
Hari ini Elena belanja di sebuah supermarket yang letaknya cukup jauh dari apartemennya, matanya terus melirik ke kanan dan kiri untuk mencari kebutuhan hariannya.
Dengan mendorong sebuah keranjang belanja yang sudah disediakan, Elena berhenti di sebuah rak tempat makanan hewan di simpan, mengambil makanan kucing yang beratnya hampir lima kilo itu.
Setelah selesai, ia kembali mendorong keranjangnya, mencari kebutuhannya. "Dimana ya?" gumamnya.
Tangan kanannya menunjuk berbagai sereal, sambil berjalan pelan, matanya tetap fokus mencari rasa kesukaannya.
BRAKKK...
Tanpa disadari, keranjangnya menabrak keranjang orang lain, Elena terkejut dan buru-buru menjauhkan keranjangnya. "Maaf!"
"Ah, tidak ap--, Elena?!"
Keduanya sama-sama memasang raut wajah terkejut, Elena tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan orang yang tidak lain adalah ibunya sendiri.
"Ib--?!"
"Tante, aku menemukannya!"
Ucapan Elena terputus mendengar suara Raihan, laki-laki itu mendekat membawa dua kaleng tuna.
"Oh, hai. Elena," sapa Raihan. Elena tidak merespon, entah kenapa suaranya sulit untuk dikeluarkan. "Kau juga belanja ya? mau aku bantu?"
Elena menggeleng, tangannya mengambil dua sereal dengan asal lalu pergi melewati keduanya.
"Sesak!" gumamnya sambil berjalan cepat menuju kasir.
"Permisi, uangnya," ucap si penjaga kasir. Elena langsung tersentak dan buru-buru mengambil uangnya. "Ini belanjaannya, terimakasih."
Kedua tangannya menjinjing kantung yang berisi belanjaannya tadi, satu tetes air mata mengalir begitu saja. Elena langsung mempercepat langkahnya.
Dari dalam mobil, William melihat gadis yang dikenalnya, ia langsung turun tepat saat Elena melewatinya.
"Hei!" sapa William sambil menarik lengan Elena. Gadis itu sontak terkejut dan menoleh. "Kau menangis?! kenapa?!"
Elena langsung menyentak kan lengannya, dan pergi tanpa sepatah kata pun.
William yang melihat itu merasa aneh akan sikap Elena yang tiba-tiba menyeramkan. "Apa dia bertemu mantan pacarnya?" gumamnya lalu berjalan masuk ke dalam supermarket.
"Tante, tante!" panggil Raihan. Sontak yang dipanggil terkejut.
"Ya?"
"Jangan melamun! apalagi yang harus aku cari?!" ucap Raihan.
"Kau bosan ya?" tanya perempuan paruh baya itu. Raut wajah Raihan berubah.
"Harusnya aku yang menang, bukan William!"
"Kau kalah bodoh!" celetuk William yang muncul dari balik tembok. "Jangan mengeluh, cepat Ma, suruh saja dia sesuka hati. Anggap pembantu baru."
"Apa kau bilang?! pembantu?! mukamu yang mirip supir taksi jangan belagu," Ketus Raihan sambil menunjuk William.
"Apa menyerah jadi pembantu? yakin mau jadi anjing dalam sehari?" balas William santai. Raihan langsung memalingkan wajahnya dan sibuk mencari barang dengan random.
"Oh ya, kalian bertemu dengan Elena?" tanya William tiba-tiba.
Seperti hujan disaat cuaca panas, wajah wanita paruh baya itu mendadak berubah.
"E--elena? siapa itu?" tanyanya dengan gelagapan.
"Itu, gadis cantik dengan rambut panjang terurai!" jelas William dengan semangat. Sementara Raihan hanya menonton saja.
"O--oh, begitu. Dia teman sekelas mu, Will?"
"Bukan, Ma. Tapi aku menyukainya!" jawabnya jujur. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil.
"Elena itu gadis berkelas, tidak mungkin dia menyukaimu balik," cela Raihan. William langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
"Sudah sudah, ayo lanjutkan agar cepat pulang."
Elena menggebrakan pintu kamar, menaruh belanjaannya di lantai, tubuhnya langsung ia jatuhkan ke kasur.
Tanpa hitungan detik bantal yang kering itu mendadak menjadi basah, hatinya senang karena berhasil bertemu dengan seseorang yang sangat berarti baginya namun rasa sakit juga mendadak muncul saat Raihan memanggil ibunya dengan sebutan tante.
