
Elena menatap dua orang yang sedang mengobrol santai didepannya, itu Vienna dan William. Keduanya mengobrol tanpa memperhatikan dirinya yang saat ini sedang bingung.
"Maaf?" ucapnya kemudian. Keduanya baru menatap Elena.
Elena memperhatikan penampilan Vienna dari atas hingga bawah, dengan menggunakan seragam yang sama seperti miliknya.
"Apa ini arti ucapan mu semalam?" ujar Elena yang masih tidak percaya.
Vienna, gadis dengan rambut pirang kuncir kuda itu tersenyum. "Iya, hebat kan?"
"Lalu?" Elena menatap ke arah William, laki-laki itu tersenyum dengan polosnya. "Hebat sekali ya? bisa akrab dengan laki-laki asing, Vie?"
Mendengar itu, William langsung memasang raut kesalnya. "Jadi selama ini kau menganggapku asing ya?" celoteh William.Bukannya membuat Elena merasa bersalah, justru yang dilihatnya itu membuatnya tertawa geli.
"Terserah saja, aku masuk dulu." Elena berjalan masuk ke kelasnya.
"Kau tidak tanya dimana kelasku, El?!" seru Vienna yang merasa diabaikan. Bukanya merespon, Elena hanya melambaikan tangannya dari belakang.
"Kalian benar-benar teman baik ya?" ucap William tersenyum. "Entah benar atau tidak, tapi sepertinya dia tidak suka bergaul dengan gadis lain."
"Eh, tunggu. Apa aku melupakan sesuatu ya?"
HUACHUUUU
Sia menggosok idungnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Apa ini? apa itu tandanya aku akan mendapat keberuntungan?" gumamnya.
"Ayo, Vi. Kelas akan dimulai," ajak William yang berjalan mendahului Vienna.
"Huh, kenapa aku bisa salah mendaftar kelas sih?!" gerutu Vienna.
Jika kalian penasaran dengan bagaimana William dan Vienna bisa dekat, keduanya pernah bertemu di luar negeri, William yang diajak Raihan menonton pertunjukan bela diri disana.
Bukan karena bosan Raihan sampai mengajak William ke sana, tapi dari awal laki-laki itu sudah tertarik pada Vienna, menurut Raihan mungkin saja dirinya bisa dekat karena membawa William.
Benar saja, ketiganya bisa dekat sampai sekarang. Mengapa Vienna dapat mengetahui apartemen Elena pun, William yang memberitahunya.
"Apa orang bodoh itu tidak masuk?" bisik Vienna pada William. Tempat duduknya tepat disamping William, dan Raihan duduk dibelakang William.
"Entahlah, pagi tadi dia masih mengorok," jawab William.
Beberapa detik kemudian sang guru datang, baru saja menaruh dokumen di meja, seseorang menggebrakan pintu kelas.
"Maaf, saya ketiduran!" seru Raihan jujur.
"Dia memang bodoh ya?" gumam Vienna lagi. William mengangguk setuju.
"Kamu ini, saat ada murid baru malah terlambat!" oceh sang guru. Raihan dibuat kebingungan.
"Eh, murid baru?" gumamnya.
"Murid baru tolong berdiri dan perkenalkan diri," pinta sang guru, Vienna pun langsung berdiri.
"Vienna Clarissa Nara."
Melihat itu Raihan langsung tersentak tiba-tiba. "VIENNA?!"
Vienna, gadis itu tersenyum manis. "Yo!"
Pelajaran selesai dari biasanya, Vienna menghampiri keduanya. Dilihatnya Raihan yang sedang keringat dingin sambil menutupi setengah wajahnya dengan buku.
"Kenapa dia?" tanya gadis itu pada William.
Dengan jujur, William menjawab. "Karena mu!"
Dengan tenang Vienna merespon dengan deheman.
Raihan masih tidak percaya dengan keberadaan Vienna yang tiba-tiba muncul, bahkan satu kelas dengannya. Hatinya sedikit dilema mengingat dulu ia sangat tergila-gila padanya.
"Padahal aku sudah mau move-on!" batin Raihan kesal.
Tiba-tiba tiga gadis mendekat. "kau sudah langsung akrab ya, Vi? apa sebelumnya pernah bertemu?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya, mereka babu ku yang kabur kemari."
