ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
17



Saat ini rasa ingin menghancurkan dunia ada pada Elena, karena pada jam kosong yang biasa dipakainya untuk tidur itu malah berkumpul orang-orang berisik dari luar untuk bermain ular tangga tepat dibawah kursinya.


"Hei, kau curang, Rai!" celetuk Vienna. Ia langsung merebut dadu dari Raihan. "Kali ini ayo buat aturan, yang mengocok lebih dari tiga kali dipukul satu kali."


"Kau bicara seakan permainan ini milikmu!" cetus William yang sama kesalnya dengan Raihan. Keduanya tidak mengerti jalan pikir Vienna yang aneh, hanya karena mengocok lebih dari tiga kali dikatakan curang? yang benar saja.


"Kenapa aku menyukai gadis kasar ya?" gumam Raihan frustasi.


"Tumben sekali, kau habis kemasukan apa tiba-tiba menyukai gadis kasar?" tanya Vienna dengan wajah polosnya.


Raihan tidak merespon, ia hanya berdecih kesal karena rasa sukanya tidak pernah sampai pada Vienna.


Tanpa Raihan sadari gadis yang disukainya itu mengocok dadu lebih dari tujuh kali.


"Hei, kau curang!" celetuk William yang mengetahui kecurangan Vienna.


"Apa maksudmu?!" ketus Vienna.


"Kau mengocok lebih dari tiga kali bodoh! siapa tadi yang membuat peraturan aneh yang melarang untuk mengocok lebih dari tiga kali?!" jelas William marah.


"Kalau aku bisa ditoleransi, memang siapa yang mau memukul ku? aku kan seorang wani--"


"Arghhh?!" erang Vienna setelah mendapatkan jitakan keras dari Raihan. "Apa maksudmu? ngajak bergulat?!" ketus Vienna. Ia ingin melayangkan pukulannya namun Raihan berhasil menahannya.


"Kau pikir hanya kau yang bisa bela diri?!" ucap Raihan dengan raut mengejek. "William, apa manusia didepan ku ini adalah seorang wanita?" tanya Raihan lagi.


"Dari awal kenal aku tidak pernah menganggapnya begitu," jawab William enteng.


"Permainan ini jadi adil kan?"


Vienna melepaskan diri dari cengkraman Raihan, ia mendengus kesal karena permainannya tidak sesuai keinginan.


"Kalau begitu mulai dari awal!" ujar Vienna. Ia memindahkan kucing kecil milik ketiganya kembali ke nomor satu.


"Apa-apaan?! padahal aku sudah berada di nomor sembilan puluh sembilan!" pekik William kesal.


"Tapi sejak tadi kau tidak pernah mendapatkan nomor satu!" ketus Vienna.


"Aku belum beruntung saja, cepat kembalikan kucingku pada tempat asalnya!" pinta William. Tanpa menunggu jawaban ia langsung merebut kucingnya dari tangan Vienna.


Gadis pirang itu tidak menyerah, ia terus menggenggam erat tangannya. Membuat William kesusahan untuk mengambil kucing dari genggaman tangan Vienna.


"Gadis itu tidak cocok memiliki kekuatan besar, Vi!" ujar William tidak mau kalah.


"Kau hanya iri karena laki-laki seperti mu sangat lembek kan?!" balas Vienna kesal.


Sementara Raihan, laki-laki itu memainkan ponselnya. Mengabaikan keduanya yang diibaratkan seperti dua tikus yang sedang berebut makanan.


Sedangkan Elena, ia menatap kesal ketiganya karena dengan seenaknya membolos dan bermain ular tangga dikelasnya.


Penghuni asli kelas pun merasa jengkel dengan tingkah ketiganya, namun apa boleh buat, mengingat ada dua manusia yang bisa kapan saja memukul jika membuatnya tidak senang


Elena sudah tidak tahan dengan situasi saat ini, ia juga lupa membawa headset untuk menyumpal telinganya dari kebisingan.


Ia berdiri dan berjalan keluar, baru empat langkah, William menghentikannya.


"Kemana?" tanyanya.


"Aku akan membunuhmu jika mengikuti ku lagi!" tekan Elena dengan tatapan tajamnya.


Semua yang mendengar itu langsung mengubur kenyataan bahwa Elena adalah seorang gadis pendiam yang sulit didekati, walaupun hanya orang tertentu saja yang berhasil meluluhkan hatinya.


