekolah memintaku mengoreksi ulang semua kertas jawabannya, apa kau masih ingin berbohong?"


Fifi tidak bisa berkata-kata lagi, ia segera pergi dari tempat dengan wajah malu yang didapatnya.


***


Sepulang sekolah Elena tidak langsung ke apartemen, ia menyempatkan diri membeli beberapa buku matematika anak SD sampai SMP.


Jika ditanya untuk apa dirinya melakukan itu? tentu saja karena murid nakalnya Leonal, ia sudah bertekad ingin membuat anak itu pintar matematika kelak, Elena juga tidak hanya akan mengajari soal SD saja, namun pelajaran matematika tingkat SMP pun akan ia ajari untuk Leonal.


Setelah keperluannya sudah terbeli, Elena berjalan keluar dari perpustakaan umum, kakinya merasa menginjak sesuatu, ternyata itu sebuah kunci mobil.


Matanya menangkap sosok perempuan paruh baya dengan dress coklat selutut dan topi bak seorang ratu Inggris, Elena langsung mengambil kunci itu dan menghampiri si pemiliknya.


Perlahan tepukan pelan membuat si wanita itu terkejut dan menoleh, rasa terkejutnya juga datang dua kali setelah melihat orang yang didepannya.


"Elena?!"


"Maaf, apakah anda mencari ini?" tanya Elena sambil menunjukkan sebuah kunci yang ditemukannya tadi.


Wanita itu mengangguk. "Ah, iya. saya mencarinya kemana-mana," jawabnya dengan nada sedikit gelagapan.


"Ini, saya kembalikan. Permisi," Elena langsung pergi setelah mengembalikan kuncinya.


Sementara wanita itu, melepaskan kacamata hitam dan masker putih yang sejak tadi dipakainya.


Tatapan masih tertuju pada gadis yang dulu pernah ditinggalkannya. "Ternyata kau sudah besar, putriku."


Elena mengusap dada, tempat rasa sakit yang selalu dirasakannya. Bukan karena penyakit hati atau apapun itu, tapi rasa sakit Elena tidak pernah sembuh sejak kecil.


Yang berbeda kali ini rasa sakit itu lebih menusuk dari biasanya, Elena menahan air matanya agar tidak mengalir keluar, jujur saat ini perasaannya sangat tidak bisa dikendalikan lagi.


"Kenapa tiba-tiba? aku sudah menahannya sejak dulu tapi kenapa kali ini lebih menyakitkan?"


Elena langsung berlari, memberhentikan mobil taksi yang kebetulan lewat. Di dalam mobil, tangisan Elena pecah, air matanya terus mengalir tanpa henti membuatnya sedikit malu pada si supir.


"Maaf, pak. Saya ada sedikit masalah, tidak apa-apa kan?" Ujar Elena bicara sebelum si supir bertanya.


Supir itu tersenyum kecil dan mengangguk. "Tidak apa-apa, semua orang pasti punya masalah tersendiri. Menangis lah agar beban mu sedikit terobati," terang si supir. Elena merasa senang karena ucapannya berhasil membuat hatinya sedikit membaik.


Tangisan tanpa suara itu kini sudah berakhir saat sampai di apartemen, Elena membayar dan berterimakasih kepada sang supir karena memberikannya sedikit motivasi untuknya.


Dengan lemah Elena berjalan menuju kamarnya, dari jauh ia melihat sosok anak kecil sedang duduk tepat didepan pintu apartemennya.


Leonal yang melihat Elena tiba merasa sangat Senang, tapi perasaan itu hilang setelah melihat Elena dengan wajah yang tidak baik.


"Apa yang terjadi?!"