Elena tidak pernah ingat punya ikatan dengan Raihan, ia hanya ingat wanita yang ditemuinya tadi adalah ibu kandungnya yang telah lama meninggalkannya untuk pergi bekerja.
"Apa William juga ada hubungan dengannya?" gumamnya sambil mengusak-ngusakan wajahnya ke bantal.
Matanya mendadak terasa berat, gadis itu terpejam dengan pipi yang masih terlihat basah.
Keesokan harinya, disekolah. Elena dipanggil ke ruang rapat, tempat para guru berdiskusi mengenai sekolah.
Tanpa bertanya, maksud dan tujuan mengapa dirinya di panggil, Elena hanya mengikuti perintah saja. Saat tiba di sana, ia sangat menyesal kenapa tidak menolaknya dari awal.
Orang itu ada di sana, duduk dan menyeruput secangkir kopi dengan gaya elegan. Dari atas sampai bawah terlihat kemewahan, sejak melihatnya saja rasa sakit itu kembali datang, namun Elena berusaha menahannya.
"Elena Gabriela, siswi terpintar di sekolah ini," jelas seorang laki-laki memujinya. Elena hanya diam, ia disuruh duduk di depan orang yang sebenarnya ibu kandungnya sendiri.
"Oh, benarkah? hebat sekali," puji wanita itu. Elena tau jika itu adalah pujian pertama yang keluar dari mulut ibunya sejak bertahun-tahun tidak bertemu, tapi gadis itu tidak merasa senang sedikitpun.
"Elena, bilang terima kasih!" pinta laki-laki paruh baya itu yang tidak lain kepala sekolah.
"Terima kasih."
"Pak, bisakah beri kami waktu? kami ingin bicara, putraku menyukai gadis ini jadi aku ingin sedikit bertanya saja," ucapnya. Elena tau maksud lainnya adalah meminta agar bisa bicara empat mata.
"Oh, tentu! silakan," ujar kepala sekolah yang langsung menyetujuinya. Laki-laki tua itu langsung keluar dari ruangan.
Keduanya masih sama-sama butuh waktu semenit untuk mencairkan suasana lagi, Elena masih tetap diam sementara wanita yang didepannya mulai membuka mulutnya.
"Bagaimana kabarmu, Elena?"
Elena terkejut, nada bicaranya berubah. Itu adalah suara yang selalu dirindukan nya, sangat mirip dengan ibunya dua belas tahun yang lalu.
"Bai--"
"Tolong jaga rahasia jika kau putriku, ibu akan memberimu uang tiap bulannya."
Mendengar itu hati Elena seakan tersambar petir, kata-kata yang keluar dari mulut ibunya hanya itu basa-basi saja.
"Bagaimana dengan dia?" tanyanya lagi.
"Dia?"
"Ayahmu, kau tidak bilang padanya aku pulang bukan? jangan beritahu apa pun."
Untuk yang pertama kalinya Elena tertawa didepan ibunya, terlihat jelas raut wajah bingung yang keluar dari wajah wanita paruh baya itu.
"Aku, tidak pernah mengatakan apapun, bahkan saat kau menikah lagi," jelas Elena. "Aku tidak peduli lagi, kau maupun laki-laki itu. Kalian sama-sama jahat."
"Elena, apa yang kau bicarakan?! ibu kemari ingin menjelaskan--,"
"Aku tidak butuh uang, bahkan belas kasihan darimu, sejak dulu aku bisa hidup tanpa cinta dari orang tua. Jangan khawatir, aku tidak akan menyebar jika kita ibu dan anak, jangan pernah menemui ku lagi!"
Setelah meluapkan semua kata-kata yang mengganjal hatinya, Elena beranjak dari duduk dan berjalan keluar.
"Saking sakitnya, aku bahkan tidak bisa menangis," batin Elena.
Setelah sampai kelas, Elena langsung duduk ditempatnya, menundukkan kepalanya di meja.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Elena, ini tugas beserta jawaban kimia, aku pinjamkan padamu. Tadi, kata si botak itu, jika tidak mengerjakan tidak akan mendapat nilai di raport!" Jelas Erix. Nadanya membisik namun menekan.
"Hmm."
"Kau bilang sesuatu, El?"
"Terima kasih, tapi tidak masalah bagiku tidak mendapat nilai," ujar gadis itu tanpa merubah posisi sedikitpun.