Mereka pikir, saat empunya pergi ketiganya akan ikut pergi juga, tapi dilihat dari keseruan ketiganya yang tidak berniat meninggalkan kelas membuatnya tidak yakin jika Elena adalah sang empu.


Baru beberapa menit Elena sudah hanyut dalam mimpinya, ia tertidur pulas diatas atap sekolah yang sangat jarang dikunjungi orang-orang karena mitos hantu yang ada di sana.


Walaupun Elena takut dengan sosok hantu, tapi sangat disayangkan menyia-nyiakan tempat setenang itu hanya karena mitos yang tidak diketahui darimana munculnya.


Dan hanya Elena, satu-satunya orang yang berani ke atap disaat semua orang takut untuk menginjakkan kaki di sana, ada pula rumor jika Elena berteman dengan hantu itu karena banyak yang melihat gadis itu menaiki tangga sendirian.


Mendengar rumor itu tentu saja sangat lucu baginya, padahal dirinya salah satu dari banyaknya manusia penakut.


Kembali pada tiga orang yang saat ini sedang bermain ular tangga dikelas lain tanpa memperdulikan image mereka yang mungkin dinilai buruk.


William menghentikan tangannya untuk mengocok dadu, tiba-tiba ia terpikiran pada Elena yang entah kemana perginya.


"Aku mengaku kalah," ucapnya. William langsung beranjak dari duduknya.


"Kenapa?" tanya Raihan.


"Tidak apa, hanya gerah ingin cari angin."


"Padahal di sekolah ini tiap kelas disediakan fasilitas AC, bisa-bisanya kau merasa gerah?" ujar Raihan lagi.


"Yang kalah harus menerima hukuman, loh!" teriak Vienna.


"Terserah."


William berjalan, meneliti tiap tempat, berharap menemukan sosok Elena. Namun pencariannya gagal, ia tidak tau tempat biasa yang dikunjungi gadis itu.


Tidak kehabisan ide, William bertanya tiap kali bertemu dengan orang, dan jawaban yang sama adalah di atap sekolah.


William berjalan menaiki tangga, sesampainya di atas, dengan hati-hati ia membuka pintu atap. Pertama kali dilihatnya adalah sebuah hamparan semen luas, dengan pagar setinggi dada pria untuk melindungi siapapun yang ada di sana.


Pandangan selanjutnya yaitu mencari sosok Elena, William melihat ke samping bangunan kecil tempat pintu atap, ternyata Elena ada di sana, tertidur lelap menyender pada tembok.


Ia berjalan mendekat dan duduk tepat di depan Elena. Memperhatikan setiap inci wajahnya yang tetap cantik walaupun tidur.


"Apa ini tempat tidur keduamu setelah rumah?" gumam William. Ia bertanya pada orang yang mungkin tidak akan menjawabnya.


William berfikir Elena adalah sosok gadis yang tidak pernah ada rasa kewaspadaan pada situasi tertentu, itulah kenapa dirinya makin ingin terus disisi Elena untuk menjaganya dari bahaya yang mungkin akan terjadi kedepannya.


Posisi duduk William beralih disamping Elena, ia menyenderkan kepala gadis itu dengan hati-hati ke bahunya, menurutnya akan lebih nyaman daripada tembok yang keras.


Dua jam kemudian, Elena terbangun. Betapa terkejutnya ia mendapatkan William yang sudah ada disampingnya sambil tersenyum.


"Sudah kubilang jangan ikuti aku!"


"Tidak, aku baru saja sampai karena bosan dengan permainan biasa yang aneh jika dimainkan oleh dua orang aneh juga," jelas William tenang.


"Kau tidak merasa dirimu aneh ya?"


William menggerakkan bahunya. "Aku tidak pernah mendengar ucapan itu keluar dari mulut seseorang," jelas William percaya diri.


"Kalau begitu aku orang pertama yang menganggap mu aneh, kan?"


"Iya, tapi aku tidak keberatan dengan itu." Seperti biasa laki-laki itu tersenyum, Elena yakin siapapun yang melihat itu dari dekat akan meleleh seperti gula nantinya.


"Apa kau punya keinginan yang belum tercapai, El?" tanya William.


Elena yang sedikit terkejut dengan pertanyaan itu terdiam sejenak, mengingat satu hal yang belum pernah tercapai dalam hidupnya hingga saat ini.


"Keluarga."