Niatnya untuk mengajak makan bersama, namun ketiganya langsung mengurungkannya. "O-oh, begitu. Haha, kami hanya bertanya, maaf ya." ketiganya langsung keluar dari kelas.
"Jika kau berkata sadis seperti itu, nanti kau tidak punya teman loh!" celetuk William yang masih memasukan bukunya ke dalam tas.
"Tidak masalah, temanku hanya Elena. Oh, ya! aku ingin makan bersama dengannya!" seru Vienna yang tiba-tiba berlari keluar.
Melihat itu William langsung melempar tasnya di atas meja, tidak peduli walaupun belum terseleting dengan benar.
"Tunggu, itu kebiasaan ku!!!" teriaknya yang langsung berlari menyusul.
"Aku juga, ingin makan bersama Vienna," gumam Raihan sambil berjalan lemas.
Di kelas Elena, guru pengajarnya baru keluar satu menit yang lalu. Entah kenapa hari ini gadis itu bisa menebak apa yang akan terjadi nantinya.
"Tiga, dua, sat--"
Belum selesai Elena berhitung, dari belakang Erix menepuk pundaknya, Elena langsung menoleh.
"Apa hari ini kau ingin makan bersama ku?" tanyanya.
"Ah, maaf. Tapi orang-orang itu sudah bertengkar di depan pintu," ujar Elena sambil menunjuk ke arah William dan Vienna yang bertengkar karena ingin masuk kedalam lebih dulu.
Melihat itu Erix terkejut bukan main, ia tidak menyangka bahwa Vienna, gadis yang dikenalnya ada di sekolah ini, dan bahkan sekolah disini.
"Apa yang terjadi?!"
"Jangan ikuti aku! pergi sana!" seru Vienna yang menghalau William untuk masuk.
"Ini sudah kebiasaan ku!" celetuk William tak mau kalah.
"Aku yang datang lebih dulu!" geram Vienna yang masih menahan William untuk masuk.
"Kau hanya orang asing disini!" ketus Wiliam.
Karena pertengkaran keduanya itu, orang-orang yang ingin keluar jadi dilema. Mereka ingin menegur tapi dilihat dari kekuatan Vienna yang berhasil menahan William selama itu membuat mereka mengurungkan niatnya.
Saat di tengah-tengah pertengkaran itu, seorang gadis mungil tiba-tiba masuk dengan merangkak dari bawah.
"Elena, ayo pergi ke kantin!" seru sia sambil melambaikan tangannya.
Seketika keduanya terdiam, kedua tangan Vienna sudah mengepal kuat. Melihat tanda bahaya itu, Raihan langsung masuk ke dalam.
"Kita pergi bersama, jangan ada pertumpahan darah di kelas ini," ujar Raihan mengeluarkan kata-kata bijaknya.
"Sama sekali tidak bijak!" gerutu William kesal.
Gadis yang ditunggu banyak orang itu berdiri, ia menoleh ke belakang. "Aku tidak masalah jika kau ikut," ucapnya pada Erix.
Mendengar hal itu, hati Erix yang tadinya merasa tidak nyaman tiba-tiba membaik. Ia sangat ingin menerima tawaran Elena tapi mengingat di sana ada gadis iblis yang akan merusak rencana miliknya membuat dirinya berfikir dua kali untuk menerima tawaran itu.
Erix menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bagaimana ya? sepertinya tidak bisa, aku harus meminjam buku di perpustakaan."
"Hmm," respon Elena. Ia langsung berjalan keluar bersama teman-temannya.
"Aku hanya ingin makan berdua saja, tolong mengerti, El. Lagipula keberadaan Vienna benar-benar sebuah ancaman bagiku."
Erix takut jika statusnya yang sekarang akan hancur begitu saja karena Vienna tau tentang kepulangannya itu.
"Aku tidak boleh terlihat mencurigakan!"
"Hei hei, kenapa orangnya jadi bertambah?! siapa gadis tiang ini?!" celetuk Sia yang berjalan ke depan dan berbalik sambil menunjuk Vienna. "Kau juga kenapa tiba-tiba ikut?!" tunjukkan Sia langsung beralih ke Raihan.
Mendengar hal itu keduanya kesal bukan main.
"DIAM KAU CEBOL!!!" bentak keduanya secara bersamaan.
Nyali Sia yang besar itu kini menciut, ia memegangi lengan Elena dengan raut wajah ketakutan.
"Seram!"